ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)

ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)
Chapter 08


__ADS_3

...🦋 HAPPY READING 🦋...


Castela duduk di salah satu tempat makanan kaki lima. Tempatnya tidak elit,dan yang berjualan adalah seorang sepasang suami istri yang sudah tampak renta. Dengan anak laki-laki berusia 10 tahun yang sedang duduk di sudut kedai sambil menatap Castela dengan tatapan kagum.


Castela tidak sengaja melihat anak itu,ia kemudian mengurungkan niatnya yang ingin makan lontong sate. Lagi pula,dimana ia bisa mendapatkan lontong sate? Ia tidak yakin bisa menemukan makanan yang sangat enak itu disini.


Marcel dan Duke Herli saling bertukar pandang. Ia seolah mengatakan 'apa yang ingin dilakukan adikmu kali ini?' yang di balas gelengan kepala oleh Marcel.


Mereka kemudian memutuskan untuk ikut duduk di meja yang sama dengan yang di duduki oleh Castela. Karel dan Ema juga mengikuti mereka dari belakang dan bergabung.


"Ah,aku rasanya lapar sekali. Nenek,apa ada makanan yang bisa aku makan?" Tanya Castela.


Sepasang suami istri itu saling bertukar pandang dengan raut wajah terkejut akan kehadiran keluarga yang paling berpengaruh selain keluarga kerajaan di kedai usangnya. Namun,mereka tidak bisa menutupi raut bahagia mereka,karena dari banyaknya tempat makan yang mewah, justru keluarga Duke Herli memilih untuk makan di tempat mereka.


"M-maaf lady,suami saya adalah seorang nelayan. Dan setiap harinya kami selalu menjual ikan hasil tangkapan kami di kedai tua milik kami ini. Kami hanya bisa menyajikan Ikan-ikan laut disini." Ucap nenek tersebut terlihat menyesal karena tidak bisa menyajikan makanan mewah untuk keluarga Duke yang terhormat.


Rakyat yang berada disana masih menatap kaget dengan apa yang mereka lihat. Seumur-umur mereka hidup,tidak ada keluarga bangsawan yang mau menginjakkan kaki mereka ke desa yang kumuh dan kotor ini. Meski sebenarnya daerah disini bisa di bilang bersih dan terawat.


Hanya saja,mereka menganggap tempat tinggal ini kotor karena mereka hanyalah rakyat kecil dan miskin. Sangat tidak cocok untuk di datangi oleh keluarga bangsawan yang pastinya terbiasa dengan kehidupan mewah dan berkelas.


"Jadi kakek adalah seorang nelayan? Bukankah kakek sudah terlalu tua untuk pergi ke laut? Itu pasti sangat berbahaya." Ucap Castela mengerutkan keningnya.


Memikirkan seorang lelaki tua itu terhempas ombak yang besar atau tenggelam karena badai dan berakhir dimakan hiu? Ahh, membayangkannya saja sudah membuat Castela ngeri. Apalagi ia memiliki trauma akan arus air.


"Tidak apa Lady,tidak ada lagi yang bisa orang tua ini lakukan untuk menyambung hidup. Orang tua masih cukup sehat untuk pergi menangkap ikan di laut." Ucap kakek itu tersenyum manis.


Castela benar-benar terharu dengan kedua orang tua di hadapannya ini. Andai saja,andai saja orang tuanya dulu seperti ini, pastinya dirinya akan merasakan kebahagiaan sebuah keluarga.


"Lady,lady, apakah anda mau membeli ikan nenek saya? Sudah tiga hari ini jualan nenek sepi,nenek dan kakek sudah tidak punya uang lagi untuk berjuang besok. Apa lady mau membelinya? Ikan bakar buatan nenek sangat enak."


Castela menoleh ke arah seorang anak laki-laki yang tadi berada di sudut kedai,saat ini tengah menunduk di sebelahnya dengan memegang ujung gaunnya. Mereka semua menatap kaget anak laki-laki itu. Mereka takut jika Castela akan marah dan menampar anak malang itu karena berani menyentuh gaunnya.


Begitu pula kakek dan nenek itu yang menatap kaget lalu segera bersujud untuk meminta maaf karena kelancangan cucu mereka.


"Lady,maafkan kami lady, maafkanlah cucu kami yang bodoh ini. Tolong hukum saja saya,tolong maafkan cucu kami." Ucap kakek itu menenggelamkan keningnya hingga menyentuh lantai.


Mereka yang menyaksikan hal itu saling berbisik sambil menatap ngeri sekaligus kasihan,saat melihat Lady Castela menatap anak itu tajam.


"Siapa namamu?" Tanya lady Castela dingin kepada anak itu.


Mereka semua saling menelan ludah saat suara dingin itu memecah keheningan yang sempat terjadi. Castela menatap pakaian yang di kenakan anak itu, lalu matanya mulai menatap satu persatu penduduk disana. Mereka semua menggunakan pakaian yang sama. Kain berbahan kasar dengan tambalan dimana-mana. Baru ia sadari,jika desa ini benar-benar terlihat - miskin.


"Nama saya Erik lady." Jawab anak laki-laki itu masih dengan posisi menunduk.


"Nama panjangmu?" Tanya Castela lagi.


Bocah itu menggeleng lemah.


"Hey kakek! Nenek! Hentikan perbuatan kalian itu! Apa kalian sudah kehilangan akal?!" Bentak Castela dengan nada marah.

__ADS_1


Sungguh,ia sedari tadi merasa kesal karena perbuatan orang tua itu yang tidak berhenti memukulkan kepala mereka ke lantai.


"Maaf lady,kami harus menebus kesalahan cucu kami,maaf lady kami akan terus melakukannya." Kini gantian si nenek itu yang berucap.


Castela menarik nafasnya dengan kasar. Lalu ia bangkit dari tempat duduknya.


"Jika kalian tidak menuruti perintahku,maka akan ku suruh ksatria ku untuk memenggal kepala kalian." Ucap Castela dengan wajah serius.


Kedua orang tua itu lantas menghentikan kegiatan mereka dan menatap takut Castela yang sudah berdiri di depan mereka.


"Nah Erik,kau adalah laki-laki yang tampan dan berani." Castela mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan tubuh Erik sambil mengusap lembut Surai merah milik anak laki-laki itu.


Membuat mereka semua menahan nafas tidak percaya dengan apa yang di lakukan Lady Castela barusan. Mereka pikir,lady Castela akan sangat marah besar. Namun, wanita berusia 16 tahun itu malah bersikap sangat dewasa dan bijaksana. Benar-benar seperti gambaran seorang Ratu di masa depan.


"Aku akan memberikan nama belakang kepadamu. Mulai sekarang, namamu Erik Meijer." Ucap Castela.


"Benarkah Lady? Anda memberikan nama belakang untuk saya?" Tanyanya antusias. Netra merahnya tampak berkaca-kaca,ia lalu memeluk Castela yang di balas dengan pelukan hangat olehnya.


"Itu benar,mulai sekarang kau harus belajar dengan baik,aku ingin kau menjadi orang hebat ketika dewasa." Ucap Castela tulus


Duke Herli tidak menyangka dengan apa yang ia saksikan. Begitu pula dengan Marcel, Karel dan juga Ema. Lady mereka, benar-benar berubah. Tapi walaupun begitu, mereka sangat menyukai perubahan itu. Mereka semua tersenyum senang, setidaknya kini mereka yakin,jika keluarga itu bukanlah iblis seperti yang di rumorkan.


"Baik lady,saya akan belajar dengan rajin. Saya akan tumbuh dewasa,menjadi laki-laki yang hebat dan akan melindungi lady." Ucap Erik mengangguk semangat.


Kedua orang tua itu pun menangis bahagia. Sungguh, mereka tidak pernah membayangkan jika hari ini akan hadir di hidup mereka. Di berikan nama belakang oleh bangsawan, adalah sebuah kehormatan besar untuk rakyat rendahan seperti mereka.


"Baiklah,aku sudah sangat lapar Erik, bisakah kau mengantarkan aku ke dapur? Sepertinya aku ingin memakan masakan ku sendiri." Tanya Castela kepada Erik.


"Tapi nona,anda tidak boleh-"


"Biarkan saja Ema,kau bantulah nonamu ke dalam." Ucap Duke Herli memotong ucapan Ema.


Ema menurut kemudian masuk ke dalam mengikuti nonanya.


Castela melihat dua ember besar ikan-ikan segar,dan satu ember udang yang cukup besar. Castela mengetukkan telunjuknya ke dagu seraya berfikir akan di apakan ikan sebanyak ini. Dan siapa yang akan menghabiskannya. Seolah mengerti,Erik langsung bersuara.


"Dulu kota kami adalah kota yang kaya lady, sebelum akhirnya kekeringan melanda disini selama dua tahun. Kota kami berubah menjadi kota yang miskin,meski awalnya kami hidup bahagia dan berkecukupan. Setidaknya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Ladang dan sawah semuanya gagal panen. Itu sebabnya,kami tidak memiliki cukup uang untuk saling membeli dagangan satu sama lain. Biasanya, masyarakat disini hanya memakan hasil buruan atau ubi-ubian liar yang tumbuh di sekitar hutan."


Castela menatap Erik, sepertinya ia pernah mendengar dari kakaknya,jika asa beberapa wilayah yang terdampak kekeringan dan masyarakatnya menjadi susah.


"Apa nama kota ini Ema?" Tanya Castela kepada Ema yang memeriksa ikan-ikan itu.


"Ini kota Raksa nona,salah satu kota yang letaknya jauh dari ibu kota SEATHLAND. Sepertinya salah satu kota yang di rumorkan terkena bencana adalah kota ini." Ucapnya ragu.


Castela menghembuskan nafasnya kasar. Bagaimana bisa laki-laki tua bangka itu bisa melupakan daerahnya sendiri. Sungguh sangat menderita orang-orang disini.


Sebenarnya,mereka berjalan cukup jauh dari jalan yang seharusnya mereka tempuh. Ini terjadi, Karena tiba-tiba saja Castela mendadak ingin ke pantai. Ia ingin mengganti acara mereka di istana yang gagal dengan berpiknik di pinggir pantai. Namun,mereka terhenti ketika melihat keadaan kota ini.


"Baiklah, sepertinya aku mengerti. Ema, kumpulan seluruh wanita yang ada di desa ini. Aku akan memasak ini semua untuk mereka. Belilah beberapa bahan yang ku tuliskan dari pedagang di sekitar sini." Ucap Castela.

__ADS_1


Ema tersenyum antusias,ia lalu berlari keluar dan melaksanakan perintah nonanya.


"Ada apa Ema? Kenapa kau berlari seperti itu?"tanya Duke Herli yang tampak sedang berbicara dengan seorang lelaki yang sudah tampak berumur. Sepertinya beliau adalah orang yang memimpin kota ini.


"Nona menyuruh saya untuk memanggil para wanita yang bisa memasak dan membeli bahan-bahan makanan. Nona akan memasak untuk seluruh orang di desa ini tuan." Ucap Ema yang membuat kening Duke Herli berkerut.


"Castela bisa memasak? Sejak kapan pa?" Tanya marchel.


"Entahlah,papa juga tidak tahu Marcel." Jawab Duke Herli.


"Ah, sepertinya aku harus membantu niat mulia adikku itu pa. Papa tunggulah disini,aku akan masuk ke dalam. Hey Karel, sebaiknya kau ikut denganku." Ucap Marcel lalu bangkit yang diikuti oleh Karel.


Semua penduduk saling tatap,lalu bersorak senang. Benarkah Lady akan memasak makanan untuk mereka? Sudah lama sekali mereka hanya makan ubi rebus dan ikan hambar selama ini. Mereka dengan bergegas menuju posko yang baru mulai di bangun oleh Marcel dan Karel,yang di bantu oleh para prajurit yang mereka bawa.


"Ah, sepertinya ide kalian tidak buruk juga. Dengan begini,aku bisa memasak dengan tenang." Ucap Castela semangat dengan tangan di pinggangnya.


"Apa pun untuk adikku yang tersayang. Bagaimana? Apa ini sudah?" Tanya Marcel.


Castela mengangguk,lalu kemudian ia menyuruh wanita-wanita yang sudah berkumpul untuk membersikan ikan dan udang. Sementara para laki-laki sedang sibuk membawa kayu bakar ke posko yang di bangun di sebelah kedai milik nenek dan kakek Erik. Kebetulan,ada tanah yang lumayan luas, sehingga Marcel memiliki ide untuk membangun beberapa tenda. Salah satunya tenda untuk mereka bermalam.


Castela dengan semangat memotong-motong sayur,tomat,dan bahan-bahan lainnya yang di beli oleh Ema,dengan uang Duke Herli tentunya. Wanita-wanita disana saling bercanda ria sambil mengerjakan apa yang di suruh oleh Castela.


Mereka merasa seolah desa mereka yang sudah mati seperti hidup kembali. Wanita cantik itu dengan semangat yang luar biasa mulai menumis bumbu,membuat saos, menggoreng ikan. Hingga tercium aroma yang luar biasa dari masakan Castela dengan porsi yang super besar itu.


"Wah,lady,harum sekali masakan anda. Sepertinya itu sangat enak,apa nama masakan itu lady? Seumuran hidup saya baru melihatnya." Ucap salah seorang wanita yang di angguki oleh wanita yang lainnya.


"Ini adalah ikan gurame asam manis,menu spesial dengan resepku sendiri." Ucap Castela tersenyum bangga.


Mereka menatap takjub wanita yang berdiri di depan tungku api dengan Sutil kayu di tangannya itu. Wajahnya yang serius ketika memasak membuat mereka semakin jatuh cinta dengan sosok Lady Castela.


Marcel,Karel dan di bantu para lelaki yang tengah membakar ikan di buat terdiam. Marcehl dan Karel saling berpandangan tidak percaya. Saat ini mereka diam-diam mencicipi salah satu ikan yang sudah di bakar dengan menggunakan bumbu rahasia yang di buat oleh Castela karena lapar.


Tapi mereka sama sekali tidak menyangka jika rasanya akan seperti ini.


"Apa kau yakin adikku sendiri yang membuat bumbu ini Karel?" Tanya Marcel menyipit


"Aku sangat yakin tuan,karena aku yang membantunya mencampurkan bahan-bahan bumbu itu." Jawab Karel ragu.


"Dari mana adikku itu belajar memasak? Mengapa rasa masakannya sangat asing,namun terasa cocok dan sangat enak di lidahku." Ucap marceh.


Karel mengangguk membenarkan. Ini pertama kalinya ia memakan ikan bakar seenak ini. Tentu saja ikan bakar adalah masakan biasa yang bisa mereka jumpai dimana saja. Namun,kali ini , rasanya benar-benar sangat berbeda. Ada rasa gurih,pedas,manis,dan sedikit asam dari ikan ini.


"Benar-benar gadis yang menarik." Ucap Karel pelan. "Pangeran pasti akan jatuh hati kepada Lady Castela jika saja ia ada disini." Ucapnya kemudian yang tidak sengaja di dengar oleh Marcel.


"Tutup mulutmu Karel,aku tidak akan membiarkan adikku menikah dengan lelaki itu dan menjadi istri kedua. Sebaiknya kau rahasiakan saja semua ini, atau tidak Castela pasti akan membunuhmu. Katakan itu kepada para prajurit mu." Ucap marchel lalu memasukkan sisa tulang ikan yang mereka makan ke dalam api agar tidak ketahuan oelh Castela.


Bisa-bisa mereka berdua yang akan di panggang jika tertangkap basah mencicipi ikan itu duluan.


"Anda tenang saja tuan Marcel,saya tidak akan membocorkannya. Sebenarnya saya juga tidak setuju pangeran menikah dengan nona Rosenta. Saya berfikir,jika ada sesuatu yang aneh,yang di sembunyikan oleh wanita itu." Ucap Karel memelankan volume suaranya.

__ADS_1


"Benarkah?" Tanya Marcel tidak percaya. Yang di angguki mantap oleh Karel.


"Ah, sepertinya kita bisa menjadi teman Karel." Ucap Marcel sambil menepuk-nepuk pundak kekar Karel.


__ADS_2