ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)

ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)
Chapter 21


__ADS_3

...🦋 HAPPY READING 🦋...


Ibarat kaca yang retak akibat sebuah hentakan,begitu pula hati gadis itu saat ini. Langit malam tanpa bulan menjadi saksi kekecewaannya. Di temani salju yang sejak kemarin sudah mulai turun,ia duduk di kursi taman dengan punggung yang bergetar.


Isak tangisnya terdengar pilu, hingga membuat sosok yang sedang bersembunyi di antara semak dan bunga perlahan keluar menunjukkan jati diri.


"Apa yang di lakukan oleh seorang gadis cantik malam-malam begini? Bukankah ini hari ulang tahunmu? Seharusnya kau bahagia bukan malah bersedih seperti ini."


Castela menoleh saat menyadari ada pergerakan di sebelahnya. Surai merahnya tampak sedikit bergoyang karena tiupan angin malam yang sialnya cukup kencang malam ini.


"Apa yang kau lakukan disini? Apa kau mengikutiku?"


Bukannya menjawab, Castela malah melontarkan sebuah pertanyaan. Menatap datar Lelaki di sebelahnya dengan muka sembabnya,yang malah membuat lelaki itu tertawa.


"Anda benar-benar berubah Lady, bahkan anda tidak mengenal saya. Awalnya saya tidak percaya apa yang di katakan oleh Brian,tapi sekarang saya sudah membuktikannya sendiri." Jawab Marquis Steven.


Ia bersandar pada sandaran kursi taman. Menutup kedua matanya dengan wajah yang mengadah ke langit malam.


"Kau,mengenal Brian?"


Pertanyaan itu membuat senyum di wajah tampannya memudar dalam sekejab mata.


'Kasihan sekali kau Steven,dia bahkan tidak mengingat Brian, apalagi dirimu? Apa yang sebenarnya ku harapkan?'


Marquis Steven menatap Castela. Gadis kecil itu terlihat sangat cantik malam ini. Namun sayang,mereka dengan kejam merusak hari bahagianya.


"Bagaimana jika ku katakan kalau kita bertiga sangatlah dekat? Aku, dirimu,dan juga Brian. Apa kau akan percaya?"

__ADS_1


Nada serius yang di ucapkan oleh Lelaki itu membuat Castela menatapnya. Tatapan Lelaki itu,tidak sedang mengisyaratkan sebuah kebohongan. Hanya ada perasaan sedih,marah,rindu,yang terlihat bercampur menjadi satu.


"I-itu tidak mungkin,aku dan Brian tidak mungkin teman dekat, apalagi dengan dirimu. Kita baru bertemu kali ini." Ucap Castela lemah.


Apa sebenarnya yang terjadi? Kebenaran ini malah membuatnya takut. Yah, dirinya tidak mungkin dekat dengan orang yang hampir melecehkannya.


"Aku tidak menyangka jika kau memang melupakan kami, El." Ucapnya lemah.


Lagi-lagi tatapan itu, tatapan yang entah mengapa sangat mengusiknya. Sejak pertemuan mereka tadi, tatapan itu yang selalu ia lihat di mata lelaki bersurai merah di sebelahnya.


"Aku minta maaf jika ternyata aku melupakan kalian. Tapi,aku berkata jujur,aku tidak mengingat siapapun sejak tragedi beberapa bulan yang lalu. Dan masalah Brian,kami tidak mungkin sedekat itu,karena bagaimanapun juga dia sudah hampir melecehkan ku." Ucap Castela dengan rasa sesak yang sekarang hadir di hatinya.


"Aku tau, lelaki itu memang bodoh sejak dulu. Karena cintanya kepadamu,dia jadi buta dan mengabaikan keselamatan kalian. Apa kau tau Lady,sangat sakit rasanya ketika seseorang yang dulunya sangat dekat dengan mu, tiba-tiba bertingkah seolah mereka adalah orang asing."


Castela menunduk,ia memilin jubahnya,tidak tahu harus menjawab apa. Apakah mungkin mereka bertiga memang sedekat itu?


"Brian telah mengambil langkah yang salah untuk menyelamatkanmu. Dia tahu jika kau tidak akan mau menikah dengan orang yang tidak kau cintai, apalagi sampai di jadikan yang kedua. Itu sebabnya,dia mengambil langkah itu untuk membawamu pergi sejauh mungkin hingga tidak terjangkau oleh pangeran Mahkota. Ia melakukannya,karena sadar jika kau yang sekarang,tidak mungkin mendengarkan kami."


Castela menoleh, benarkah apa yang di ucapkan lelaki di sebelahnya ini? Apakah dia bisa mempercayainya? Tidakkah lelaki ini akan kembali membohonginya dan membuatnya kembali kecewa?


"Mungkin kau lupa,tapi kenangan kita sejak kecil tidak akan mungkin kami lupakan."


Marquis Steven mengusap lembut Surai oranye milik Castela. Entah mengapa,ia merasakan kenyamanan dari usapan lembut itu, seolah hal itu adalah hal yang ia rindukan.


"Apa kau tau? Dulu kita bertiga akan bertemu di perbatasan SEATHLAND dan Zwitland. Lalu kita akan berlatih pedang bersama-sama. Sejak dulu,kami tidak bisa mengalahkanmu. Teknik berpedangmu benar-benar sangat tidak tertandingi. Kau selalu ingin bertambah kuat,agar nantinya kau bisa menangkap sendiri pembunuh Duchess Lilian, ibumu."


Gadis itu kembali terdiam saat mendengar ucapan Marquis yang malah terdengar seperti sebuah curahan hati. Apakah kali ini dirinya benar-benar bisa kembali mempercayai orang baru? Tidakkah dirinya akan merasakan kekecewaan lagi?

__ADS_1


"Aku, maafkan aku,aku benar-benar melupakan semuanya sejak kecelakaan waktu itu. Aku bahkan tidak mengingat siapa diriku sendiri saat pertama kali membuka mata." Ucap Castela dengan mata yang kembali berkaca-kaca.


Marquis Steven segera menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Sungguh,ia sangat merindukan aroma ini. Gadis kecil yang tidak banyak bicara. Namun, memiliki sejuta dendam yang terpancar di kedua netranya yang berwarna hijau zambrud.


"Tidak apa,aku mengatakan semuanya bukan untuk membuatmu merasa bersalah. Aku hanya ingin mengatakan, jika kau tidak sendiri. Banyak orang-orang yang akan melindungi dirimu." Ucap Marquis Steven tidak henti-hentinya mengucapkan syukur di dalam hatinya.


Andaikan saja gadis itu tahu,jika bukan hanya Brian saja yang frustasi dan hampir gila saat mengetahui jika pangeran mahkota akan melamar gadisnya, bahkan dirinya hampir saja melenyapkan lelaki itu.


Bagaimana bisa, bajingan itu melakukan ini semua kepada gadisnya? Apakah dia ingin menjadikan gadisnya sebagai pemuas hasrat karena tidak bisa mendapatkannya dari istrinya?


Mengingat hal itu, membuat kedua tangan Marquis Steven mengepal. Ia tidak akan membiarkan rencana wanita gila itu berjalan sesuai kemauannya. Sekalipun gadisnya nanti akan benar-benar masuk ke istana,ia akan menggunakan nyawanya sendiri untuk melindungi gadisnya. Setidaknya,itu adalah hal terbaik dari pada berdiam diri atau mengambil langkah yang salah seperti Brian.


"Maaf, maafkan aku. Aku berjanji tidak akan melupakan kalian lagi." Ucap Castela dengan tatapannya yang rapuh.


"Tidak apa,kami tidak akan meninggalkanmu meskipun kau kembali melupakan kami. Jangan takut,jika nanti pada akhirnya kau harus masuk ke istana,kami akan melindungi mu diam-diam. Percayalah El, Duke Herli telah melakukan yang terbaik untuk dirimu. Meski pada akhirnya,tidak ada yang berani menentang mereka demi keselamatanmu. Kau tau? Jika seujung kuku saja mereka menyakiti mu,maka akan ku luluh lantakkan istana ini." Ucap Marquis Steven sambil terkekeh.


"Aku,aku masih butuh waktu Marquis. Aku butuh waktu untuk menerima semua ini." Ucap Castela lemah.


"Percayalah El,semua orang melakukan kebohongan karena suatu alasan."


"Tapi aku sangat membenci kebohongan,pada akhirnya tidak akan ada yang bahagia karena kebohongan itu."


"Kau,hanya perlu mencari tahu kenapa orang itu berbohong El. Menunggu,tidak akan menyelesaikan segalanya. Jangan sampai pada akhirnya kau menyesal,karena terlambat mengetahui kebenaran dari kebohongan yang orang itu lakukan."


Yah, dirinya menang tahu apa penyebab Duke Herli menyetujui pernikahan ini. Dirinya benar-benar tidak menyangka,jika dalang dari kematian orang yang sangat di sayangi oleh gadisnya adalah,orang yang berambisi untuk menikahinya.


'kau,harus bahagia El. Setidaknya,kau harus menemukan orang yang kau cintai. Aku akan membantunya keluar dari masalah ini apapun yang terjadi. Karena alasan aku masih hidup hingga saat ini, adalah dirimu.'

__ADS_1


__ADS_2