Wanita Tersayang

Wanita Tersayang
Menyendiri


__ADS_3

"Baiklah, terimakasih atas kepercayaan perusahaan pak Denis lagi pada perusahaan saya. Semoga hubungan kerja sama ini berjalan lancar tanpa gangguan apapun."


Anin menyalami Denis kemudian pamit meninggalkan ruangan itu. Ia masih terpikir dengan Avi. Bukannya menyambut sahabatnya malahan bertingkah seolah olah sedang memergoki Anin yang sedang selingkuh dengan suaminya.


Denis berulangkali menghubungi ponsel Avi. Ia duduk ditepi danau seorang diri. Melirik sekilas tasnya yang mengeluarkan kan bunyi dari ponselnya. Ia mengabaikan meratapi kesedihannya.


"Padahal belum cukup sebulan kami menikah, dia sudah melakukan hal yang paling ia benci didunia ini. Menyebalkan!" Ia merutuki kejadian yang ia lihat tadi. Memandang jauh kedepan melihat riak Danau yang berkilau kilau.


"Sayang..."


Seseorang memanggilnya dari arah belakang, Avi mengetahui itu bukan Denis. Suara berat yang sudah sangat lama tak memanggilnya namanya lagi.


Ia sedikit menoleh kebelakang, Arash berjalan semakin mendekatinya. Kemudian ia kembali menatap kehamparan danau yang luas.


"Hei..." sapa Arash lagi. Avi mendongak kearah Arash yang sudah didekatnya. Masih tak mengeluarkan suara.


"Kamu sendirian?" Tanya Arash basa basi. Avi mengangguk pelan tanpa melihat Arash.


"Boleh aku temani?" Avi menggeser sedikit duduknya.


"Terima kasih?" Arash ikut duduk sebelahnya. Menatap hangat wanita yang dicintainya daei samping. Memperhatikan wajah yang selama ini sangat ia rindukan.


Avi sengaja bersikap baik. Ia sangat berhati hati menghadapi Arash. Bisa saja Arash akan berbuat nekat dengan tingkah nya yang tidak suka lagi berdekatan dengan pria itu. Tapi semua itu ia tahan demi keselamatan dirinya.


"Kenapa menatapku seperti itu?"


Avi mengeluarkan suaranya. Tanpa menoleh pada Arash. Ia terus saja memperhatikan danau yang beriak sehingga kelihatan mengkilat dipermukaannya. Itu seperti candu baginya.


"Aku merindukanmu Avi..." Arash terus menatap Avi dengan tatapan hangat dan lembut. Banyak kerinduan didalamnya.


"Sekarang kamu sudah melihatku." Jawab Avi singkat. Ia bahkan melupakan arti kata merindukan yang sesungguhnya.

__ADS_1


"Baiklah... " Arash mencoba menahan dirinya untuk memeluk bahkan mencium wanita yang selalu dihatinya.


"Kenapa bisa ada disini? Apa kamu mengikuti ku?" Avi menoleh kearah Arash yang menatap kearah danau.


"Jangan buruk sangka dulu, tadi aku meeting bersama klien dicafe disana." Arash menunjuk ke arah cafe Cukup jauh disamping tempat mereka duduk sekarang.


"Saat aku keluar cafe itu aku melihat mu berjalan kesini. Makanya aku menyusulmu." Jelas Arash dan memang itu kenyataannya.


"Maaf..." Tiba tiba Avi mengucapkan kata itu. Ia menunduk sejenak. Lalu melihat lagi kedepan kearah danau.


"Maaf?" Arash sengaja bertanya agar Avi memberikan penjelasan.


"Ya... kesepakatan kita tak berjalan sebagaimana mestinya" Avi menatap kearah Arash.


"Aku tau. Selamat ya atas pernikahan mu. Semoga kalian bahagia." Arash menyodorkan tangannya untuk memberikan selamat pada Avi.


"Terima kasih " Avi menerima jabatan tangan Arash.


"Ya...begitulah.." jawab Avi tak bersemangat.


"Jujur, aku sangat kecewa saat mendengar berita pernikahanmu Avi. Kamu melangsungkannya diwaktu 24 jam ku akan dimulai. Hingga aku tak bisa lagi berbuat apa apa. Sebenci itukah dirimu padaku Vi?" Arash mencoba meluapkan isi hatinya.


"Jika Denis tak bisa membahagiakan mu, jangan salah kan aku jika sesuatu terjadi. Aku akan merebutmu darinya. Aku takan tinggal diam"


Arash melanjutkan kembali perkataannya. Kali ini dengan sedikit penegasan disetiap ucapannya.


Avi hanya menunduk dan melayangkan pandangannya jauh kedepan. Ia tak berani menatap Arash. Jantungnya seketika berdetak kencang saat mendengar perkataan Arash.


Jika saja kamu tau Arash, apa yang baru saja kulihat. Mungkinkah kamu akan membunuh Denis?


Oh hati berilah sedikit ketenangan, hingga aku bisa menutupi segala masalah rumah tangga ku. Terlebih pada Arash.

__ADS_1


Avi berjibaku dengan dirinya. Ia juga tak ingin langsung menghakimi Denis salah setelah kejadian melihat tadi.


Apa yang dilihat sering tak sesuai dengan faktanya. Itu yang sering Avi tanamkan pada hatinya agar bisa cepat menyelesaikan masalahnya.


Semoga saja ini kesalah pahaman. Jangan sampai aku goyah karena pengakuan Arash. Aku seorang istri yang sangat menjaga diri dan perbuatan. Bisa saja suatu hal terjadi. Sehingga aku melihat seperti kejadian tadi.


"Terima kasih kak Arash. Baiklah... aku pulang dulu. Jaga dirimu"


Avi berdiri dari tempat duduk nya. Ia ingin sekali bertemu dengan Denis. Menyelesaikankan semua apa yang dilihatnya dikantor Denis.


Ia tak ingin bertingkah seperti anak kecil yang membesarkan masalah yang belum tau kebenarannya.


"Bisakah kita bertemu lagi?" Avi melihat Arash yang masih duduk dibangkunya.


"Sebagai seorang teman..." sambung Arash meyakinkan Avi.


"Baiklah... sampa jumpa lagi."


Arash melihat wanita yang dicintai nya berlalu meninggalkan tempat itu. Kemudian ia juga berjalan kearah parkiran mobilnya.


Avi sudah merasa tenang karena bisa berpikiran secara jernih. Tak luput juga dengan kehadiran Arash ia semakin ingin bertemu dengan suaminya.


Ia akan menunjukan pada Arash bahwa rumah tangganya berjalan normal dan bahagia.


.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2