ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)

ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)
Chapter 58


__ADS_3

...πŸ¦‹ HAPPY READING πŸ¦‹...


Seorang gadis cantik bermata hijau zambrud dan rambut berwarna matahari terbenam itu berlari tergesa-gesa. Ia tidak memperdulikan panggilan dari pelayan pribadinya yang sedari tadi mengejar dirinya.


Raut wajahnya terlihat sangat khawatir dan seperti ada sesuatu yang telah menunggunya di ujung sana jika ia terlambat. Langkahnya membawanya sampai ke pintu aula yang besar dan mewah.


Nafasnya tersengal-sengal dengan salah satu tangan yang memegang sisi pintu. Ia tidak lagi memperdulikan tatapan aneh dan mencibir yang dilayangkan orang-orang yang berada di dalam aula itu. Bahkan ia sudah tidak yakin jika kondisinya terlihat memalukan dan menyedihkan.


Air mata menetes begitu saja saat ia mendapati pemandangan di depannya. Jauh di depan sana,di atas altar,kedua manusia berbeda jenis kelamin saling berdiri berhadapan dengan bibir yang menempel.


Langkah gadis itu perlahan mundur ke belakang, hingga setelahnya ia berlari. Memandang tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


"LILIANA! TUNGGU!"


Ia tidak menghiraukan panggilan dari suara yang selama beberapa Minggu ini ia rindukan. Suara yang membuatnya nekat berlayar menerobos ombak dan lautan hanya untuk menuntaskan rasa rindunya yang semakin lama semakin menggebu.


Ia terus berlari tanpa menghiraukan kakinya yang lecet dan luka-luka. Ia terus berlari hingga tidak sadar dirinya sudah berada di ujung tebing. Sebuah tebing yang terdapat laut di bawahnya.


Gadis itu,Liliana, seorang putri yang terlahir dari keluarga yang bukan bangsawan. Tidak memiliki kedudukan tinggi ataupun status yang bisa di banggakan. Ayahnya adalah seorang pengusaha yang bisa di katakan Sangat sukses dan kaya raya. Namun itu semua,tidak bisa menampik,jika di dalam dirinya tidak setetes pun terdapat darah bangsawan.


Ia bodoh! Dirinya memang bodoh! Dirinya sudah tahu dan sudah memperkirakan jika pada akhirnya,akan berakhir seperti ini. Dirinya benar-benar bodoh karena menerima bujukan atas orang yang dicintainya untuk hidup bersama. Dirinya benar-benar bodoh karena rela meninggalkan orang tuanya dan pergi jauh melewati lautan hanya agar bisa bertemu dengan lelaki yang berhasil menaklukkan hatinya. Dirinya, benar-benar bodoh.


Untuk apa ia menangis? Bukankah semuanya sudah jelas? Tidak perlu di jelaskan juga seharusnya dirinya mengerti. Namun tetap saja,rasa sakit itu tetap saja menggerogoti hatinya. Ia, kecewa, kecewa akan ekspetasinya sendiri.


Apakah dirinya harus mati? Karena jujur,ia tidak kuat,tidak kuat jika harus merasakan sakit ini seumur hidupnya. Bagaimana bisa ia melanjutkan hidup,jika orang yang menjadi alasannya untuk hidup telah memiliki kebahagiaan dengan orang lain?


"Kenapa belum melompat?"


"Hah?"


Liliana tersadar dari pikirannya yang sedari tadi berkecamuk. Ia membalikkan badannya,lalu terlihat seorang lelaki dengan wajah dingin dan datarnya yang mampu membuat seorang Liliana selalu takut jika berhadapan dengannya. Bagaimana Liliana tidak takut? Bukankah kekasihnya itu selalu menceritakan tentang lelaki ini kepadanya.


Seorang lelaki muda dan tampan,dengan raut wajahnya yang dingin dan datar, mampu menaklukkan SEATHLAND sendirian. Padahal posisi pada saat itu, Lelaki ini telah terluka parah dan pasukan yang ia pimpin sudah habis sepenuhnya. Sudah tidak ada harapan lagi untuk bisa menang.

__ADS_1


Sebuah kejutan yang mampu menggegerkan publik. Dimana,sebuah sematan baru melekat kepada sosok lelaki yang saat ini tengah menatapnya,sang iblis tirani.


Liliana menundukkan kepalanya,tidak berani menatap Duke muda itu. Ia bahkan tidak menjawab pertanyaan Duke muda itu karena takutnya. Namun tiba-tiba saja,rasa pening itu menyergap kepalanya,dan seketika gadis cantik itu terhuyung ke belakang. Beruntung sebuah tangan kekar menangkapnya dan membawanya ke dalam gendongannya.


...🌼🌼🌼...


Lelaki tampan yang masih mengenakan pakaian pengantinnya itu berlari keluar aula tergesa-gesa. Betapa terkejutnya ia saat menyadari jika beberapa saat lalu kekasihnya itu berada di pintu aula ini.


Ia berulang kali mengutuk dirinya sendiri. Ia mengutuk dirinya sendiri karena telah menjadi lelaki yang bodoh dan egois. Bagaimana bisa ia menyakiti hati selembut hati Liliana?


"LILIANA! TUNGGU!"


Ia memanggil wanita itu yang telah tampak kacau dengan air mata. Hatinya terasa sakit saat melihat wanita itu menangis. Ia benar-benar lelaki brengsek! Bagaimana bisa ia tidak tahu jika wanita itu sudah berada di SEATHLAND? Bukankah dua bulan yang lalu ia masih berada di Zwitland?


Philip mengusap wajahnya kasar,lalu kemudian ia sedikit merasa lega saat menyadari jika sahabatnya itu datang menghampirinya. Ia benar-benar sedikit lega,ia akan meminta bantuan kepada sahabatnya itu, Herli, untuk membantunya menyusul gadisnya. Karena tidak mungkin jika dirinya pergi meninggalkan aula. Karena kepergian dirinya ini sudah menjadi sumber masalah di dalam sana.


"Ah, Herli, syukurlah kau ada disini,aku minta tolong agar kau men-"


BUGH


"Apa yang kau lakukan sialan! Berani-beraninya kau memukulku!" Ucap Philip lalu bangkit dan membalas pukulan Herli.


Namun,belum sempat pukulan itu mengenai wajah tampannya yang dingin dan datar, Herli sudah lebih dulu melayangkan Bogeman di perut Raja muda itu. Lagi dan lagi, Philip tersungkur di atas tanah dengan darah yang keluar dari mulutnya.


Seorang wanita dengan balutan pakaian pengantin datang terburu-buru lalu segera menghalangi Herli yang sudah ingin melayangkan pukulannya lagi. Wanita itu terlihat marah dengan air mata di pipinya. Ia memangku Philip yang terlihat menyedihkan saat ini. Pakaian pengantinnya yang berwarna putih itu telah kotor akibat darahnya sendiri.


"Hentikan! Apa-apaan yang kau lakukan ini Duke? Berani-beraninya kau memukul seorang Raja! Apa kau tidak takut mati?!" Bentak wanita itu dengan penuh amarah.


Herli menaikkan sudut bibirnya dengan sebelah alis terangkat.


"Mati?" Tanya Herli sambil terkekeh kecil yang terlihat menyeramkan di mata mereka semua yang sudah berkumpul menyaksikan kejadian ini. "Tidak ada iblis yang takut dengan kematian" sambungnya lalu menatap jijik ke arah Philip yang masih memandanginya dengan menahan sakit di sekujur tubuhnya.


"Dan kau bajingan, bukankah sudah ku katakan sebelumnya? Jika kau membuatnya menangis, Jangankan hidupmu, bahkan hidup seluruh kerajaan ini akan ku cabut dalam sekejap!" Lanjutnya sebelum akhirnya pergi.

__ADS_1


Phillip memandangi punggung Sahabatnya itu yang perlahan-lahan semakin menjauh dan akhirnya hilang dari pandangan. Ia mencoba bangkit,namun sebuah tangan terulur untuk membantunya.


Phillip menatap tangan itu,namun bukan menggapainya,ia malah menghempas tangan itu dengan keras hingga wanita itu ikut terhempas ke tanah.


"Akh!!"


Rintisan terdengar dari bibir wanita itu ketika tangannya yang menyentuh tanah terasa perih dan terluka.


"Jangan menyentuh ku dengan tangan kotormu itu jal*ng! Atau kau akan menerima akibatnya." Ucap Philip dingin,lalu bangkit di bantu oleh orang kepercayaannya, Leon.


Mereka pergi meninggalkan Maira, wanita yang telah resmi menjadi istri dari Phillip dan juga Ratu dari SEATHLAND. Ia yang terlihat menyedihkan,lalu di bantu masuk kembali ke kamar oleh para pelayan. Meskipun sebenarnya mereka juga merasa marah dan tidak suka dengan wanita ini. Namun, bukankah mereka harus melakukan tugas mereka?


Bagaimana pun juga, wanita yang telah menjebak Raja muda mereka dengan cara naik ke ranjang sang Raja dan membuat Raja mereka mabuk,lalu melakukan hubungan badan malam itu kini telah menjadi istri Raja mereka,yang artinya menjadi Ratu mereka. Dan mereka,harus menghormati wanita itu mulai sekarang.


Herli berjalan tergesa-gesa,ia mengikuti langkah Liliana yang sudah menghilang masuk ke dalam hutan. Dan Betapa terkejutnya ia saat mendapati gadis itu tengah berdiri di pinggir tebing dengan kondisi yang begitu menyedihkan.


Herli ingin menghampiri gadis itu dan membawanya ke dalam dekapannya. Namun ia di tampar oleh sebuah kenyataan. Kenyataan yang benar-benar menyiksa. Karena gadis yang berhasil merebut hatinya saat pertama kali pertemuan mereka itu, ternyata menyimpan hati untuk Sahabatnya sendiri.


Herli mencoba memendam perasaannya yang ingin sekali melenyapkan sahabatnya itu. Namun ia harus menahan gejolak itu. Ia tidak ingin, menghancurkan nama baiknya di depan gadis yang sangat ia cintai. Gadis yang sangat dekat dengannya namun terasa jauh untuk di gapai. Seorang gadis, yang di sia-siakan oleh sahabatnya,hanya karena sebuah alasan klise,ia bukan berasal dari keluarga bangsawan.


"Kenapa belum melompat?"


"Hah?"


Herli ingin tersenyum saat mendapati wajah cantik gadis itu yang tampak terkejut saat melihat kehadirannya. Namun ia merasa kecewa dan juga sedih,saat wajah itu menunduk tak berani menatapnya.


Ah, rasanya julukan yang telah tersemat di dalam hidupnya ini benar-benar membuatnya kesal. Iblis tirani katanya? Mereka benar-benar bodoh, menyematkan sebuah nama sejelek itu tanpa memikirkan apakah ia menyukainya atau tidak.


Namun ia tidak ingin memikirkan hal itu lagi. Pokus utamanya saat ini adalah membawa gadis itu pergi sejauh mungkin dari kerajaan ini. Jika perlu dari dunia yang menyebalkan ini.


Herli masih menatap gadis cantik itu yang masih setia menatap tanah di bawahnya. Apakah ketampanannya kalah dengan sebuah tanah? Apakah tanah itu lebih menarik dibandingkan dirinya? Namun belum sempat ia mendapatkan jawaban,ia menyadari jika tubuh gadis itu terhuyung dan hampir jatuh ke bawah tebing itu.


Jika saja Herli tidak bertindak cepat, mungkin ia akan benar-benar menyesali seumur hidupnya.

__ADS_1


"Ku mohon, bertahanlah! Jangan pernah tinggalkan aku." Ucap Herli dengan air mata yang sudah mengalir dari matanya.


Ia menggendong Liliana dan membawanya pergi dari tempat itu dengan tergesa-gesa. Tanpa ia sadari,jika gadis di dalam gendongannya itu masih bisa mendengar apa yang ia ucapkan, sebelum kesadarannya benar-benar hilang.


__ADS_2