Wanita Tersayang

Wanita Tersayang
Kebersamaan


__ADS_3

"Ini sangat luar biasa, bahkan papa aking tak pernah membawa kakak kesini" bisik Ica pada Deby.


"Benar kak, Boland juga hehehhe" mereka berjalan mengikuti Denis mencari tempat duduk terbaik yang teah disediakan.


"Tempat ini sangat empuk. Kalah empuk dengan sofa kita dirumah" bisik Deby pada mama.


"Kalian ini, jangan buat mama malu. Lihat saja, komentnya dalam hati saja. Masa anak jaman now koment seperti ini. Apakata upin dan ipin nanti?" Mama tertawa melihat tingkah kedua anaknya.


"Betul betul betul" mereka tertawa bersama.


Para pelayan membawakan beberapa jenis makanan. Dan berbagai minuman.


"Oh ya kak, Avi lupa. Tadi sempat membawa hadiah untuk ponakan ku yang lucu lucu ini.


"Lulu sudah besar ncu, bukan lucu lagi. Lucu itu hanya untuk bayi saja" Lulu cemberut menatap Avi.


"Iya sayang... khusus untuk Lulu... cantik. Ponakan uncu yang cantik"


Semua tertawa melihat wajah Lulu yang langsung sumringah dibilang cantik.


"Tunggu nanti dirumah ya... " Lulu Aking mengangguk tanda setuju. Yang penting mereka mendapat hadiah. Kira kira begitulah pikiran mereka para anak kecil.


"Silahkan buk.. kak.. ayo kita makan" Ajak Denis.


"Lulu baca doa ya" pinta anak cantik itu.


Doa pun dibacakan. Mereka mulai mengambil makanan sesuai selera. Karna terdapat banyak jenis makanan diatas meja.


Avi menatap satu persatu keluarganya. Meski kakanya Vita tidak ikut karna anak bayinya sedang tidak enak badan. Kebahagiaan nampak diwajah mereka. Keluarganya penuh dengan kesederhanaan. Avi merasa bangga mempunyai mereka. Airmata bahagia itu pun turun dari tempatnya.


Denis menatap Avi yang tampak terharu dengan kebersamaan yang telah lama ia rindukan. Semoga hal ini terus berlanjut hingga unung waktu mereka.

__ADS_1


Mereka selesai menikmati makan malam bersama. Denis mengajak mereka berjalan jalan disebuah mall. Bahkan menyuruh mereka belanja. Dengan halus mereka menolak. Karna merasa belum saat nya Denis berbuat demikian.


"Beli lah sesuatu untuk mama sayang" bisik Denis mendekat pada Avi.


"Aku sudah menawarkan. Tetapi mereka tidak mau." Avi juga berbisik kearah Denis.


"Kita pulang saja kalau begitu.. kasian Ozan anak kak Deby. Sudah mulai rewel."


"Baiklah aku ajak mereka pulang"


Mereka keluar dari mall itu dengan membawa beberapa mainan besar untuk Aking dan Ozan. Dan satu dus besar yang dibawakan penjaga toko itu menuju parkiran mereka.


"Baiklah buk, saya pamit dulu. Besok akan kesini lagi menemani Avi ke apartemen mengambil beberapa barangnya."


"Terima kasih nak Denis atas makan malam dan jalan jalannya. Juga itu mainan untuk anak anak."


"Jangan sungkan buk." Mama masuk kerumah. Avi menemani Denis sampai keparkiran mobilnya.


"Aku ingin mengantar calon imam ku" Avi menggandeng tangan Denis.


"Jangan goyahkan imam ku begini sayang."


"Aku tak sabar menunggu hari itu"


"Apa gara gara tadi dikamar mandi?" Avi langsung melepaskan tangannya dan berbalik turun kerumahnya.


"Aku hanya bercanda, jangan marah. Kemarilah" Denis menarik tangan Avi hingga tepat dihadapannya.


"Aku berharap tak ada halangan untuk kita melangkah. Aku mencintaimu sayang." Ia mengelus lembut bibir Avi setelah didekatkan ke bibirnya.


"Aku juga mencintai mu sayang, hati hati diperjalanan" Avi melepas kepergian Denis. Kemudian ia turun kembali kedalam rumah.

__ADS_1


"Mama ingin dengar semua cerita kamu..." tegur mama saat Avi menutup pintu.


"Iya ma... tentu. Avi rindu sekali pada mama." Dia kembali memeluk mama.


Mereka duduk bersama diruang tamu. Mendengar segala kisah Avi saat jauh dari mereka. Dan juga awal hubungan nya dengan Denis.


Juga membagikan mainan yang dbeli banyak oleh Denis untuk semua ponakannya. Semua merasa bahagia dimalam ini. Semoga kebahagiaan mereka akan selalu seperti ini.


.


.


"Bos... nona telah kembali kerumahnya. Saya melihat sendiri."


"Bagus.. " Arash menutup telponnya. Merasa senang karna mengetahui Avi telah kembali ke rumah mama Lena.


"Satu serangan kurasa akan membuat mu luluh sayang.." gumam Arash penuh percaya diri.


Dia berjalan menuju kamar kedua orang tuanya. Mulai merencanakan sesuatu.


"Arash... apa kamu yakin sayang?" Tanya bunda yang sedikit gelisah dengan obsesi anaknya. Tapi dia tak ingin menolak permintaan anak satu satunya.


"Ayah akan bantu...," ucap Ayah pasti menepuk pelan bahu Arash.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2