Wanita Tersayang

Wanita Tersayang
Menghindar


__ADS_3

"Kalian akan dinikahkan secepatnya, Avi akan mengikuti Arash dn pindh bersekolah disana. Mama bunda ayah dan para kakakmu sudah sepakat. Kalian tidk bisa membantah lagi.


Arash kau tidak boleh menyentuh Aviagi setelah menikah. Biarkan ia menyelesaikan sekolahnya. Setelah itu terserah kalian. Kita akan Rahasiakan pernikahan ini. Minggu depan kalian menikah" Keputusan mutlak dari ayah tak bisa lagi diganggu gugat.


" Inikah yang kamu rencanakan? selamat kau sudah membuatku membenci mu Arash zafrano!" Avi berdiri menatap Arash penuh kebencian. Dia meninggalkan sidang tak pantas itu dengan kesal msuk kekamarnya.


Dia benar benar membenciku sekarang.


Mereka yang duduk disana sedikit terkejut dengan tingkah Avi. Kemudian mereka pamit undur diri.


.


.


"Sayang... boleh mama masuk?" Mama berdiri didepan pintu kamar Avi. Tak ada jawaban, mama membuka pintu terlihat Avi sedang tertidur.


"Bahkan bantalmu sampai basah begini nak, apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah kau sangat mencintai Arash." gumam mama menyelimuti Avi. Mama Lena menatap Avi sebentar. Lalu keluar dari kamar.


Mama.. percayalah aku tak berbuat yang membuat keluarga kita malu. aku tak ingin menikah diusia ini.


Avi Menangis mengingat hal yang akan terjadi dikemudian harinya. Kemudian ia tertidur memasuki lam mimpi.


Keesokan harinya Avi bersikap biasa. Ia sekolah bersikap seperti tidak ada hal yang terjadi. Ia pamit pada mama diwarung yang sudah dipenuhi pembeli.


"Mau sekolah Vi?" Suara seorang pemuda yang dikenalnya. Avi menoleh kerah suara itu.


"Iya.." jawabnya singkat.


"Tidak ada angkot yang lewat, kamu akan telat" kemudian ia menghampiri Avi.


"Tidak apa apa, nanti permisi telat saja" Avi sedikit senyum ke arah Rahman.


"Bagaimana jika aku antar, kebetulan aku bawa motor"


"Tidak usah kak,makasi" Avi bersikeras menunggu angkot. yang sejak tadi tidak kunjung datang. Rahman kembali ketempat duduknya menghabiskan tehnya.


"Tidak apa nak, dari pada kamu telat. Biar minta diantar nak Rahman saja." Kata mama dari dalam warung. Avi melihat pria itu lagi. Bagaimana ia masih bisa baik setelah ditolak lamarannya. Avi merasa tidak enak dan mengangguk pelan.

__ADS_1


Rahman sumringah akn mengantar Avi kesekolah. Dia merasa mendapat harapan baru. Ia tak akan menyia nyiakan kesempatan ini.


"Aku tak kan membawa mu kabur.." ucap rahman dengan senyuman nya.


"Bukan begitu kak. terima kasih sebelumnya" Ia naik motor Rahman kemudian motor itu melaju kencang.


Mereka sampai disekolah, Avi memilih turun sebelum gerbang sekolah karna merasa Arash sedang mengawasinya. Tapi semua yang Avi takutkan terjadi. Ada sepasang mata mengawasi Avi yang sedang turun dari motor Rahman. Tangan nya mengepal tak terima dengan apa yang dilihatnya.


Arash sedikit geli dengan senyuman yang diberikan Rahman pada kekasihnya, tepatnya calon istri. Jelas sekali ia melihat pria itu sangat menyukai Avi.


Ia melihat Avi saat turun motor langsung berlari kearah gerbang sekolah. Ia tak membalas senyuman Rahman . Disaat itu perasaan Arash kembali lega. Dia percaya Avi takkan menduakan dirinya. Bisa saja karna Avi sudah hampir telat makanya terpaksa diantar Rahman. Ia tersenyum senang.


Saat motor itu menjauhi sekolah, ia mengikuti dari belakang dengan jarak yang cukup jauh. Entah apa yang akan dilakukannya pada pria itu.


.


.


"Kemana kamu kemaren?" tanya Anin didalam kelas.


"Ada keperluan mendadak" jawab Avi singkat. Wajahnya murung. Terlihat memikirkan sesuatu.


"Aku mau nginap dirumah kamu boleh?"


"Yaa.. boleh lah"


"Makasi ya.." Anin tersenyum pada Avi. Dia masih penasaran apa yang membuat temannya menjadi murung seperti ini.


Mereka mengikuti pelajaran yang diberikan buk Rahmi.


Hingga jam pelajaran pun berakhir.


Avi berjalan bersama Anin keparkiran. Langkahnya gontai mengikuti Anin. Mobil Anin melesat keluar gerbang. Arash yang sejak tadi melihat Avi masih setia menanti diseberang jalan depan sekolah.


Sebenarnya Avi tadi melihat mobil Arash tapi ia tak pedulikan. Rasa kesal masih ada untuk pacarnya itu.


Pikirannya sekarang masih kosong dan buntu takut dengan apa yang akan dia hadapi nanti. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi mama.

__ADS_1


"Assalamualaikum ma"


"waalaikumsalaam"


"Ma, Avi nginap tempat Anin ya ma. Dia sendirian dirumah. Ayah bundanya keluar kota. Takut nanti kenapa napa" Anin langsung melihat kearah Avi. Bingung dengan alasan temannya. Dia tetap fokus menyetir.


"Kenapa mendadak sekali sayang? kamu ga apa apa?" Suara mama terdengar cemas.


"Iya ma, hanya malam ini kok. Kasihan Anin, dia kan sahabat Avi." bujuk Avi lagi.


"Baiklah, besok pulang sekolah langsung kerumah ya, jangan kemana mana. Sampaikan salam mama buat Anin ya." Avi menutup panggilan telepon.


"Maaf ya nin, saat ini aku hanya sedang ingin menjauh dari semua keluarga ku, termasuk Arash." ia menunduk memperhatikan cincin tunangan yang disematkan Arash.


"Tapi kamu janji harus cerita padaku, jangan buat aku seperti orang lain" Avi tersenyum pada sahabat cantiknya.


.


.


"Apa? menikah? secepat itu?" Anin sangat terkejut mendengar cerita Avi mengenai hubungannya dengan Arash. Dia menggeleng gelengkan kepalanya menatap Avi.


"Ya begitulah kira kira.. dia sudah menghancurkan masa mudaku." Avi terlihat sangat kesal dengan Arash.


"Tapi kalian benar benar belum melakukannya bukan?" selidik Anin.


"Tidak, sama sekali tidak. Aku bisa menjaminnya."


Anin mengangguk senang.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan vi?"


"Entahlah, saat ini aku hanya ingin menghindar saja dari semua orang"


.


.

__ADS_1


.


Bersambung..


__ADS_2