
...🦋 HAPPY READING 🦋...
Castela bisa merasakan tubuhnya yang terguncang. Ia mencoba membuka matanya yang terasa berat di tambah kepalanya yang terasa sakit. Kedua Netranya melotot tajam saat menyadari jika dirinya saat ini sedang di culik.
Saat ini dirinya sedang di dalam kereta kuda dengan kondisi kedua tangan yang diikat dan mulutnya yang di sumpal dengan kain. Penampilannya saat ini benar-benar sangat berantakan. Pakaian putih yang ia kenakan pun penuh dengan darah.
Di sudut kereta kuda ini dirinya bisa melihat Ema,pelayan Setianya yang meringkuk tak sadarkan diri. Castela menyeret tubuhnya agar bisa mendekat ke arah Ema. Setetes air mata Castela jatuh saat melihat betapa menyedihkannya penampilan Ema saat ini.
Pipinya yang tadi di tampar lebam dengan luka robek di sudut bibirnya. Belum lagi lengannya yang sobek karena mencoba melindungi kedua putranya.
Castela benar-benar merasa sangat marah. Kekejian ini benar-benar telah membuatnya sangat muak. Dia hanya seorang jiwa yang tersesat, mengapa harus mengalami hal semenakutkan ini?
Tiba-tiba saja kereta kuda yang mereka naiki berguncang, membuat Castela terhempas menabrak dinding kereta kuda itu. Dapat Castela dengar suara besi yang saling beradu.
"Kalian jaga wnaita ini! Sisanya ikut aku melawan prajurit bodoh itu!" Ucap salah seorang diantara mereka yang masih bisa Castela dengar dari dalam.
Castela mencoba bangkit, mengabaikan rasa sakit di seluruh tubuhnya. Ia mencoba mencari celah dari dalam kereta kuda ini,namun tidak ia temukan. Kereta ini hanya memiliki satu pintu tanpa jendela.
Castela tidak kehabisan akal. Ia mengambil tusuk rambut di kepala Ema dan menancapkannya di dinding bagian belakang kereta kuda ini. Untung saja kareta kuda ini terbuat dari papan dan sangat sederhana, sehingga usaha Castela tidak sia-sia. Meski ia harus mengikhlaskan tangannya yang terluka.
Suara dentingan pedang yang saling beradu semakin ganas terdengar. Castela merendahkan tubuhnya untuk melihat kondisi diluar.
Ia bisa melihat jika mereka saat ini tengah berada di sebuah hutan. Castela tidak tau ini hutan apa karena kerajaan SEATHLAND memiliki banyak wilayah berhutan. Di tambah Langit diluar yang sudah menggelap, menandakan jika waktu sudah malam.
Castela tersentak saat melihat seorang Lelaki yang sangat ia kenal sudah tergeletak di tanah. Wajahnya babak belur dan tubuhnya penuh sayatan serta tusukan mata pedang. Air mata Castela kembali jatuh.
__ADS_1
Castela menjerit memanggil nama orang itu, namun tidak ada satupun suara yang berhasil keluar. Membuat dirinya berkali-kali membenturkan kepalanya ke dinding kereta kuda.
Lelaki yang telah hampir menjumpai ajalnya itu mendengar suara itu. Kedua mata mereka saling beradu. Castela semakin merasakan sesak saat melihat lelaki itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya seolah mengatakan jika semuanya baik-baik saja. Jika semua yang terjadi bukanlah Salahnya.
Bandit-bandit itu benar-benar memperlakukan korbannya dengan sangat brutal. Sementara lelaki yang satunya,sudah terlihat tidak sadarkan diri dengan kondisi yang tidak jauh berbeda. Dia adalah Abigail,sang ksatria bayangan milik Castela.
Para Bandit itu kembali menaiki kereta kuda dan kuda mereka. Meninggalkan kedua Lelaki yang telah tampak mengenaskan disana. Sebelum mereka benar-benar pergi, Castela bisa menangkap apa yang di katakan oleh lelaki itu.
"Aku, mencintai mu Ela,"
Castela luruh ke lantai kereta kuda itu. Mengapa? Mengapa mereka semua harus mengorbankan nyawa mereka untuk dirinya yang sama sekali tidak berharga?
Seharusnya biarkan saja dirinya mati! Dirinya hanyalah sebuah jiwa yang tersesat,yang datang dari antah berantah. Meskipun separuh jiwanya memang berasal dari tempat ini.
"Terima kasih Brian,aku sungguh berhutang terlalu banyak dengan kau dan Marquis Steven. Ingatkan aku, agar suatu saat nanti,bisa membayar hutang-hutangku ini." ucap Castela
"Kau bisa membayarnya dengan satu hal El,"
Castela mendongak,menatap Brian tepat di manik mata Lelaki itu.
"Dengan apa?" tanya Castela penasaran.
"Tetaplah hidup untuk membesarkan anakmu dengan senyuman yang selama ini kau tunjukkan." ucap Brian lalu mengusap lembut pucuk kepala Castela.
"Kau bercanda Brian,tidak perlu kau suruh pun aku akan melakukannya dengan sepenuh hatiku. Aku tidak akan takut mati Brian,karena aku yakin jika kau dan Steven akan selalu melindungi ku dan juga anakku." ucap Castela dengan tersenyum manis.
__ADS_1
"El, bisakah kau berjanji satu hal kepadaku?" tanya Brian dengan raut wajah serius.
"Janji? kau memintaku untuk berjanji apa Brian?" Tanya Castela masih dengan senyuman di bibirnya.
Brian menatap lekat manik hijau zambrud yang berhasil membuatnya tergila-gila itu. Sebelum akhirnya mengucapkan sebuah kalimat yang mampu membuat Castela terdiam dan menegang di tempatnya.
"Berjanjilah untuk tidak menyalahkan dirimu sendiri untuk apa yang nantinya akan terjadi. Berjanjilah El,jika nanti sekiranya aku sedang dalam masa sulit dan lalu terbunuh ketika kau tidak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan ku,maka berjanjilah El, berjanjilah,jangan menyalahkan dirimu untuk apa yang terjadi di masa depan."
Castela menangis tersedu-sedu, benar-benar sangat pilu. Namun semua suaranya teredam karena kain sialan yang menutup mulutnya itu.
Bagaimana bisa? bagaimana bisa ia menepati janjinya jika ia saja tidak yakin bisa menyelamatkan dirinya sendiri.
Brian benar-benar tidak pernah bermain-main dengan ucapannya. Apa yang ia ucapkan selama ini pasti akan ia lakukan. Castela bahkan masih ingat bagaimana senyuman manis yang Brian berikan hanya untuk menenangkan dirinya yang sangat gugup kalah itu.
'Mengapa? mengapa brian? mengapa kau harus mengucapkan janji yang sama sekali tidak ingin aku dengar?! aku hanya memintamu untuk melindungi anak-anak ku,mengapa? mengapa kau harus mengingkari janji itu hanya untuk menuntaskan janjimu yang ingin melindungi ku? mengapa brian!'
Castela benar-benar terlihat sangat menyedihkan. Tidakkah Tuhan terlalu kejam dalam mengujinya? hidup di masa seperti ini memang sangat mengerikan. Nyawa manusia, memang tidak ada harganya.
Mereka semua kejam! mereka semua tidak memiliki hati! mereka memisahkan anak dari orang tuanya. Memisahkan sepasang kekasih dari orang yang di cintainya. Memisahkan Seorang sahabat dengan sahabat lainnya. Mereka kejam,dan Castela sangat membenci kekejaman ini.
'Aku,Akan menghabisi siapapun yang terlibat di dalam peristiwa kejam yang saat ini ku alami! aku berjanji,akan membalaskan setiap tetes darah dan air mata yang terbuang saat ini! aku berjanji,akan membalaskan setiap rasa sakit dan luka yang aku terima. Aku berjanji,bukan sebagai Castela Ardeland,tapi sebagai ANESYA SEPTIAN!'
Castela kembali terjatuh ke dalam kegelapan yang merenggut kesadarannya. Tanpa ia sadari, jika janji yang ia ucapkan bukanlah sebuah kata-kata motivasi semata. Melainkan sebuah ucapan yang pada akhirnya benar-benar akan terjadi.
Semua mimpi yang ia rasakan selama menempati tubuh seorang Castela, dan juga semua apa yang telah di ramalkan. Tidak akan terlewat sedikit pun. Perang itu,akan segera terjadi,bukan sekarang,tapi pasti akan terjadi.
__ADS_1