
...🦋 HAPPY READING 🦋...
Castela membuka kedua matanya. Cahaya yang menyilaukan membuat dirinya tampak kesulitan untuk menyesuaikan penglihatannya dengan keadaan sekitar.
Setelah penglihatannya mampu beradaptasi, Castela tertegun. Saat ini dirinya tidak berada di ruang penjara bawah tanah yang gelap itu. Ia ingat sekali,jika lelaki itu memaksanya meminum air di gelas yang berisi racun.
Dan saat itu, amisnya darah memenuhi mulutnya, sebelum akhirnya ia jatuh dan semuanya mendadak menjadi gelap.
"Apa gue Uda beneran mati? Apa ini surga? Gue mimpi apa bisa masuk surga? Ah,mami pasti ada disini."
Ucapnya ngelantur sambil memperhatikan sebuah taman yang indah. Ia seperti berada di atas awan. Ada air terjun tak jauh darinya yang mengeluarkan gemericik air nan merdu,bagai alunan melodi musik musim panas.
Castela kembali menatap pilar-pilar yang menjulang tinggi. Apakah seperti ini yang di namakan surga? sangat indah,Begitulah pikirnya.
Namun seketika raut wajahnya berubah tatkala ia kembali mengingat jika ia pergi tidak sendiri. Melainkan membawa anaknya yang masih berumur lima Minggu.
"Maafkan mama ya sayang,mama gagal memperkenalkan mu kepada dunia. Tapi tidak masalah,mama tidak perlu khawatir lagi akan keselamatanmu. Kita akan memulai kehidupan baru disini,berdua,kau dan mama." Ucapnya mantap sambil mengusap lembut perutnya yang sudah tampak menonjol dan besar. Membuat keningnya berkerut,namun langsung ia hempaskan kerutan-kerutan itu.
'Sejak kapan perutku sebesar ini?'
"Apa kau sudah puas bernostalgia?"
Castela terperanjat kaget,ia langsung memasang sikap waspada. Tidak jauh darinya, muncul-lah seorang lelaki. Berperawakan tinggi, putih,badan kekar,namun wajahnya terlalu bersinar, membuat dirinya tidak bisa melihat wajah Itu.
Sosok itu menggunakan jubah kebesarannya. Berwarna putih,dengan bordiran berwarna emas. Sungguh benar-benar sangat mewah. Ada lambang dua bulan diantara satu naga di jubah kebesaran itu. Membuat Castela sedikit berpikir, seperti pernah melihat gambar itu,namun entah dimana.
"Siapa kau?" Tanya Castela datar,tanpa menurunkan sedikit pun kewaspadaannya.
Lelaki itu tertawa, membuat Castela muak mendengarnya.
"Apa kau bercanda? Kau tidak mengenaliku?"
"Apa kau artis? Presiden? Walikota? Atau sosok penting sehingga aku mengenalmu?" Tanya Castela Malas.
__ADS_1
"Ah,itu tidak penting,kau mengenalku atau tidak itu bukan sesuatu yang penting. Hanya saja,aku cukup sedikit kecewa saat mendengar ternyata kau tidak mengingat ku. Ya,tapi lupakan saja,aku ada disini, untuk menjawab satu pertanyaan mu. Waktu mu tidak banyak,jadi cepatlah tanyakan!"
Castela menaikkan sebelah alisnya, menatap tajam sosok lelaki di hadapannya. Otaknya berpikir,satu pertanyaan. Kira-kira pertanyaan apa yang harus ia tanyakan?
'Tunggu,tapi siapa dia? dan kenapa dia datang-datang langsung menyuruhku untuk bertanya?'
Castela ingin menanyakan hal itu,tapi ia reflek menutup mulutnya. Bukankah jika pertanyaan itu muncul maka kesempatannya kali ini akan habis? ah, Castela tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini!
Masa cuma satu pertanyaan,tidak bisa ia gunakan sebaik mungkin,enak saja. Dirinya sudah tersesat di Dunia ini, bahkan saat ini entah tempat apa yang ia pijak. Bukankah sangat berbahaya?
"Hanya satu pertanyaan? Apa kau bercanda? It's not fun okey! Aku punya banyak pertanyaan di kepalaku,dan kau cuma ngasih kesempatan aku bertanya satu kali?" Ucapnya tak percaya
Lelaki itu mengangkat bahunya acuh
"Aku hanya bisa memberikan dua kesempatan. Satu kesempatan kali ini, dan satu lagi di pertemuan selanjutnya. Setelah tugasmu disini selesai."
Castela tampak berpikir,itu artinya masih ada kemungkinan ia akan bertemu lagi dengan sosok ini. Baiklah, setelah mencari jawaban kesana kemari,dan tak kunjung mendapat jawabnya. Maka pertanyaan itulah yang harus ia tanyakan.
"Baiklah, aku akan bertanya. Dan sebaiknya kau berikan aku jawaban yang masuk di akal. Karena jika tidak,maka kau akan ku habisi disini." Ucapnya dingin dengan sorot matanya yang tajam. Netra hijau zambrudnya berkilat di bawah cahaya terang itu.
"Baiklah,aku akan memberikan jawaban yang memuaskan untuk mu. Sekarang, katakan,apa pertanyaan mu!"
Castela terdiam, sebelum akhirnya mengucapkannya dengan mantap.
"Apa hubunganku dengan dunia ini?"
"Ah, pertanyaan itu? Aku kira kau akan menanyakan bagaimana caranya agar kau bisa kembali ke dunia asalmu."
Castela mendengus,tetap mempertahankan tatapan tajamnya yang menantikan jawaban.
"Ah, baiklah baiklah! Aku akan menjawabnya!"
Lelaki itu berjalan mengamati bunga-bunga yang tampak mekar dengan indah. Sebelum akhirnya ia menjawab.
__ADS_1
"Kau tahu,dewalah yang menciptakan jiwa manusia,lalu menyuruh para malaikat untuk menghantarkan jiwa-jiwa itu ke sebuah rumah sementara yang di sebut rahim. Semua itu di kerjakan dengan teliti, agar tidak ada satupun kesalahan,karena itu akan merusak tatanan alam."
Lelaki itu duduk di batu,di dekat air terjun. Kedua matanya menerawang jauh,meski Castela tidak bisa melihatnya.
"Namun kemudian,hari itu terjadi. Kejadian besar yang membuat keseimbangan tatanan alam benar-benar terguncang. Kehadiran sang iblis yang selama ini di kurung di penjara suci membuat gempar seluruh nirwana. Iblis itu mengincar salah satu dari jiwa kembar yang akan di kirimkan ke rumah sementara mereka. Namun sang malaikat berhasil membawa kabur kedua jiwa itu."
Sosok itu mantap Castela, Castela memberikan kode agar Lelaki itu melanjutkan kisahnya.
"Satu jiwa berhasil di kirimkan,namun satu jiwa lagi gagal. Sang malaikat mencoba segala cara untuk menghalangi niat jahat iblis itu,karena ia tahu jiwa yang saat ini ia genggam bukanlah jiwa biasa. Malaikat itu lalu mengerahkan kekuatannya, melanggar perintah dewa dan membelah jiwa itu menjadi dua. Jiwa yang seharusnya satu, terpaksa ia pisahkan."
"Tunggu, maksudmu jiwa kembar itu adalah Castela dan Camelia?"
"Kau bisa menemukan jawabannya sendiri Anesya. Cukup dengarkan aku,karena waktu ku tidaklah banyak."
Castela mengangguk,lalu menyuruhnya untuk kembali menjelaskan.
"Satu jiwa yang di pisahkan,akan berdampak buruk bagi jiwa itu sendiri. Malaikat itu mengirimkan inti jiwa itu ke dunia lain, yaitu tempat mu berasal. Dan jiwa pelengkapnya itu ia kirimkan ke rumah sementaranya. Bersanding bersama jiwa kembarannya.
"Dan jawaban atas pertanyaan mu tadi, sudah bisa kau dapatkan bukan?"
Castela terdiam, sebelum akhirnya bersuara.
"Aku adalah inti jiwa yang terpisah dari jiwa pelengkapku, yaitu Castela. Itu artinya,aku adalah Castela dan ini adalah duniaku yang sebenarnya. Iblis itu mengincar jiwaku,karena Aku merupakan titisan seorang ACASHA. Jadi itu alasan aku datang ke tempat ini? Tapi kenapa iblis itu mengincar diriku? Dan sebenarnya apa peranku di sini?" Tanya Castela frustasi
"Kau memang bodoh,aku pikir kau sudah mengerti. Tapi terserahlah,tugasku sudah selesai. Aku sudah mengatakan semuanya,yang berkaitan dengan pertanyaan mu itu. Untuk Pertanyaan-pertanyaan mu tadi,jika kau ingin mendapatkan jawabannya,maka kembalilah,dan cari jawaban itu sendiri. Aku tahu,kau tidak sebodoh ini Anesya,ah atau ku panggil kau Castela? bukankah kalian satu jiwa? HAHAH Sampai bertemu lagi Castela,di Waktu yang tepat, waktu yang sangat ku nantikan tentunya. Aku akan datang,dan menjawab pertanyaan terakhir mu."
Perlahan sosok itu menghilang, tergantikan dengan kabut tipis di sekitarnya duduk tadi. Dan semuanya kini kembali menjadi gelap. Membuat Castela kembali pingsan di antara banyaknya pertanyaan yang kembali muncul di otaknya.
Kau, adalah ACASHA...
Kau, memiliki peranan penting...
Kalian, adalah satu...
__ADS_1
Aku akan kembali, persiapkan dirimu untuk jawaban atas pertanyaan selanjutnya...