
...🦋 HAPPY READING 🦋...
"Ah,kau sudah sampai ternyata."
Suara lembut nan anggun namun tetap menunjukkan ketegasan itu memecah udara. Gadis cantik itu memberikan isyarat kepada Ema, pelayannya untuk menepi sekaligus mengamati sekeliling mereka.
Berjaga-jaga jika ada mata-mata yang mengawasi pergerakan mereka. Bagaimana pun juga,ini adalah istana. Dimana tembok,pohon, bahkan batu sekalipun bisa berbicara.
Lelaki bersurai merah itu tersenyum,lalu membungkuk memberikan hormat.
"Saya juga baru tiba yang mulia."
Gadis cantik itu tertawa miris mendengar sebutan yang kini tersemat untuknya.
"Kau berlebihan Marquis,tak perlu memanggilku seperti itu."
Marquis Steven hendak membantah,namun melihat raut wajah gadis di hadapannya itu,ia mengurungkan niatnya.
"Aku heran padamu El, mungkin jika gadis lain yang berada di posisi mu saat ini,aku berani menjamin,mereka akan memanfaatkannya sebaik mungkin. Kau mendapatkan posisi yang diinginkan banyak orang."
Marquis Steven menatap gadis di hadapannya yang sedang memandang bunga-bunga beragam jenis tak jauh dari mereka berdiri. Menyelami manik mata yang selama ini selalu menatapnya dengan tatapan yang datar,tegas,namun penuh kehangatan.
Namun saat ini,netra itu tampak berbeda. Tidak ada lagi kehangatan yang terpancar di dalamnya. Hanya terisa ketegasan,dan kekhawatiran yang tersembunyi jauh di dalamnya.
"Aku bukan mereka Steve,aku tidak pernah menginginkan posisi ini. Jika aku di izinkan meninggalkan posisi ini,maka dengan senang hati aku akan memberikannya kepada mereka yang menginginkan."
Gadis itu diam, sebelum akhirnya kembali bersuara, "Aku ingin menjadi kuat untuk bisa melindungi keluarga ku. Tetapi aku bahkan terlalu lemah untuk bisa melindungi diriku sendiri. Aku sudah melangkah terlalu jauh Steve,tidak akan ada jalan lagi untuk kembali." Castela tersenyum saat melihat seekor kupu-kupu kecil hingga di ujung jari telunjuknya.
"Aku hanya ingin hidup seperti kupu-kupu,pasti menyenangkan bukan? Bisa terbang bebas kemana pun kau mau. Tapi aku hanyalah seekor burung yang terkurung di dalam sangkar emas. Tak ada tempat untuk lari,karena takdirku sendiri telah terikat dengan sangkar itu. Kecuali,aku bisa melepaskan ikatan tak kasat mata itu."
"Apa kau ingin lari El?" Marquis Steven bertanya dengan kesungguhan di wajahnya.
Castela menoleh,ia mengangguk,namun akhirnya menggeleng. "Aku ingin,tapi aku tidak bisa." Ucapnya datar.
__ADS_1
"Kenapa? Apa kau takut? Aku akan melindungi mu El. Aku akan membawamu pergi jauh dari kerajaan ini. Kita akan pergi ke tempat yang tidak seorang pun bisa mengenali kita." Ucap Marquis Steven bersungguh-sungguh.
Kedua tangannya kini telah menggenggam kedua tangan Castela.
"Aku akan pergi,tapi tidak sekarang. Karena sekarang status ku bukanlah lagi putri bungsu Duke Herli yang manja. Tapi seorang permaisuri dari pangeran mahkota SEATHLAND. Yang artinya,jika aku pergi,maka bukan hanya keluargaku yang akan terkena imbasnya,tapi juga rakyat. Dan aku,tidak bisa membiarkan mereka merasakan penderitaan lagi."
Marquis Steven terenyuh mendengarkan jawaban Castela. Gadis di hadapannya ini benar-benar sudah dewasa. Sangatlah jauh berbeda dengan sosok yang ia jumpai sepuluh tahun yang lalu.
Tanpa sadar,tangan kekar itu menarik gadis cantik yang telah resmi menjadi istri pangeran mahkota itu ke dalam pelukannya. Castela sempat terkejut dengan tindakan tiba-tiba Marquis Steven. Namun ia tersenyum dan membalas pelukan itu.
Pelukan Marquis Steven terasa sangat hangat. Benar-benar menenangkan hatinya yang resah. Bagaimana pun juga, Castela telah menganggap Marquis Steven sebagai kakaknya sendiri.
Tanpa mereka bertiga sadari,tidak jauh dari mereka berdiri, seorang laki-laki tampan menatap mereka dengan tatapan tajam dan kedua tangan yang saling mengepal erat. Kilatan amarah tampak berkobar di kedua matanya.
Ia berada di sana,di antara pilar-pilar tinggi yang menyanggah atap istana. Namun Amarah itu seketika hilang dan di gantikan dengan sebuah seringaian yang muncul di bibirnya.
"Aku,akan memberikan mu pelajaran gadis kecilku." Ucapnya sebelum benar-benar pergi meninggalkan tempat itu.
"Maaf,aku tidak bermaksud membuat mu tidak nyaman karena memelukmu."
Gadis itu tersenyum, sangat manis, hingga membuat Lelaki itu enggan untuk berkedip.
"Kau sudah melakukannya Marquis, untuk apa lagi meminta maaf? Aku harap tidak ada yang melihatnya, apalagi jika itu sampai ke telinga monster itu." Ucap Castela tertawa saat melihat wajah Marquis Steven yang tampak padam,karena malu bercampur panik.
"Ah,aku harap begitu. Aku tidak tahu apa yang akan di lakukan olehnya jika melihat aku memeluk istrinya." Ucap Marquis Steven menyedihkan.
Gadis itu kembali tertawa. Tawa yang sangat merdu di dengar, hingga membuat mood Marquis Steven kembali ceria. Entah bagaimana bisa ada tawa yang begitu merdu di dunia ini. Hingga bisa menghipnotis siapapun yang mendengarnya.
"Sudahlah tidak perlu kau fikirkan. Dia tidak mencintaiku dan aku tidak mencintainya. Tidak ada alasan untuk dia marah kepadamu. Seharusnya aku yang marah karena dia memaksaku untuk menikah dengannya, menggunakan cara yang kotor seperti itu." Ucapnya santai.
"Ku harap begitu." Ucap Marquis Steven lirih yang tidak sempat di dengar oleh gadis itu.
"Ah,aku sampai lupa, berita apa yang kau dapatkan?" Ucap Castela dengan ekspresi wajah yang berubah serius.
__ADS_1
Marquis Steven menarik Castela agar duduk di salah satu kursi yang ada disana.
"Mata-mata yang ku tugaskan untuk mengawasi Putri Rosenta, kembali dengan sebuah informasi besar."
"Ah, wanita iblis itu,,, Apa yang kau dapatkan?"
"Beberapa hari yang lalu, putri meninggalkan istana dengan penyamaran. Dia menemui seseorang, mata-mata ku tidak bisa melihat bagaimana rupanya karena orang itu mengenakan jubah,di tambah ruangannya yang gelap tanpa sedikitpun cahaya. Tapi mata-mata ku bisa memastikan jika dialah orang di balik putri. Karena putri sangat tunduk dan ketakutan dengan wanita itu."
Castela menaikkan sebelah alisnya, menatap penasaran dengan kalimat akhir yang di ucapkan Lelaki bersurai merah itu.
"Wanita?"
"Benar El,sosok itu adalah seorang wanita. Dan putri Rosenta, adalah salah satu anjingnya."
Castela tersenyum mendengarnya. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk di pinggiran kursinya. Ia tampaknya sedang berfikir. Siapa kira-kira sosok yang berada di belakang wanita iblis itu.
Seberapa besar pengaruhnya hingga mampu membuat seorang gadis masuk ke dalam istana dan menjadi istri seorang pangeran mahkota. Ini sangat menarik,karena menyangkut dengan keselamatan keluarganya, serta masa depan kerajaan tempatnya tinggal. Apalagi,sosok itu adalah seorang wanita?
"Kau telah bekerja sangat keras Marquis. Informasi yang kau dapatkan sangat penting. Pastikan untuk terus mengikuti wanita iblis itu,dan jangan lupa untuk mencari tahu siapa sosok wanita itu,dan siapa saja yang terkait dengannya."
Pipi Marquis Steven merona karena mendengar pujian dari gadis di hadapannya. Seperti yang di ketahui banyak orang,gadis ini bukankah tipe gadis yang suka mengeluarkan pujian atau kata-kata manis.
Tapi jika dia sudah mengatakan hal itu,itu artinya apa yang kau lakukan benar-benar patut untuk di apresiasinya.
"Itu bukan hal yang sulit El. Aku hanya mengingatkan kepada mu untuk selalu waspada. Kau telah berhasil lepas dari Monster itu seminggu ini,tapi tidak untuk kedepannya. Kau harus berhati-hati dan menjaga dirimu. Kita tidak bisa terlalu sering bertemu agar tidak menciptakan sebuah rumor yang akan menghambat rencana kita. Tapi prajurit bayanganku akan selalu mengawasi mu,jadi kau tidak perlu khawatir."
Castela mengangguk. "Kau benar Marquis, terima kasih karena masih bersamaku. Sampaikan salamku kepada Brian,dia pasti sedang kesal karena kau melarangnya untuk ikut." Ucap Castela tersenyum saat mengingat sifat menyebalkan dan kekanak-kanakan milik sepupunya itu.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkannya El,dia sudah besar. Aku tidak akan membiarkannya melakukan hal konyol lagi. Kalau begitu aku permisi." Ucap Marquis Steven membungkuk hormat sebelum akhirnya pergi dari tempat itu.
Castela masih duduk di tempatnya. Pikirannya jauh melayang menerka-nerka siapa sebenarnya orang di balik semua ini dan apa tujuannya.
Setelah sejauh ini melangkah,kini akhirnya Castela yakin,jika semua ini berkaitan erat dengan dirinya.
__ADS_1
"Siapapun kau,aku tidak akan memaafkan mu jika kau melakukan sesuatu yang merugikan banyak orang." Ucapnya pelan,lalu menyesap teh yang sudah Tidak terlalu panas,karena sedari tadi tidak tersentuh.