
...🦋 HAPPY READING 🦋...
"Castela, Castela," Ucap Morgan panik sambil menepuk-nepuk pelan pipi berisi milik Istrinya itu.
"Castela,bangun Castela,APA YANG KALIAN LIHAT?! CEPAT PANGGIL DOKTER!"
Teriakan itu sontak saja membuat semua prajurit yang ada disana langsung bergegas mencari dokter. Morgan langsung mengangkat Castela ke dalam gendongannya dan berlari menuju ke sebuah tenda yang berukuran paling besar diantara tenda lainnya.
Ia membaringkan Castela dengan hati-hati ke atas kasur sederhana yang ada di ruangan itu. Tak lama kemudian, seorang dokter muncul dari balik pintu dan segera masuk.
Ia mengeluarkan obat-obatan dari dalam tasnya dan langsung membersihkan luka di tubuh Castela.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Morgan khawatir.
"Permaisuri baik-baik saja pangeran, lukanya tidak terlalu dalam. Dalam beberapa hari sudah bisa sembuh. Saya akan meninggalkan beberapa obat untuk diminum oleh permaisuri ketika sadar."
Dokter itu telah selesai membalut luka di leher dan bagian pundak depan Castela. Untung saja pendarahan itu tidak berakibat fatal. Ia lalu mengeluarkan beberapa botol obat dan memberikannya kepada Morgan.
"Apa dia masih bisa melakukan perjalanan jauh?" Tanya Morgan, bagaimana pun juga gadis itu pasti akan marah jika perjalanannya tertunda.
"Bisa yang mulia, permaisuri tidak akan bangun mungkin sampai dua atau tiga hari ke depan. Jadi,anda bisa melanjutkan perjalanan asal ada seseorang yang menemani permaisuri selama di kereta kuda." Ucap dokter itu menjelaskan.
Morgan mengangguk,ia lalu menyuruh salah satu prajurit untuk mengantarkan dokter itu keluar. Di luar,masih banyak prajurit yang terluka.
Bagaimana pun juga,mereka harus melanjutkan perjalanan. Mereka tidak bisa lagi berhenti hanya Untuk sekedar bermalam. Karena, semakin lama mereka berada disini,maka semakin lama pula mereka tiba disana.
Untung saja prajurit-prajurit itu tidak terluka cukup serius. Pangeran Morgan mengecup singkat bibir Castela sebelum akhirnya meninggalkan tenda itu untuk bertemu dengan orang yang bisa di tanyainya tentang kejadian ini.
"Cepatlah sembuh,aku merindukan kata-kata kejam mu."
Pangeran Morgan memerintahkan beberapa prajurit untuk berjaga di depan tenda milik istrinya.
Ia lalu melangkahkan kakinya menuju tempat seseorang yang saat ini sedang duduk melamun di bawah pohon besar.
"Apa yang kau pikirkan hingga tidak menyadari kehadiran ku ini, Marquis Steven?"
Suara itu sontak membuat Marquis Steven mendongak dan berdiri kaget. Ia memberikan hormat kepada pangeran Morgan yang saat ini memandangnya tajam.
"Mohon maaf yang mulia,saya tidak menyadari kehadiran anda."
"Duduklah."
Ucap Morgan yang membuat Marquis Steven kaget.
Duduk? Duduk dimana? Di tanah maksudnya?
Belum sempat ia menanyakan hal itu, pangeran Morgan malah sudah duduk di bawah pohon. Marquis Steven langsung ikut duduk,bisa berbahaya jika ada yang melihat mereka.
__ADS_1
"Ada apa yang mulia? Anda terlihat seperti banyak pikiran." Ucap Marquis Steven mencoba mencari tahu maksud kedatangan pangeran Morgan yang tiba-tiba.
Seperti yang di ketahui, dirinya dan juga pangeran Morgan tidak memiliki hubungan yang dekat hingga bisa membuat mereka saling duduk berdampingan seperti ini.
"Apa kau menyukai istriku?"
Pertanyaan itu sontak saja membuat Marquis Steven terkejut. Apa-apaan ini? Bagaimana dia bisa tahu? Apa sebenarnya maksud dari pertanyaannya itu?
"Kenapa kau diam? Tidak bisa menjawab?" Tanya pangeran Morgan dengan aura yang tidak bersahabat.
Dengan berat hati Marquis Steven menggeleng. Ia tidak mau jika setelah ini kehidupan Castela semakin di persulit oleh lelaki ini.
"Tidak yang mulia,saya tidak berani. Kami hanya berteman dan tidak lebih."
"Apa kau pikir aku bodoh? Aku adalah seorang laki-laki, tentu aku mengetahui arti dari tatapan mu itu kepadanya."
Marquis Steven terdiam,ia tidak menyadari jika selama ini telah melakukan kesalahan yang tidak ia sadari sebelumnya. Ia tidak menyangka,jika gerak geriknya selama ini berhasil di tangkap oleh pangeran Morgan.
"Sebenarnya aku merasa ragu,tapi hari ini,telah membuktikan semuanya. Kau, bahkan mengabaikan nyawamu yang berada dalam bahaya karena nyawa Castela yang sedang terancam." Ucap pangeran Morgan.
Marquis Steven mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk. Kini ia tidak akan menunduk lagi,karena lelaki ini sudah mengetahuinya,jadi untuk apa dia hanya diam? Dia harus bisa melindungi gadis yang telah lama ia cintai. Meskipun pada akhirnya, dirinya tidak akan mendapatkan perasaan yang terbalas.
"Baguslah jika anda sudah tahu yang mulia. Saya merasa lega,itu artinya saya tidak perlu diam-diam lagi untuk melindungi Castela. Ini adalah berita baik,jika anda memang tidak mencintainya dan hanya ingin menyakiti hatinya saja,maka kembalikan dia kepada saya. Saya yang akan membahagiakannya. Membuatnya jauh lebih bahagia dari pada saat bersama dengan anda."
Pangeran Morgan menatap tajam kedua manik mata Marquis Steven. Rahangnya mengeras saat kata-kata itu mengalir ke telinganya.
BUGH
BUGH
"Lancang sekali mulutmu itu Marquis! Ingatlah akan posisimu itu,apa kau berfikir jika kau bisa bersaing denganku?!" Pangeran Morgan menatap remeh Marquis Steven yang tergeletak di tanah.
Ia memegangi dadanya yang terasa nyeri. Namun hal itu tidak membuat Marquis Steven goyah dan menyerah begitu saja. Ia berdecih dan tertawa mengejek menatap pangeran Morgan yang memandangnya dengan tatapan ingin membunuh.
"Aku tidak pernah berjumpa dengan manusia yang paling egois sebelumnya. Tapi kini akhirnya aku bertemu dengannya. Apalagi yang ingin kau lakukan kepada Castela? Bahkan baru seminggu kalian Menikah,kau telah membuat Castela benar-benar muak berada di dekatmu."
"Diamlah! Manusia rendahan seperti mu tidak pantas berbicara angkuh di depanku."
"Maaf yang mulia,saya menyadari seperti apa posisi saya. Anda adalah orang yang terhormat dan memiliki kedudukan yang tinggi. Bahkan hampir menyentuh kedudukan dewa. Anda telah mendapatkan apa yang anda inginkan, yaitu menikahi Castela. Jadi sekarang, bisakah anda melepaskannya?"
Pangeran Morgan ingin membalas, namun ia mengurungkan niatnya. Entah mengapa dadanya terasa sesak saat ini. Mendengarkan ada orang lain yang menaruh rasa kepada istrinya, membuat dirinya benar-benar tidak tenang.
"Bahkan dalam mimpimu saja, tidak akan aku biarkan kau mendekatinya." Ucap pangeran Morgan lalu pergi dari tempat itu.
Marquis Steven meringis saat menyadari jika tubuhnya benar-benar terasa remuk sekarang.
"Kau terlalu egois,kau bahkan tidak menyadari,jika dirimu adalah bahaya terbesar bagi hidup Castela." Ucapnya pelan
__ADS_1
Ia lalu memanggil salah satu prajurit yang kebetulan lewat untuk membantunya kembali ke tenda. Prajurit itu menatap kaget keadaan Marquis Steven yang sangat kacau. Ia bertanya apa yang terjadi,Karena keadaan mereka beberapa saat yang lalu,yang di serang oleh sekelompok orang.
Marquis Steven hanya menggeleng, mengatakan tidak ada masalah. Lalu tanpa banyak bicara lagi, prajurit itu langsung memapah Marquis Steven kembali ke tendanya.
Disinilah pangeran Morgan sekarang. Menatap lekat seorang gadis cantik yang sedang sibuk dengan tidurnya. Bahkan kecantikannya benar-benar tidak hilang meski dalam kondisi terluka seperti itu.
Ia meraih pergelangan tangan Castela,lalu mencium lembut punggung tangan gadis itu.
"Apa yang telah kau lakukan kepada ku? Mengapa aku sangat takut kehilangan dirimu? Mengapa aku merasakan takut ketika melihatmu dalam bahaya seperti tadi? Apa yang telah kau lakukan?"
"Mengapa aku merasa benci dan marah saat mengetahui jika ada Lelaki lain yang menyukaimu? Hey gadis bodoh! Bangunlah! Katakan kepadaku,apa yang telah terjadi!"
Tidak ada pergerakan sedikit pun dari tubuh gadis itu. Lama ia berbicara disana sendirian, karena Castela hanya diam dan membisu.
Pangeran Morgan berjalan menuju ke sebuah tas besar. Ia membuka tas itu dan mengambil beberapa pakaian. Dengan pelan-pelan,ia membuka gaun istri kecilnya itu yang sudah kotor karena darah dan tanah.
Ema masih pingsan, entahlah bagaimana keadaan pelayan itu Morgan tidak peduli. Dengan Susah payah,ia berhasil melepaskan pakaian Castela karena kesusahan mencari letak-letak pengait gaunnya.
Ia menahan gugup saat melihat tubuh Castela yang hanya menyisakan bagian pakaian dalamnya saja. Ini pertama kalinya ia melihat tubuh seorang wanita. Bagaimana pun juga, dirinya adalah lelaki normal.
Sesuatu yang berada di bawah sana sudah berkedut, memberontak ingin keluar. Dan dengan mati-matian ia menahannya.
"Apa ku terkam sekarang saja dia? Mumpung dia belum bangun?"
"Ah, tidak! Tidak! Kau tidak boleh melakukan hal memalukan seperti ini Morgan! Kau akan di Bunuh olehnya jika melecehkannya ketika tidak sadarkan diri!"
"Tapi dia istriku,sudah seharusnya aku mendapat kan hakku!"
"Tidak! Tidak! Kau harus menahannya Morgan! Lihatlah dia sedang terluka. Kau bisa melakukannya ketika dia sadar! Jika dia menolak,maka barulah gunakan cara kotor!"
Setelah berperang dengan dirinya sendiri, akhirnya ia berhasil memakaikan pakaian ke tubuh Castela. Sebuah piyama tidur, ia tidak memakaikan gaun karena menurutnya terlalu rumit.
Lagi-lagi Morgan harus menelan salivanya saat tangannya tidak sengaja menyenggol dua bukit kembar yang terbungkus rapi di dalam sana.
"Ah, ayolah Morgan! Kau bahkan sudah pernah memegangnya. Kenapa kau jadi gugup seperti ini."
Morgan segera mengancingkan kancing bagian atas piyama tidur Castela. Namun entah apa yang terjadi, kakinya yang sedari tadi menahan pinggiran ranjang terpeleset.
Dan tanpa di duga, tangannya malah meremas dua bukit indah yang sedari tadi menguji imannya. Wajahnya juga terjatuh tepat diantara dua bukit kembar itu. Memberikan kesan kenyal dan juga menenangkan,karena aroma strawberry yang tercium di hidungnya.
Morgan menikmati sesaat aroma itu sebelum akhirnya ia tersadar dan bangkit dari posisinya. Kedua wajahnya memerah,ia benar-benar gugup dan merasa bersalah.
"Maafkan aku istriku,aku tidak sengaja melakukannya. Kau-yah, kaulah yang telah menarikku hingga terjatuh di lembah surga itu. Kau yang bersalah! kaulah yang sengaja menggoda ku!"
Ucap Morgan gugup entah pada siapa. Tidak ada orang disana karena pintu tenda yang ia tutup sebelum menggantikan pakaian Castela. Hanya ada dirinya,dan juga Castela yang masih tidak sadarkan diri.
Lalu, untuk apa Morgan mengatakan hal itu? Bahkan jika ada yang melihatnya tadi,siapa yang berani memarahinya? Bukankah Castela adalah istrinya?
__ADS_1
"Aku benar-benar gila! Sepertinya aku butuh istirahat" Umpatnya pelan sebelum akhirnya mengambil tempat untuk tidur setelah menggeser tubuh Castela agar memberikannya sedikit ruang.