
...🦋 HAPPY READING 🦋...
Hari ini mereka semua berkemas. Semua ini murni atas permintaan Castela. Ia benar-benar tidak ingin berlama-lama di ruangan yang memberikan ingatan buruk dan menjijikkan untuknya.
Morgan juga tidak banyak bicara,ia menyetujui saja, karena mereka juga sudah terlalu lama meninggalkan istana. Hari ini, Castela benar-benar sangat menghindari Morgan.
Mereka hanya bertemu saat Castela meminta untuk pulang. Dan saat membicarakan tentang perkembangan kota Rutin. Selebihnya, Castela lebih banyak menghindar.
Itu semua juga tidak luput dari pandangan Marquis Steven. Luka di tangannya yang baru di obati kembali mengeluarkan darah saat tangan itu kembali mengepal. Tidak ada yang tahu alasan Marquis Steven bisa terluka.
Hanya Ema seorang yang tahu,karena wanita itulah yang mengobati lukanya. Marquis Steven sudah mendengar semuanya dari Ema. Tentang seberapa menjijikkannya tingkah Morgan kepada gadis yang ia cintai. Dan Marquis Steven,tidak akan diam saja. Ia akan membalas perbuatan Morgan dengan sesuatu yang setimpal.
'Tunggu saja Morgan, tunggu saja sambutan yang akan kau dapatkan ketika kembali ke ibukota nanti.' Marquis Steven menarik sudut bibirnya membentuk seringaian.
Setelah semuanya selesai berkemas, penduduk kota Rutin melepas kepergian mereka dengan haru. Mereka benar-benar mengucapkan banyak terima kasih kepada kerajaan. Dan sebagai ucapan terima kasih itu pula, seorang pemuda yang di ketahui bernama Abigail Clancy menawarkan diri untuk mengabdi kepada Castela Secara diam-diam.
Ia bahkan telah membuat sumpah darah, sehingga Castela tidak bisa menolak. Ia adalah seorang yatim piatu. Ayahnya adalah seorang mantan prajurit dan sudah meninggal dalam perang di perbatasan.
Sementara ibu dan adik perempuannya meninggal karena banjir bandang saat itu. Dirinya tidak punya siapa-siapa lagi sekarang. Dan ketika melihat Castela datang mengulurkan tangannya untuk mengangkat penduduk kota Rutin dari keterpurukan, disitulah ia mulai mengagumi sosok Castela.
Castela adalah seorang Dewi. Meski bukan Dewi bagi kerajaan ini,tapi ia adalah Dewi bagi seluruh rakyat kota Rutin. Abigail adalah pemuda yang hebat dalam beladiri. Ia juga tampan dan cerdas,jadi Castela memutuskan untuk menjadikan pemuda itu sebagai ksatria bayangannya.
Tanpa sepengetahuan Morgan,hanya dia, Ema,dan juga Marquis Steven yang tahu mengenai ksatria bayangannya,karena ia mempercayai dua orang itu. Mungkin di tambah Brian nantinya.
Ah, berbicara tentang Brian. Sesungguhnya Castela benar-benar sangat merindukan lelaki itu. Entah apa yang ia kerjakan, Lelaki itu menjadi sangat sibuk akhir-akhir ini.
__ADS_1
Castela duduk di dalam kereta kuda bersama dengan Ema. Sementara Morgan menggunakan Kudanya bersama dengan Marquis Steven. Saat ia hendak masuk ke kereta kuda tadi, Castela dengan cepat mengunci pintunya dari luar.
Meski sempat merasa kesal, namun dirinya tidak bisa marah. Ia tahu jika Castela sedang marah kepadanya karena perbuatannya semalam.
Kereta kuda dan para pasukan kerajaan terus bersiaga setiap kali mereka melewati hutan atau jalanan yang jauh dari tempat penduduk. Mereka benar-benar belajar dari pengalaman sebelumnya.
...🦋🦋🦋...
Tidak terasa empat hari sudah terlewati begitu saja. Kereta kuda hanya berhenti untuk beristirahat,makan,dan membersihkan diri selama dua jam.
Mungkin saat bermalam saja waktu istirahat mereka lebih lama. Karena mereka harus membangun tenda agar permaisuri mereka tidak terlalu kelelahan.
Senyuman terbit di bibir Morgan saat menyadari jika mereka sudah tiba di gerbang ibukota. Dirinya benar-benar sangat merindukan aroma tubuh istrinya yang sudah ia tinggalkan selama beberapa hari ini.
Rakyat juga sangat antusiasme menyambut kedatangan Castela dan Morgan. Mereka menggambarkan kedua pasangan itu sebagai Raja dan Dewi pada masa lalu.
"Apa kau sudah mendengar? Berita yang saat ini menjadi topik hangat di kalangan bangsawan?"
"Apa itu gosip tentang percobaan pembunuhan yang mulia permaisuri?"
"Yah,aku juga mendengarnya, syukurlah karena yang mulia permaisuri tidak apa-apa."
"Apa kalian tahu, katanya penyerangan itu di rencanakan oleh tuan putri Rosenta. Aku juga mendengar jika tuan putri berselingkuh di belakang pangeran Morgan saat pangeran menyusul yang mulia permaisuri."
"Benarkah? Astaga, lelucon macam apa ini?"
__ADS_1
"Aku juga tahu, bukankah itu telah menjadi perbincangan hangat di kerajaan? Tapi siapa Lelaki itu masih menjadi rahasia,karena putri langsung menyuruh orang untuk menghancurkan surat kabar ekslusif yang sempat beredar."
"Aku jadi kasihan dengan permaisuri, sepertinya permaisuri terjebak di dalam percintaan yang rumit."
Morgan mengepalkan tangannya mendengar gosip yang sama setiap kali kudanya melangkah. Awalnya ia hampir menghabisi salah satu pemuda yang kedapatan tengah membicarakan hal ini,namun semua itu di cegah oleh Castela yang langsung memarahinya.
Akhirnya Morgan melepaskannya. Tapi semakin dalam ia masuk,semua orang juga membicarakan hal yang sama. Dan akhirnya ia hanya bisa mempercepat laju kudanya. Jika seluruh kerajaan membicarakan hal ini, berarti rumor ini bisa saja benar bukan?
Amarah benar-benar sudah menguasai dirinya. Tidak ada yang tahu tentang penyerangan hari itu,dan orang yang ia perintahkan untuk mencari tahu juga belum ada kabar. Membuat Morgan semakin naik pitam di buatnya.
Diantara kerumunan rakyat, seorang pemuda bersurai putih menyaksikan setiap perubahan raut wajah Morgan. Ia tersenyum bangga saat kerja kerasnya, berjalan sesuai yang di rencanakan.
"Bagaimana dengan penyambutanku ini Morgan? Aku rasa,ini belum seberapa dengan rasa sakit yang kau berikan kepadaku Waktu itu. Selamat menikmati pesta penyambutan ini Morgan. Bahkan ini belum seberapa dengan apa yang telah kau perbuat kepada gadisku."
Lelaki itu adalah Brian,ia lalu pergi menjauh dari kerumunan dan hilang begitu saja. Lakukan seperti yang seharusnya dilakukan, adalah pesan singkat yang merupakan balasan dari Marquis Steven.
Awalnya dirinya tidak akan membongkar kasus perselingkuhan Rosenta. Namun mengingat hal menjijikkan yang telah di lakukan Morgan terhadap gadisnya, membuat dirinya benar-benar tidak lagi berbelas kasih.
Setiap apa yang ia perbuat,maka akan ia terima balasannya sedikit demi sedikit.
Disisi lain, Marquis Steven tampak puas dengan pekerjaan yang di buat oleh Brian. Ia benar-benar sudah muak dengan orang bodoh yang menyandang status sebagai pangeran mahkota itu.
Akan jadi apa kerajaan ini jika dirinya yang bodoh malah di dampingi oleh seorang wanita yang licik dan manipulatif seperti seekor rubah.
Castela tertidur di dalam kereta Kudanya. Saat ini Ema sedang memijat kakinya. Ia juga baru selesai mengkonsumsi obat yang di berikan oleh dokter itu.
__ADS_1
Castela masih belum menyadari jika obat itu akan membawa malapetaka yang besar kepada dirinya. Sebuah malapetaka yang nantinya akan merubah seluruh hidupnya. Bahkan akan menjawab setiap pertanyaan yang selama ini selalu berputar di kepalanya.