
...🦋 HAPPY READING 🦋...
Castela mempercepat laju kudanya. Matahari sudah hampir terbenam saat ia sampai di rumah. Sungguh ia sangat mengkhawatirkan nasib pelayannya. Barusan ia mendapat surat dari Ema yang mengatakan jika pangeran mahkota akan berkunjung malam ini.
Dengan cepat Castela memasukkan kudanya ke istal kuda tanpa sepengetahuan bawahannya. Ia lalu memanjat seprei yang memang sengaja ia sembunyikan yang terikat di balkon kamarnya.
"Sialan! Lelaki itu benar-benar sialan! Hidupnya hanya selalu membuat diriku susah!" Umpat Castela saat bokongnya dengan keras mendarat di lantai.
Castela segera masuk ke dalam kamar mandi bertepatan dengan pintu yang di buka paksa.
Brak!!
"Yang mulia anda tidak boleh mas-"
Ucapan Ema terpotong saat melihat sosok yang sedari tadi menjadi akar keributan saat ini baru keluar dari kamar mandi dengan jubah mandinya.
"Ada apa ini? Ah, astaga,apa yang anda lakukan disini yang mulia?!" Ucap Castela pura-pura terkejut sambil mengeratkan bagian dadanya yang terbuka.
Morgan yang melihat pemandangan di depannya sontak memalingkan wajahnya yang tampak merona ke sembarang arah.
"Ah,maaf lady,saya kira anda tidak ada di dalam. Kalau begitu saya keluar dulu,saya akan menunggu anda di ruang tamu." Ucap pangeran Morgan lalu keluar dari kamar Castela.
Ema segera menutup pintu kamar. Bertepatan dengan itu, Castela luruh ke lantai. Kedua kakinya terasa kehabisan tenaga saat ini. Castela menghembuskan nafas lega,lalu melirik keadaan pelayanannya yang terlihat tak jauh beda dari dirinya.
"Nona,anda baik-baik saja?" Tanya Ema khawatir lalu membantu Castela duduk di tepi ranjang.
Castela mengangguk. "Bagaimana dia bisa ada disini?" Tanya Castela menatap pelayannya itu yang sedang mengambil gaun tidur dari lemari.
__ADS_1
"Panglima Karel tadi mengirimi saya surat. Ia mengatakan jika pangeran mahkota menugaskan seorang mata-mata di sekitar kediaman Duke. Dan mata-mata itu melihat anda keluar dari kediaman secara tergesa-gesa dengan kuda dan langsung melaporkannya kepada pangeran. Untung saja saya masih sempat mengirimi Anda surat." Ucap Ema yang saat ini membantu Castela berpakaian.
"Huh,yang tadi nyaris saja. Jika aku terlambat sedikit,aku tidak bisa menjamin keselamatanmu Ema. Kau telah bekerja keras hari ini." Ucap Castela menepuk pundak Ema yang di balas senyuman manisnya.
"Saya senang karena bisa berguna untuk Anda nona. Kita juga harus mengucapkan terima kasih kepada panglima Karel. Karena berkat ketangkasannya,kita bisa merasa terbantu." Ucap Ema yang di angguki Castela.
Ema memakaikan jubah sebagai sentuhan terakhirnya ke tubuh Castela. Malam ini cuacanya cukup dingin. Gaun malam yang di pakai Castela tentu kurang menghangatkan jika di pakai keluar ruangan.
"Baiklah Ema,ayo kita keluar." Ucap Castela lalu berjalan keluar diikuti oleh Ema
Castela melihat pangeran Morgan yang sedang duduk di salah satu kursi di temani panglima Karel di belakangnya. Ia langsung tersenyum manis saat menyadari kehadiran Castela.
"Hormat untuk anda yang mulia. Ada urusan penting apa yang menyebabkan anda datang ke gubuk kecil saya malam-malam begini yang mulia?" Ucap Castela dengan nada se-sopan mungkin untuk menutupi rasa kekesalannya.
Castela mengambil tempat di salah satu sofa yang kosong. Menatap pangeran Morgan dengan tatapan datar.
Castela mengangkat sebelah alisnya. Lalu kembali menetralkan raut wajahnya.
'Tentu salah bodoh! Karena alasan tidak masuk akalmu itu pinggangku terasa sakit karena berkuda dengan cepat!'
"Ah,tentu tidak yang mulia. Mana mungkin saya berani menyalahkan anda?" Ucap Castela
Tentu saja perkataan penuh umpatan itu hanya berakhir di otaknya saja. Ia belum ingin mati sebelum dirinya mengetahui dunia apa yang saat ini ia tempati, dan takdir apa yang membawanya ke tempat ini.
"Ah, baiklah,aku rasa kau baik-baik saja. Aku hanya tidak ingin terjadi apa-apa dengan calon istriku. Seperti yang kau tahu lady,aku punya banyak musuh. Pasti ada saja orang yang ingin menggagalkan pernikahan kita." Ucap pangeran Morgan menatap Castela dengan tatapan seolah berkata, 'Aku tau kau sedang merencanakan untuk kabur,dan aku tidak akan membiarkannya.'
Castela memasang alarm waspada. Benar yang di katakan oleh Marquis Steven dan juga Brian. Pangeran Morgan bukanlah orang bodoh yang bisa dengan mudah di tipu. Yah,meski pada akhirnya dirinya memang sudah di tipu oleh istrinya.
__ADS_1
"Anda tenang saja yang mulia,saya tidak selemah yang anda bayangkan. Untuk melindungi diri saya sendiri, sepertinya saya masih sanggup. Atau mungkin,anda sendiri yang saat ini sedang dalam bahaya." Ucap Castela dengan seringaian di bibirnya.
"Anda tidak perlu khawatir Lady,saya punya banyak prajurit hebat yang bersedia mati kapan saja demi keselamatan saya. Itu sebabnya, saya akan mengutus prajurit-prajurit hebat dari istana untuk menjaga anda hingga hari pernikahan kita tiba." Ucap pangeran Morgan dengan seringai tak kalah menyeramkan dari milik Castela 'Tentu saja aku harus melakukannya,jika tidak kau pasti akan berencana kabur dari pernikahan kita.'
"Anda tidak perlu melakukannya yang mulia. Apa maksud anda ksatria-ksatria di kediaman saya tidak cukup hebat dan kompeten? Apa nada meragukan penjagaan di kediaman seorang Duke Herli?" Ucap Castela dengan tatapan tidak terima.
"Saya tidak bermaksud mengatakan itu lady. Tapi, tikus-tikus tanah bisa saja menyusup dengan sangat mudah bukan? Mereka hanya perlu menggali lubang,lalu menyembunyikan mangsanya melalui lubang itu. Bukankah lebih baik jika kita mencegah tikus-tikus itu agar tidak bisa menggali lubang lady? Dengan begitu,kita akan dengan mudah menangkap mereka. Kau hanya perlu diam,amati,siksa,lalu bunuh." Ucap pangeran Morgan dengan senyuman manis di wajahnya.
"Tapi tikus-tikus tanah adalah hewan yang dapat di katakan pintar yang mulia. Saya ragu, apakah prajurit-prajurit anda yang hebat itu bisa menangkap tikus di dalam tanah?? Bukankah akan lebih baik jika anda langsung melenyapkan rajanya?" Tanya Castela sambil menyesap tehnya dengan santai.
"Aku bisa saja melakukannya, membunuh Raja tikus-tikus itu bukanlah hal yang sulit. Tapi aku bukanlah orang yang suka langsung membunuh lady. Akan lebih baik,untuk sedikit bermain dengannya, membuatnya berada di bawah kendali ku, menghancurkan kehidupan di sekitarnya,lalu menyiksanya hingga dirinya sendiri akan memohon untuk lebih baik di bunuh."
Castela tertawa, tangannya yang berada di balik gaun terkepal erat. Namun dengan sekuat tenaga ia mengontrol agar emosinya tidak meledak saat ini juga. Bagaimana pun,ia tidak ingin membahayakan nyawa keluarganya dan orang-orang yang terlibat dengannya.
Karel dan Ema yang menyaksikan kedua tuan mereka mendebatkan tentang tikus tanah hanya diam. Mereka tidak ingin ikut campur di dalam percakapan yang saling mengisyaratkan pembunuhan di dalamnya itu.
"Apakah saat ini anda sedang mengibarkan bendera perang yang mulia? Tidakkah seharusnya anda merancang strategi terlebih dahulu? Menangkap tikus tanah, bukanlah pekerjaan yang mudah. Saya takut,anda akan kecewa karena semuanya tidak sesuai dengan keinginan anda." Ucap Castela menatap datar pangeran Morgan yang sedang menyesap tehnya.
"Anda tenang saja lady,kita hanya tinggal menunggu waktunya sebentar saja. Sebentar lagi,hanya sebentar lagi sebelum akhirnya aku berhasil menangkap Raja tikus-tikus itu." Ucap pangeran Morgan sambil menatap Castela dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Mungkin anda akan berhasil menangkapnya pangeran, terlihat dari betapa yakinnya anda mengatakan hal itu barusan. Tapi, mengenai permainan yang akan anda lakukan,saya rasa tikus itu tidak akan mudah jatuh ke dalam kendali anda. Anda bisa membuatnya jatuh,tapi untuk berada di dalam kendali anda tentulah bukan hal yang mudah. Karena itulah alasannya mengapa dia bisa menjadi raja."
Pangeran Morgan tampak mengepalkan kedua tangannya. Wajahnya mendadak berubah menahan kekesalan setelah mendengar ucapan Castela.
"Tentu lady,untuk bisa menjadi Raja,kau haruslah kuat. Jika tidak,maka kau akan dengan mudah di gulingkan oleh musuh-musuh mu."
"Anda benar pangeran,anda memang sangat kuat,tapi tidak menutup kemungkinan jika Raja tikus-tikus itu jugalah kuat,atau bahkan ia memiliki poin plusnya, yaitu cerdik." Ucap Castela dengan senyum miring menghiasi wajah cantiknya yang bak seorang Dewi.
__ADS_1