
...🦋 HAPPY READING 🦋...
Lima tahun kemudian...
Hari ini, dataran ibukota SEATHLAND baru saja memasuki musim dingin. Hamparan salju, benar-benar tampak di seluruh mata memandang.
Udara di sekitar tampak sangat dingin. Membuat setiap Bangsawan mengenakan pakaian hangat berbulu untuk menghangatkan tubuh mereka.
Kota yang begitu indah,dimana di setiap sudutnya, benar-benar terlihat sangat indah. Masyarakatnya hidup makmur dan berkecukupan. Hasil panennya yang melimpah ruah serta perdagangannya yang berjalan sangat baik.
Membuat perputaran roda ekonomi tidak mengalami penghambatan sekalipun. Tidak ada lagi kemiskinan, kelaparan,atau ketidakmerataan penduduk. Tidak akan pernah lagi kau jumpai pengemis di setiap sudut kota.
Semua rakyat hidup makmur,di bawah kepemimpinan sang raja. Namun itu cerita dulu, cerita lima tahun yang lalu sebelum kematian sang Raja beserta istri dari pangeran Mahkota, yaitu permaisuri Castela.
Sosok yang berjasa akan kemajuan beberapa kota yang sempat hancur karena di Landa kemiskinan, terabaikan dan terlupakan.
Kota Rutin dan kota Raksa, adalah dua kota kecil yang dulu sempat terabaikan karena kemiskinannya. Kekeringan parah yang merajalela,dan kehidupan rakyatnya yang tergolong sangat terbawah. Membuat kedua kota itu terlupa dari pandangan dunia.
Namun itu hanyalah cerita lima tahun yang lalu. Karena sejatinya,sejak janji itu terucap,mereka semua benar-benar berubah. Berubah menjadi yang lebih baik lagi agar tidak mengecewakan sang Dewi yang telah berepot diri untuk turun ke kota kecil mereka.
Tidak ada lagi kota Rutin yang kekeringan dan tandus serta miskin. Tidak ada lagi kota Raksa yang hancur dan tenggelam akibat banjir bandang yang parah.
Kedua kota itu telah menemukan cahayanya, fajarnya. Lima tahun, bukankah mereka telah berjanji untuk bertemu lagi setelah lima tahun berlalu?
Meski berita akan kematian sang Dewi telah tersebar seantero negeri ini. Namun tidak dengan kedua kota kecil yang kini telah menjadi dua kota besar yang menopang seluruh perekonomian dalam kerajaan SEATHLAND.
Lima tahun yang lalu,mereka juga sempat terguncang. Mereka merasa marah,kesal, kecewa. Namun hanya sebentar,karena Setelahnya mereka teringat akan janji yang telah di buat.
"Ku berikan kalian Waktu selama lima tahun untuk memperbaiki kota kecil ini. Dan setelah lima tahun itu,maka aku akan datang lagi berkunjung menginjakkan kakiku disini. Berjanjilah, ketika aku kembali,kota ini sudah berubah, menjadi jauh lebih besar,lebih maju,serta lebih indah."
__ADS_1
Mereka memang bersedih, percaya jika kematian itu memang benar adanya. Namun usaha yang mereka lakukan sebelum berita kematian sang permaisuri,tetap kembali mereka lakukan.
Meski mereka di cemooh,di anggap gila karena berharap akan kedatangan sang permaisuri. Di hina sana sini karena di anggap bodoh,karena menuruti ucapan orang yang sudah mati.
Namun kedua kota ini tidak menggubris. Mereka adalah kedua kota yang telah mendapatkan berkah dang Dewi. Mereka hanyalah menjalankan janji mereka. Datang,atau tidaknya sang Dewi,itu bukanlah urusan mereka. Bukankah dia seorang Dewi? Dan Dewi bisa datang meski dengan kemustahilan sekali pun.
"Ah, Erik, akhirnya kau kembali. Apa ada yang kau butuhkan?"
Itu adalah pertanyaan yang keluar dari mulut viscount Petra. Lelaki itu sekarang sudah berumur,dengan uban di beberapa sisi rambutnya.
Meski kota Rutin telah berubah menjadi kota yang sangat besar dan maju. Namun viscount Petra tetap menjadi viscount Petra.
"Maaf yang mulia, bukan maksud hamba menolak kebaikan hati anda. Namun,saya dan seluruh penduduk kota Rutin adalah kota yang mendapatkan berkah fajar **dari** permaisuri Castela. Jika saya boleh meminta,maka izinkanlah saya untuk tetap menyandang gelar ini, hingga suatu hari nanti. Ketika cahaya itu kembali datang untuk menyinari dunia yang mulai redup ini,maka izinkanlah agar cahaya itu sendiri yang memberikan gelar itu kepada saya. Karena sesungguhnya,ini adalah tentang sebuah janji. Janji yang suatu hari nanti,akan segera di tagih. Mohon ringankanlah beban kami yang mulia, izinkanlah saya tetap dengan gelar ini hingga Waktunya tiba."
Sekiranya, begitulah percakapan yang terjadi saat acara pesta ulang tahun sang Ratu yang di adakan tiga tahun yang lalu secara meriah di aula istana. Sungguh miris bukan?
"***Terkutuklah Ratu, tidakkah ia Melihat bagaimana susahnya kita mencari sekeping perak? bahkan tubuhku sudah tidak sanggup mengeluarkan keringat karena miskinnya aku Sekarang."
"Andaikan saja sang Dewi ACASHA masih disini,tidaklah kita akan mengalami kemalangan seperti ini."
"Sayang sekali,kita tidak tinggal di dua kota besar itu yang pernah mendapatkan berkah dari sang Dewi. Salah kita sendiri,karena dulu masih tidak menerima sepenuhnya kehadirannya. Salah kita dulu,karena pernah berharap,jika negeri ini akan lebih baik di bawah kepemimpinan sang Lady Camelia."
"Yah,kau benar,kita memang tidak bersyukur saat itu. Jika saja aku tau akan jadi seperti ini pada akhirnya,lebih baik lady Camelia saja yang benar-benar mati menggantikan Permaisuri Castela."
"Dia benar-benar monster berwajah malaikat. Bahkan kita semua tergoda dengannya. Sungguh beruntung kedua kota itu, mereka telah mendapatkan cahayanya, fajarnya,dari sang ACASHA***."
Erik, pemuda itu kini telah tumbuh menjadi sangat tampan. Tubuhnya tinggi dan kekar,serta auranya yang tegas dan kuat.
"Ah,tuan Petra,saya hanya ingin mengunjungi makam nenek dan kakek. Sudah tiga tahun saya tidak pulang. Mereka pasti akan sedih jika dan berfikir jika saya melupakan mereka." ucapnya datar dengan raut wajah yang dingin.
__ADS_1
Yah,nenek dan kakek Erik yang dulu berjualan ikan sudah tiada. Tiga tahun yang lalu,nenek Erik meninggal karena sakit dan seminggu setelah kepergiannya,kakek Erik menyusul.
Kini lelaki tampan yang telah memasuki usia remaja itu telah menjadi ksatria pribadi pangeran Aiden. Setelah kepergian sang kakek dan nenek, istana membuka seleksi kstaria untuk kedua putranya.
Dan Erik, terpilih menjadi ksatria pribadi pangeran Aiden. Sementara pangeran Zaiden, mendapat ksatria pribadi dari kota Raksa. Namanya Abimana,ia ikut mendaftar atas usul dari Abigail, ksatria bayangan milik Castela yang masih menjadi ksatria bayangan untuk kedua Pangeran.
Viscount Petra tersenyum lembut,ia benar-benar merindukan wajah manis Erik Meijer yang sering tersenyum antusias setiap kali mendengar berita terbaru tentang sosok wanita idolanya.
Namun senyuman manis di wajahnya perlahan menghilang, ketika mendengar berita kematian mengenai sang permaisuri. Erik si anak manis yang tampan, berubah menjadi Erik yang dingin,tegas,dan tidak tersentuh.
"Mampirlah setelahnya ke rumah paman,kau pasti sangat lelah karena berkuda sepanjang hari." ucap viscount Petra menepuk lembut bahu anak lelaki yang kini telah menyamai tinggi badannya.
Lima tahun, benar-benar mampu merubah fisik seseorang.
"Maaf tuan,tapi saya harus segera kembali. Saya tidak bisa pergi berlama-lama karena pangeran Aiden sudah menunggu saya."
Lagi-lagi viscount Petra tersenyum. "Mampirlah, tidakkah kau merindukan kakek Bili,dengan segala cerita bualannya itu?" ucap viscount Petra tersenyum misterius.
Erik menegang di tempat, ekspresi wajahnya berubah terkejut. Namun setelahnya, kembali seperti semula. Benar-benar pemuda yang pandai mengatur ekspresi.
Viscount Petra tertawa kecil, sebelum akhirnya meninggalkan Erik sendirian. Ia jelas tahu,jika pemuda itu akan datang ke rumahnya.
Cerita bualan yang dulu sering di ceritakan oleh kakek Bili. Namun cerita itu terhenti setelah berita kematian sang permaisuri tersebar di seluruh dataran SEATHLAND.
Dan kali ini,kakek Bili akan kembali bercerita. Bukankah itu sebuah hal yang bagus? itu artinya,mereka masih memiliki harapan bukan?
Sudut bibir Erik terangkat, membentuk sebuah senyuman. Tipis, benar-benar sangat tipis,namun mampu membuat wanita yang melihatnya jatuh cinta.
Akhirnya, apakah hari itu akan segera tiba? apakah penantiannya selama ini akan segera berakhir?
__ADS_1