
...🦋 HAPPY READING 🦋...
Castela melangkahkan kakinya memasuki dapur,di temani oleh Ema. Meski kehadirannya memang sudah di ketahui oleh para koki dan pelayan,namun tetap saja mereka terkejut.
Ini adalah kali pertamanya seorang permaisuri menginjakkan kakinya di dapur. Castela hanya tersenyum singkat saat mereka menunduk hormat.
Jika mendengar penjelasan dari pelayan,maka bisa disimpulkan jika Morgan sedang ngidam. Ini memang kali pertamanya dirinya hamil,namun berbekal dari kehidupan sebelumnya, dirinya bisa sedikit banyaknya mengerti makanan apa yang bisa di makan saat masa morning sickness.
Castela menyuruh koki istana untuk merebus ayam beserta tulangnya dengan api sedang. Ia juga meminta bantuan kepada Ema dan pelayan lainnya untuk mengupas Kentang, wortel,dan memotong jamur.
Castela juga mengambil beberapa brokoli hijau lalu merendamnya di air,agar kotoran di sayur itu terangkat. Setelah semuanya selesai, Castela menyuruh koki untuk menghaluskan bumbu-bumbu dan beberapa rempah yang sudah ia siapkan.
Setelah itu, langkah selanjutnya Castela sendiri yang turun tangan. Ia mencampurkan bumbu-bumbu itu ke dalam rebusan ayam yang sudah mendidih. Lalu ia memasukkan jamur. Lima belas menit sebelum dimatikan,ia memasukkan wortel, kentang dan juga brokoli agar tetap segar.
Setelahnya, Castela memasak nasi dengan mencampurkan sedikit kaldu rebusan ayam tadi. Setelah nasi matang, Castela mengambil telur dan membuatnya menjadi telur dadar. Dulu,saat tantenya hamil, dokter menyarankan tantenya untuk memakan masakan seperti ini.
Setelah selesai, Castela mencari rempah yang bisa di buat minuman hangat. Ia lalu menemukan jahe,lemon dan daun mint. Castela menyuruh koki untuk membakar jahe tadi lalu menggepreknya hingga sedikit hancur.
Ia lalu memasukkannya ke dalam teko. Karena tidak menemukan gula aren, akhirnya Castela hanya menggunakan gula pasir. Ia lalu mencuci bersih lemon tadi dan memotong-motongnya menjadi pipih. Setelahnya ie memasukkan daun mint dan menyiramkan air panas hingga setengah teko kecil itu.
Castela menyeka keringatnya. Akhirnya masakannya selesai. Ia sengaja membuat cukup banyak agar koki istana bisa mencicipinya. Jadi, untuk kedepannya, masakan ini yang harus di hidangkan.
Para koki itu mencicipinya dengan mata berbinar.
"Anda benar-benar sangat hebat yang mulia. Ini benar-benar sangat enak,saya baru pertama kali merasakan masakan seenak ini. terima kasih karena anda mau memberikan resepnya, bahkan mengajari kami." Ucap koki itu menunduk, diikuti oleh teman-teman satu teamnya.
"Kau tidak perlu berterima kasih tuan,saya sengaja mengajari anda agar kedepannya anda bisa menyajikan makanan yang saya ajarkan kepada pangeran. Mungkin sampai nanti pangeran benar-benar bisa memakan makanannya seperti dulu. Kalau begitu saya permisi."
Castela lalu keluar dari dapur dan segera menuju ke kamarnya untuk berganti pakaian. Ia sendiri yang akan mengantarkan makanan itu. Ia harus memastikan jika Morgan tidak membuang hasil masakannya.
Castela tidak lama berganti pakaian,ia hanya menggunakan gaun simpel berwarna peach. Dengan kerah sedikit rendah di bagian bahunya. Rambutnya ia gerai dengan jepitan rambut di sisi kanan,agar tidak menghalangi penglihatannya. Namun mau bagaimana pun penampilan Castela, ia tetaplah terlihat cantik.
__ADS_1
Castela berjalan dengan langkah anggun dan tegas,diiringi oleh Ema dan dua pelayan yang membawa nampan makanan. Kedatangan Castela disambut oleh prajurit yang menjaga kamar milik Morgan. Mereka terlihat sedikit lega akan kehadiran Castela.
Bagaimana pun juga, pangeran mereka sudah tiga hari ini kesulitan makan. Dan sudah banyak dari mereka yang terkena Omelan.
Tok
Tok
Tok
Beberapa saat kemudian, pintu terbuka dari dalam. Menampilkan kondisi Morgan yang sangat berantakan. Wajahnya pucat, wajahnya sedikit tirus dan ada bulatan hitam di bawah matanya.
"Ada urusan apa kau kemari?" Tanya Morgan tidak berminat.
"Tidak bisakah kau menyuruhku untuk masuk? Aku lelah dan ingin duduk." Jawab Castela tanpa menjawab pertanyaan Morgan.
Tanpa meminta izin lagi,ia segera masuk,dan memberi kode kepada Ema dan pelayan tadi agar mengikutinya. Morgan yang melihat tindakan Castela Menggeram kesal. Membuat pelayan yang mengikuti Castela langsung pucat dan gemetaran.
"Kau... Berani-beraninya kau bertindak-"
"Duduk"
Castela memotong ucapan Morgan dengan suara rendah namun tegas. Membuat Morgan menjadi sedikit takut akan aura yang terpancar dari Castela dan duduk di salah satu sofa.
"Makanlah,ku dengar kau tidak enak badan dan menolak semua makanan yang di masak koki istana. Aku sendiri yang membuatnya,harus kau habiskan."
Lagi-lagi Morgan menurut, sebenarnya ia ingin protes. Namun entah mengapa mulutnya serasa terkunci dan yang bisa ia lakukan hanya menurut.
Morgan mengernyit saat melihat makanan di mangkok yang ada di meja. Ia lalu mengambil salah sendok,dan mencicipinya sedikit. Saat ia merasakan makanan itu,kedua matanya berbinar.
Ia langsung melahap mangkuk berisi nasi bubur tadi dan memakannya bersama sup ayam. Meski terasa sedikit mual,tapi makanan ini bisa di terima lambungnya.
__ADS_1
Castela hanya memperhatikan Morgan yang sedang lahap makan. Benar-benar terlihat seperti anak kecil. Sayang sekali Morgan bertemu dengan Rosenta lebih dahulu. Mungkin saja jika Morgan lebih dulu bertemu dirinya, dirinya bisa jatuh cinta terhadap lelaki di hadapannya ini.
Diam-diam Castela mengelus lembut perutnya yang masih rata. Sungguh, dirinya benar-benar ingin membunuh lelaki ini. Namun ia tidak tega, bagaimana juga, lelaki bodoh di hadapannya ini adalah ayah dari calon anaknya.
Castela menghela nafas kasar saat melihat Morgan yang makan dengan berantakan. Ia lalu mengambil sapu tangan di balik gaunnya yang selalu ia bawa. Ia kemudian beranjak dan sedikit membungkuk untuk membersihkan sisa makanan di sudut bibir Morgan.
Morgan tersentak kaget saat wajahnya berhadapan sangat dekat dengan wajah Castela. Jarak mereka hanya di pisahkan oleh sebuah meja kecil yang di gunakan untuk menaruh makanan tadi.
Castela tersadar saat manik matanya yang hijau zambrud bertabrakan dengan manik hitam milik Morgan. Ia lalu segera mengambil tangannya dan ingin kembali duduk.
Namun dengan gerakan cepat Morgan menahan pinggang Castela hingga wajah mereka kembali bertemu. Castela menahan nafasnya,ia benar-benar takut jika gerakan Morgan yang tiba-tiba tadi membuat perutnya membentur meja. Namun syukurlah,karena tangannya dengan cepat menahan.
Morgan merasa aneh,entah mengapa dirinya tidak sedikit pun merasa mual akan bau Castela, seperti yang ia rasakan tadi saat bersama Rosenta dan beberapa pelayan serta prajurit yang menemuinya.
Malahan, dirinya merasa sangat menyukai aroma Castela. Aroma strawberry yang terasa lembut dan manis. Morgan bisa melihat bola mata Castela yang bergerak gelisah. Lalu kemudian matanya kembali menatap bibir mungil yang selalu ia sukai rasanya.
Ah, membayangkannya saja sudah membuat dirinya bergejolak. Saat Castela menyadari tanda bahaya,ia Segera bangkit dari posisinya. Namun lagi-lagi Morgan lebih dulu menyadari dan menahan tengkuknya.
Hingga tanpa aba-aba,benda kenyal itu langsung melahap bibir Castela membuat kedua mata Castela melotot sempurna. Morgan mengangkat sudut bibirnya sat menyadari raut terkejut Castela. Ia segera ******* bibir itu yang entah mengapa, terasa lebih memabukkan rasanya.
Morgan mengangkat Castela pelan-pelan lalu menidurkannya di atas sofa. Tatapan matanya kini telah terselimuti gairah.
Castela benar-benar merasa panik. Tidak,mereka tidak bisa melakukannya lagi. Karena saat ini ada anaknya di dalam,dan Morgan tidak mengetahuinya. Dengan sekuat tenaga Castela melepaskan ciuman itu dan langsung mendorong kuat tubuh kekar Morgan.
Membuat lelaki itu berdecih dan mengeraskan rahangnya.
"Aku kesini hanya memastikan kau memakan makanan mu. Karena kau sudah selesai,maka aku harus pergi. Ada beberapa tugas yang harus aku kerjakan. Setelah ini beristirahatlah,jaga kesehatan mu, permisi." Castela sedikit membungkuk,lalu meninggalkan tempat itu dengan langkah cepat.
Ema yang sedari tadi berada diluar, menunggu dengan cemas. Ia menghembuskan nafas lega saat melihat Castela yang baru saja keluar. Ia see menyuruh beberapa pelayan untuk membersihkan tempat makan pangeran tadi. Lalu mengajak Ema pergi dari sana secepatnya.
Ema sendiri sudah mempunyai feeling yang tidak enak sedari tadi. Apalagi saat melihat kondisi nonanya yang sedikit berantakan. Meskipun sebenarnya rapih,namun Ema bisa melihat gaun nonanya kusut di beberapa tempat. Dan juga, rambut nonanya yang tidak Serapi saat masuk. Itu sebabnya,ia hanya mengikuti tanpa protes.
__ADS_1