
kakak? apa tak ada panggilan lain untukku?"
"Kenapa?"
"Sering kali mereka mengira aku kakakmu"
"Apa aku harus memanggilmu abang? atau uda?"
"Uda saja, aku menyukai itu"
"Atau mas Denis?"
"Itu bukan kita"
"Baiklah uda... aahahha aku merasa aneh" Avi terkekeh "Coba lah pelan pelan... nanti juga terbiasa."
"Baiklah uda..." Denis terkekeh melihat Avi yang memerah memanggilnya dengan Uda, panggilan khas minang kabau.
Setelah menyantap makan malam. Denis bersantai ria didepan Televisi. Menyaksikan siaran favorit mereka moto GP.
"Sayang... balap nya sudah mulai. Kemarilah!" Teriak Denis dari depan. Avi masih sibuk membersihkan alat alat masak dan makan mereka tadi.
"Wah sudah mulai ya... mana idolaku?"
"Disini, disebelah mu" Denis tertawa menarik tangan Avi untuk duduk disampingnya.
Mereka menikmati acara itu sampai selesai. Dengan sedikit perbincangan hangat diantaranya. Setelah puas bersantai Denis pamit pulang.
"Sayang ... aku sebenarnya ga mau pulang..."
"Lebih baik uda pulang, bersiap siap untuk pergi besok pagi. Lagipula kita belum halal" Avi menggandeng tangan Denis kearah pintu.
"Aaaakkhhhh.... aku terharu...dengan panggilanmu barusan." Denis mencubit hidung mancung Avi.
"Aku panggil kakak lagi ya"
__ADS_1
"Jangan jangan... tetaplah seperti itu sayang"
"Selamat malam uda Denis"
"Selamat malam... Assalamualaikum calon istriku"
"Waalaikumsalaam... hubungi aku jika sampai dirumah" Denis mengacungkan jempolnya. Berjalan menjauh dari tempat Avi berdiri. Denis satu satu nya lelaki yang menjaga dan mengisi hatinya beberapa tahun belakangan ini.
Dia kembali masuk dan mengunci pintu apartemennya. Beristirahat lelah bekerja seharian ini. Besok semua rasa rindu nya akan dilepas dengan keluarga tercinta.
Tok tok tok
"Apa itu kak Denis? mungkin ada yang tertinggal." Avi mendekati pintu untuk membukanya karna ad yang sedang bertamu dijam selarut ini.
"Apa ada yang ketinggalan?" Avi bertanya saat membuka pintu dan orang itu mendorongnya kedalam. Lantas mengunci pintu. Avi melihat seorang pria yang memakai topi dan mulut hidungnya tertutup masker.
"Si siapa kau? apa yang kau lakukan?" Avi waspada mundur beberapa langkah dari hadapan orang tersebut.
"Hei.. kenapa kau diam saja?" Dia kembali menggertak memegang bantal sofanya.
"Kau...?"
"Ya .. aku"
"A apa yang kau lakukan disini?"
"Menemui mu.."
"Dari mana kau tau aku disini...?"
"Aku seperti orang gila mencari mu kesama kemari Vi. Ternyata kau hidup bahagia disini."
"Keluar dari sini... keluar" Avi histeris, air matanya sudah membasahi pipinya. Karna rasa takut melihat sosok pria yang dulu pernah ia cintai. Itu Arash.
"Avi, kenapa kau menghindari ku. Aku mencintaimu bahkan setelah kau pergi rasa itu tetap sama." Arash mulai mendekati Avi yang mencoba melangkah mundur.
__ADS_1
"Jangan mendekat... jangan mendekat. Aku bukan lagi kekasihmu." Avi mengambil ponselnya yang terletak diatas meja pernak pernik. Mencoba menekan layar agar tersambung dengan Denis.
"Avi.. kumohon... kembalilah. Kau harus bertanggung jawab dengan hidupku sekarang. Aku gila tanpamu Vi. Hidupku kacau.. Aku tak punya masa depan lagi jika tak bertemu dengan mu" Arash tetap berjalan mendekat kearah Avi.
pletak...
Arash tersungkur karna hantaman dari laptop milik Avi yang ia ambil diatas sofa. Pria itu tak sadarkan diri. Pelan pelan Avi menariknya ketepi ruangan. Memperhatikan wajah pria itu. Benar benr kacau. Bahkan wajah yang tampan ceria itu kini tak terurus lagi.
"Cepatan kak, aku takut" ucap Avi pada seseorang yang dihubunginya melalui ponsel. Melihat Arash kalau kalau dia bangun dan menyerang Avi.
"Arash, lama tak melihatmu. Kamu begitu rusuh sekarang tak seperti Arash yang dulu aku kenal. Bagaimana kau bisa teralu larut dengan kondisi perpisahan kita? Kau yang membuat aku membencimu. Tak ada lagi rasaku untuk mu.
Seharusnya kau bisa berpikir dewasa, tidak hanya aku wanita didunia ini. Aah... aku lupa, kau tidak pernah dewasa. Kau selalu mementingkan keinginan mu saja."
Dia berjalan kedapur mengambil segelas air putih. Kembali ketempat Arash dan meminumnya sendiri.
"Kau membuang waktumu yang berharga beberapa tahun ini. Sangat mengecewakan!! aku pikir kamu sekarang sudah menjadi seorang yang sukses dengan otakmu yang pintar itu.
Ini bukan lagi cinta, tapi obsesi. Kau sangat egois. Bahkan tak melihat bagaimana keadaan mu sekarang ini"
Avi terus bicara sendiri. Sambil terus memperhatikan wajah Arash yang tak terurus.
"Avi... mana pria itu?" Denis datang dengan terburu buru dan langsung bertanya ketika Avi membukakan pintu.
"Arash, Dia didalam" Denis menahan amarah didepan wanitanya. Berjalan kearah yang ditunjuk Avi.
"Apa yang terjadi dengannya?" Denis heran melihat pria itu terkapar disudut ruangan.
"Aku memukulnya dengan ini" Avi menampakan laptop yang sesikit rusak pada Denis. Dia terkekeh melihat Avi yang tersenyum padanya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...