
...🦋 HAPPY READING 🦋...
Hari ini istana di hebohkan dengan berita kehilangan kedua pangeran SEATHLAND. Bahkan seluruh dataran SEATHLAND sudah gempar dengan berita tersebut.
Tiga hari telah berlalu setelah ritual upacara doa. Saat ini,ruangan kerja Raja Morgan terlihat ramai, berbeda dengan hari-hari sebelumnya.
Para prajurit istana tampak berkumpul di perbatasan. Mereka memperketat pemeriksaan dan pengawas terhadap siapapun yang keluar masuk ke ibukota SEATHLAND. Kali ini, dimana-mana terdapat para prajurit berbaju zirah tersebut.
Wajah mereka benar-benar tegang,ada Duke Marchel, Marquis Steven dan juga Abigail yang terpaksa ikut, duduk di salah satu sisi sofa dengan wajah kesalnya.
Bagaimana tidak? Ia sudah memimpikan bayangan pekerjaannya. Pasti dialah yang akan bertemu dengan tuannya itu pertama kali jika ia bersama dengan dua bocah itu. Namun, lihatlah bagaimana kenyataannya. Dia malah dipaksa bergabung bersama orang-orang tua yang selalu memasang raut wajah serius dan menyebalkan itu.
Berulang kali ia menghembuskan nafas kasar, untuk sekedar mengusir rasa kebosanan. Namun tak ayal, telinganya tetap serius mendengarkan rencana yang mereka rancang.
"Bagaimana bisa yang mulia? Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Pasti saat ini lelaki itu sudah merasa di atas angin. Dia sudah mendapatkan umpan yang bagus,jika saja kedua pangeran tidak segera kita sembunyikan, berita buruk yang saat ini kita dengarkan adalah kenyataannya." Ucap Marquis Steven dengan gurat khawatir.
"Kita mencoba untuk berada selangkah di depan,namun ternyata lawan kita juga berpikiran demikian. Kita memiliki para pangeran, sedangkan dia memiliki ayahku. Tapi untuk masalah ini,aku memiliki firasat yang buruk. Dengan kekuasaannya,aku rasa,kita benar-benar hanya bisa berdoa. Semoga Firasat ku ini hanyalah Sebuah ketakutan tak beralasan." Ucap Duke Marchel menimpali.
"Bagaimana bisa Duke Herli yang berada di bawah pengawasan anda menghilang yang Mulia? Bukankah Anda sendiri yang melihat Duke di masukkan ke dalam sel celah itu?" Sahut Abigail yang sudah benar-benar merasa bosan.
__ADS_1
Raja Morgan menghela nafas panjang,ia menyenderkan kepalanya ke kursi yang ia duduki,lalu memijit kepalanya dengan kedua mata terpejam.
"Aku tidak menyangka jika Camelia benar-benar pintar. Seharusnya aku sudah menduga jika permintaannya tidak sesederhana itu. Menangkap Duke Herli,lalu mengurungnya di penjara tanpa celah dan mengambil alih tugas itu. seharusnya aku sadar jika wanita itu benar-benar licik. Mereka benar-benar sudah merencanakan ini semua jauh-jauh hari. Jauh, sebelum kita semua menyadarinya. Jika melihat dari situasi yang kita hadapi saat ini,maka besar kemungkinan jika Duke Herli memang tidak berada disana sejak awal." Ucap Raja Morgan lirih.
Penjara tanpa celah adalah sebutan untuk sebuah ruangan dengan tembok tidak terlalu tinggi. Berbentuk kubus,dengan ventilasi udara yang benar-benar sangat kecil. Tidak ada cahaya yang menembus masuk ke dalamnya. Ruangan itu benar-benar gelap,karena cahaya matahari pun tidak bisa menerobos masuk untuk sekedar singgah.
Penjara tanpa celah adalah tempat yang paling mengerikan. Benar-benar momok yang paling menakutkan untuk para tahanan. Mereka akan di kurung di dalam penjara tersebut, sendirian,tanpa cahaya,tanpa desiran angin,hening, seolah tidak ada tanda-tanda kehidupan.
Biasanya,mereka yang di kurung di dalam penjara tanpa celah tidak akan bertahan lama. Mereka bisa bertahan paling lama satu tahun, setelahnya mereka akan meninggal karena kekurangan oksigen dan pasokan udara,atau menjadi gila lalu menyakiti diri sendiri dengan menghantamkan kepala mereka ke dinding secara berulang-ulang. Hingga mereka akhirnya tidak sadarkan diri,lalu meninggal dengan sendirinya.
"Marquis Steven, bagaimana? Apa kabar tentang kedua putraku sudah tiba?" Tanya Raja Morgan tanpa merubah posisinya.
"Saat ini... seluruh SEATHLAND sedang di hebohkan dengan berita bohong mengenai hilangnya para pangeran. Aku yakin, mereka pasti sedikit terkecoh. Abigail, tugasmu adalah mengawasi Camelia. Awasi dia setiap saat,tidak ada satupun yang boleh terlewat. Pasti saat ini, wanita itu sedang gelisah dan mencoba untuk menghubungi Raja sialan itu! Sekecil apapun celah yang kita miliki,kita harus memanfaatkannya sebaik mungkin. Secepatnya, sebelum mereka menyadari jika semua ini hanyalah jebakan." Ucap Duke Marchel dengan kedua mata berkilah tajam. "Camelia, meskipun kau adalah adik satu darah denganku,namun aku tidak akan pernah memaafkan tingkahmu yang sudah melewati batas." Desisnya Kemudian.
Marquis Steven mendesah berat. Ia menatap prihatin kakak dari sahabat sekaligus wanita yang ia cintai itu. Memang hidup tidak mudah di tebak. Tidak selamanya berjalan mulus sesuai dengan apa yang kita harapkan dan rencanakan.
Terlalu banyak kejutan-kejutan yang membuat mental terguncang siap atau tidaknya diri kita. Steven sendiri,merasa bahwa begitu banyak pelajaran yang bisa ia ambil selama hidup di dimensi ini.
Dimensi yang benar-benar menyeramkan. Dimana orang-orang tidak hanya berperang dengan otak,namun dengan senja, sihir dan juga kekuasaan. Dia hidup di sebuah dimensi,dimana yang memiliki kasta tertinggi,dialah yang akan selalu berjaya.
__ADS_1
Sementara yang tidak memiliki kasta,tidak berdarahkan bangsawan, serta tidak memiliki harta dan kekuasaan,maka dia akan selalu berada di bawah. Terinjak-injak,tak di anggap ada, seolah-olah hanya debu-debu dari kotoran yang tidak sengaja singgah.
Beruntungnya dirinya,karena ia terlahir sebagai seorang bangsawan. Putra satu-satunya dari seorang Marquis,serta kaya dan memiliki kekuasaan.
Karena dimana pun kau berada, harta, takhta dan kekuasaan adalah poin yang paling utama. Jika kau memiliki ketiganya di dalam hidupmu,maka berbahagialah,karena dunia beserta isinya,bisa saja berada di dalam kendalimu.
"Marquis Steven,apa kau sudah mengumpulkan pasukan yang aku minta?" tanya Raja Morgan kemudian.
Marquis Steven mengangguk,ia menyerahkan beberapa kertas dokumen berisi tentang rincian pasukan yang diminta oleh Raja Morgan. Meski mendadak,namun untung saja mereka memiliki pasukan yang cukup. Cepat atau lambat,perang besar itu benar-benar tidak akan bisa terlewatkan.
Raja Morgan membaca kertas yang ia pegang dengan teliti. Ada sekitar 20.000 pasukan yang mereka miliki saat ini. Semua ini adalah kumpulan dari seluruh milik kerajaan di tambah dengan milik para bangsawan.
"Abigail, apakah kau berhasil mendapatkan informasi yang ku minta?" tanya Marquis Steven kepada Abigail yang semula memejamkan matanya.
"Sudah Marquis, informanku mengatakan jika mereka tidak bisa menyelinap ke Zwitland. Tempat itu benar-benar dijaga sangat ketat. Namun mereka berhasil mendapatkan jumlahnya. Meski hanya sebuah terkaan semata,namun mereka tidak pernah salah. Sekitar 10 hingga 13.000 pasukan berbaju zirah hitam telah bersiaga di perbatasan Zwitland. Bisa jadi kurang,bisa jadi pula lebih. Mereka sudah siap tuan,hanya tinggal menunggu perintah." ucap Abigail serius, sambil menyodorkan sebuah kertas kecil ke atas meja, sebuah surat yang di kirimkan oleh anak buahnya.
Mereka semua mengangguk paham. "Jika jumlah ini tidak meleset,maka kita masih menang sedikit di jumlah pasukan. Namun jumlah tidak selalu mempengaruhi hasil. Yang akan kita lawan adalah seorang iblis yang licik dan penuh trik kotor. Kita harus berhati-hati,kita tidak tahu bahaya apa yang akan mengancam kita dalam diam." ucap Duke Marchel dengan raut wajah serius.
"Kau benar Duke, baiklah kalau begitu. Kita akan membawa sekitar 17.000 pasukan ke Medan pertempuran. Sementara sisanya akan berjaga di kerajaan Pastikan setiap sudut daerah di dataran SEATHLAND, dimana pun itu, pastikan ada para prajurit yang bersiap siaga untuk membantu rakyat." ucap Raja Morgan yang langsung di tanggapi anggukan oleh yang lainnya.
__ADS_1
Tanpa pemberitaan apapun, genderang perang telah di tabuh. Bendera Peperangan telah di kibarkan. Saat ini, masing-masing kerajaan,telah menyiapkan rencana mereka. Perang, adalah satu kata yang merupakan momok menakutkan,yang telah terdoktrin di jiwa Setiap insan. Hanya ada dua pilihan, keluar menjadi pemenang,atau pihak yang menanggung kekalahan.