
Denis merutuki dirinya sendiri. Merasa sangat bersalah karena sikap Avi yang tak memberitahukan apa yang salah dengannya.
Denis tersandar duduk ditepi dinding menunduk berusaha menenangkan dirinya.
"Kau harus tenang Denis. Jika kau panik, kau takan menemukan istrimu. Berpikirlah Denis..."
Denis meraih ponselnya lagi mencari sebuah nomor lalu menyambungkan panggilannya.
"Kau harus temukan istriku. Kabari aku secepatnya"
"Baik boss. Akan kami usahakan."
Sambungan telepon terputus. Denis terlihat sangat gelisah ia mencoba menetralisirkan pikiran nya.
Sementara Anin yang baru saja menutup panggilan teleponnya dengan Denis. Terlihat menyesal karena telah ikut andil dalam menghancurkan rumah tangga Avi.
Tapi ia tetap mempertahankan untuk tidak berkata kata apa apa pada Denis. Ia hanya bermaksud untuk hidup yang layak dan nyaman. Setiap orang berhak merasakannya. Walaupun dengan kehancuran hidup orang lain.
.
.
Sayang... kamu akan aman bersama ku. Ku yakin kamu juga menginginkannya. Kita akan bahagia ditempat yang baru ini.
Arash meletakan Avi disebuah tempat tidur, ia membaringkan dengan lembut. Sebuah tempat yang tak dikenali oleh siapapun.
Sebuah rumah sederhana yang berada jauh dari keramaian. Didepannya terdapat sungai bening yang mengalir melalui bebatuan. Kiri kanannya terdapat tanaman cemara yang masih berusia belia.
Rumah sederhana ber cat putih dan coklat itu memiliki pagar bercat putih minimalis. Juga ditumbuhi beberapa jenis tanaman hias.
Arash beranjak dari kamar tersebut. Dua orang pekerja dirumah itu segera menyiapkan makanan didapur untuk tuan mereka yang datang dari jauh.
__ADS_1
Perlahan tangan Avi bergerak. Kelopak matanya terbuka mengerjap beberapa kali. Ia melihat sekelilingnya. Merasa aneh dengan tempat tersebut.
Mencoba duduk merenggangkan tubuhnya. Ia melihat sosok pria yang sedang berdiri dibalkon kamar yang ditempati nya. .
"Arash??" Avi bergumam penuh keheranan.
Perlahan ia berdiri. Melihat sebuah pintu yang tertutup rapat. Avi membuka pintu itu secara perlahan. Ia melihat sekelilingnya tatanan rumah sederhana dari kayu yang mempunyai barang barang unik didalamnya.
"Nyonya, anda sudah bangun?" Salah seorang pelayang menyapa Avi yang baru keluar dari kamar.
"Ya...
Hmmm... dimana ini?"
Avi bertanya sambil mendekati pelayan itu dengan berbisik.
"Kenapa nyonya?" Jaeaban pelayan sangat tak membantu Avi.
Ia melihat keluar rumah. Ada sebuah mobil. Ia berlari keluar rumah itu. Naik.kemobil yang sedang terparkir didepan rumah itu.
Sambil menyetir mobil Avi menekan nomor Denis. Ia menghubungi ponsel Denis.
Sementara Arash yang sedang melihat pemandangan indah dari balkon kamar terkejut saat mendengar mesin mobil menyala. Ia berlari kearah pintu dan tak menemukan lagi mobilnya.
"Avi..."
Arash kembali lagi kekamar, ia tak menemukan Avi wanita tersayangnya.
"Sialan.. kamu mencoba kabur dari ku lagi vi? Dengan susah payah ku bawa kamu jauh kesini. Aku akan menemukanmu."
Arash sangat marah hingga melemparkan beberapa barang yang ada didekatnya.
__ADS_1
"Bi... bibi... cepat kemari!!"
Kedua pelayan dirumah itu datang dengan tergesa gesa karena mendengar teriakan Arash.
"A.. ada apa tuan...?" Tanya salah seorang dari mereka.
"Siapa yang membawa mobil ku?"
"Nyonya ..Tuan" tubuh mereka bergetar karena melihat kemarahan Arash.
"Kenapa tak kalian halangi dia pergi?" Arash menghardik mereka dengan mata memerah.
"Ampun tuan..." mereka menunduk minta maaf.
Arash meraup wajahnya kasar. Dan mengambil ponsel. Menghibungi beberapa nomor. Dan usaha nya sia sia. Nomor yang diteleponnya sama sekali tidak merespon.
"Sialan.. kemana mereka.?"
Ia menghela nafasnya dan membuang kasar.
"Kalian boleh pergi" Arash menyuruh kedua pelayan itu pergi.
.
.
.
Bersambung..
Jangan lupa diberi like nya ya...
__ADS_1
sebagai bentuk penghargaan buat Author
salam cintooh...