
...🦋 HAPPY READING 🦋...
Pangeran Morgan terbangun dari tidurnya. Ternyata matahari sudah tenggelam dan di gantikan oleh bulan yang bersinar tidak terlalu terang karena terhalang awan-awan hitam di sekitarnya.
Padahal ia hanya berniat untuk tidur sebentar,tapi ternyata ia malah kebablasan. Hari ini sepertinya hari dimana ia bisa tidur dengan tenang. Ia juga tidak mengalami mimpi-mimpi yang sama seperti Mimpi yang selalu ia dapatkan selama 2 tahun ini.
Pangeran Morgan melirik Castela yang masih belum sadar. Ia teringat jika istri kecilnya itu harus meminum obat. Karena Castela belum sadarkan diri juga,maka pangeran Morgan hanya bisa melakukan seperti yang di sarankan oleh dokter.
Ia mengambil tiga butir obat yang berbeda dari dalam botol. Lalu membuka dengan hati-hati mulut Castela. Bibir yang berwarna merah alami itu terbuka sedikit. Lalu pangeran Morgan memasukkan ketiga butir obat itu ke dalam mulutnya dan meletakkannya di bawah lidah Castela.
Pangeran Morgan benar-benar melakukannya dengan sangat hati-hati. Ia tidak ingin membuat gadis kecil itu terluka. Setelahnya, ia keluar dari tenda dan mencari seseorang untuk membersihkan tubuh Castela.
Untuk malam ini, dirinya tidak berani melihat tubuh gadis itu lagi. Sudah cukup ia menahan sesak tadi siang,dan kali ini jika itu terjadi lagi,maka ia berani bertaruh jika ia tidak akan sanggup menahannya.
Ema, pelayan pribadi Castela datang menghadap pangeran Morgan dengan mata sembab. Ia langsung berlutut di bawah membuat pangeran Morgan terkejut. Namun lelaki itu dengan cepat menormalkan ekspresi wajahnya.
"Ya-yang mulia, maafkan saya,saya gagal melindungi nona! Maafkan saya yang mulia, tolong jangan hukum saya,,"
Ema masih terus menangis dan meminta maaf membuat kepala pangeran Morgan semakin terasa pening.
"Bangunlah,masuklah ke dalam dan bersihkan tubuh permaisuri." Ucapnya datar
"Terima kasih yang mulia, terima kasih."
Ema segera bergegas pergi dari tempat yang mencekam itu. Namun langkahnya terhenti saat ia kembali mendengar suara pangeran Morgan.
"Berhenti! Berhenti memanggil istriku dengan sebutan nona! Apa kau lupa jika dia sudah menikah denganku?" Ucap pangeran Morgan dengan raut tidak sukanya.
Ema dengan cepat mengangguk. Ia menyesali mulutnya yang tidak bisa di ajak kompromi. Meskipun ini adalah permintaan nonanya,tapi tetap saja ia tidak bisa membantah jika pangeran mahkota itu tidak setuju.
"Ba-baik yang mulia,, maafkan saya, saya permisi."
Pangeran Morgan menghembuskan nafas kasar. Ia lalu menyuruh koki prajurit untuk membuat makanan karena hari sudah semakin malam. Bagaimana pun juga, besok mereka harus berangkat ke kota Rutin.
Mereka tidak akan singgah-singgah lagi ke kota yang mereka lewati. Untungnya Castela adalah gadis pintar,ia membawa prajurit yang selalu di gunakan untuk berperang dalam perjalanan ini.
Jadi tidak akan ada masalah jika mereka hanya sesekali berisitirahat. Bagaimana pun juga, pangeran Morgan merasa khawatir dengan keadaan istrinya. Dan lagi,mereka harus segera sampai ke kota itu Untuk memberikan bantuan.
Sementara itu,di sebuah ruangan tanpa celah. Yang di selimuti oleh kegelapan,dengan satu lilin di tengah ruangan sebagai penerangannya. Seorang wanita sedang berlutut dengan jubahnya.
Dia adalah Rosenta,raut wajahnya benar-benar pucat. Kedua tangannya tampak berkeringat.
__ADS_1
Tidak jauh darinya,sosok wanita dalam balutan jubah hitam tengah duduk di sebuah kursi yang yang sama. Sama seperti kursi yang ia duduki Waktu lalu. Di tangannya,sebuah belati tidak tampak seperti memiliki harga diri.
Ia menatap tajam Rosenta yang tidak berani memandangnya. Bagaimana pun juga,meski tertutup dengan jubah yang menutupi seluruh wajahnya, Rosenta tau jika wanita itu sedang menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Kau,gagal lagi Rosenta."
Suara itu terdengar menyeramkan hingga membuat tubuh Rosenta merinding. Rosenta tidak menjawab,karena ia tau jika sosok itu masih belum selesai dengan ucapannya.
"Aku kecewa padamu."
Dari suara itu,meski terdengar menyeramkan,ada terselip rasa kecewa seperti yang di ucapkan-nya.
"Maafkan saya tuan,saya tidak tau jika pangeran Morgan akan datang menyusul. Seperti yang anda tau,hanya tinggal selangkah lagi gadis itu akan mati,tapi tiba-tiba pangeran Morgan datang dan menghancurkan semua rencana saya."
Sosok itu terdengar marah dengan ucapan yang ia dengar dari mulut Rosenta.
"Berani-beraninya kau! Apa kau ingin menyalahkan Morgan? Berani-beraninya kau budak hina!"
CTARR
CTARR
Sosok itu mengeluarkan sebuah cambuk dari balik jubahnya dan langsung melesatkan-nya ke tubuh mulus Rosenta. Wanita itu mengigit bibirnya untuk menahan rasa perih yang menjalari seluruh tubuhnya.
Air mata Rosenta menetes mengiringi Ucapan permohonannya.
"Kau hanya anjing bagiku! Jangan kau pikir,karena aku menyukai mu kau bisa seenaknya saja menghina calon suamiku! Yang seharusnya kau singkirkan itu adalah gadis pengganggu itu. Seandainya saja dia tidak ada,maka Morgan sudah pasti menjadi milikku." Ucapnya berapi-api.
Sementara Rosenta,dia benar-benar mengumpat di dalam hatinya. Tuannya itu benar-benar sosok yang sangat kejam. Ia jadi penasaran dengan rupa tuannya. Dari dulu hingga sekarang,ia benar-benar tidak tahu identitas wanita itu.
Yang ia tahu, wanita itu memiliki kekuasaan yang sangat besar. Itulah sebabnya ia tidak berani melawan wanita gila itu.
"Saya akan melakukannya tuan, beri saya sedikit waktu lagi. Tidak mudah untuk menyingkirkannya karena banyak pihak-pihak yang berada di belakangnya. Saat ini gadis itu masih tidak sadarkan diri,jika pun seandainya saya akan gagal menghabisinya saat ini,maka masih ada banyak kesempatan lagi. Anda hanya perlu memberikan saya Waktu untuk melakukannya. Selama saya masih berada di istana,maka saya yakin bisa menyingkirkannya." Ucapnya dengan yakin mencoba bernegosiasi.
Sosok itu melemparkan cambuknya ke sembarang arah. Ia lalu kembali duduk dengan posisinya yang anggun. Ia kembali menatap Rosenta dari balik jubahnya.
"Baiklah,aku akan memberikan mu waktu satu tahun. Dalam satu tahun itu,kau harus bisa membuktikan kata-kata mu barusan. Tidak peduli Siapa pun dia, singkirkan dari hadapanku,meski Raja sekalipun."
"Baik tuan,saya berjanji,anda bisa mengambil nyawa saya jika saya gagal menyingkirkan pengganggu-pengganggu itu dalam satu tahun."
Wanita itu tertawa,
__ADS_1
"Ku harap,kau mengingat kata-kata mu ini Rosenta. Aku tidak akan mengganggu mu selama setahun ke depan,jadi,jangan kecewakan aku." Ucap sosok itu sebelum akhirnya pergi dan menghilang dari gelapnya malam.
Rosenta Keluar dari tempat itu dengan tertatih. Para Laki-laki berbadan tegap dengan pakaian serba hitam disana hanya bisa memandang iba Rosenta.
Namun mereka tidak sedikit pun berniat untuk menolongnya. Mereka masih menyayangi nyawa mereka yang berada di genggaman tuannya.
Mereka malah sedikit puas, setidaknya gadis angkuh dan Sombong itu bisa terlihat menyedihkan di mata mereka karena di siksa oleh tuan mereka yang kejam itu.
Karel muncul dari salah satu ruangan dan langsung memapah kekasihnya itu. Ia memang mendapatkan tugas untuk menjaga Rosenta selama ia pergi ke kota Rutin.
Dan tentu saja dirinya merasa senang. Karena untuk sementara waktu,tidak ada yang akan mengganggu waktunya bersama wanitanya.
"Apa yang dia lakukan kepadamu?" Tanya panglima Karel dengan tatapan khawatir.
Ia memapah Rosenta hingga wanita itu memasuki kereta kuda.
"Iblis itu mencambuk ku,ini benar-benar sangat sakit. Ini semua gara-gara Morgan sialan itu! Jika saja dirinya tidak datang,maka tugas kita akan cepat selesai." Ucap Rosenta dengan Amarahnya yang sedari tadi ia tahan.
"Iblis itu benar-benar tidak punya hati. Aku ingin sekali memotong kepalanya dengan pedangku,tapi sayang sekali, dirinya terlalu berkuasa. Sebenernya siapa wanita itu? Selama ini aku selalu mencari tahu tentang identitasnya,tapi tidak pernah berhasil." Ucap panglima Karel lalu mengangkat Rosenta agar duduk di pangkuannya.
Kereta kuda pun berjalan menembus hening nya malam. Kali ini,mereka menggunakan kereta kuda biasa,yang mana kurirnya juga adalah orang-orangnya. Sehingga apa yang mereka lakukan,beritanya tidak akan pernah keluar.
Rosenta mengubah duduknya hingga menghadap ke arah panglima Karel. Kini wajah panglima Karel langsung berhadapan dengan dadanya yang terbungkus gaun. Jubahnya sudah di buka saat mereka memasuki kereta kuda tadi.
Rosenta harus menundukkan wajahnya agar menyamai wajah kekasihnya itu. Dan tanpa permisi lagi,ia langsung menyambar bibir milik panglima Karel dan **********.
Panglima Karel menyeringai menatap kedua mata kekasihnya. Tampak kabut gairah yang tertahan di kedua mata hitam itu. Tanpa aba-aba lagi, panglima Karel langsung menerjang Rosenta dan membaringkannya di kereta kuda yang berukuran cukup besar itu.
Dengan gerakan kasar,ia langsung membuka gaun Rosenta tanpa menghentikan ciumannya di bibir Rosenta.
Mereka tidak menyadari,jika kegiatan panas mereka di lihat oleh seseorang sedari tadi, dari jendela yang tidak tertutup. Sosok itu langsung menghilang dengan sangat cepat masuk ke dalam hutan.
Yah, jalanan yang saat ini mereka lewati adalah sebuah hutan. Jadi, wajar saja jika mereka tidak peduli apakah tirai jendela itu terbuka atau tertutup. Karena satu hal yang mereka tahu,tidak akan ada yang tahu tentang apa yang merek perbuat, kecuali sang kusir di depan.
Dan sang kusir pun hanya akan diam,karena imbalan yang ia terima sangatlah sepadan untuk rahasia sebesar ini.
Selir pangeran mahkota, ternyata kekasih panglimanya. Bukankah berita itu akan menjadi topik yang sangat panas jika sampai tersebar?
*Hai gaiis, terima kasih karena sudah mengikuti cerita ini sampai sejauh ini. Gak terasa ya Uda chapter 34 aja😁
Terima kasih atas dukungannya, semoga cerita ini tidak mengecewakan ya :)
__ADS_1
Hayoo buat kalian yang uda ngikutin cerita ini dari awal, pasti kalian Uda bisa menebak siapa sosok yang menjadi Tuannya Rosenta bukan? Jangan terlalu cepat menebak ya,,
See you next chapter** :)