
Malam ini menjadi saksi cinta suci mereka. Alam tampak menyambut hari bahagia mereka. Cuaca malam ini begitu cerah. Angin sepoi sepoi menggoyangkan daun daun disekitar pantai.
Dalam sebuah ruangan kayu yang sudah dihias sedemikian rupa oleh beberapa orang secara dadakan tampak melengkapi penyatuan cinta kedua insan manusia ini.
Avi memakai gaun panjang dengan balutan hijab diatasnya. Dia seperti putri raja yang akan menduduki singgah sana nya yaitu tempat seorang istri. Wajah nya tampak sangat cantik dengan pakaian sederhana itu. Karena ini sangat mendadak. Mereka memakai pakaian yang ada.
Begitu juga Denis, memakai setelan jas hitam yang rapi. Ia tampak gagah dengan rambut yang disisir kebelakang semuanya. Beda dengan hari hari biasanya.
Mereka duduk diruangan yang sudah dihias itu menunggu penghulu datang. Sementara Avi masih didalam kamar yang sudah dipercantik untuk melengkapi malam pertama mereka nanti setelah sah jadi suami istri.
Akhirnya, penghulu yang ditunggu datang juga. Jantung Denis yang tadinya agak tenang, kini bertalu talu tak beraturan melihat penghulu datang.
Perasaan gugup mulai tiba. Ia melihat Ayah dan Ibunya berulang kali. Sadar dengan kegugupan Denis. Ayah duduk disebelah Denis sebagai saksi pernikahan.
"Tenangkan dirimu... berdoalah agar semuanya lancar."
Ayah menepuk pelan pundak Denis memberi semangat putranya menghadapi pernikahan yang sekali seumur hidup nya.
"Bismillah..." Denis mengawali kegiatan sakral ini dengan menyebut nama Allah. Karena setiap perbuatan akan lebih baik jika diawali dengan Basmallah.
"Baiklah... kita mulai akad nikahnya. Silahkan wali dan sksi nikah maju kedepan."
Orang orang yang ditunjuk penghulu tadi duduk ditempat yang sudah ditentukan.
"Anda mempelai pria nya?"
"Iya pak.."
"Dengan saudara..."
"Denis Abdurrahman.."
"Baiklah Saudara Denis Abdurrahman, apakah anda melakukan pernikahan ini dengan kesadaran sendiri tanpa paksaan?" Tanya penghulu ada Denis.
"Ya pak... atas kemauan dan kesadaran saya sendiri." Jawab Denis mantap.
__ADS_1
"Bagaimana dengan mempelai wanitanya.. tolong segera ditanyakan."
Ica masuk kekamar dimana Avi duduk menunggu. Ia memberikan mikropon pada Avi agar mereka yang diluar mendengar jawabannya.
"Saudari Alviolita Diwarman, apakah anda melakukan pernikahan ini dengan kesadaran dan kemauan anda sendiri tanpa paksaan?" Tanya penghulu melalui mikropon.
"Ya pak, atas kemauan saya sendiri.."
Suara Avi lantang menjawab pertanyaan penghulu. Denis yang mendengarnya menjadi lebih semangat lagi. Dia berusaha melupakan gugupnya. Demi kelancaran akad nikah nya.
"Baiklah... kepada calon kedua pengantin. Jadikan pernikahan ini satu satunya mencri ridho Allah dan beribadah semata mata karenanya.
Kalian akan melengkapi satu sama lain. Kepada suami lebih cintai istrimu kelak. Jadilah imam yang mengutamakan beribadah kepada Allah.
Bantu ia disetiap kegiatan dalam rumah tangga.
Jalani kewajiban mu sebagai suami lahir dan bathin. Jangan pernah berkata kasar padanya, apalagi memakai kekerasan.
Dan kepada istri, patuhi lah suami mu. Layani dia dengan cinta dan ketulusan.
Selalu jaga kedudukan mu sebagai seorang istri dn jaga martabat suami.mu dimana pun berada. Berpakaian lah yang sopan.
Jika kelak Allah menganugrahi kalian buah hati. Jadikan mereka hamba Allah yang selalu mengingatNYA. Semoga keluarga kalian kelak menjadi keluarga yang selalu berad dalam lindungan Allah."
"Aamiin... ya rabbal aalamiin."
Nasihat dari penghulu tadi diaminkan oleh semua yang hadir disana.
"Kita mulai ijab qabulnya."
"Saudara Denis.."
"Saya pak.."
"Saya nikah dan kawinkan engkau dengan Alviolita Diwarman binti Edi Warman, dengan saya sebagai wali hakimnya dengan mahar seperangkat alat shalat dan uang sebesar 437 juta ... tunai karena Allah"
__ADS_1
"Saya terima nikah dan kawinnya Alviolita Diwarman binti Edi Warman dengan bapak sebagai wali hakimnya dengan mahar tersebut tunai karena Allah."
"Bagaimana saksi?"
"Sah..."
"Sah.."
"Alhamdulillah..."
Semua yang hadir menghela nafas lega. Tak sadar saat saksi mengucapkan sah, Denis berdiri dari tempat duduknya, melompat kesenangan, memukulkan tangannya kesembarang ayah seperti tok tok bang jago. Mereka yang hadirpun tertawa melihat tingkah Denis. Ia menghela nafas dan membuangnya kasar, merasa lega dengan pencapaiannya.
Saat saat yang sangat ia nanti nantikan. Akhirnya tiba jua. Avi sekarang telah menyandang status sebagai nyonya Denis.
"Mempelai prianya semangat sekali... ahahahha" penghulu menggoda Denis yang dari tadi masih berdiri.
"Duduk lah sayang..." bisik mama dari arah belakang Denis. Dengat cepat Denis langsung duduk.
"Silahkan dipanggil istrinya.."
Ica dan Vita membawa Avi keluar dari kamar. Semua mata tertuju padanya. Ia kemudian duduk disamping Denis. Tetap menunduk. Karena jantungnya sejak tadi tak berhenti bertalu talu.
.
.
.
Bersambung...
**************************************************
Terimakasih author ucapkan kepada para penikmat tulisan author. ini novel perdana author. terus berikan saran dan dukungan dengan memberi like dan favoritkan ya temaan... berikan vote juga jika teman teman berkenan.
jika ada kesalahan dalam penulisan Author mohon dimaafkan. karna Author juga manusia biasa, mak mak berdaster lagi . yang tak lepas dari salah dan khilaf.
__ADS_1
Koment yang banyak ya... Author semakin semangat dengan koment koment dari teman teman.
salam cintoooh...