
Dua orang suruhan Denis membawa jauh mobil itu. Agar mereka mengira itu Avi yang tak tentu arah membawa mobil.
"Dasar bodoh, kenapa tak kalian lakukan sejak awal."
Arash menghardik beberapa anak buahnya. Saat mereka menyarankan mendeteksi gps yang ada pada mobil itu. Ia telah berubah menjadi manusia jahat dan kasar. Arash yang dulu telah lama mati.
"Lihat bos... mobil ini ada didepan kita. Berarti kita sedang berada 500 meter dibelakang nya."
Ucapan anak buah Arash membuat ia menyunggingkan sebuah senyuman yang tak bisa diartikan.
"Bagus... percepat laju mobil ini" Arash merasa sangat senang akan bisa mendapatkan Avi lagi.
Mobil yang di kendarai oleh anak buah Arash mempercepat lajunya. Sementara itu orang suruhan Denis sengaja memarkirkan mobil itu disebuah hotel.
Mereka lalu berpindah kemobil lain yang telah menunggu diparkiran hotel tersebut. Dan beranjak dari tempat itu. Salah seorang diantara nya menghubungi Denis untuk mengatakan keberhasilan rencana mereka.
Prediksi mereka benar. Arash dan anak buahnya berhenti tepat disebelah mobil yang diduganya dibawa Avi.
"Aku akan selalu menemukan mu sayang .." Arash berjalan keluar mobil ia melihat kunci nya masih tergantung didalam.
"Dasar ceroboh... apa kau sangat terburu buru sayang bahkan kau lupa mengambil kunci mobil mu." Arash tersenyum kecut sambil memgambil kunci mobilnya.
__ADS_1
"Kalian masuk kedalam hotel cari tau keberadaan wanita ku. Jangan sampai gagal" Arash juga memasuki hotel.
Mereka berpencar mencari disetiap ruangan hotel. Bahkan tiap kamar mereka sisir mencari keberadaan Avi.
"Maaf pak, ada yang bisa kami bantu?" Menejer hotel tiba tiba menghampiri Arash yang berdiri menunggu hasil kerja anak buah nya.
"Ya aku mencari istri ku yang lari diduga kehotel ini. Karena mobilnya terparkir diparkiran hotel ini" jelas Arash asal pada menejer yang bertanya.
"Mari ikut saya pak. Kami akan mencoba membantu." Arash mengikuti menejer hotel tersebut keruangannya.
"Terima kasih"
Setelah tiba didalam ruangan menejer hotel tersebut. Arash dikejutkan dengan kehadiran kedua orang tuanya dan beberapa orang petugas polisi.
Arash menunduk, tak berani menatap kedua orang tuanya. Sementara tangan nya langsung diborgol salah satu petugas polisi.
" Arash.!!!"
Bunda menghardik Arash disertai sebuah tamparan keras melayang dipipinya. Air mata wanita paruh baya itu menetes seketika. Ia terduduk diatas sofa ruangan itu.
"Sudahlah bund... biarkan hukum yang mendidik nya. Karena didikan baik yang kita berikan selama ini tak berarti baginya..." Ayah menenangkan Bunda Arini.
__ADS_1
"Maaf bund..."
Arash mengeluarkan kata maaf untuk ibunya. Langsung mendapat tatapan tajam dari bunda Arini.
"Bawa dia dan anak buah nya dari sini pak. Adili dia menurut hukum yang berlaku. Dengan kasus menculik dan melarikan istri seseorang."
Bunda Arini melepaskan tangisnya saat sang suami menyuruh polisi menangkap Arash putra tersayang mereka.
Ternyata Denis menghubungi orang tua Arash setelah Avi mengatakan Arash lah yang menculik Avi. Mereka menyusun rencana untuk mengalihkan perhatian Arash sekaligus menangkapnya atas perintah Ayah Arash sendiri.
Karna putra nya terlalu terobsesi untuk memliki Avi yang sekarang telah menikah dengan orang lain.
Dan mungkin beginilah akhirnya Arash akan mendekam didalam penjara dalam waktu yang lumayan lama.
Sementara itu Denis yang mendapat laporan dari orang suruhan nya bahwa Arash dan anak buahnya telah berhasil diaman kan polisi. Ia merasa sedikit tenang dengan keamanan Avi.
"Aku merasa kasian dengan Arash... obsesi nya terlalu tinggi dari pada akal sehatnya. Semua berawal dari ke egoisan dirinya Uda. Dan itu juga yang membuat aku memliki mu. Sebuah anugrah bagi ku.. tapi menjadi penderitaan baginya"
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...