ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)

ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)
Chapter 10


__ADS_3

...🦋 HAPPY READING 🦋...


"Siapa anda sebenarnya?"


Semua orang menoleh ke arah Castela, Seolah mereka meminta penjelasan yang sama seperti kakek Bili. Wajah Castela semakin memucat, 'apakah ini akhir dari hidupku? Ah,surga,i'm coming' jeritnya dalam hati.


...🦋🦋🦋...


Matahari perlahan-lahan masuk ke dalam tenda menyinari ruangan itu yang telah gelap karena lilin-lilin yang sudah di matikan. Catsela menggeliat di balik selimutnya saat tubuhnya di goyang-goyang dengan pelan lalu lama-lama terasa semakin kencang.


"****! I want to kill you!" Ucap Castela tanpa sadar.


Ema segera menjauh dari Castela saat melihat wajah nonanya yang hari ini tampak menyeramkan. Dan apa itu tadi? Apa yang nonanya katakan? Mengapa kata-kata itu terdengar aneh? Apa nonanya sedang mengucapkan mantra sihir?


Ema segera menggeleng mengusir pikiran buruknya. Ia segera kembali ke tempat tidur Castela lalu menarik selimut Castela dengan paksa.


"Nona,apa anda tidak ingin bangun? Duke Herli dan tuan Marchel sudah menunggu anda di luar,kita akan segera melanjutkan perjalanan." Ucap Ema yang mampu membuat Castela loncat dari tidurnya.


"Ayo cepat,bantu aku bersiap. Ah sialan! Kenapa kau tidak membangunkanku Ema!" Umpat Castela dengan kesal.


Ema meringis saat menyadari betapa kejamnya kata-kata yang keluar dari bibir indah nonanya sejak waktu itu. Namun ia tidak sedikit pun merasa sakit hati atau tersinggung. Terkadang ia malah merasa lucu ketika mendengar kata-kata asing itu yang selalu di sertai raut wajah kesal Castela.


"Saya sudah membangunkan Anda nona. Berhentilah seolah saya yang salah,anda saja yang terlalu nyenyak tidur. Saya heran,mengapa anda bisa tidur se nyenyak itu?" Ucap Ema yang tengah menyiapkan Castela dengan segala perlengkapannya.


"Hentikan omong kosong mu itu! Aku masih mengantuk,apa kau tau? Aku tidak bisa tidur semalaman." Ucap Castela seraya bangkit dari duduknya setelah selesai di rias oleh Ema.


"Apakah anda masih memikirkan ucapan kakek Bili?" Tanya Ema menebak.


"Hah? Si kakek tua itu?" Castela diam sesaat sebelum akhirnya ia tertawa, "aku bahkan lupa apa yang ia katakan semalam." Ucap Castela berbohong.


Ema tidak melanjutkan ucapannya,meski ia menyadari jika nonanya saat ini tengah menyembunyikan sesuatu.

__ADS_1


Ema terus berjalan mengikuti Castela keluar dari tenda dan bergabung bersama yang lainnya.


"Pagi papa,pagi Marcel." Ucap Castela tanpa malu mencium Duke Herli dan juga Marchel di depan warga desa.


"Ah maafkan aku,aku lupa,pagi Karel,pagi semuanya." Ucap Castela cengengesan saat menyadari jika dirinya mencium kedua lelaki itu di depan umum.


"Tidak apa,pagi sayang, apakah tidurmu nyenyak?" Tanya Duke Herli sambil mengelus lembut pucuk kepala Castela yang rambutnya dikucir kuda.


"Yah, begitulah. Ah,iya, apakah papa sudah membawakan permintaanku?" Tanya Castela saat dirinya teringat sesuatu.


Duke Herli mengangguk,ia lalu membawa Castela dan yang lainnya ke beberapa kereta yang mengangkut bahan-bahan pertanian. Caster terlihat senang, matanya berbinar saat melihat kereta-kereta kuda itu.


"Count Petra, mendekatlah." Ucap Castela.


Viscount Petra mendekat dan berdiri di sebelah Castela sesuai dengan perintah.


"Iya lady,apa ada yang anda inginkan?" Tanya viscount Petra dengan sikap hormat.


"Lady anda-"


"Anda tidak perlu berterima kasih count. Aku hanya ingin kau berjanji satu hal." Ucap Castela


"Katakan lady,saya akan menggunakan nyawa saya untuk bisa menepati janji itu." Ucap viscount Petra bersungguh-sungguh.


"Berjanjilah jika suatu hari nanti aku kembali ke kota ini,kota ini sudah menjadi kota yang maju dan makmur." Ucap Castela tersenyum tulus.


Semua orang disana terenyuh dengan sikap baik Castela. Sungguh, bahkan orang buta sekalipun akan memiliki anggapan yang sama. Gadis ini, terlalu baik dari yang di rumorkan.


"Anda,anda benar-benar ACASHA,anda benar-benar Dewi,terima kasih, terima kasih karena telah hadir ke dalam hidup kami." Ucap para penduduk sambil menangis haru.


"Lady, berjanjilah untuk datang ke kota kecil kami ini lagi." Ucap salah satu anak perempuan berusia sekitar 8 tahun.

__ADS_1


Castela tersenyum, "Aku berjanji akan datang lagi ke desa ini,dengan satu syarat. Desa ini sudah menjadi desa yang maju dan damai. Aku akan menunggu kalian 5 tahun lagi,akan ku beri kalian waktu 5 tahun untuk menata semuanya dari awal." Ucap Castela yang di angguki oleh seluruh rakyat.


"Baiklah lady,aku akan tumbuh menjadi pria dewasa dalam 5 tahun. Dan akan melindungi lady." Ucap Erik tersenyum hingga matanya menjadi satu garis lurus.


"Baiklah aku harus pergi,jaga diri kalian dan selamat berjuang." Ucap Castela lalu melangkah menjauh memasuki kereta Kudanya. Diikuti oleh Duke Herli, Marcel,Karel,Ema dan seluruh pengawal mereka.


"Mengapa kau bertanya seperti itu tuan Bili?" Tanya Duke Herli dengan kerutan di keningnya.


"Mohon maaf Duke,orang tua ini tidak bermaksud lancang. Hanya saja,saya menemukan sesuatu yang aneh, tentang masa depan Lady Castela." Ucapnya sopan.


"Aneh? Apa yang aneh dari masa depan adikku?" Tanya Marcel mengalihkan pandangannya dari adiknya yang terlihat pucat saat ini.


"Aku melihat bulan di masa depannya. Dengan dua naga di kedua sisinya."


"Apa?! Dua naga? Kau bercanda kakek? Tadi kau mengatakan ada dua bulan di langit SEATHLAND dan sekarang kau ingin mengatakan jika akan ada dua raja di langit SEATHLAND?" Ucap Marcel tidak percaya.


"Bukan tuan Marcel,aku tidak mengatakan jika dua naga itu berada di langit SEATHLAND."


"Lalu,dimana dua naga itu jika bukan di langit SEATHLAND?" Tanya Duke Herli ikut buka suara.


"Bulan itu berada di lautan yang luas. Dan kedua naga itu, berada di masing-masing sisinya."


"Zwitland?"


Semua orang mengalihkan pandangannya ke sumber suara. Karel salah tingkah saat semua orang menatapnya, kecuali Castela yang masih terdiam di tempatnya.


"Aku hanya menduga jika itu adalah kerajaan SEATHLAND dan Zwitland. Mengingat,kedua negara besar ini di pisahkan oleh sebuah lautan yang luas. Dimana,kau bisa melihat bulan dengan jelas di kedua sisinya." Jelas Karel sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Aku tidak tahu apa arti semua ini. Tapi,aku memintamu untuk menjaga putri mu dengan baik Duke. Tidak ada yang benar-benar bisa di percayai Duke. Entah mengapa,aku melihat laut itu berubah menjadi merah, seperti sebuah lautan darah."


"Duke,putrimu memiliki takdir yang unik. Jika memang dia adalah ACASHA,aku mengkhawatirkan satu hal, aku khawatir jika kejadian yang menimpa Ratu Kaleria dan Raja William terulang kembali."

__ADS_1


" Kau tau? ACASHA tidak pernah dipilih Duke,dialah yang memilih. Dia yang memilih kapan waktunya untuk datang dan kapan harus pergi. Karena ACASHA, memiliki takdirnya sendiri. kau harus berhati-hati Duke, sepertinya pengkhianatan akan hadir dari arah yang tidak akan pernah kau duga." Ucap kakek Bili, sebelum akhirnya menyuruh semua orang kembali untuk beristirahat karena malam yang semakin larut.


__ADS_2