
...🦋 HAPPY READING 🦋...
Pangeran Morgan baru saja selesai membersihkan diri. Ketika tadi mendengar jika putri Rosenta akan berkunjung,maka dia memutuskan untuk membaca beberapa dokumen di kamarnya, menunggu kedatangan putri Rosenta.
Pangeran Morgan membaca beberapa berkas mengenai banjir bandang yang terjadi di kota Rutin.
Kota ini jaraknya sangat jauh dari ibukota. Mungkin bisa menghabiskan waktu 3 sampai 4 hari dengan kuda. Dan bisa lebih lama jika menggunakan kereta kuda. Itupun jika tidak ada halangan selama perjalanan.
Kekacauan yang terjadi di kota itu cukup parah. Di tambah jaraknya yang jauh dari ibukota SEATHLAND dan dekat dengan kerajaan Zwitland, membuat daerah itu tidak terlalu di pedulikan.
Karena kondisi disana masih belum memungkinkan untuk bertindak,maka pangeran Morgan memutuskan untuk tidak terlalu memperdulikannya saat ini.
Dirinya akan mengutus beberapa pejabat istana untuk datang kesana dan mengurus semua kerugian dan kerusakan yang terjadi.
Terdengar suara pintu di ketuk, panglima Karel masuk dan mengatakan jika putri Rosenta sudah tiba. Pangeran Morgan segera membereskan berkas-berkasnya dan menyuruh panglima Karel untuk mempersilahkan putri Rosenta masuk.
Rosenta masuk ke dalam. Malam ini ia terlihat cantik dengan gaun hitam yang tidak mengembang. Terdapat belahan berbentuk v dari leher ke dadanya. Bagian tangannya berbentuk balon dengan beberapa permata di bagian pinggangnya.
Malam ini rambutnya di tata ke atas dengan beberapa juntaian di setiap sisi telinganya. Tidak ada hiasan di kepalanya, namun dirinya tetap terlihat cantik.
Rosenta duduk di hadapan pangeran Morgan. Pelayan masuk dan membawa teko berisi teh yang sudah di siapkan oleh Rosenta.
Setelah pelayan keluar, Rosenta menuangkan teh ke salah satu gelas lalu memberikannya kepada pangeran Morgan.
"Bagaimana kabar anda yang mulia? Apa anda tidak merindukanku?" Rosenta bertanya dengan wajah sedihnya.
Pangeran Morgan meminum tehnya,ia tersenyum ke arah wanita yang di nikahinya dua tahun yang lalu itu.
"Apa di matamu saat ini,aku terlihat tidak merindukanmu?" Tanya pangeran Morgan menatap lekat manik mata hitam milik putri Rosenta.
"Entahlah,aku tidak berani menyimpulkan. Tidak perlu di jawab,aku hanya takut kecewa mengetahui jawabannya." Tatapan itu terlihat sayu, membuat hati pangeran Morgan merasa iba.
Ia bangkit lalu memeluk Rosenta dari belakang. Mendaratkan dagunya di pundak Milik Rosenta yang tidak terbalut kain. Membuat perasaan tidak nyaman di dalam dirinya.
"Apa yang kau takutkan? Aku mencintaimu, mengapa masih saja kau tanyakan? Apa kau tahu,rindu ini terlalu dalam hingga aku sendiri bahkan takut akan tenggelam." Ucap pangeran Morgan sambil mendaratkan beberapa kecupan di sekitar leher Rosenta.
__ADS_1
Rosenta mengusap lembut wajah pangeran Morgan. Lalu ia bangkit dan menghadap ke arah pangeran Morgan. Pangeran Morgan mendaratkan bibirnya ke bibir milik Rosenta dengan pandangan yang sedikit menggelap.
Lalu,tak lama kemudian,ia terjatuh di atas kasur dengan posisi tidak sadarkan diri. Rosenta tersenyum puas, ternyata obat yang di berikannya ke dalam minuman milik pangeran Morgan bekerja cukup cepat.
Pangeran Morgan telah jatuh ke dalam mimpinya. Dan ketika ia mendengar suara dari luar,ia sudah bisa menebak siapa yang datang. Rosenta tersenyum lalu duduk di salah satu sofa. Ia mengeluarkan suara-suara aneh yang membuat percakapan di luar sempat terhenti.
Lalu setelah itu,tidak terdengar suara apapun di luar. Rosenta tersenyum puas, rencananya baru saja berjalan. Kemudian ia membuka pintu,lalu menyuruh pelayanannya untuk kembali ke paviliun mereka.
Pelayan itu mengangguk,lalu melaksanakan perintah tuannya. Rosenta menatap lekat lelaki tegap yang berdiri di hadapannya ini. Lalu memberikan perintah untuk masuk ke dalam. Panglima Karel mengangguk,lalu masuk mengikuti Rosenta.
Rosenta lalu mengunci kamar pangeran Morgan. Panglima karel menatap Rosenta. Ada begitu banyak rasa yang tercurah di dalam tatapan itu.
"Apa yang kau lakukan?" Suara itu terdengar dingin dan menyakitkan di hati Rosenta.
Rosenta tetap tersenyum lalu maju beberapa langkah hingga menepis jarak di antara mereka.
"Aku,ingin." Ucap Rosenta lemah memandang wajah lelaki di hadapannya
"Tidak bisa,kau harus tahu dimana dirimu sekarang."
Tatapan panglima Karel mulai menggelap. Ia tersenyum,lalu mengangguk. Rosenta ikut tersenyum lalu melompat ke dalam pelukan panglima Karel. Kedua kakinya berada di pinggang panglima Karel, sementara kedua tangannya berada di leher panglima Karel.
Panglima Karel menahan bokong milik Rosenta agar ia tidak terjatuh dengan salah satu tangannya. Sementara tangannya yang bebas,mendorong tengkuk Rosenta agar tetap berada di jangkauannya.
Tanpa basa-basi,ia langsung ******* bibir lelaki yang selama ini selalu ia rindukan.
Panglima Karel membalasnya dengan api gairah di matanya. Tanpa mereka sadari,saat ini mereka sudah berada di sofa panjang yang ada di kamar itu.
Panglima Karel menekan Rosenta yang berada di bawahnya. Ia bergerak dengan sangat brutal. Kedua tangannya sibuk membuka pakaian milik Rosenta.
Untungnya malam ini Rosenta tidak mengenakan gaun yang rumit. Hanya dengan sekali tarikan,gaun itu terlepas dari tubuhnya dan menampilkan tubuhnya yang sangat menggoda.
Panglima Karel langsung menerjangnya seperti singa yang mendapatkan daging. Malam itu,mereka bergulat dengan kasar. Menghabiskan malam memadu kasih,melepas rindu. Bergemul di ruangan milik orang lain.
Suara-suara itu tidak sampai terdengar keluar karena panglima Karel terus membekap mulut Rosenta dengan bibirnya.
__ADS_1
Malam itu, akhirnya terjawab siapa kekasih yang sangat di cintai oleh Rosenta. Malam itu, semuanya akhirnya terjawab,jika trauma di sentuh yang selama ini ia ucapkan, hanyalah sebuah alasan semata. Agar tubuhnya tetap terjaga untuk kekasihnya.
Dia,tidak pernah mencintai pangeran Morgan. Karena di hatinya hanya ada satu nama, yaitu Karel Marione, kekasihnya yang bekerja untuk pangeran.
...🦋🦋🦋...
Matahari belum terlihat ingin terbit,namun Castela sudah berada di kereta Kudanya. Kereta kuda itu baru saja keluar dari istana menuju ke kota Rutin.
Di dalam kereta kuda itu,ada dirinya dan juga Ema. Sementara di luar,ada sekitar seratus ornag prajurit dan juga Marquis Steven yang mengawalnya.
Mereka membawa banyak pakaian dan juga makanan. Namun Castela tidak bisa membawa begitu banyak karena takut akan memperlambat perjalanan mereka. Oleh sebabnya,ia hanya membawa lima kereta kuda yang mengangkut bahan-bahan makanan dan juga pakaian. Sisanya,ia akan memesan di kota tetangga.
Kereta kuda dengan cepat meninggalkan ibukota dan mulai menunju ke kota Rutin. Butuh waktu 4 hari untuk sampai kesana jika mereka tidak banyak beristirahat.
"Nona,apa anda baik-baik saja?" Ema memecahkan keheningan yang terjadi selama perjalanan.
Castela mengerutkan keningnya,lalu kemudian tersenyum.
"Aku baik-baik saja Ema, bukankah tadi aku sudah di periksa dokter sebelum berangkat? Raja sangat kekanak-kanakan, bahkan ia sangat bersikeras melarangku untuk pergi."
"Tapi,saya rasa memang perjalanan kita cukup berbahaya nona. Saya benar-benar sangat mengkhawatirkan anda. Wajah anda terlihat sedikit pucat." Ucap Ema khawatir.
"Sudahlah Ema,aku tidak apa-apa. Aku hanya banyak pikiran tadi malam, sehingga sulit tidur. Aku benar-benar sangat menghawatirkan keadaan mereka." Ucap Castela lalu mengalihkan pandangannya ke tirai jendela yang tidak di tutup.
Menampilkan pohon-pohon oak yang tertimbun salju. Tampak beberapa burung gagak hinggap di salah satu dahannya.
"Meskipun anda khawatir,anda juga tidak boleh mengabaikan tidur anda nona. Jadi,anda tidurlah,tidak bagus anak kecil kekurangan tidur." Ucap Ema yang membuat raut wajah Castela berubah masam
"Aku sudah bukan anak kecil Ema. Aku bahkan sudah menikah,jika kau lupa." Ucapnya tidak terima
"Tapi di mata saya,anda akan tetap menjadi anak kecil nona. Sayang sekali jika anda tumbuh dewasa nanti, pasti kecantikan anda akan sangat membahayakan. Akan banyak laki-laki yang mengincar anda. Huh, untung saja anda sudah menikah,tapi walah begitu saya tetap saja tidak merasa tenang. Karena anda malah menikah dengan seorang monster."
"Diamlah Ema! Tidak usah banyak mengarang. Tutup mulutmu itu,aku akan tidur." Ucap Castela mengalah lalu menutup kedua matanya.
Jika tidak mengalah,maka pelayannya itu akan tetap mengomel. Jadi lebih baik dirinya mengalah.
__ADS_1
Ema tersenyum,ia lalu memasangkan selimut tebal ke tubuh nonanya itu. Perjalanan mereka ke kota Rutin,tidak akan semudah yang di bayangkan.