
...π¦ HAPPY READING π¦...
Di tengah suasana berduka,mengapa masih ada saja orang-orang yang memiliki niat untuk mengacaukan ini semua?
Pangeran Morgan memerintahkan kepada prajuritnya untuk membawa lady Camelia ke istana. Ia tahu,jelas sangat tahu,jika semua ini tidak sesederhana yang gadis itu ucapkan.
"Permainan apa lagi yang sedang kau mainkan Camelia." Desis pangeran Morgan lalu pergi dari pemakaman. Meninggalkan raut wajah kebingungan semua yang hadir disana.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Entahlah aku juga tidak tahu."
"Apa kalian percaya dengan apa yang dikatakan oleh wanita itu? Kalau aku tidak."
"Yah,aku juga tidak. Bagaimana mungkin orang yang sudah meninggal bisa hidup kembali? Aku yakin dia pasti orang jahat yang hadir untuk memfitnah permaisuri Castela dan juga Duke Herli."
"Aku juga tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Tapi aku harap tidak akan ada hal buruk yang terjadi,karena aku memiliki firasat yang tidak enak."
"Kita berdoa saja, apa pun yang akan terjadi nantinya,kita tidak bisa membenci yang mulia permaisuri karena beliau sudah memiliki jasa besar terhadap perubahan kerajaan kita selama satu tahun belakangan ini."
"Papa, bagaimana bisa Eli hidup kembali? apakah benar itu dirinya? bukankah, bukankah dia sudah meninggal?" tanya marchel dengan wajah terkejutnya kepada Duke Herli yang masih membeku di tempatnya.
"Papa juga tidak tahu Marchel,papa juga sama terkejutnya." ucap Duke Herli
"Dan apa-apaan itu tadi,mengapa dia mengatakan jika papa dan Ela adalah orang yang meracuninya? Apa dia sudah gila? Apa sebenarnya yang terjadi kepada adikku? Oh dewa." Ucap Marchel frustasi sambil meraup wajahnya.
__ADS_1
Ia melirik ke gundukan tanah milik adiknya yang masih basah. Apa sebenarnya yang ia lewatkan? Mengapa adiknya bisa hidup kembali dengan penampilan yang sangat memprihatikan?
Jika ia memang hidup kembali, mengapa harus datang di situasi seperti ini? Mengapa tidak dari hari sebelumnya? Mengapa harus hadir ketika pemakaman adiknya sedang berlangsung?
Marchel kemudian melirik ayahnya Yang sudah melangkahkan kaki untuk pergi.
"Marchel harap,papa tidak menyembunyikan sesuatu yang besar pa. Marcel tidak yakin dengan apa yang papa ucapkan,tapi Marchel tidak bisa melakukan apa-apa karena papa sendiri yang mengatakan tidak mengetahuinya. Tapi Marcel akan mencari tahu,apa sebenarnya yang kalian sembunyikan,apa yang sebenarnya papa, Camelia dan pangeran Morgan sembunyikan dariku dan juga adikku."
...πΌπΌπΌ...
"Apa kali ini rencanamu, lady Camelia?" Tanya Morgan sambil menekankan kata CAMELIA di akhir kalimatnya.
Camelia menatap lekat manik mata milik Morgan,ada beribu rindu yang menggebu-gebu disana.
Morgan berdecih. Sungguh,ia tidak menyangka jika wanita di hadapannya ini benar-benar sangat licik.
"Tidak usah berdrama lagi lady,tidak ada siapa-siapa disini,hanya ada kau dan aku. Aku sudah cukup muak dengan sikapmu selama ini."
"Mengapa anda tega menuduh saya seperti itu yang mulia? Perkataan anda sungguh kejam, seolah-olah saya memang melakukan kesalahan besar." Ucap Camelia dengan raut wajah sedih.
Morgan Menggeram,kedua tangannya yang ia simpan di atas paha mengepal. Dia sungguh sudah bosan bermain-main dengan wanita licik ini.
"Aku melihatnya,kau sangat menikmati permainan ini bukan? Kau sudah bertindak terlalu jauh Lady. Jangan berfikir jika aku tidak tahu apa yang telah kau lakukan selama ini.
Aku tau semuanya, Rosenta,Karel,para penyusup, pembunuh bayaran di hutan, penyerangan di istana,serta percobaan pembunuhan kepada putra-putraku, penculikan istriku, pembunuhan Raja,lalu berakhir dengan kecelakaan itu. Apa kau berfikir aku bodoh? Aku menyadarinya,semua yang terjadi dengan Castela,aku menyadarinya. Kau, adalah orang yang bermain di belakang layar selama ini bukan." Ucapnya menatap tajam Camelia yang duduk bersimpuh di lantai.
__ADS_1
Camelia mengangkat wajahnya yang semula menunduk. Lalu kemudian seringaian muncul di wajahnya. Terlihat begitu menyeramkan dan mengisyaratkan banyak arti.
"Ah,jadi kau sudah tahu ya. Hmm, baguslah,dengan begitu aku tidak perlu berpura-pura memasang wajah polos ini lagi bukan?" Tanyanya dengan senyuman merekah di bibirnya.
"Kau benar-benar gila Camelia! Kau sudah melenyapkan istri ku,adik kandung mu sendiri. Dan sekarang kau menuduh ayahmu dan istriku yang menjadi dalang kematianmu. Apa kau sudah tidak waras? Bukankah sudah ku katakan berulang kali agar kau tidak melibatkan Castela di dalam semua rencana gilamu?!" Ucap Morgan mendesis marah.
Sungguh wanita ini benar-benar berbahaya. Apa yang ia fikirkan,apa yang ia rencanakan,tidak pernah bisa di prediksi sebelumnya.
"Tidak boleh melibatkan Castela? Awalnya aku tidak ingin melibatkannya Morgan,itu semua tidak akan terjadi jika kau tidak menghianatiku dengan menikahi orang yang sangat aku benci."
"AKU MEMBENCINYA MORGAN! AKU MEMBENCINYA! KARENA DIA JIWAKU HARUS DI KORBANKAN UNTUK MENJADI BUDAK IBLIS! KARENA DIA,AKU HARUS KEHILANGAN KASIH SAYANG PAPA DAN JUGA KAKAKKU! KARENA DIA,AKU JADI GAGAL MENJADI ISTRIMU,semua ini karena dia Morgan. Lalu, bagaimana caranya aku membalaskan dendam jika bukan dia yang mati?" Tanya Castela dengan suara rendah di akhir di sertai kekehan ringan.
"Kau gila Camelia! Aku tidak pernah mencintai mu,kita gagal menikah karena rencana gilamu sendiri. Jangan kau pikir aku tidak tahu jika kau menyuruh bandit untuk menyerang kereta kuda kalian agar Castela meninggal saat jatuh dari tebing. Tapi ternyata kau salah,karena ternyata dia berhasil selamat. Dan hal yang membuat mu lebih marah,saat kau menyadari fakta jika adikmu itu adalah ACASHA. Orang yang di takdirkan untuk menikah denganku.
Kau mengetahui semuanya Camelia. Kau mengetahui semua kebenarannya,tapi kau menyangkal semuanya. Kau menyangkal semua kebenarannya,karena kau tidak ingin kalah dari Castela. Karena kau, menyimpan rasa iri terhadapnya. Semua yang terjadi di hidupmu, itu adalah takdirmu Camelia. Tapi kau menampiknya dan menyalahkan Castela, padahal Castela sendiri tidak tahu apa-apa. Kau, egois,dan aku tidak menyukaimu. Aku, menyukai Castela karena itu kau selalu mencoba menyingkirkannya!" Tekan Morgan dengan penuh emosional.
"TIDAK! Kau,salah Morgan! HAHAH,aku sudah berjuang sampai sejauh ini,dan aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku,datang kembali untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku. Dirimu,cintamu dan takhta ini adalah milikku Morgan. Jangan lupa,jika aku masih menyimpan rahasia mu." Kekeh Camelia masih dengan pendiriannya.
Morgan bangkit dari tempat duduknya,dan memandang tajam Camelia.
"Aku tidak peduli,jika aku bisa membunuhmu Sekarang, bukankah kau akan mati bersama rahasia itu?" Ucap Morgan menyeringai. Lalu menarik pedang yang terletak tidak jauh dari tempatnya duduk.
"Kau ingin membunuhku? Tidak apa,tidak masalah,karena tidak hanya aku yang mati,tapi juga kedua anakmu." Ucap Camelia tertawa mengerikan,lalu menghilang dari ruangan itu.
"Sial! Sihir teleportasi! Mengapa wanita gila itu bisa memilikinya!" Umpat Morgan lalu berlari keluar dari ruangan itu menuju ke satu tempat, yaitu kamarnya. Dimana,ada buah cintanya dengan Castela yang sedang menikmati tidur siang disana.
__ADS_1