ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)

ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)
Chapter 32


__ADS_3

...🦋 HAPPY READING 🦋...


"Sial! Bagaimana ini? Aku tidak mungkin menggunakan keahlian beladiri ku. Akan sangat berbahaya jika ada yang mengetahuinya. Tapi situasi ini benar-benar sangat genting." Castela menggigit kukunya untuk menetralkan rasa panik di dalam dirinya.


Bahkan di ujung sana, Ema sudah lebih dulu pingsan. Karena salah satu dari mereka,menotok aliran darah Ema. Namun Castela masih bersyukur, karena mereka tidak membunuh Ema.


Setidaknya, semua prajurit juga hanya mengalami luka-luka. Tidak ada yang mati di antara mereka. Namun tetap saja, situasi benar-benar memojokkan mereka. Castela ingin sekali membantu,ia tidak tega melihat prajurit-prajurit ini bertarung sendirian.


Bahkan Marquis Steven sudah tampak kelelahan menghadapi orang-orang berpakaian hitam itu. Ia jelas-jelas tahu siapa dalang di balik penyerangan ini.


"Rosenta,kau benar-benar monster. Bisa-bisanya kau memanfaatkan kesempatan berkunjung ku ke kota Maka, untuk melenyapkan ku, padahal kau tahu jika mereka sedang butuh bantuan. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan perbuatan mu. Kenapa kalian sangat ingin sekali menyingkirkanku." Gumam Castela dengan raut wajah penuh kebencian.


Prajurit itu sudah banyak yang terluka. Empat di antara sepuluh orang itu juga sudah berhasil di kalahkan. Saat ini Marquis Steven sedang bersusah payah untuk melawan dua orang sekaligus.


Sebuah mata pedang mengarah ke arah Castela dari belakang dengan gerakan secepat angin. Marquis Steven berteriak panik saat menyadari jika nyawa Castela sedang dalam bahaya. Ia ingin menghampiri gadis itu,namun dua manusia yang sedang ia lawan benar-benar sangat kuat.


"PERMAISURI!!"


Para prajurit yang masih berdiri walau dengan luka di tubuh mereka mencoba untuk membantu. Namun mereka di halangi oleh orang-orang berpakaian hitam yang masih tersisa itu.


Castela menutup kedua matanya,bukan berarti ia akan pasrah begitu saja. Namun,ia sedang mencoba merilekskan dirinya,agar tidak salah mengambil langkah.


"MATILAH KAU WANITA HINA!!"


Teriakan lelaki yang mengarahkan pedangnya ke leher Castela itu menggema di antara hutan-hutan yang semula tenang itu.


Burung-burung yang sedari tadi bersembunyi di balik pohon,tampak terbang tak tentu arah mencoba menghindari bahaya yang sepertinya akan datang. Bahkan tidak ada satupun hewan yang muncul, padahal situasi saat ini benar-benar sangat berisik dan mengganggu ketenangan mereka, walau pun mereka berada di jarak yang jauh.


Ujung pedang itu sudah hampir menggores leher jenjangnya, menampilkan wajah cantik Castela yang sedikit pun belum tergores. Bahkan tidak ada sedikit pun noda darah disana. Wajahnya benar-benar mulus, seolah menolak setitik debu pun untuk sekedar mendekat.

__ADS_1


Castela sedari tadi sudah menimbang. Mengamati gerak-gerik lelaki ini, dan mecari kelemahannya. Menunggu saat-saat yang tepat,dengan sekali hentakan, Castela berhasil meraih pedang milik prajurit yang tergeletak di belakangnya.


Lelaki itu kaget saat gerakan tiba-tiba yang di ciptakan Castela. Membuat pedang di tangannya seketika terlempar dari tangannya. Castela berbalik mengarahkan ujung mata pedangnya ke leher Lelaki itu.


Ujung mata pedang itu sudah menembus kulit leher lelaki itu. Namun tidak sedikit pun raut wajah takut atau kesakitan tampak di kedua matanya yang tidak terhalang kain hitam.


"Siapa barusan yang kau sebut sebagai wanita hina?" Tanya Castela dengan nada suara rendah,yang membuat kesan merinding bagi siapapun yang mendengarnya.


Marquis Steven sudah tampak gelisah,ia benar-benar takut jika Castela mengeluarkan keahlian beladirinya saat ini. Tapi,ia lebih takut jika melihat tubuh tak bernyawa Milik gadis yang sangat ia cintai itu.


Marquis Steven menusuk jantung salah satu orang yang berhadapan dengannya saat melihat ada sebuah peluang. Kini tinggal satu lagi yang harus ia hadapi. Ia benar-benar berada di situasi yang sangat sulit.


Kali ini ia benar-benar menyesal karena tidak mengizinkan Brian untuk ikut dengan mereka. Meskipun bodoh dan menyebalkan,tapi kemampuan Brian benar-benar dapat membantu mereka,dari pada harus melihat Castela menggunakan keahliannya.


"EL! CEPAT PERGI DARI SINI! JANGAN PEDULIKAN KAMI,AKU AKAN MENCOBA MENAHAN MEREKA! SELAMATKAN DIRIMU!"


Tidak ada pilihan lain,ia harus membuat Castela pergi jauh dari tempat ini. Namun itu semua tidak semudah yang ia bayangkan. Karena kelompok yang tersisa,tampak menyeringai dan tidak akan membiarkan satu pun dari mereka pergi meninggalkan tempat ini.


Castela sudah tidak bisa membendung hasrat ingin membunuhnya. Entah mengapa, hasrat ini tiba-tiba muncul begitu saja. Steven dan juga Brian sudah memperingatkannya,namun ia juga tidak mempunyai pilihan lain.


Ia tidak akan mendengarkan ucapan Steven yang menyuruhnya untuk pergi. Ia lelah jika harus terus menjadi seorang pengecut. Ia di lahirkan dengan tubuh yang sempurna. Dan ia tidak akan membiarkan siapapun merebut nyawanya yang sangat berharga ini.


Karena nyawa ini masih sangat berharga. Setidaknya, banyak nyawa lain yang bisa ia Selamatkan dengan nyawanya ini. Bahkan bisa di buktikan, dari banyaknya orang-orang yang mencoba untuk melenyapkannya.


Sebuah simbol berbentuk heksagram muncul di leher Castela. Sebuah segilima dengan bintang di dalamnya yang bersanding dengan sebuah lingkaran. Masing-masing sudutnya di ikat dengan sebuah rantai yang menjulang dan terpusat di sebuah pedang yang menancap hingga ke bawah.


Lelaki yang tak tampak wajahnya itu tampak terkejut saat melihat simbol itu muncul di leher wanita yang menjadi targetnya.


Simbol itu, tampak berpendar namun tidak lama. Wajahnya yang terbalut kain hitam itu seketika pucat pasih. Ia tahu dengan jelas simbol apa itu.

__ADS_1


Dengan susah payah ia menahan dirinya, mengamati gerak gerik Castela yang tampak sibuk dengan pikirannya sendiri. Yah,sejak simbol itu muncul, tiba-tiba saja kepalanya terasa sedikit pusing. Ia juga merasa sangat haus,tapi ia tidak ingin minum.


Dan ketika melihat darah menggenang,ia merasa jika rasa hausnya bisa terpuaskan. Saat melihat Castela sedang menyeringai menatap tubuh salah satu kelompoknya yang sudah mati bersimbah darah, lelaki itu segera mengambil kesempatan untuk menyerang Castela.


Ia mengambil belati yang terselip di sepatunya. Belati kecil yang memang ia gunakan untuk berjaga-jaga di saat terdesak. Dengan gerakan cepat agar Castela tidak menyadarinya, Lelaki itu segera melemparkan belati itu ke arah Castela dan.


JLEBB


"ELAA!!"


CRASHH


Belati itu meleset menggores leher Castela. Menciptakan sebuah goresan panjang dari dada naik ke lehernya.


Seketika tubuh Castela menegang saat menyadari sesuatu yang dingin mengalir dari lehernya. Simbol di lehernya seketika meredup dan kembali hilang,dan kesadarannya kembali seperti semula.


Ia melihat kepala lelaki yang tadi berhadapan dengannya itu sudah terpisah dari tubuhnya dan menggelinding di dekat kakinya. Dengan terkejut, Castela mundur beberapa langkah ke belakang, menyebabkan kakinya tidak sengaja menginjak teman lelaki itu dan membuat Castela kehilangan keseimbangan dan terhuyung ke belakang.


Sebuah lengan kekar menangkap pinggangnya dan menahan Castela sehingga ia tidak jadi terjatuh. Kedua matanya bersitatap dengan manik coklat Milik seseorang yang ia kenal.


Wajah itu, adalah wajah yang ingin ia hindari. Wajah yang menjadi salah satu alasan kenapa ia memutuskan untuk pergi jauh dari istana. Wajah yang sangat ia benci karena berani mengganggu kehidupan nyamannya.


Sebuah wajah tampan yang kini tampak ternoda dengan cipratan darah di wajahnya. Kini ia tahu,siapa orang yang telah menolong dirinya. Bahkan,darah segar masih menetes dari ujung mata pedang yang saat ini di pegangnya.


Bau amis memenuhi Indra penciumannya. Namun ia tidak peduli, seketika rasa amis itu sirna begitu saja saat merasakan gejolak asmara dan juga dendam yang terbakar jauh di dalam dirinya.


Dengan sekali hentakan, Castela langsung berdiri kembali dengan kedua kakinya. Ia menatap lekat kedua manik mata milik lelaki itu. Ada pertanyaan yang ingin ia ucapkan,namun seketika kakinya terasa tak sanggup menahan berat tubuhnya.


Dengan pandangan yang mulai menggelap, Castela terjatuh ke dalam pelukan tubuh kekar lelaki itu. Sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya,ia sempat mengucapkan sepatah kalimat yang dapat membuat tubuh lelaki itu menegang.

__ADS_1


"Aku, benar-benar ingin membunuhmu Bajing*n!"


Lalu semuanya menjadi gelap, Castela terjatuh ke dalam pelukannya lelaki itu, dan kehilangan kesadarannya.


__ADS_2