
"Kemarilah, aku diapartemen ku.. sekalian kuberitahu alamat apartemen mereka" sebuah lampu hijau... ia sudah lama memimpikan moment ini.
Semoga saja kau mau kembali lagi padaku Anin. Aku masih mencintai mu.
"Aku mau keluar..."
Dia berjalan mengambil kunci mobilnya. Meninggalkan rumah itu.
"Mau kemana? Ini sudah larut."
Seorang wanita menghentikan langkahnya.
"Tidak usah ikut campur..." Dia tetap pergi.
"Tapi aku kan istri mu Tara!" Suara wanita itu mulai bernada tinggi.
"Aku sudah bertanggung jawab atas kelicikan mu. Jadi jangan ikut campur urusanku."
Tara melajukan mobilnya keluar dari rumah besar itu. Sang istri menatap nanar mobil yang melesat keluar.
"Kalau saja kau tak menjebak ku, aku pasti sudah menikahi Anin sekarang. Widya kau wanita licik.." Tara bergumam menyetir mobilnya mengingat kejadian masa lalu.
Ia sampai diapartemen Anin. Membawa sebuah bucket bunga mawar yang telah ia beli tadi. Ia menekan bel di pintu Apartemen Anin.
Seorang wanita cantik yang memakai lingerie membukakan pintu. Karna memang ini adalah jam tidur. Bukan jam bertamu. Wajah cantik itu tersenyum menerima bunga pemberian Tara.
"Ini untuk mu..."
"Terimakasih Tara... masuklah"
Anin berjalan mendahului Tara. Menampakan lekuk tubuhnya yang proposional bak model papan atas. Tara yang menyaksikan itu menelan salivanya. Ia mengikuti Anin setelah menutup pintu apartemen Anin.
"Sayang kau sangat menggodaku..."
Ucap Tara mempercepat langkahnya. Memeluk Anin dari belakang, mencium pucuk kepala wanita yang sangat ia cintai.
__ADS_1
Anin pun diam tak ada pemberontakan baginya. Ia juga masih mencintai Tara. Anin membalikan tubuhnya. Membalas pelukan Tara dengan hangat.
Detak jantung Tara yang menderu kencang ia rasakan tepat ditelinganya.
"Aku merindukanmu..." ucap Anin lirih.
"Aku mencintai mu Anin. Bisa kah kita bersama lagi?" Tara mengeratkan pelukannya.
"Lalu istrimu?" Tanya Anin masih dlama dekapan Tara.
"Widya? Dia wanita licik yang memisahkan kita. Aku akan menceraikannya." Jawab Tara mantap.
"Apa maksudmu? Licik?" Tanya Anin mendongakan kepalanya melihat Tara.
"Dia menjebak ku sayang, hingga aku harus bertanggungjawab karenanya." Jelas Tara menatap wajah cantik itu.
"Entahlah kak, aku tak tau harus berbuat apa sekarang..." Anin melepaskan pelukan Tara.
Dengan cepat Tara mencium bibir Anin sekilas. Wanita itu tampak terkejut tapi tak marah. Tara mengulangi lagi melu..mat lebih dalam bibir Anin. Nafas mereka terdengar kencang.
Lidah yang saling membelit menjelajahi setiap isi didalamnya. Tangan Tara mulai menjalar kearah punggung Anin dan melesat kebawahnya.
Tampak tubuh kekar atletis sedang menggendong Anin keatas sofa. Ia membaringkan perlahan tubuh cantik itu. Melu..mat kembali wanitanya.
Kali ini turun keleher jenjang Anin. Ia membuat Anin basah.
"Tar..a.. mmpph... aahh.."
Tangan lentiknya mere..mas kepala Tara yang sekarang bermain dibukit kenyalnya. Sensasi yang luar biasa hingga desa..han Anin semakin keras.
Tanpa berlama lama Tara membuka kain penghalang pandangannya ditubuh Anin. Dan ia pun buru buru membuka celana panjangnya.
Kini mereka bak bayi yang akan dimandikan ibunya. Tara menggendong Anin masuk kedalam kamarnya. Anin menatap hangat wajah pria yang sangat ia cintai. Yang mengambil aset berharganya dulu. Hingga wanita bernama Widya muncul merebut Tara darinya.
"Sayang..."
__ADS_1
Kini Anin berada dibawah kungkungan Tara. Mereka saling menatap. Tara menetralisir kan nafasnya yang menggebu gebu.
"Aku sudah sangat lama tak melakukan ini sayang... semenjak kamu pergi dariku"
Tara menggesekkan batang kerasnya kemilik Anin. Dan itu membuat Anin ingin merasakan lebih.
"Lalu dia?" Anin memejamkan mata merasakan sentuhan kecil dibawah sana.
"Dia tak berarti bagiku. Bahkan kami tak pernah seranjang semenjak menikah."
Tara mengecup buit kenyal milik Anin dengan lembut. Lalu menji..lati nya.
"Aaah... Tara.. lakukanlah..." Anin menatap Tara hangat. Ia mengecup bibir lelaki itu.
Dengan pelan Tara menancapkan pelan batang keras miliknya masuk kebagian Anin. Kenikmatan yang telah lama sama sama mereka rindukan. Anin memejamkan matanya menikmati batang Tara memasukinya.
Tara mencoba memompa dengan lembut. Tubuh keduanya bergetar penuh dengan keringat. Pompaan Tara kali ini semakin cepat. Tubuh Anin menggeliat menunggu pelepasan pertamanya.
"Ooh... sayaaang.... aku...aah...oohoooh..."
Tanpa jeda Tara terus memompa Anin.ki ini semakin kencang. Teriakan Anin memenuhi ruangan kamar nya.
"Apa kamu mau bersama ku lagi sayang?" Tara bertanya sambil terus memompa Anin.
"Yaaah... aku ..maaau.." dengan nafas tersengal sengal Anin menjawab pertanyaan Tara.
Tara mempercepat temponya. Klai ini kedua tubuh itu bergetar hebat saat mereka sama sama mencapai puncak kenikmatan itu. Tara meninggalkan sesuatu yang ia harap akan menjadi nyawa nantinya.
Tara tumbang dan berbaring disamping Anin. Merasakan sisa sisa kenikmatan yang merek buat tadi.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.
whoaaaaa... Pagi ini terasa gerah ya. Padahal hujan lho wkwkwkwk.