ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)

ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)
Chapter 60


__ADS_3

...🦋 HAPPY READING 🦋...


"Pergilah! Aku tidak ingin melihat mu!"


Suara dingin dan ketus itu yang lagi-lagi memenuhi ruangan itu. Tidak ada kata sayang,sapaan selamat pagi, pertanyaan apa kabar,atau hanya sekedar sebuah basa-basi.


Maira Leiva mengusap kasar air matanya. Tanpa menunggu pengusiran lagi,ia segera mengambil tangan putranya dan membawanya pergi dari tempat itu dan membawanya ke taman istana.


Hatinya benar-benar merasa sakit setiap kali mendengarkan ucapan kasar dan ketus yang keluar dari mulut lelaki yang sangat ia cintai itu. Ia memang tahu jika dirinya salah,tapi tidak berarti anaknya juga harus menanggung kesalahan atas yang ia perbuat bukan?


"Ibu,ibu kenapa menangis? Ayah kenapa tidak mau bertemu dengan Morgan? Apa ayah tidak menyukai kita,jadi ayah mengusir ibu dan Morgan?" Tanya lelaki tampan itu dengan raut wajah penuh kekecewaan terhadap ayahnya.


Maira berjongkok di depan anaknya, menyamakan tinggi badan mereka.


"Iya sayang,ayah sangat membenci ibu dan kamu. Padahal dulu ayah sangat mencintai ibu,tapi karena wanita itu,dia benar-benar telah menghasut ayah agar membuang kita. Hiks,,, ibu sangat sedih." Ucap Maira dengan penuh emosi.


Morgan kecil menatap ibunya dengan tatapan penuh kesedihan. Siapa wanita yang di maksud oleh ibunya itu? Mengapa wanita itu sangat kejam terhadap ibunya dan dirinya? Apakah dirinya dan ibunya tidak berhak bahagia?


"Ibu jangan menangis, Morgan berjanji akan melakukan apapun asalkan ibu tidak menangis seperti ini lagi." Ucap Morgan kecil dengan mata yang memerah.


Jujur saja, hatinya merasakan sakit saat melihat wanita yang sangat berarti bagi hidupnya itu menangis dengan sangat menyedihkan.


"Benarkah? Apakah Morgan mau membantu ibu? Apakah Morgan bersedia membalaskan dendam ibu?" Tanya Maira dengan tatapan penuh pengharapan.


Morgan kecil mengangguk antusias. Yah,tidak ada apapun di dunia ini yang lebih penting kecuali senyuman seorang ibu.


"Baiklah,kalau begitu apa Morgan yakin bisa melakukan apa yang ibu minta?"

__ADS_1


Maira menggenggam kedua tangan Morgan kecil dan menatap lekat kedua manik mata yang tampak berbinar dengan kesungguhan itu. Morgan kecil mengangguk dengan senyuman di bibirnya.


"Iya ibu, Morgan bersedia melakukan apapun untuk ibu. Asal ayah bisa melihat ibu lagi seperti dulu. Dan menyayangi kita berdua."


"Baiklah Morgan,"


Maira mengeluarkan sebuah belati dari balik gaunnya,lalu memberikannya ke tangan Morgan kecil.


"Jika kau memang bersungguh-sungguh dengan ucapan mu,maka buktikanlah sayang. Buktikan jika kau memang bisa di sebut sebagai pria sejati. Ini adalah belati yang telah di lumuri dengan racun mematikan. Tidak ada penawarnya,karena racun ini bekerja sangat cepat. Gunakan ini untuk melenyapkan nyawa wanita itu." Sambungnya lagi dengan emosi yang terlihat jelas di kedua matanya.


"Siapa wanita itu ibu?" Tanya Morgan kecil.


Sebuah seringaian yang terlihat menyeramkan muncul di wajah Maira, sebelum akhirnya menghilang dan di gantikan dengan tatapan penuh Amarah.


"Dia adalah Duchess Liliana, istri dari Duke Herli."


Gadis kecil dengan kulit putih agak kecoklatan itu menahan nafasnya. Netra birunya yang mirip dengan Duke Herli menatap gelisah.


Padahal dirinya hanya sedang berjalan-jalan karena bosa. Tapi karena tersesat, dirinya tidak sengaja memasuki taman ini. Dan lebih mengejutkan lagi,ia malah mengetahui jika ada yang sedang merencanakan pembunuhan untuk Mamanya.


Apakah ia harus memberi tahukan papanya? Tapi bagaimana jika papanya tidak mempercayainya? Bukankah saat ini dirinya tidak memiliki bukti?


Sementara Raja Philip,ia sedang duduk di atas kursi kebesarannya. Tangannya mengelus lembut Bros berbentuk bulan dengan naga yang mengikatnya. Sebuah hadiah ulang tahun dari gadis yang paling spesial di hatinya.


Tes


Tes

__ADS_1


Air mata Raja Philip jatuh mengenai permukaan Bros itu. Bukankah Bros itu sangat indah? Yah, sangat indah karena merupakan pemberian dari orang yang spesial di hidupmu.


"Selamat ulang tahun Pangeran, semoga kelak anda bisa menjadi Raja yang hebat dan di cintai rakyatnya." Ucap gadis itu sambil tersenyum manis. Menambah kadar kecantikannya.


"Cantik,apa kau sendiri yang membuatnya?" Tanya pemuda itu


"Tentu,aku meminta ayah untuk mencari pengrajin paling berbakat di seluruh Zwitland,agar bisa membuatkan hadiah yang istimewa untuk mu. Di jaga ya,aku berharap,anda bisa mewariskannya ke anak kita kelak. Agar suatu hari nanti,mereka tahu,jika ayah dan ibunya adalah sosok yang saling mencintai satu sama lain."


Raja Philip menghapus air matanya. Bukankah sekarang itu semua percuma? Kepada siapa nanti benda ini akan ia berikan? Jangankan memiliki anak dengan Liliana,bisa melihatnya saja sudah Sangat sulit bagi Philip.


Ia benar-benar sangat menyesal. Menyesal karena harus terjebak di dalam kisah Rumit ini. Dimana, dirinya adalah penyebab dari hancurnya semua impian mereka.


"Baiklah Liliana,aku akan menjadikan Putrimu sebagai Ratu di kerajaan ini kelak. Putrimu,yang memiliki paras sama persis dengan mu. Dan nantinya,akan aku kembalikan Bros ini kepadanya. Anggap saja, itu adalah caraku untuk menebus dosa-dosaku kepadamu."


Raja Philip menyimpan Bros itu kembali ke dalam kotak. Lalu ia menyimpannya di dalam sebuah kotak kaca yang indah.


"Maafkan aku karena telah menyakiti mu dan gagal membahagiakan mu. Aku senang,karena bisa melihat senyuman mu kembali walau bukan karena diriku. Aku percaya,Herli bisa membahagiakan mu. Aku percaya,dia bisa menyembuhkan semua luka yang telah ku torehkan di atas hatimu. Berbahagialah Liliana,aku mencintaimu."


Raja Philip tersenyum dengan rasa sakit yang ia rasakan. Ia menatap lekat lukisan wajah wanita yang tidak juga bisa ia lupakan. Senyumannya yang manis, Tawanya yang renyah, suaranya yang indah dan tatapannya yang teduh. Semua itu, tidak bisa ia lupakan,tidak bisa tergantikan. Karena tidak ada wanita lain yang memiliki hal yang sama.


Sementara itu, dengan tubuh gemetaran dan wajah yang pucat, Camelia pelan-pelan pergi dari tempat itu. Pemandangan yang ia lihat dan apa yang ia dengar, benar-benar mengguncang mentalnya.


Bagaimana seorang ibu bisa mengatakan hal semengerikan itu kepada seorang anak kecil? Yang sialnya adalah putranya sendiri. Memberikan sebuah belati, menghasutnya,lalu memintanya untuk melenyapkan nyawa seseorang. Bukankah itu adalah hal yang mengerikan?


Camelia ingin sekali membantu mamanya,namun ia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa.


"Apakah aku harus menggagalkan rencana mereka? Apakah aku harus menyelamatkan mama? Tapi,jika aku melakukannya, bukankah itu Sama saja? Mama tidak pernah menyayangiku, mama hanya menyayangi Castela. Hanya papa dan kak Marchel yang sayang kepadaku. Aku iri kepada Castela yang lebih di sayang mama. Bolehkah aku egois untuk sekali ini saja? Bolehkah aku membiarkan mama mati saja,agar Castela terpuruk? Agar dia bisa merasakan kehilangan mama seperti yang aku rasakan?" Ucap Camelia kepada dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2