
"Denis... kemarilah" mama Mita memanggil Denis setelah melihat anaknya.
"Ada apa ma?" Dia menghampiri mama Mita yang sedang bersantai bersama papa Robi.
"Setelah mama dan papa pikirkan semalam, kita tak usah buru buru mengadakan pesta adat untuk mu dan Avi. Kalian tuntaskan saja bulan madu kalian. Mama juga sudah bicara dengan keluarga Avi. Mereka ternyata berpikiran yang sama."
Denis tersenyum lega mendengar perkataan orang tuanya. Dia mengangguk tanda senang.
"Ada apa? Kamu kelihatan sangat senang?" Ayah Robi bertanya pada Denis.
"Aku juga berpikir seperti itu. Syukurlah" Denis menyeruput secangkir kopi hitam ditangannya.
"Ada yang berubah dari anak mu pa.." ujar mama Mita meneliti pada Denis.
"Aku biasa saja..." Jawab Denis santai.
"Sepertinya... super junior mu sudah debut. Hahaha...." papa Robi tertawa memandang kearah Denis.
"Begitulah..." Denis tetap santai. Walaupun dengan wajah yang merona.
"Dimana Avi? Mama tak melihatnya bersama mu" mama melihat kearah Denis penuh tanya.
"Masih dikamar, tadi kami sarapan dikamar." Dia mencoba menyembunyikan kenyataan dari orang tuanya.
"Pasti dia kewalahan memghadapimu" mama terkekeh memandang Denis.
"Apa dia masih bisa berjalan?" Selidik papa Robi.
"Sudahlah, aku mau menyusul Avi dulu ma pa.." Denis buru buru berdiri meninggalkan orangtua yang membuat Denis malu.
"Sayang... nanti siang kami semua akan pulang. Bersenang senanglah disini beberapa hari" ucap mama sedikit berteriak kearah Denis.
"Baiklah, kami akan mengantar..." Denis tersenyum membalikan tubuhnya melihat kearah orang tuanya. Kemudian ia kembali melanjutkan langkah ketempat sang istri beristirahat.
"Pertanyaan macam apa itu? Mereka aneh" gumam Denis menggerutu menuju kekamarnya lagi.
.
.
__ADS_1
Sementara disini, Arash telah sampai didepan rumah Avi. Dia mengetuk pintu rumah mereka. Rumah itu terlihat sepi. Tak satupun penghuni rumah disana. Bahkan seluruh jendela tertutup.
"Kemana mereka? Rumah ini tak berpenghuni. Sial... apa mereka menghindari ku.?" Arash menggerutu didepan rumah mama Lena.
"Permisi... mencari siapa nak?" Seorang lelaki paruh baya mengejutkan Arash yang sedang kesal didepan rumah tetangganya.
"Maaf pak, ibu Lena dan keluarga nya tidak ada dirumah. Kira kira mereka kemana ya pak?" Tanya Arash sopan pada lelaki paruh baya itu.
"Oh... buk Lena. Kemaren mereka pergi pagi pagi." Jelas bapak tua tersebut.
"Semuanya pak?" Selidik Arash penasaran
"Ya saya lihat semuanya..."
"Baiklah, terimakasih pak, saya akan pergi" Arash berlalu meninggalkan rumah itu.
Kurang ajar, mereka mengerjaiku. Awas saja nanti. Jika kutau mereka menghindari ku tak kan kubiarkan mereka hidup tenang.
Dia melajukan mobilnya meninggalkan daerah itu. Mencoba mencari tau lewat orang suruhannya. Dengan kekesalan dan kemarahan ia mengumpat dengan murka.
.
.
"Sayang... sedang apa?" Denis mendekati Avi yang masih berbaring diatas tempat tidur memainkan ponselnya.
"Kamu sudah datang? Bagaimana kata mereka?" Avi membalikkan tibuhnya menghadap Denis yang sudh berbaring disebelahnya.
"Mereka setuju.." Ucap Denis santai memainkan rambut Avi.
"Syukurlah.." Avi meletakkan ponselnya kenakas yang berada dibelakangnya.
"Ternyata mereka semua juga berpikiran sama" Denis mengecup sekilas bibir ranun Avi.
"Apa kita akan lama disini Uda?" Tanya Avi yang mulai mendekatkan tubuhnya pada pelukan Denis.
"Ya... akan sedikit lama sayang. Mereka semua akan kembali siang ini." Jelas Denis menguatkan pelukannya pada Avi.
"Kita akan mengantar mereka..."
__ADS_1
"Ya... apa sebaiknya kamu bertemu dengan mama Lena dahulu sayang?" Tanya Denis mengecup pucuk kepala Avi.
"Astaga aku lupa... aku belum bertemu sejak semalam." Avi menepuk sendiri keningnya.
"Apa sudah kuat berjalan?" Denis melihat kearah bawah Avi.
"Jangan menatap seperti itu. Aku baik baik saja. Hanya tinggal sedikit rasa perihnya" ia kembali memeluk Denis.
"Baguslah... "
"Kamu senang?"
"Ya... kenapa tidak? Kita bisa melakukannya lagi bukan?" Denis mengukir senyuman seringainya.
"Untuk sekarang beri aku waktu sayang.. mata ku terasa sangat berat."
Pelan pelan mata itu terpejam hingga Avi terlelap dipelukan Denis.
Kamu terlihat sangat lelah, maafkan aku yang menjadi candu padamu. Aku mencintaimu sayang...
Denis menyusul Avi dengan mencoba menutup matanya. Masuk kealam mimpi mereka berdua.
Tak berapa lama, terdengar ketukan pintu kamar dari luar. Mama Mita dan Mama Lena bersiap siap hendak pulang. Ponsel mereka berdua juga tak diangkat setelah dihubungi beberapa kali.
"Barangkali mereka tertidur buk Lena" ujar mama Mita yang dari tadi mengetuk pintu.
"Apa kita pergi saja? Kirimi saja pesan nanti." Jawab mama Lena.
Mereka berdua meninggalkan kamar Denis dan Avi. Tentu saja mereka tak mendengar ketukan pintu karna mereka baru saja memasuki alam mimpi yang indah.
Kedua keluarga itu berjalan kearah kapal yang akan membawa mereka meninggalkan pulau tersebut.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1