Wanita Tersayang

Wanita Tersayang
Dia sahabatku


__ADS_3

"Aku lapar..." Denis menggigit tipis telinga istrinya.


"Aku akan buatkan sesuatu.." Avi bergegas memakai pakaiannya dan keluar menuju dapur memasak makanan untuk mengganjal rasa lapar mereka.


"Sayaang... aku akan menyelesaikan nanti..." Denis duduk didepan Tv menyalakan beberapa acara yang ia ras menarik.


"Apa?" Avi menatap Denis yang melihat televisi.


"Pekerjaan dikamar mandi..." Denis menjawab santai dengan senyuman seringainya.


"Apa masih belum selesai?" Avi terpanah.


"Belum .. mereka belum bertemu." Denis menahan tawanya dari pandangan Avi. Ia menutup mulutnya.


Ting tong..


Ting tong..


"Sepertinya ada tamu.." Denis berjalan kearah pintu membukanya.


Brugh...


"Hei... ada apa ini?"


Denis tak sengaja terdorong oleh tubuh seorang wanita kebelakang. Avi yang terkejut melihat itu mendekati siapa yang baru masuk ke apartemennya dan Denis.


"Anin?" Avi menatap Anin heran.


Ia melihat kondisi teman nya yang kacau balau. Baju kantor yang biasa ia pakai kini terlihat berantakan. Rok mininya pun sudah robek bagian samping. Sehingga memperlihatkan paha mulus putih Anin.


"Avi...."

__ADS_1


Wanita itu memeluk Avi dan tangisnya pecah dipelukan sang sahabat. Denis yang melihat keadaan Anin kacau balau mengambil kain kekamarnya dan menutupi tubuh Anin. Ia mengambil segelas air lalu memberikannya pada Avi.


"Minumlah dulu..."


Avi memberikan segelas air dan Anin meminumnya sedikit. Denis yang berdiri memangku tangan sejak tadi menatap Avi.


"Apa yang terjadi nin?" Tanya Avi setelah memperbaiki kain menutupi tubuhnya.


"Aku... aku bertemu dengan klien hari ini. Setelah pulang dari cafe didepan apartemen ini. Aku dicegat oleh beberapa orang. Dibawa paksa masuk dan dikurung di apartemen ujung sana. Saat mereka hendak menutup pintu aku melihat kamu dan pak Denis berdiri diluar. Makanya aku cari cara agar bisa keluar dari apartemen itu. Kukira aku mengetuk pintu yang salah.. tapi ternyata itu benar kalian."


Anin menjelaskan panjang lebar kejadian yang dialaminya.


"Apa mereka sudah bertindak kurang ajar pada mu?" Denis ikut angkat bicara.


"Belum pak Denis karna aku berhasil melarikan diri" Anin kembali minum air yang diberikan Avi tadi.


"Syukurlah... kamu masih beruntung nin" Avi merasa lega karna sahabatnya belum sempat dinodai mereka.


Tadi kamu bilang terkurung didalam apartemen. Pintunya memakai kode." Denis curiga dengan mengecilkan matanya.


"Sayang.. sudahlah.. temanku sedang syok.jangan bertanya yang aneh aneh" Avi kembali memeluk Anin memberikan semangat.


"Hanya saja aku penasaran. Mungkin saja mereka semua laki laki.. jika dilihat keadaan mu sekarang, tidak ada luka sedikitpun. Hanya pakaian mu yang acak acakan." Denis tetap melanjutkan perkataannya. Dan mendapat tatapan tajam dari istrinya.


"Baiklah... mungkin mereka bertindak lembut dan baik. Ia bahkan tak memukul atau menampar wajah Anin. Karna aku tak melihat ada bekas tamparan."


Denis berjalan kedapur meninggalkan Avi dan Anin berdua. Berjibaku dengan pikirannya.


Sangat aneh... sepertinya ia sengaja. Pa yang dikantor itu ia sengaja juga. Saat Avi datang ia menjatuhkan... hmmm... seolah olah aku tengah bermain dengannya. Aku harus hati hati. Aku harus mengawasi setiap gerak geriknya.


"Maafkan perkataan Denis tadi ya nin." Anin mengangguk dan mencoba memberikan senyuman pada Avi.

__ADS_1


"Bagaimana sekarang, apa sudah terasa membaik?" Avi membelai rambut Anin kesamping.


"Ya.. aku merasa jauh lebih baik. Syukurlah aku bertemu kalian. Maafkan aku menganggu kalian." Anin menggenggam jemari Avi dan tersenyum padanya.


"Oh tidak.. tadi ku sedang masak didapur. Denis lapar." Ia meyakinkan Anin jika mereka sedang santai.


"Terima kasih Vi" Anin tersenyum.


"Tunggu sebentar ya.. aku ambilkan makanan untukmu"


Avi berjalan ke dapur meninggalkan Anin. Ia mendekati Denis yang sedang memotong wortel.


"Sayang.. bolehkah...."


"Kita akan mengantarnya pulang kerumahnya. Aku tak mengizinkan dia menginap disini." Denis berbisik memotong ucapan Avi.


Avi yang mendengar perkataan suaminya terdiam. Karena ucapannya dipotong langsung oleh Denis. Ia sepertinya tau apa yang dipikirkan Avi.


"Kamu dengar kan sayang.. jika ada wanita lain menginap dirumah kita. Itu akan mempercepat perpisahan kita. Jadi.. sebelum aku tergiur seperti kucing melihat lauknya. Lebih baik kita menjaga keharmonisan antara kita berdua. Tanpa ada seorang perempuan dirumah kita." Denis kembali berbisik pada Avi.


"Kenapa Uda bicara seperti itu? Dia sahabatku" Avi terlihat seperti memprotes perkataan Denis.


"Karna aku lelaki yang mudah tergoda. Kamu lihat sendiri gaya berpakaiannya? Sangat terbuka. Itu akan mengundang banyak syetan dirumah kita sayang. Mengertilah..." Denis berjalan keluar dapur masuk kekamarnya.


Memang benar apa yang dia katakan. Dulu ia sahabatku saat sekolah. tapi .....Aku tak tau siapa dia sekarang.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2