ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)

ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)
Chapter 25


__ADS_3

...🦋 HAPPY READING 🦋...


Bagaimana sebenarnya konsep bahagia itu? Apakah sebuah rasa puas yang timbul akibat mendapatkan sesuatu yang diinginkan? Ataukah sebuah rasa keikhlasan ketika tidak bisa mendapatkan apa yang di inginkan?


Apakah merebut kebahagiaan orang lain juga bisa di katakan sebagai kebahagiaan? Begitu banyak ucapan selamat datang silih berganti. Mengucapkan satu kalimat yang menuju akhir yang sama, semoga kalian menjadi keluarga yang bahagia.


Bahagia untuk siapakah ini?? Tidak ada sedikit pun rasa bahagia yang hinggap di hatinya. Keterpaksaan yang sengaja di layangkan dengan dalih kebahagiaan, dengan cara merebut kebahagiaan orang lain, apakah bisa mendapatkan akhir yang bahagia?


Mereka semua berbahagia,namun mereka tidak menyadari jika saat ini,mereka sedang bahagia di atas penderitaan orang lain.


Beginikah cara seorang penguasa memimpin negerinya? Bahkan untuk sekedar memilih pasangan saja, dirinya terbelenggu dengan aturan konyol yang tidak bisa di pahami logika. Titah Raja adalah ucapan Dewa katanya.


Rakyat di seluruh negeri sedang bersuka cita. Merayakan hari bahagia penerus negeri ini akan pernikahan yang sebenarnya. Castela tersenyum getir,ini adalah kali pertamanya dirinya merasa seperti di permainkan.


Apanya yang bahagia? Bahkan ia menikah demi menjamin kepala seluruh keluarganya. Istana, bukankah tempat indah seperti yang kebanyakan orang bayangkan. Istana yang sebenarnya adalah sebuah neraka. Mereka tahu,tapi mereka seolah menutup mata demi kemewahan dan juga jabatan yang harus di gapai dengan penuh kebohongan dan tipu muslihat semata.


Sebuah tepukan tangan menggengga di seluruh dataran SEATHLAND saat mahkota permaisuri resmi terpasang di kepalanya. Castela menatap lautan manusia yang berada di bawah, tengah tersenyum bahagia. Andaikan boleh memilih, bukankah ia sudah mengatakan jika ia lebih memilih menikah dengan seorang petani di bandingkan hidup dalam kukungan seorang penguasa?


Setelahnya ia lebih memilih menepi, memandangi setiap ujung SEATHLAND dari sudut yang tak terjamah. Membiarkan kedua insan di ujung sana saling melambaikan tangan, seolah merekalah bintangnya. Menyapa dengan raut wajah bahagia, menyembunyikan sebuah topeng kejam yang sungguh tidak berperikemanusiaan.


Castela menatap jauh ke ujung sana. Kedua matanya menerawang mengingat percakapan mereka saat berada di sebuah kota kecil Raksa. Bahkan hingga saat ini ia masih belum tahu apa maksud dari ramalan itu. Namun perlahan,ia menyadari jika lautan darah di antara SEATHLAND dan Zwitland, berhubungan erat dengan dirinya. Bukan hanya dirinya saja, melainkan sosok penting di belakang Rosenta.


"Apa kau akan bahagia putriku?"

__ADS_1


Satu pertanyaan yang terasa menyayat hati yang sedari tadi mencoba untuk terlihat baik-baik saja. Castela menatap wajah ayahnya. Mencoba tersenyum,meski lelaki yang tak lagi muda itu tahu,ada ribuan air mata yang siap tumpah kapan saja di mata putri kesayangannya.


"Aku akan mencoba pa, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Seperti yang papa tahu, Castela putri papa adalah gadis yang kuat."


Lagi-lagi senyuman itu, senyuman yang membuat Duke Herli merasakan sakit yang teramat. Dirinya hanya ingin putrinya bahagia. Tak apa jika harus merelakan nyawanya sebagai gantinya,ia tidak akan pernah menyesal. Namun, ia malah mendapatkan sebuah penolakan.


"Jika itu menyangkut kalian,aku tak masalah. Anggap saja saat ini aku sedang pergi ke Medan perang. Ada kalanya,kalian harus menerima hasil akhirnya nanti. Entah itu sebuah kemenangan,atau kekalahan."


Setetes air mata Duke Herli terjatuh. Ia sungguh merasa seperti orang tua yang bodoh dan lemah. Ia gagal untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang telah ia bangun bersama istri tercintanya. Bahkan jika ia mati,ia tidak akan sanggup untuk bertatap muka dengan istrinya, Liliana.


"Kau tak perlu terlihat kuat Putriku. Kelak,jika kau merasa sudah tidak sanggup lagi,kau boleh lari. Tidak ada yang salah ketika kau memutuskan lari dari sebuah peperangan. Tapi satu hal yang harus kau ingat putriku,jangan sekali-kali kau menyerah. Ketika kau menyerah,maka semuanya berakhir. Dan untuk selamanya kau akan menanggung penyesalan di dalam hidupmu."


"Apa papa bisa berjanji satu hal kepada ku?"


Netra berwarna hijau zambrud itu menatap lekat kedua mata ayahnya. Tanpa banyak kata,Duke Herli hanya bisa mengangguk. Tak sanggup memberikan penolakan kepada gadis yang telah rela berkorban demi keluarganya.


Dengan suara bergetar Duke Herli menjawabnya.


"Aku akan berjuang sekuat tenaga ku demi perang ini. Tapi berjanjilah pa,kalian akan baik-baik saja. Jika sampai terjadi sesuatu dengan kalian, aku meminta izin darimu selaku pahlawan SEATHLAND, izinkanlah aku menghancurkan ketidakadilan yang selama ini terjadi. Jangan halangi aku, biarkanlah aku menumpahkan segala sakit yang nantinya akan aku rasakan."


Cairan bening itu akhirnya berhasil lolos. Kedua matanya yang indah,kini penuh genangan yang menunjukkan sebuah keseriusan di setiap kata-katanya.


Tak pernah terlintas Sebelumnya,jika bibir kecil itu akan mengatakan hal semengerikan ini. Namun, sebagai seorang ayah,ia tidak kuasa menolak. Hari ini, Putrinya berdiri meminta sebuah janjinya,bukan hanya sebagai seorang ayah, melainkan seseorang yang sangat berjasa akan berdirinya negeri ini saat ini.

__ADS_1


Jika itu memang demi sebuah keadilan,maka tidak ada alasan lain untuk menolak.


"Lakukanlah nak,papa berjanji,jika nanti hari itu tiba,papa tidak akan ikut campur di dalamnya. Apapun keputusanmu,papa yakin kau bisa mempertanggungjawabkannya."


Ucapan itu meluncur dengan sebuah pelukan hangat yang sangat menenangkan. Untuk sementara, bolehkah ia meminta untuk tidak melepaskan pelukan itu?


Di sisi lain,di sebuah kota kecil. Mereka semua sedang berkumpul. Kota itu sudah tampak lebih baik dari terakhir kali di kunjungi. Seorang anak kecil bermata merah menatap laki-laki yang membawa berita dengan tatapan tajam.


"Benarkah berita yang kau dapat itu Leo?"


Lelaki tua itu bertanya dengan tatapan menuntut jawaban. Leo, Lelaki yang di maksud mengangguk mantap. Tidak sedikitpun tersirat kebohongan di setiap kata-katanya.


"Itu tidak mungkin! aku tidak terima jika memang pangeran melakukannya." Seorang anak kecil Dengan netra merahnya yang berkilat berucap mantap.


Leo, adalah laki-laki yang di tugaskan untuk mengawasi lady Castela secara diam-diam. Bagaimana pun juga, mereka harus melindungi gadis yang telah berjasa bagi kota mereka.


"Aku tidak berbohong Erik. Bahkan jika kau datang ke kota, kau bisa melihat betapa menyedihkannya lady Castela saat ini. Tapi malangnya, mereka semua tidak ada yang menyadarinya." ucapnya membela diri.


"Sungguh malang sekali nasib Lady,dia adalah wanita yang baik. Tapi mengapa takdirnya seolah-olah mempermainkannya?" ucapan itu terdengar dari salah satu wanita,dia adalah wanita yang membantu Castela menyiapkan makanan kala itu.


"Kita hanya manusia rendahan. Hanya Lady Castela dan keluarganya yang memperlakukan kita seperti manusia. Aku sangat terkejut mendengarnya ayah." viscount Petra berucap dengan penuh keresahan di setiap kata-katanya.


"Seperti yang kau katakan Petra,kita hanyalah manusia rendahan. Tidak sepantasnya manusia rendahan seperti kita ikut campur di dalam takdir seorang Dewi yang sudah di berikan oleh Dewa. Kita hanya bisa berdoa untuk keselamatan sang ACASHA. Kini, posisi itu sudah berada di tangan yang tepat. Tapi sepertinya,arah angin perlahan berubah haluan." ucap kakek Bili mengadakan kepalanya menatap langit yang tampak sedikit berbeda dari biasanya.

__ADS_1


"Akhirnya semuanya akan di mulai. Takdir yang sebenarnya tidak dapat lagi di hindari. Semoga saja, semuanya akan baik-baik saja." lanjut kakek Bili dengan tatapan jauh.


"Permainan takdir akan segera di mulai. Dewi,semoga Dewa tidak terlalu membebani langkah mu. Zeus dan Zean, manusia rendahan ini hanya bisa berharap kepada kalian. Aku tau,kalian sudah bertemu dengan tuan kalian yang sebenarnya."


__ADS_2