ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)

ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)
Chapter 86


__ADS_3

...🦋 HAPPY READING 🦋...


Raja Morgan menatap ke sekeliling. Baju zirah berbahan besi baja yang sangat keras dan susah di tembus, sudah melekat dengan sangat pas di tubuhnya yang atletis dan tegap.


Di tatapnya satu persatu ribuan pasukannya yang sudah berbaris dengan rapih di pelataran istana. Hari ini,mereka akan berangkat ke perbatasan untuk menuntaskan segala dendam dan permasalahan di masa lalu yang juga melibatkan mantan calon ratu SEATHLAND. Dan penyebab terbunuhnya Raja terdahulu, serta percobaan pembunuhan terhadap kedua pangeran.


Di barisan terdepan, Duke Marchel, Marquis Steven, Abigail dan beberapa jenderal besar telah duduk dengan gagah di atas kuda mereka. Lengkap dengan baju zirah Berbahan besi yang tidak dapat di tembus oleh senjata sembarangan.


Wajah mereka terkesan datar,namun diantara para pasukan, tentu saja terdapat wajah-wajah yang penuh dengan ketegangan. Bagaimana pun juga, perang ini adalah perang terbesar pertama dalam sejarah yang dilakukan kerajaan SEATHLAND.


Marquis Steven yang berada di barisan terdepan, terlihat gelisah. Beberapa kali ia menghirup nafas dalam, sebelum akhirnya menghembuskannya dengan kasar.


"Ada apa tuan? Mengapa Tingkah mu terlihat begitu gelisah sejak semalam?" Tanya Abigail yang berada tepat di sebelah Marquis Steven.


Marquis Steven melirik Abigail yang memperhatikannya dengan wajah mengejek. Pasti lelaki muda itu masih merasa tidak terima karena tidak di tugaskan untuk menemani kedua pangeran bersama Erik dan Hendri.


"Bukan urusanmu, fokuslah terhadap peperangan ini... Jika nanti pasukan kita terdesak,kau harus bisa bergerak cepat dan temukan lady Castela. Apapun yang akan kau lihat dan kau dengar nanti di peperangan adalah sebuah provokasi. Tetaplah melangkah, bagaimana pun caranya, peperangan ini harus kita menangkan." Ucap Marquis Steven serius.


Abigail mengangkat sebelah alisnya, memandang Marquis Steven dengan penuh tanda tanya sebelum akhirnya kembali menatap ke depan dengan tubuh tegap dan kepala terangkat.


"Kita tidak akan kalah tuan Marquis,tidak akan,jika tidak ada salah satu dari kita yang berkhianat." Ucap Abigail sambil tersenyum lebar.


Membuat Marquis Steven gantian menatapnya dengan sebelah alis terangkat, Penuh tanda tanya.


"Anda tidak perlu menasehati saya tuan Marquis, sebaiknya persiapkan diri anda. Saya harap,anda bisa bekerja sama dan tidak mengecewakan lady Castela." Sambung Abigail dengan wajah serius, mengabaikan tatapan tak terbaca Marquis Steven.


Raja Morgan, naik ke atas kudanya. Saat hendak menghentakkan tali kekang yang ia pegang, sebuah suara yang sangat ia kenal mengentikan langkahnya.

__ADS_1


"Apa kau benar-benar akan pergi?"


Raja Morgan mengernyit, Menatap wanita bergaun merah terang itu dengan tatapan tidak suka.


"Apa kau buta?" Jawab Raja Morgan dengan seperti biasanya,Ketus dan dingin.


"Apa kau benar-benar serius? Tidakkah sebuah luka di masa lalu,hanya akan menimbulkan perih jika kita kembali mengusiknya?" Ratu Camelia menghembuskan nafas kasar, "Maksudku, tidak seharusnya kau melakukan ini semua,hanya untuk seseorang yang sudah mati. Semua ini percuma yang mulia,kau hanya akan kembali tersiksa."


Raja Morgan berdecih sinis, menatap Ratu Camelia dengan tatapan merendahkan.


"Tau apa kau tentang luka? Jangan bertingkah seperti ini Camelia... Bukankah seharusnya kau yang lebih tahu bagaimana rasanya ketika ujung belati di tancapkan ke dada? Tidak seharusnya kau berbicara seolah-olah kau peduli dan merasa khawatir kepadaku."


Raja Morgan lalu menghentakkan tali kekangnya, memberikan komando kepada para jenderalnya agar mereka segera memulai perjalanan. Menunju ke Medan pertempuran.


Ribuan pasukan itu bergerak dengan rapih dan teratur, meninggalkan pelataran istana. Meninggalkan wanita cantik dengan wajah yang mengingatkan akan seseorang di masa lalu,yang saat ini tengah berdiri terdiam, dengan tatapan yang sayu.


Camelia menatap langit SEATHLAND yang perlahan-lahan mulai menggelap.


"Ah, maafkan aku. Bukan aku yang memilih semua ini Morgan. Jika sejak awal,kau tidak berkhianat dan memilih Castela,semua ini... Tidak akan mungkin terjadi." Ucapnya pilu.


Sementara itu, penyihir agung Zargon terlihat kesulitan melawan Dimitri. Iblis tampan dengan sayap dan tanduk di kedua kepalanya itu tersenyum manis,saat matanya bersitatap dengan mata milik sang teman lama.


"Ah,ayolah... Apa hanya segitu saja kemampuan mu? Bukankah sedari dulu,kau selalu menyombongkan kekuatan mu itu?" Ucap Dimitri sambil memainkan kuku-kuku tangannya. "Zargon,Zargon, ck ck ck! Bahkan sejak dulu hingga sekarang,kaum penyihir tetaplah sama. Lemah."


"Kau... Katakan,siapa yang membebaskan mu dari penjara itu?!" Ucap penyihir agung Zargon sambil memegangi dadanya.


Kekuatan yang dimiliki oleh Dimitri memang tidak main-main. Sejak dulu, bahkan hingga saat ini. Meski terkurung selama ratusan tahun di dalam hutan pesona itu, kekuatannya masih saja menakjubkan. Itulah yang membuat perasaan penyihir agung Zargon sedari sebelum ini,merasa tidak enak.

__ADS_1


"Mengapa kau begitu penasaran? Apakah pertanyaan itu sangat penting? Hingga kau mengabaikan pertanyaan ku dan menuntut jawab atas pertanyaanmu itu?" Tanya Dimitri sambil tersenyum sinis.


"Tentu, bukankah tidak ada satupun tangan-tangan kotor dari kaum iblis yang bisa membuka pintu itu. Tidak salah bukan,jika aku merasa penasaran." Ucap penyihir agung Zargon kemudian,yang berhasil membuat Dimitri,sang iblis tertawa.


HAHAHA


"Kau... tidak akan percaya jika aku ceritakan makhluk hina. Jangan membuang-buang waktu ku untuk hal yang sama sekali tidak penting. Karena sekarang,ada hal yang lebih penting." Ucap Dimitri sambil tersenyum,menatap tajam ke arah pangeran Aidan yang terus meronta saat Erik mengajaknya untuk segera pergi. Diikuti Oleh penyihir agung Zargon yang ikut menatap ke arah tatapan mata Dimitri.


"Lepaskan aku Erik! aku ingin menyelamatkan kakek penyihir agung!" Ucap pangeran Aidan yang masih tidak sadar,jika bahaya sedang mengintai mereka.


"Tidak pangeran! kita yang seharusnya segera pergi dari sini! kakek tua itu bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Saya mohon pangeran,sekali ini saja, turuti perintah saya." ucap Erik terus mencoba menyakinkan.


"Lepaskan!" bentak pangeran Aidan,wajah kotornya memerah, membuat pangeran Aiden yang berada di pelukan Hendri terkejut. "Aku adalah pangerannya disini! dan sebagai bawahan ku,tidak seharusnya kau membantah ucapan ku!"


Erik terdiam,tanpa sadar,ia mengendurkan pegangan tangannya yang menggenggam erat tangan pangeran Aidan. Erik tersadar, memang benar. Ia hanyalah seorang bawahan. Tindakannya sudah terlalu berlebihan. Ia hanya ingin melaksanakan tugasnya dengan sebaik mungkin.


Ia hanya ingin melaksanakan seluruh janji-janji yang selalu ia ucapkan, untuk membalas Budi kepada Lady Castela. Ia hanya ingin melindungi orang-orang yang di sayangi oleh wanita yang ia sayangi. Namun,bukan ini yang ia inginkan.


"Maaf... Maafkan saya pangeran." ucap Erik dengan raut wajah bersalah.


Dari kejauhan,dapat dilihat jika Dimitri sedang tersenyum lebar menyaksikan kejadian itu.


"Dimitri sialan! apa yang ingin kau lakukan?" tanya penyihir agung Zargon panik,saat melihat sebuah cahaya berwarna hitam keluar dari kedua telapak tangannya.


Dimitri tersenyum menatap penyihir agung Zargon, sambil memiringkan kepalanya.


"Menangkap ikan tentunya. Bukankah, ikan-ikan kecil itu sudah masuk ke dalam jaring?" tanyanya dengan wajah yang begitu menggemaskan.

__ADS_1


Dan kemudian,dengan gerakan kilat, Cahaya itu berubah menjadi rantai dan mengikat keempat bocah bandel,yang sedari tadi tengah asik berdebat.


__ADS_2