ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)

ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)
Chapter 67


__ADS_3

...🦋 HAPPY READING 🦋...


Suasana istana masih berduka, bahkan pelantikan untuk Raja baru saja di tunda hingga satu Minggu ke depan.


Terlalu banyak kejutan yang mereka terima hari ini. Termasuk aksi calon Raja mereka yang terlihat berlarian di istana dengan wajah yang benar-benar sangat panik.


Pangeran Morgan langsung saja mendobrak pintu kamarnya. Dan pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah Camelia yang sedang duduk di atas ranjang milik Morgan,dimana kedua putranya sedang tertidur,dengan pedang di dekat leher mereka.


Camelia memasang ekspresi terkejut,lalu kemudian tersenyum manis.


"Ah, ternyata kau cepat juga. Padahal aku belum bermain dengan para keponakan ku ini. Lihatlah pangeran, bukankah mereka sangat tampan? Mereka benar-benar terlihat mirip,persis seperti adik kesayanganku itu bukan?"


"Jangan macam-macam dengan mereka Camelia,atau kau akan tau akibatnya." Desis pangeran Morgan marah.


Sementara para prajurit dan pelayan yang tadi mengikutinya, terlihat panik sekaligus siaga. Masing-masing prajurit istana telah memegang pedang di tangannya.


"Ah,jangan mengancam ku pangeran,aku sungguh takut dengan ancaman mu." Ucap Camelia memasang wajah ketakutan yang di buat-buat, sebelum akhirnya kembali tertawa.


"Baiklah,aku tidak ingin berbuat hal jahat kepada keponakanku ini. Tapi, sungguh pangeran,dengan melihat wajah mereka saja sudah membangkitkan ingatanku akan adik kesayanganku itu. Dan tentu saja kau tau bukan,apa yang akan terjadi selanjutnya?" Ucap Camelia menyeringai, menatap pangeran Morgan dengan sebelah alis terangkat.


"STOP CAMELIA! Baiklah aku menyerah,jangan sakiti putraku dan katakan apa yang kau inginkan!" Bentak pangeran Morgan saat dinginnya besi tajam itu telah menggores kulit leher putra tertuanya.


Para pelayan yang menyaksikan siksaan terhadap pangeran kecil mereka tentu saja berteriak histeris. Bukankah sudah di katakan jika wanita ini sangat gila?


Melukai anggota kerajaan, bahkan ia memiliki nyali sebesar itu tanpa punya rasa takut sedikitpun.


Camelia tertawa,ia kemudian menarik pedangnya kembali,lalu memainkan benda tajam itu dengan jari-jarinya.


"Apa yang aku inginkan? Bisakah kau mengabulkannya?" Tanya Camelia menatap pangeran Morgan dengan kepala miring dan senyum devilnya.


Sial! Morgan benar-benar sangat membenci situasi ini. Hanya dengan melihat ekspresi wajah itu saja, tentu Morgan sendiri sudah tahu apa yang diinginkan wanita gila itu.

__ADS_1


Namun ia benar-benar tidak memiliki jalan keluar lain. Cukup ia menderita karena harus kehilangan wanita yang sangat ia cintai itu. Dan kali ini,ia tidak akan mau kehilangan putra-putranya juga.


"Baiklah, apapun itu,asal kau berjanji tidak akan melukai anak-anak ku walau sedikit saja,maka aku akan mengabulkannya." Ucap pangeran Morgan.


"Bagus!" Camelia tersenyum,lalu bangkit dari atas ranjang dan berjalan ke arah pangeran Morgan. Ia menghentikan langkahnya,tepat dua meter dari lelaki tersebut. "Nikahi aku,lalu jadikan aku Ratumu." Ucapnya santai dengan senyuman manis dan mata yang menyorot tajam pangeran Morgan.


Morgan menutup kedua matanya, sementara keributan sudah terdengar dari para pelayan dan prajurit yang menolak dan tidak setuju dengan syarat yang di ajukan oleh Camelia.


"Dasar wanita gila! Apa kau tidak punya rasa malu? Menikahi pangeran yang merupakan suami adikmu sendiri? Lalu meminta untuk di angkat menjadi Ratu? Kau benar-benar gila!" Ucap salah satu pelayan yang sebelumnya bertugas membantu Ema untuk melayani Castela.


Camelia menoleh ke arah pelayan yang masih muda dan terlihat seumuran dengan Ema itu.


"Ah,apa barusan kau yang berbicara?"


Camelia mengangkat tangannya,lalu membuat gerakan meremas. Dan di saat bersamaan,tubuh pelayan muda itu luruh ke lantai,lalu memuntahkan darah segar.


Para pelayan lainnya tentu saja terkejut. Mereka melotot menyaksikan teman mereka yang tiba-tiba saja luruh ke lantai sambil memuntahkan darah. Mereka ingin membantu,tapi mereka sendiri tidak berdaya.


Pelayan itu meremas dadanya yang terasa sangat sakit. Bagai di himpit batu besar,lalu di tusuk oleh ribuan jarum.


"K-kau... b-benar... be-benar... Mo-ns-te...r!! K-kau ak-an... Menye-sa..l.. ukhuk!"


BRAK


Pelayan itu jatuh dengan mengenaskan. Camelia hanya menatap acuh mayat pelayan itu,lalu menatap mereka bergantian.


"Aku sangat membenci ulat. Bukankah itu menjijikkan? Akan lebih baik di lenyapkan, sebelum membuat kerugian di masa depan." Ucapnya santai,lalu kembali menatap pangeran Morgan.


"Bagaimana pangeran? Apa kau bisa mengabulkan syarat yang aku ajukan?" Tanyanya lagi.


"Apakah kau akan memegang janjimu jika aku mengatakan ya?"

__ADS_1


"Tentu saja." Jawabnya ceria.


"Baiklah,aku akan mengabulkan syarat yang kau ajukan. Dengan satu syarat tambahan dariku,kau,tidak boleh mendekati kedua putraku. Dan kau,tidak perlu menjadi sosok ibu pengganti untuk mereka. Kau,hanya akan menjadi Ratu sesuai dengan apa yang kau inginkan. Jangan pernah berharap lebih, apalagi berharap aku akan membalas perasaan mu. Karena hatiku,hanya milik Castela, istriku yang paling aku cintai." Ucap pangeran Morgan serius.


"Cih,dia sudah mati,jadi untuk apa kau masih mencintainya. Dasar bodoh,tapi tidak apa,selama kau tidak berfikiran untuk menggantikan posisiku,maka aku menyetujuinya. Kau berhak mempertahankan perasaan mu itu,tapi aku juga berhak untuk membuatmu mencintaiku. Bagaimana?" Tanya Camelia dengan raut wajah serius.


Pangeran Morgan tampak terlihat berfikir sejenak, sebelum akhirnya mengangguk.


"Baiklah,aku setuju. Pernikahan kita akan di langsungkan bersamaan dengan acara penobatanku sebagai Raja. Dan setelahnya, kau akan di nobatkan sebagai Ratu."


Setelahnya pangeran Morgan memerintahkan kepada pelayannya untuk mengantarkan Camelia ke kamar yang akan menjadi miliknya. Ia juga memberikan kode agar prajuritnya menurunkan senjata mereka.


Camelia dengan senang hati mengikuti langkah beberapa pelayan itu. Ia berjalan dengan senyuman angkuh dan dagu yang terangkat. Menandakan,jika setelah ini, dirinya akan membuat mereka semua tunduk di bawah kakinya.


Pangeran Morgan menghampiri kedua putranya dengan tergesa-gesa setelah kepergian Camelia. Ia mengambil putra pertamanya yang terluka, sementara pelayan langsung mengambil kotak obat dan baskom berisi air.


"Yang mulia,biar saya saja yang melakukannya." ucap salah satu pelayan saat melihat pangeran Morgan mengambil alih kain dan baskom dari pelayan itu.


"Tidak apa,aku bisa melakukannya sendiri, Kalian pergilah." ucap pangeran Morgan dengan senyuman di wajahnya.


Para pelayan mencoba menyembunyikan air mata mereka. Mau tersenyum seperti apapun,mereka tentu tahu apa yang saat ini dirasakan oleh pangeran Mereka.


Di balik mata itu, menyiratkan beribu luka, penyesalan,dan ungkapan maaf yang tidak dapat ia katakan.


Sungguh malang nasib pangeran mereka. Di tinggal ayahnya,Di tinggal istrinya,lalu terpaksa menikahi adik iparnya sendiri demi menyelamatkan nyawa kedua putranya.


Ingin sekali mereka menghibur. Namun mereka tidak tau, apakah ada sebuah cara untuk menghibur seseorang yang benar-benar sangat terluka?


Mereka hanya bisa mengawasi dalam diam. Memperhatikan bagaimana hati-hatinya ayah muda itu membalut luka putranya.


Mereka hanya bisa mengawasi dalam diam. Memandang bagaimana ayah muda itu, memeluk penuh kasih bocah-bocah kecil itu,lalu menghantarkan kehangatan kepada mereka saat mereka tiba-tiba menangis bersamaan.

__ADS_1


Seolah mengatakan, tenanglah,hari esok akan baik-baik saja. Karena ada papa, disini,di samping kalian. Menggenggam erat kedua tangan mungil ini,dan berlari menembus waktu bersama, untuk menghadapi segala kemungkinan terburuk di hari esok.


__ADS_2