ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)

ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)
Chapter 31


__ADS_3

🦋 HAPPY READING 🦋


Marchel segera mendobrak pintu ruangan Raja Philip. Matanya langsung tertuju kepada pangeran Morgan yang sedang berdebat dengan ayahnya.


Tanpa banyak bicara Marchel langsung melayangkan tinjunya ke wajah pangeran Morgan hingga sosok itu terhuyung ke belakang.


"Apa-apaan ini! Kau, berani-beraninya memukulku!" Pangeran Morgan tak mau kalah,ia langsung membalas tonjokan Marchel hingga pada akhirnya mereka saling beradu tinju.


Raja Philip benar-benar sangat terkejut dengan kehadiran dua laki-laki ini. Dirinya memang sudah menebak jika Duke Herli pasti bakalan datang untuk meminta penjelasan.Tapi ia tidak menduga jika akan datang secepat ini.


"Kalian berdua, HENTIKAN!"


Suara bentakan yang berasal dari Raja Philip membuat mereka dua terdiam. Masing-masing tinju mereka yang masih berada di udara jatuh begitu saja.


"Duduklah!"


Duke Herli mengambil tempat di salah satu sofa diikuti oleh Marchel dan pangeran Morgan yang duduk di sisi lainnya. Mereka saling bertukar tatapan tajam untuk saling membunuh satu sama lain.


"Kalian berdua benar-benar kekanakan. Tidak tau sopan santun! Apa kalian tidak memandangku?! Apa kalian menganggap ku patung?!" Bentak Raja Philip yang membuat kedua pemuda itu menunduk takut.


"Kau Morgan, pergilah,jika terjadi sesuatu kepada menantuku,maka kepalamu aku sendiri yang akan penggal!"


Pangeran Morgan yang namanya disebut hanya bisa mengangguk pasrah dan pergi dari tempat itu menuju ke kandang kuda.


"Huh! Anak itu benar-benar membuat umurku menjadi pendek." Geram Raja Philip sambil meminum segelas air putih.


"Maafkan aku karena tidak sopan,bisa kita bicara sekarang?" Ucap Duke Herli yang melihat Raja sedang memejamkan matanya. Mencoba menetralkan darah yang sempat mengalir ke otaknya.


Raja membuka kedua matanya, "Yah,mari kita bicara."


...🦋🦋🦋...


Hari sudah semakin siang,sinar matahari pun sudah terasa menyengat kulit. Salju yang semula menutupi datang SEATHLAND sudah mulai mencair,walau hanya berkurang 1 mm.


Castela memutuskan untuk beristirahat di sebuah hutan. Ia sudah menyuruh Marquis Steven untuk memeriksa daerah ini apakah aman atau tidak. Pinggangnya benar-benar terasa hampir patah.


Bayangkan saja, dirinya sudah menghabiskan waktu selama 7 jam penuh duduk di kereta kuda. Melihat kondisi para prajurit yang ia bawa sudah kelelahan,walau sebenarnya mereka tidak menampakkannya,tapi Castela tahu jika mereka pasti sudah merasa lelah.


Itu sebabnya ia memutuskan untuk beristirahat. Memasang tenda dan memasak makanan untuk mereka semua. Bagaimana pun juga, kuda-kuda mereka butuh makan dan minum.


"Bagaimana, apakah aman jika kita istirahat disini?" Tanya Castela saat Marquis Steven menghampirinya.


"Sudah saya periksa, tempat ini jauh dari hewan buas. Dan tidak terlalu jauh dari kota selanjutnya. Kita akan aman jika tidak bermalam disini." Ucap Marquis Steven menceritakan hasil pengamatannya.

__ADS_1


"Baguslah,kita akan beristirahat disini selama 3 jam. Setelah itu kita langsung pergi ke kota Maka. Jarak kota Maka dan tempat ini hanya sekitar 3 jam,jadi kita bisa sampai disana sebelum matahari terbenam."


Marquis Steven setuju dengan usul yang di buat oleh Castela. Mereka pun segera membagi tugas. Ada yang bertugas memasang tenda, membawa kuda untuk makan, mengumpulkan kayu bakar dan juga memasak.


Tentu saja tugas memasak ini di ambil alih oleh Castela. Karena ia tidak akan membiarkan para prajurit yang ia bawa tidak makan dengan benar. Meski di antara para prajurit itu,ada dua koki prajurit yang ia bawa.


Tapi tetap saja,meski menggunakan koki,mereka adalah prajurit terlatih yang biasanya berangkat ke Medan perang. Saat perang berlangsung pun,makanan yang mereka makan hanya seadanya.


Castela menyuruh prajurit menurunkan daging,sayur dan juga bumbu yang telah di buat Castela sebelumnya.


Prajurit yang di perintahkan untuk mencari kayu bakar sudah kembali. Castela memerintahkan mereka untuk membuat tungku memasak.


Dua orang prajurit yang tampak sekitar berumur 25 tahun itu berlari mendekat saat mereka melihat Castela yang menyentuh pisau dan ingin memasak.


Mereka datang dengan raut wajah yang cemas.


"Maaf permaisuri,biar kami saja yang melakukannya. Anda tidak boleh menyentuh pekerjaan seperti ini,jika yang mulia Raja tahu,kami bisa kena marah."


Castela menatap dua prajurit yang benar-benar tampak sangat cemas itu.


"Siapa nama kalian?" Tanya Castela


"Saya Robi permaisuri,dan ini adalah Dikta. Kami berdua adalah koki prajurit yang bertanggung jawab dengan makanan para prajurit dan makanan anda selama perjalanan ini." Ucap lelaki berkulit gelap itu kepada Castela.


"Baiklah Robi, Dikta, asal kalian tahu, memasak untuk seratus lima orang bukanlah hal berat buat saya. Kali ini saya yang akan memasak,kalian boleh membantu saya. Jika kalian takut di salahkan karena perbuatan saya ini,maka saya sendiri yang akan menukar nyawa kalian berdua dengan kaki saya." Ucap Castela menatap tajam dua koki prajurit itu yang sudah tampak gugup setengah mati.


"Sudahlah,kenapa kalian jadi banyak mulut? Apa kalian meragukan nona,eh maksudku permaisuri? Jangankan seratus orang, bahkan permaisuri pernah memasakkan makanan untuk satu kota. Aku kira kalian sudah pernah mendengar berita itu." Ucap Ema dengan nada sombongnya.


Akhirnya dirinya bisa membanggakan nonanya yang hebat itu di hadapan banyak orang.


Robi dan Dikta saling pandang dan kemudian mengangguk menyerah. Mereka memang pernah mendengar berita itu. Seorang Dewi yang datang membawa kebangkitan sebuah kota yang sudah hampir mati.


Dan mereka juga baru tahu jika Dewi yang di bangga-banggakan rakyat itu adalah permaisuri mereka,orang yang tadi malam datang ke kamp prajurit untuk memilih sendiri prajurit-prajurit yang akan ia bawa.


Itu sebabnya mereka sangat merasa gugup. Bagaimana tidak? Mereka harus mengawal wanita yang merupakan permaisuri kerajaan, menantu kesayangan Raja Philip,dan juga wanita yang disebut Dewi oleh rakyat. Jika mereka melakukan sedikit kesalahan saja,maka kepala mereka yang akan pertaruhkan.


"Baik yang mulia,jika itu memang perintah anda. Kami akan membantu anda." Ucap Dikta yang mulai merasa sedikit rileks.


Mereka pun mulai memotong bahan-bahan yang akan di gunakan untuk memasak. Hari ini Castela ingin memasak sayur sop,ayam rica-rica dan juga tumis jamur.


Dikta dan juga Robi banyak bertanya dalam acara masak memasak ini. Karena jujur mereka merasa asing dengan dua nama masakan terkahir Castela.


Akhirnya mereka menjadi akrab. Kecanggungan yang sempat terjadi di antara mereka seketika lenyap. Dua koki prajurit itu seolah-olah menemukan senior mereka.

__ADS_1


Kehebatan memasak Castela benar-benar membuat mereka kagum. Bahkan setelah masakan itu jadi, mereka tidak berhenti kagum dengan Castela.


Mereka berfikir jika Sup yang di maksud adalah Sup pada umumnya. Yang terdiri dari daging yang di potong-potong kecil lalu di campur dengan sayuran. Dan di masak dengan api sedang hingga masak.


Namun kali ini tampilannya berbeda. Castela terlebih dahulu menumis bumbu yang sudah ia racik. Setelah itu ia menambahkan banyak air lalu merebus tulang-tulang sapi yang biasanya di buang dengan api kecil. Setelah kaldunya keluar, Castela baru memasukkan daging yang telah di potong kecil-kecil itu ke dalam.


Hingga semuanya hampi matang,baru ia memasukkan sayuran agar tetap terjaga kesegarannya. Dikta dan juga Robi mencicipi sup yang telah matang itu. Mata keduanya benar-benar berbinar saat merasakan rasa khas dari dalam sup ini yang benar-benar memanjakan lidah.


"Ya ampun permaisuri, mengapa rasanya sangat enak seperti ini? Rumor tentang anda memang benar,masakan ini benar-benar membuat lidah saya tidak berhenti untuk makan." Ucap Robi yang mendapat tampolan dari Dikta.


"Wah benarkah? Aku merasa senang mendengarnya. Baguslah jika kalian suka,aku akan membagikan resepnya kepada kalian. Nanti ketika tugas kita selesai,kalian bisa memasakkannya untuk teman-teman kalian yang lain." Ucap Castela tersenyum tulus.


"Ya dewa,anda benar-benar sangat cantik saat tertawa. Ah, maksudnya saya terima kasih atas resepnya permaisuri." Ucap Dikta salah tingkah.


Castela mengangguk,ia senang karena masukannya ternyata disukai banyak orang.


"Baiklah,mari kita hidangkan makanan ini. Teman-teman kalian pasti sudah menunggu." Ucap Castela.


Mereka berempat menghidangkan makanan di sebuah meja. Prajurit satu persatu datang membawa piring dan juga mangkok. Castela menuangkan sup, Ema menuangkan nasi, Dikta menuangkan tumis jamur,dan Robi menuangkan ayam rica-rica.


Setelah selesai,mereka berempat bergabung untuk makan bersama yang lainnya.


"Aku tidak tahu jika kau pandai memasak." Ucap Marquis Steven sambil mengunyah makanan yang ada di mulutnya.


"Karena aku memang tidak memberitahu kalian." Ucap Castela cuek.


"Masakanmu benar-benar sangat enak. Tidak heran jika mereka terlihat sangat bahagia." Ucap Marquis Steven sambil menatap para prajurit yang terlihat memakan makanan mereka dengan sangat bahagia.


"Aku juga merasa bahagia,karena mereka menyukai masakanku." Ucap Castela sambil meletakkan piringnya yang sudah kosong.


Hari ini ia tidak terlalu bernafsu,jadi hanya mengambil sedikit untuk mengisi perutnya.


"Hanya orang bodoh yang tidak menyukainya. Jangankan masakannya, orang yang memasaknya pun banyak yang suka." Ucap Marquis Steven,tapi merendahkan suaranya ketika mengucapkan kalimatnya yang terakhir.


Castela hanya tertawa,ia merasa tubuhnya butuh istirahat. Castela bangkit dari duduknya,namun tiba-tiba para prajurit berteriak dan mulai terdengar keributan.


"ADA SERANGAN! KITA DI SERANG!!"


Untungnya semua prajurit sudah selesai makan. Mereka dengan cepat melawan sekelompok orang-orang berbaju hitam. Adu senjata sudah tidak bisa di hindari lagi.


Mereka adalah orang-orang kuat,dalam sekejap mereka yang hanya berjumlah sepuluh orang itu bisa melawan imbang prajurit terlatih yang di tugaskan untuk melindungi Castela.


Marquis Steven menarik pedangnya dan ikut turun membantu saat menyadari ada yang tidak beres. Sudah jelas,mereka bukanlah sekelompok perampok biasa. Gerakan mereka jelas-jelas menunjukkan,jika mereka adalah orang-orang terlatih.

__ADS_1


Banyak prajurit yang sudah mulai terluka. Orang-orang itu benar-benar sangat hebat. Di tambah fisik para prajurit yang belum sepenuhnya pulih dan baru beristirahat.


"Kau tunggu disini,jangan kemana-mana! PRAJURIT! LINDUNGI PERMAISURI!"


__ADS_2