
...🦋 HAPPY READING 🦋...
Sudah cukup lama black berlari menembus pepohonan. Akhirnya sebentar lagi Castela memasuki hutan. Dengan bibir tersenyum lebar hingga menampakkan deretan giginya yang rapi, Castela memacu kudanya memasuki kawasan hutan.
Ia begitu takjub melihat segala jenis pohon dan tumbuh-tumbuhan serta bunga-bunga liar yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Sinar matahari sudah sepenuhnya berada di atas langit. Setelah dirasa sudah cukup dalam ia menjelajahi hutan, Castela memutuskan untuk berburu dan akan memasak hasil buruannya untuk ayah dan kakak lelakinya.
Castela mengambil satu anak panah dari punggungnya lalu menarik busur membidik seekor rusa. Badannya tetap menjaga keseimbangan agar dirinya tidak jatuh dari kuda.
"Wah,rusa besar itu pasti enak sekali rasanya jika di bakar." Ucap Castela sambil membayangkan bagaimana lumernya bumbu yang di padukan dengan daging rusa itu ketika masuk ke dalam mulutnya.
Crashh!!
"Sial!"
Anak panah itu meleset karena seekor tupai yang tiba-tiba muncul dan menyambar bidikannya. Castela memutuskan turun dari kuda. Ia mengikatkan black di salah satu pohon. Tidak lupa ia membawa tasnya yang berisi obat-obatan dan mengikatnya di dada.
Castela semakin berjalan memasuki hutan. Ia berjalan dengan hati-hati agar buruannya tidak lari. Karena terlalu fokus, Castela tidak sadar jika dirinya sudah berada di pinggir jurang. Dimana,di bagian bawah jurang ada sebuah sungai yang indah,yang airnya mengalir begitu deras.
Castela memutuskan untuk berbalik,namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat samar-samar ia melihat rusa buruannya berlari kencang diikuti oleh suara tapak kaki kuda yang beradu dengan tanah.
"Sial! Ternyata ada orang lain yang menginginkan buruanku." Umpat Castela.
Ia segera berlari mengejar rusa buruannya agar tidak di dahului oleh orang itu.
"Siapapun kau, aku tidak akan membiarkanmu mendapatkan rusa itu." Ucapnya
Lama berlari, akhirnya Castela menemukan rusa itu sedang minum air. Sudah tidak ada lagi derap suara kaki kuda. Castela mengarahkan bidikannya tepat ke arah rusa itu,lalu melepaskannya dengan cepat.
Crashh!!
"Yes kena kau!" Ucap Castela berseru senang.
Tapi,rasa senangnya tidak bertahan lama saat menyadari jika ada dua anak panah yang tertancap di tempat yang sama. Castela melirik ke sebelahnya,dan orang yang sedari tadi juga tidak menyadari keberadaan Castela ikut melirik.
"Sial! Kau benar-benar sial Castela!" Ucap Castela sambil membuang wajahnya ke arah lain.
Ia meringis saat menyadari jika Lelaki di seberangnya adalah lelaki yang paling tidak ingin ia temui. Castela segera keluar dari tempat persembunyiannya lalu dengan cepat membawa kabur rusa itu.
__ADS_1
Namun,sebuah ujung pedang di bawah dagunya membuat langkahnya terhenti. Dengan sedikit takut, Castela melirik ke arah Morgan yang menatapnya dengan tatapan tajam dengan pedang di tangannya yang masih terarah ke bawah dagu Castela.
"Apa yang kau lakukan?" Suara dingin itu memecah udara membuat Castela sedikit merinding.
'apa orang ini bodoh? Apa dia tidak melihat aku ingin membawa rusa ini kabur?'
"Ah,aku- aku sedang mengambil hasil buruanku." Ucap Castela dengan senyuman bodoh yang berusaha menutupi ketakutannya.
"Buruanmu?" Morgan menaikkan sebelah alisnya, menatap tajam rusa yang masih di pegang Castela.
"Anak panahku juga menancap disana. Apa kau tidak melihatnya?" Sambungnya lagi.
"Hah? Benarkah? Aku tidak melihatnya. Aku hanya melihat satu anak panah disini,dan itu anak panahku." Ucap Castela sedikit berbohong. Padahal sudah jelas jika ada dua anak panah disana.
"Apa kau buta? Lepaskan rusa itu."
Castela menatap Morgan tidak terima. Enak saja, bukankah anak panahnya juga tertancap di tubuh rusa ini. Itu artinya dia juga memiliki hak atas rusa ini.
"Tidak! Tidak!" Castela dengan cepat menggeleng. "Kau cari yang lain saja, yang ini untukku. Mengalahlah sedikit,jika kau tetap memaksa, mungkin aku bisa membaginya menjadi dua." Sambungnya yang di hadiahi tatapan mematikan dari Morgan.
"Apa kau tau? Aku selalu mendapatkan apapun yang aku inginkan. Dan aku tidak akan pernah membagi milikku dengan siapapun." Ucap Morgan tepat di telinga Castela yang membuat bulu-bulu di sekitar lehernya meremang.
"Kau, mencoba mengancamku pangeran? Aku rasa,aku sedikit mempunyai kebiasaan buruk. Aku akan terobsesi, dengan sesuatu yang menurutku menarik. Dan apa kau tau? Tindakanmu barusan malah memicu rasa obsesiku untuk mempertahankan rusa ini."
'Bodoh! Bodoh! Dasar kau bodoh Castela! Ahh sialan! Mengapa kau malah memancingnya? Ah, tamatlah riwayatmu, seharusnya kau memberikan rusa ini kepadanya,lalu pergi menyelamatkan diri bodoh! Lihatlah wajahnya itu,dia benar-benar menatapmu dengan tatapan lapar Castela. Ah dasar bodoh,mengapa kau menggali kuburanmu sendiri di tengah hutan.
"Kau, ternyata menarik."
Morgan menatap Castela dengan seringaian di bibirnya. Ia menatap Castela tepat di matanya. Sehingga netra berwarna hijau zambrud itu bertabrakan langsung dengan netra biru laut milik Morgan. Untuk sesaat, Castela merasa tersihir dengan pesona lelaki di hadapannya itu.
Jika di perhatikan lagi, lelaki itu memang terlihat sangat tampan. Hanya saja, sifatnya yang menurut Castela menyebalkanlah yang membuatnya tidak menyukainya. Tanpa sadar,kini rusa itu sudah berada beberapa jarak darinya.
Castela mengerutkan kening,lalu kemudian ia mengalihkan wajahnya kembali ke depan,namun seketika tubuhnya terasa menegang saat sebuah benda asing yang tidak sengaja menyentuh bibirnya.
Castela mundur beberapa langkah dengan tatapan terkejut. Begitu pula Morgan,ia benar-benar terkejut,karena niat awalnya hanya untuk mengerjai gadis kecil di hadapannya ini. Namun, tiba-tiba jantungnya berdebar sangat kencang.
'Ada apa ini? Mengapa jantungku berdetak seperti ini? Padahal ini tidak pernah terjadi sebelumnya.' ucapnya dalam hati
__ADS_1
Ia memegangi jantungnya, lalu matanya kembali menatap gadis kecil yang saat ini sudah berpindah dari tempatnya.
'Apa gadis itu yang menyebabkan jantungku berdetak sangat kencang? Tapi,tapi mengapa?'
Untuk memastikannya,Morgan kembali melangkah mendekati Castela. Castela kembali tersadar ketika wajahnya dan wajah Morgan hanya berjarak satu senti. Morgan semakin mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka saling bersentuhan. Bahkan ia bisa merasakan hangatnya nafas yang di hembuskan oleh Castela. Bahkan, keduanya bisa merasakan bau parfum satu sama lain.
Kembali, kembali ia rasakan debaran jantungnya yang berdegup sangat kencang. Apa-apaan ini? Selama dua tahun ini,ia tidak pernah merasakan hal yang sama ketika bersama dengan istrinya, Rosenta. Namun, mengapa dengan gadis ini,di pertemuan keduanya, jantungnya malah berdetak tidak karuan.
Morgan menatap kedua mata Castela, tampak jelas bagaimana gadis cerewet itu mendadak diam dengan tubuh yang menegang. Dari jarak sedekat ini,hanya satu hal yang bisa ia simpulkan.
"Cantik." Ucapnya pelan, hampir tidak terdengar karena dengan cepat.
Bisa di lihat jika gadis kecil itu mulai mendapatkan kesadarannya kembali. Morgan melirik bibir indah yang menggoda itu mulai bergerak akan protes. Entah dorongan dari mana, ketika bibir itu mulai terbuka,dengan cepat Morgan membungkam bibir kecil itu dengan bibirnya.
Castela menatap kaget, bahkan kedua matanya serasa hampir keluar ketika benda asing itu kembali menempel di bibirnya dengan tiba-tiba. Benda asing yang terasa kenyal,dingin tapi,manis?
Morgan merasakan sensasi aneh ketika mencium gadis ini. Seperti sensasi nyaman dan ingin memiliki?
Morgan meletakkan tangan kirinya di pinggang Castela,lalu tangan kanannya berada di tengkuk Castela. Ia menekankan kepala Castela agar semakin memperdalam cium*n mereka. Jarak yang tadinya tercipta,tanpa sadar terkikis begitu saja. Tangan kanan Morgan melepaskan tas berisi anak panah dari tubuh Castela dan membuangnya ke sembarang arah.
Entah mengapa,tubuh Castela seperti kehilangan kendali. Kedua tangannya dikalungkan ke leher Morgan,lalu ia mulai membalas cium*n itu. Sepertinya, jiwanya yang sudah berumur dua puluh tahun itu mulai menyatu dengan tubuh gadis ini.
Morgan merasa terkejut saat gadis kecilnya mulai membalas cium*nnya. Ia semakin memperdalam ciuman mereka dengan ******* bibir kecil itu seolah tidak ingin melepaskannya.
Dengan pelan-pelan,Morgan membaringkan tubuh mereka yang sudah saling menempel ke atas tanah. Sebelah tangan Morgan ia gunakan sebagai bantalan kepala Castela, sementara tangan satunya mulai bermain di bagian tubuh Castela.
Castela mengerang ketika tubuhnya terasa terangsang. Cium*n Morgan turun ke bagian leher Castela. Lalu kemudian naik dan mengigit kecil telinga Castela hingga tanpa sadar mulutnya itu mendesah.
Sialnya suara yang keluar dari mulut Castela itu tidak sengaja membangunkan juniornya yang sudah lama tertidur. Castela Merasakan sesuatu yang keras di bagian bawahnya yang sedang menonjol di atasnya. Namun,ia tidak bisa bergerak karena Morgan yang saat ini semakin ganas menciuminya.
Tangan Morgan bergerak membuka kancing kemeja yang di pakai Castela hari ini. Hari ini Castela tidak mengenakan gaun,ia mengenakan pakaian berburu. Sebuah kemeja berwarna coklat,dengan celana panjang berwarna hitam dan di padukan dengan sepatu boots.
Morgan semakin tidak bisa membendung hasratnya ketika melihat sebuah gundukan berukuran cukup besar untuk gadis seusianya yang saat ini masih terbalut kain putih. Ia meraba bagian dada Castela yang mulus dan bersih dan tidak terbungkus apa-apa itu. Ia tersenyum ketika melihat titik hitam kecil tepat di bagian dada Castela, sebuah tahi lalat. Morgan semakin menekankan tubuhnya ke tubuh Castela hingga membuat gadis itu kembali mengeluarkan suara anehnya.
Saat kain putih itu telah terbuka,maka yang di lihat Morgan adalah pemandangan yang benar-benar indah. Ia mengarahkan mulutnya ke arah dua bukit yang meninggi, sebelum akhirnya ia menggapainya,sebuah tamparan keras membuatnya tersadar.
Plakk!!
__ADS_1
"APA YANG KAU LAKUKAN PADAKU BRENGSEK?!!"