
...🦋 HAPPY READING 🦋...
Malam itu,Morgan benar-benar mengambil haknya. Namun sayang,haknya di ambil bukan atas dasar suka sama suka. Namun Morgan tidak peduli,karena yang ia inginkan hanya satu, mempertahankan gadisnya di dalam belenggunya.
Tidak ada sedikit pun penyesalan di kedua matanya. Malah dirinya benar-benar merasa sangat puas. Ia mengecup perut rata Castela dengan seringaian di bibirnya.
"Cepat hadir sayang,agar kita bisa menghukum mama kecilmu jika dia kembali nakal."
Ia benar-benar merasa sangat puas. Kedua matanya melirik kedua salah satu lilin yang di dekat ranjang mereka.
"Benda ini benar-benar sangat bagus. Tidak salah aku mengeluarkan banyak kepingan emas hanya untuk satu benda saja. Mungkin aku harus mulai menyimpan beberapa untuk berjaga-jaga."
Morgan sedikit tertawa, apalagi saat mengingat bagaimana adegan panas mereka tadi berlangsung. Mungkin esok hari ia baru akan menerima akibatnya,tapi ia benar-benar tidak peduli.
Jika cara bersih tidak bisa mengekang Castela,maka cara kotor pun menjadi bersih di matanya.
"Aku menang sayang, seperti yang aku katakan kepadamu di saat pertemuan kedua kita. Apapun yang aku inginkan,akan selalu aku dapatkan."
Ia memeluk tubuh Castela yang tidak mengenakan apa-apa. Lalu menaikkan selimut hingga sebatas leher mereka. Ia ikut menyusul Castela yang telah lebih dulu larut ke alam mimpinya.
Sementara itu,tidak jauh dari tenda milik Castela dan Morgan, Marquis Steven sedang duduk mengamati. Ia benar-benar merasa sangat cemas,hal yang paling ia takutkan adalah jika Morgan bertindak nekat.
Namun dirinya tidak bisa berbuat apa-apa. Kuasa yang ia punya saat ini,tidak akan pernah bisa menentang kuasa milik Morgan. Dan akhirnya, Marquis Steven ketiduran di bawah pohon itu bersama para prajurit yang memang menghangatkan diri dengan api unggun.
...🦋🦋🦋...
Sinar matahari tampak masuk melalui celah-celah jendela dari tenda. Castela menggeliat di dalam tidurnya. Ia membuka kedua matanya dan menyesuaikan matanya dengan keadaan sekitar.
Namun ia benar-benar terkejut saat menyadari dirinya saat ini tidak mengenakan apapun di balik selimut yang ia kenakan.
Kedua tangannya bergetar,ia menyakinkan diri jika ini adalah sebuah mimpi. Ia menutup matanya,lalu membukanya kembali. Namun nihil,ini semua adalah nyata,sama nyatanya dengan dirinya yang tiba-tiba berada di dunia ini.
Castela menangis,ia merasakan sakit yang luar biasa di seluruh tubuhnya. Terutama di daerah sensitifnya. Ia terlalu larut di dengan dirinya sendiri hingga tidak menyadari kehadiran Ema, pelayannya.
Ema sebelumnya sudah masuk tadi,saat pangeran Morgan menyuruhnya untuk membantu Castela bersiap jika Castela sudah bangun. Ia sama terkejutnya ketika tidak sengaja melihat selimut Castela yang sedikit melorot.
__ADS_1
Banyak bercak merah di bagian leher dan dadanya. Ia menangis dalam diam,namun ia sebisa mungkin untuk terlihat kuat di mata Castela.
"Nona,anda sudah bangun? Mari saya bantu bersiap."
Ema membantu Castela untuk bangkit,ia bisa merasakan tubuh Castela yang bergetar. Sebisa mungkin ia tersenyum untuk mengalihkan perhatian Castela terhadap dirinya sendiri.
"E-Ema,, A-Apa yang, terjadi padaku?" Castela menatap Ema dengan sorot mata yang penuh akan keterkejutan.
Ema sudah tidak tahan lagi untuk berpura-pura. Ia langsung bersujud di kaki Castela, memeluk kaki wanita yang sudah ia urus sejak kecil itu. Tangisnya bahkan terdengar begitu memilukan di telinga Castela.
"Maafkan saya nona,saya tidak bisa melindungi anda. Maafkan saya, pangeran,hiks, pangeran yang melakukannya kepada anda. Saya tidak punya kuasa untuk membantu anda, maafkan saya nona. Hiks,, saya pantas anda hukum."
Castela terdiam sebentar,ada kilatan amarah di matanya yang menggenang. Satu air mata berhasil lolos laksana permata yang jatuh dari surga. Kedua tangannya mengepal,ia sekarang tau mengapa Morgan melakukan hal ini kepadanya.
Morgan,mencoba mengekang dirinya. Jika ia hamil dan berhasil melahirkan seorang anak,maka posisi tahta akan tetap menjadi Miliknya,meski dirinya tiada sekali pun.
"Ema, bantu aku bersiap. Setelah itu, panggilkan dokter,usahakan agar lelaki itu tidak mengetahuinya." Ucap Castela.
Ia lalu bangkit di bantu Ema menuju ke kamar mandi. Sungguh, rasanya benar-benar sangat nyeri. Tapi sebisa mungkin ia tahan. Ia menyuruh Ema untuk pergi, namun Ema menolak keras.
Castela menyuruh Ema untuk menggosok tanda-tanda merah di tubuhnya dengan sabun khusus.
"Jangan menangis Ema,aku tidak apa-apa. Kenapa kau menangis seolah-olah aku akan mati saja." Ucap Castela mencoba bercanda,tapi candaan Castela kali ini benar-benar tidak lucu.
Ema hanya diam, setelah beberapa waktu berlalu, akhirnya bekas-bekas itu memudar. Meski masih meninggalkan sedikit bercak merah,namun sudah tidak separah saat pertama kali tadi.
Ema memakaikan gaun berwarna hitam sesuai permintaan Castela. Gaun itu memiliki kerah yang tinggi hingga menutupi lehernya. Rambutnya di kepang menjadi satu tanpa sedikitpun riasan di kepalanya.
Seusai yang di perintahkan,Ema datang membawa dokter secara diam-diam. Ia meminta obat yang bisa mencegah kehamilan. Meski awalnya sulit karena dokter itu menolak,namun berkat ancaman Castela dokter itu memberikannya.
Setelah dokter itu keluar, Castela menyuruh Ema untuk pergi karena dirinya benar-benar sangat lelah.
Dokter tadi berjalan memasuki salah satu tenda dimana Morgan sedang membaca beberapa berkas.
"Salam yang mulia," ucap dokter itu Seraya duduk di salah satu kursi.
__ADS_1
"Katakan," ucap Morgan tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas yang ia pegang.
"Seperti yang anda duga, permaisuri mengundang dokter ke tendanya. Tapi karena dokter kerajaan tidak ada di tempat,jadi pelayannya meminta saya mengikutinya. permaisuri meminta obat untuk mencegah kehamilan."
Morgan mengalihkan pandangannya ke arah dokter itu,lalu mengangkat sebelah alisnya.
"Apa kau melakukannya?"
"Seperti yang anda perintahkan yang mulia. Saya memberikan obat kesuburan kepada yang mulia permaisuri. Obat itu akan mempercepat kehamilan permaisuri."
"Apa ada yang tahu?" Morgan mengangkat sudut bibirnya membentuk seringaian.
"Tidak yang mulia,tidak akan ada yang menyadarinya. Meskipun nantinya permaisuri menyadarinya,itu semua akan terlambat. Meminum obat itu dua kali saja,sudah akan memberikan efek yang bagus kepada tubuh."
Morgan tersenyum,ia melemparkan sekantong besar kepingan emas ke hadapan dokter itu.
"Pergilah sejauh mungkin,mulai kembali hidupmu. Apa itu kurang? Jika ia,kau boleh memintanya lagi."
"Tidak yang mulia,ini bahkan bisa menjamin hidup saya selama puluhan tahun. Terima kasih yang mulia." Ucap dokter itu lalu pergi dari ruangan Morgan dengan senyuman yang merekah.
Namun secepat kilat,ada orang berbaju hitam yang menarik dokter itu ke suatu tempat,lalu membunuhya. Tanpa ampun, mayatnya di mutilasi lalu di berikan kepada beberapa ekor serigala buas.
Dokter itu bukanlah dokter kerajaan yang mereka bawa. Itu sebabnya, kehilangannya bukanlah sebuah masalah bagi Morgan.
"Lagi-lagi,aku yang menang sayang. Sampai kapanpun,kau tidak akan bisa menandingi ku. Kau sudah menjadi targetku,dan aku tidak akan melepaskannya sampai kapan pun." Ucap Morgan penuh percaya diri.
***
Hai gais, mungkin dari kalian ada yang kurang puas sama part ini dan part sebelumnya. Tapi aku Mau sedikit cerita, sebenarnya part 39 itu gak cuma segitu,ada sekitar 2500-an kata yang aku upload. Karena itu adalah part khusus,tapi gagal.
Tapi gak tau kenapa part itu gak lulus review, kalian mungkin Taulah kenapa. padahal menurut aku biasa aja gitu,gak ada kata-kata kasar meski agak sedikit dua puluh tahun ke atas.
Aku Uda benar-benar puas sama part itu. Aku Uda berulang kali mencoba merevisi,tapi gak lulus juga. jadi akhirnya aku ubah seratus persen chapter-nya,Dan yaa hasilnya adalah yang kalian baca kemarin.
Meski benar-benar melenceng dari rencana aku,tapi gak masalah,karena alurnya masih bisa aku kendaliin. Dan ini semua demi kepuasan kalian para pembaca aku.
__ADS_1
Semoga kalian suka,dan terima kasih sudah mampir 🥰