ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)

ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)
Chapter 44


__ADS_3

...🦋 HAPPY READING 🦋...


Huekk!!


Huekk!!


"APA-APAAN KAU INI? KENAPA BADANMU BAU SEKALI?!!"


Ini sudah hari ke tiga, semenjak kejadian buah mangga muda dan ingin tidur di pelukan yang mulia Raja Philip.


Namun sepertinya, keadaan Morgan semakin hari semakin memprihatinkan. Ia menjadi lebih sensitif dan menyebalkan. Lihat saja hari ini, ini masih pagi,namun suasana istana sudah sangat ramai bukan?


"A-ampun pangeran,,, s-saya minta maaf,ta-tapi tidak ada yang bau disini." Ucap salah seorang prajurit yang tadi dikatain bau oleh Morgan.


"Benarkah? Jadi maksudmu aku berbohong?! Aku sudah mengatakan kalau kau-"


Huekk!!


Huekk!!


Ucapan Morgan terhenti saat merasakan perutnya kembali bergejolak dan memuntahkan hal yang sama.


"SIALAN! PERGI KAU DARI HADAPANKU SEBELUM KU TEBAS LEHERMU!"


Prajurit itu segera pergi dari sana begitu mendapatkan perintah. Bahkan ia sudah menangis karena ucapan pangeran Morgan yang mengatakan jika dirinya bau.


"Apakah aku sebau itu? Aku sudah mandi,baru kali ini aku di katain bau." Adu sang prajurit kepada temannya dengan mata yang sudah menggenang. Ia juga menciumi sekitar tubuh yang bisa ia jangkau, diikuti oleh teman-temannya. Namun tidak menemukan bau yang di maksud oleh pangeran Morgan.


"Tidak,kau tidak bau. Mungkin pangeran sedang banyak masalah, akhir-akhir ini pangeran memang terlihat tertekan, sering marah-marah. Bahkan bukan hanya kau saja yang kena omel,hampir semua prajurit dan pelayan di kediamannya sudah merasakan giliran mereka." Jawab temannya mencoba menenangkan.


Morgan duduk di sofa Kamarnya sambil memijat kepalanya yang terasa pusing. Sudah beberapa hari ini dirinya benar-benar merasa tersiksa. Tidak bisa makan, sering marah-marah,mudah kelelahan,dan sering muntah-muntah.


Sudah banyak dokter yang ia panggil untuk mengobatinya. Namun semua dokter yang ia panggil sama saja,hanya menjawab satu jawaban,


'tidak ada yang salah dengan keadaan anda yang mulia.'


Dirinya benar-benar sangat lelah,di tambah masalah yang akhir-akhir ini semakin banyak. Bahkan ia merasa tidak enak,karena dirinya yang sedang tidak enak badan, ayahnya yang menggantikan mengurus pemberontakan di wilayah selatan.


Suara pintu terbuka, membuat Morgan mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Morgan tersenyum bahagia melihat Rosenta yang masuk dengan nampan di tangannya.


Morgan juga merasa senang dengan kehadiran istrinya. Namun ketika Rosenta mendekat dan ingin menyentuh Morgan, lelaki itu langsung bangkit menjauh dan lagi-lagi menutup mulutnya.


Huekk!!

__ADS_1


Huekk!!


"Pangeran,anda baik-baik saja? Ada yang sakit?" Pertanyaan beruntun keluar dari mulut Rosenta dengan raut wajah yang sangat panik.


Saat Rosenta kembali ingin melangkah, Morgan mengulurkan satu tangannya ke depan sebagai isyarat menyuruh berhenti.


"Aku-aku tidak apa. Hanya saja,APA KAU BELUM MANDI PUTRI? MENGAPA TUBUHMU BAU SEKALI?!" Ucap Morgan sambil terus menjaga jarak dengan tangan yang masih menutupi tubuhnya.


Menahan mulutnya yang sudah hampir mengeluarkan isi di perutnya yang kosong.


Rosenta menatap Morgan tidak percaya. Bau dia bilang? Bahkan tubuh Rosenta kali ini telah di penuhi aroma lavender yang bersifat menenangkan.


"Pangeran,anda ini kenapa sebenarnya? Saya tidak bau,anda bisa menciumnya. Mengapa anda mengatakan jika saya bau? Bahkan parfum yang saya gunakan hari ini saja benar-benar banyak." Ucap Rosenta tidak terima dan langsung melangkah pergi meninggalkan Morgan yang berdiri dengan menutup hidungnya.


Setelah Rosenta pergi, dirinya baru merasakan lega. Ah, sekarang ia baru sadar jika telah menyinggung Rosenta.


"His, sepertinya aku akan menyuruh pelayan untuk membeli banyak sabun,agar mereka bisa mandi dengan benar-benar bersih." Ucap Morgan kepada dirinya sendiri.


Lalu matanya tidak sengaja menangkap nampan yang ada di meja. Ia mendekat,namun saat ingin mengambilnya tiba-tiba saja perutnya kembali bergejolak.


"PELAYAN!!!"


"PELAYAN!!"


"Cepat bawa itu pergi dari sini! Aku tidak ingin melihatnya!"


Tanpa banyak tanya lagi, pelayan itu segera membawa nampan yang di bawa Rosenta tadi pergi dengan terburu-buru.


"Ah,sial! Aku benar-benar sangat lapar!" Ucap Morgan hampir menangis.


Sementara itu di paviliun milik permaisuri, Castela sedang duduk memandangi indahnya suasana diluar dengan berdiri di balik jendela. Tangannya terulur mengusap lembut perutnya yang datar.


Apa kalian tahu? Semenjak kejadian mangga muda itu, Abigail dan Ema langsung membawa dokter kediaman Duke Herli secara diam-diam Untuk memeriksa keadaannya.


Dan yang mengejutkan, ternyata ada dua detak jantung di dalam tubuhnya. Yang artinya, Castela sedang mengandung. Bagai di sambar petir di tengah hari yang panas, itulah yang ia rasakan saat itu.


Ia benar-benar tidak percaya,karena dirinya sudah meminum obat yang di berikan oleh dokter sebelumnya. Apalagi mereka hanya melakukannya satu malam,tapi entah berapa kali Castela lupa karena tidak ingat. Tapi hanya karena satu malam, tidak mungkin dirinya bisa semudah itu untuk hamil bukan?


"Ampun yang mulia,tapi obat yang anda konsumsi ini bukanlah obat pencegah kehamilan, melainkan obat penyubur rahim. Jika anda meminumnya dua kali saja,maka anda bisa dengan cepat hamil. Apalagi jika anda meminumnya lebih dari dua kali."


Setelah mengantarkan dokter itu kembali dengan selamat, barulah Castela menangis. Bagaimana tidak? Ternyata dirinya sudah di bohongi oleh dokter sialan yang ia temui di perjalanan ke kota Rutin saat itu. Dan yang lebih membuat Castela benar-benar kecewa,ia sudah menghabiskan 8 butir,maka tidak heran jika dirinya hamil saat ini.


Saat ini ada satu nyawa berusia 3 Minggu yang hidup di perutnya. Ia ingin menggugurkannya,namun ia tidak tega. Anak ini tidak bersalah, sungguh sangat berdosa Castela sebagai wanita jika ingin membunuh seorang janin yang bahkan baru berusia 3 Minggu.

__ADS_1


"Maafkan mama ya sayang,mama sempat memiliki pemikiran yang jahat untuk menyingkirkan dirimu. Namun sekarang,itu semua tidak penting,yang terpenting adalah bagaimana caranya agar kamu bisa tumbuh dengan baik. Mama hanya takut,ada banyak ancaman diluar sana yang mengincar nyawamu." Ucapnya masih terus mengelus permukaan perutnya.


Usapan itu terhenti saat melihat beberapa pelayan masuk ke kamarnya bersama Ema. Raut wajah mereka benar-benar memperihatinkan.


"Bukankah kalian pelayan di kediaman pangeran?" tanya Castela sambil mendudukkan bokongnya di salah satu sofa.


pelayan-pelayan itu mengangguk membenarkan.


"Ada perlu apa kalian kemari?" tanya Castela to the point',karena hal seperti ini sungguh tidak pernah terjadi jika tidak karena hal yang penting.


Salah satu pelayan wanita itu bersujud di lantai sambil terisak.


"Ampun yang mulia,tapi saat ini nyawa satu kediaman pangeran benar-benar terancam. Kami mohon kepada anda yang mulia,tolong selamatkan kami."


Pelayan yang lainnya ikut bersujud sambil terisak. Membuat Castela mengerutkan keningnya. Sebenarnya apa yang telah terjadi? dirinya hanya tidak keluar beberapa hari,dan sudah terjadi kekacauan diluar? ah,yang benar saja!


"Bangkitlah,kalian tidak perlu bersikap seperti itu." Ucap Castela sambil meng-kode Ema agar membantu mereka bangkit dari sujud-nya.


"Nah, sekarang jelaskan apa yang terjadi."


pelayan itu menjelaskan apa yang telah terjadi di kediaman pangeran selama tiga hari ini. Bahkan Kejadian Rosenta yang di usir dan makanannya yang di buang juga tidak terlewatkan. Mereka menceritakan semuanya sedetail-detailnya.


"Kami mohon permaisuri,hanya andalah satu-satunya harapan kami. Nyawa kami semua sedang terancam."


"Apa kalian gila? apa kalian sedang mengorbankan nyawa permaisuri demi menyelamatkan nyawa kalian?!" Bentak Ema tidak terima.


Bagaimana tidak? istri kesayangan pangeran saja ia usir, apalagi nonanya. Dan yang lebih penting lagi,saat ini kondisi tubuh Castela sedang dalam masa rentan hingga tiga bulan ke depan.


Dirinya benar-benar tahu bagaimana hubungan kedua majikannya itu. Dan yang ia takutkan, adalah keselamatan nona dan juga calon tuan mudanya.


"T-tidak begitu maksudnya kakak,kami hanya meminta pertolongan. Kami hanya berharap,siapa tahu jika dewa memberikan keajaiban kepada yang mulia permaisuri." jawab salah satu pelayan dengan mata yang sembab.


Castela tampak sedang berfikir,jika dari yang di ceritakan oleh pelayan-pelayan ini tadi,maka bisa di simpulkan jika Morgan mengalami morning sickness. Dan itu akan terus berlanjut sampai tiga bulan ke depan.


Dan yang ia heran kan, kenapa Morgan yang mengalami hal itu? bukan dirinya? bukankah hal itu hanya bisa di alami sang suami jika suami itu sangat mencintai istrinya?


Ah, tapi itu tidak mungkin untuk kondisi mereka. Jelas Morgan yang mengalaminya karena perbuatannya sendiri. Dewa pasti sengaja memberikan rasa sakit dan mual itu kepada Morgan karena kehamilan ini terjadi atas permainan licik lelaki itu.


Walau dirinya sedikit kecewa karena hanya merasa mual yang ringan,namun dirinya tetap senang. Tidak masalah Morgan yang mengalami hal itu,karena dirinya harus mempersiapkan diri untuk melahirkan di zaman peradaban yang belum maju ini.


"Baiklah,aku akan melakukannya." Ucap Castela akhirnya.


"Tapi nona,anda-"

__ADS_1


__ADS_2