
...🦋 HAPPY READING 🦋...
Ratu Camelia, semakin melebarkan senyumannya saat mendengar ucapan pelayan muda itu barusan.
"Ah,jadi begitu." Ucapnya lirih sambil menatap langit biru yang cerah.
Tak!
Sebuah botol kaca berukuran kecil muncul dari tangan kanan Camelia yang semula tidak terisi apapun. Membuat para pelayan yang melihatnya masing-masing menelan masam Saliva mereka.
Camelia masih mempertahankan senyumannya. Lalu ia memberikan kode kepada dua orang prajurit yang berjaga di dekatnya untuk membawa pelayan muda itu mendekat.
Pelayan muda itu tidak memberontak. Ia bertingkah seolah-olah memang sudah menerima konsekuensi yang akan ia dapatkan seandainya ia gagal, terlebih-lebih ketahuan.
Dengan tanpa takut,pelayan itu hanya diam mengikuti kemana ia akan dibawa. Beberapa prajurit datang dengan sebuah cambuk,air dan tali. Mereka mengikat pelayan itu dengan tali yang sangat erat. Membuat ringisan keluar dari bibir pelayan itu.
Camelia bangkit dari duduknya,lalu mendekati tempat dimana pelayan muda itu terduduk. Ia membelai lembut pipi gadis pelayan itu membuat gadis pelayan itu benar-benar merasa kesal dan ingin membunuh Camelia.
"Kau... Cantik dan cerdas. Tapi Sangat di sayangkan,kau salah memilih lawan." Ucap Camelia lembut lalu kembali menegakkan tubuhnya dan meraih cambuk yang di bawa tadi.
"Aku akan memberikan kesempatan untukmu. Minta maaflah dan bersumpah jika kau akan mengabdi kepadaku. Maka,aku akan mengampuni nyawamu ini."
Para pelayan yang hadir disana mengode pelayan muda itu untuk segera melakukan apa yang diminta oleh Ratu mereka. Sungguh,mereka benar-benar takut jika ada yang berani melawan wanita menyeramkan itu.
Namun,gadis pelayan itu malah mengangkat sudut bibirnya membentuk sebuah seringaian. Ia menatap berani Camelia yang masih berdiri di depannya.
"Saya akan meminta maaf,jika anda bersedia untuk mati saat ini juga Ratu." Ucapnya tersenyum berani.
Mereka semakin menegang. Bahkan para prajurit yang di perintahkan untuk mengawasi gadis pelayan itu saja sudah gemetaran dengan keringat di wajah mereka.
__ADS_1
"Baiklah,aku akan mengabulkan permintaan mu itu. PRAJURIT! CAMBUK DIA!"
Prajurit itu pun maju mendekati Camelia dan menerima cambuk yang tadi di pegang oleh Camelia. Niat hati, dirinyalah yang ingin menyiksa langsung gadis pelayan itu. Namun sepertinya kurang seru jika ia harus mengotori kedua tangannya yang lembut itu hanya untuk seorang pelayan rendahan.
CTAR!!
CTAR!!
CTAR!!
Para pelayan yang diminta untuk melihat langsung acara penyiksaan untuk teman mereka itu menangis. Mereka benar-benar tidak kuat jika harus lebih lama berada di tempat menakutkan ini.
Bahkan sudah ada beberapa pelayan yang pingsan saat melihat sendiri, bagaimana kulit bersih teman mereka itu tercabik hingga robek dan berdarah-darah. Menampakkan dagingnya yang terlihat menyatu dengan pakaian yang ia kenakan.
Gadis pelayan itu menutup kedua matanya. Ia menahan rasa panas, sakit dan pedih yang menyatu di tubuhnya. Tulangnya terasa remuk dan tubuhnya terasa seperti mati rasa.
Namun tidak ada sedikit pun kata maaf yang keluar dari mulutnya. Hanya ada rintihan samar yang keluar setiap kali darah segar keluar dari mulutnya.
Ukhuk!!
Ukhuk!!
"Minuman itu kepadanya." Ucap Camelia santai kepada seorang prajurit yang berada di belakangnya.
Prajurit itu mengambil botol kaca yang tadi di pegang oleh Camelia,lalu meminumkannya kepada pelayan muda tersebut.
Huda,pelayan muda itu hanya menerima. Ia bahkan sudah menebak apa isi dari botol kaca yang tadi di pegang oleh Camelia.
Itu adalah botol yang sama,yang berisi racun paling mematikan. Yang sampai saat ini belum memiliki penawar.
__ADS_1
Huda memejamkan matanya saat merasakan cairan tanpa bau dan rasa itu mengalir lembut melewati kerongkongannya. Sebelum akhirnya rasa panas seperti terbakar, hingga ribuan jarum yang menusuk dadanya membuat tubuhnya membusung. Lalu memuntahkan cairan kental berwarna merah yang pekat.
Huda menatap Camelia yang tersenyum manis dengan cangkir teh yang baru di hidangkan di tangannya. Ia terus memuntahkan cairan kental itu tanpa henti. Bahkan rasa sakit yang berkali-kali lipat terus ia rasakan. Lebih sakit di bandingkan permukaan cambuk tadi merobek kulitnya.
"A-ak-u tid-ak per-nah s-sa-lah. Kau... a-d-ala-h ib-l-is!" Ucapnya lirih seperti bisikan sebelum akhirnya memuntahkan kembali isi perutnya lalu jatuh ke atas tanah dengan mengenaskan.
'Akhirnya,kita bisa bertemu kembali permaisuri,kak Ema. Aku benar-benar sangat merindukan kalian.'
Pelayan yang menyaksikan itu menjerit-jerit sambil menutupi penglihatan mereka. Tidak,ini benar-benar terlalu kejam. Penyiksaan yang mereka lihat benar-benar sangat kejam dan tidak berprikemanusiaan.
Bahkan beberapa dari mereka sudah tidak sadarkan diri. Sementara sisanya menopang tubuh mereka karena tidak sanggup lagi untuk berdiri.
Camelia lagi-lagi hanya tersenyum. Ia lalu menatap lekat para pelayannya itu.
"Bagaimana? Apa kalian menikmati pertunjukan hari ini? Lain kali, jika kalian ingin menyingkirkan ku,lakukanlah lebih baik. Karena aku tidak terlalu menikmatinya. Dia sangat lemah,baru sekali teguk sudah mati." Ucap Camelia lalu bangkit dari tempat duduknya.
"Bersihkan tempat ini,dan jangan sampai berita ini terdengar oleh suamiku. Jika hal itu terjadi,maka kalianlah yang harus bertanggung jawab. Huh! benar-benar membuang waktu ku saja." Ucap Camelia lalu pergi meninggalkan para pelayannya yang sudah pucat pasi.
Mereka benar-benar tidak habis fikir dengan apa yang ada di dalam pikiran Ratu mereka itu. Mengeksekusi seseorang di sebuah taman yang merupakan tempat favorit calon Ratu terdahulu. Menodainya dengan darah dan rintihan orang yang dulu dekat dengan calon Ratu mereka.
Bukankah itu sangatlah kejam? apakah sebuah obsesi dalam mencintai seseorang dan ingin mendapatkan sesuatu bisa membuat orang yang dulunya lemah lembut menjadi kejam dan tidak memiliki perasaan seperti ini?
"H-Huda...hiks kenapa kau sangat bodoh. Hiks... Bukankah sudah aku katakan untuk tidak berbuat nekat dan melanjutkan rencana mu ini? lihatlah... lihatlah bagaimana wanita monster itu memperlakukan mu dengan kejam... Hiks" lirih seorang pelayan berusia sekitar 50an sambil memangku kepala pelayan muda itu dengan tangis di wajahnya.
"Sudahlah nyonya, Huda sudah pergi. Semuanya sudah terjadi... biarkan Huda pergi dengan tenang nyonya."
"Yang dikatakan Elis benar nyonya. Biarkan Huda pergi,ini adalah jalan yang ia pilih. Jika dengan begini ia bisa bahagia,kita hanya mampu mendoakannya saja nyonya."
Pelayan yang di panggil nyonya itu mengelus lembut pipi pelayan bernama Huda itu. ia membersihkan noda darah yang memenuhi hampir seluruh wajah pelayan muda itu.
__ADS_1
"Mengapa dewa begitu kejam? tidakkah penderita yang kita rasakan ini sudah cukup? kematian Dewi ACASHA bukanlah kesalahan kita. Namun mengapa dewa seakan menghukum seluruh rakyat SEATHLAND? Tidakkah kehadiran wanita monster itu sudah mendatangkan banyak bencana dan kesulitan? sampai kapan Dewa... sampai kapan kami harus menunggu dan menanggung semua derita ini..."