ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)

ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)
Chapter 49


__ADS_3

...🦋 HAPPY READING 🦋...


Morgan duduk di sebelah Castela,kedua matanya tampak sayu dan tubuhnya terlihat lebih kurus. Tangannya masih menggenggam erat tangan kanan Castela.


Gadis itu seperti putri tidur. Sudah tidak ada lagi warna pucat di wajahnya. Racun yang sempat ia minum juga sudah di netralisir.


Perlahan, jari-jari yang sudah lama tidak bergerak itu mulai menimbulkan gerakan kecil. Membuat Morgan langsung terbangun dari tidurnya.


Ia benar-benar terkejut saat melihat sebuah gerakan kecil, sangat kecil,namun hal itu membuat Morgan mampu menahan nafasnya.


Ia segera berteriak memanggil dokter istana. Teriakannya itu tentu saja membuat Raja Philip, Duke Herli, Marchel, Ema,dan Abigail yang merupakan pengawal bayangan Castela langsung masuk ke dalam kamar Morgan.


Mereka berdiri tidak jauh dari ranjang berukuran king size,yang bisa menampung empat orang itu. Kamar itu sangat mewah,dan di tengah-tengah tempat tidur itu, terdapat Castela dengan mata terpejamnya.


Perlahan namun pasti,kedua mata itu terbuka. Castela menyesuaikan pandangannya,lalu Neta hijau zambrudnya itu menangkap ruangan yang sangat asing.


Ini bukanlah kamarnya,dimana ia? Begitulah tanya hatinya. Namun kebingungan itu langsung berubah menjadi tatapan waspada dan ketakutan saat melihat seorang lelaki yang benar-benar ingin ia bunuh.


Castela langsung ber-ingsut mundur sambil mendekap perutnya sendiri. Castela merasakan sesuatu yang aneh. Tunggu,sejak kapan perutnya menjadi sebesar ini? Dia baru hamil lima Minggu, mengapa saat bangun perutnya sudah sebesar delapan bulan?


Castela meneguk salivanya, dengan perut sebesar ini membuatnya semakin Sulit menghindar.


Morgan yang melihat istrinya sudah sadarkan diri seketika bahagia. Akhirnya ia bisa melihat mata yang indah itu lagi. Namun kebahagiaannya seketika sirna saat menyadari jika Istrinya itu sangat ketakutan melihatnya.


"Ela, syukurlah kau sudah bangun. Apa ada yang sakit?"


Pertanyaan dengan nada lembut itu tentu saja membuat Castela semakin tidak tenang. Sejak kapan lelaki itu perhatian kepadanya? Bukankah lelaki itu sendiri yang hampir membunuh dirinya dan juga anaknya? Rasanya pertanyaan itu benar-benar tidak cocok keluar dari mulut Morgan yang berhati kejam.

__ADS_1


Di sisi lain,mereka semua menahan nafas saat melihat drama di depan mereka, Tepatnya di ranjang morga. Mereka merasa lega karena Castela benar-benar sudah sadar. Namun disisi lain, sepertinya mereka menghadapi masalah yang lebih serius.


"Menjauh lah! Tolong,jangan sakiti anakku!" Ucap Castela panik saat melihat Morgan sudah merangkak menyusulnya.


Morgan segera mencari cara,ia benar-benar merasakan sakit saat mendengar ucapan itu. Mana mungkin ia tega menyakiti anaknya sendiri? Castela terus-menerus mundur kebelakang, hingga tidak sadar dirinya sudah berada di ujung ranjang.


Saat dirinya sudah hampir terjatuh,dengan sigap Morgan menarik wanita berbadan dua itu ke dalam dekapannya. Jantungnya benar-benar hampir berhenti karena tindakan ceroboh istrinya itu. Hampir saja ia kehilangan istri dan anaknya untuk yang kedua kalinya.


Sementara mereka semua menghembuskan nafas lega setelah tadi mereka sempat lupa bernafas. Raja Philip lalu memberikan isyarat agar mereka semua keluar. Biar urusan ini, Morgan sendiri yang harus menyelesaikannya.


Sudah cukup mereka membantu menyelesaikan masalah yang di buat anaknya itu.


Castela tidak sadar jika ia tengah memeluk Morgan dengan erat. Bahkan air matanya sudah menetes. Ia benar-benar terkejut, bahkan jantungnya masih berdetak tidak karuan. Bagaimana jika dirinya jatuh? Bukankah itu sama saja membahayakan anaknya?


Ia meremas kemeja yang di gunakan oleh Morgan. Morgan mengusap lembut rambut Castela agar merasa sedikit tenang. Ia tetap memeluk istrinya,namun tidak terlalu erat,karena terhalang perut Castela yang sudah seperti balon yang hampir pecah.


"Sudah ya,jangan menangis,nanti anak kita ikutan sedih." Ucap Morgan lembut sambil menciumi kening Castela.


"Lepaskan aku! Apa kau ingin menyakiti kami lagi?" Tanya Castela dengan dingin.


Morgan menghela nafas kasar, sebelum akhirnya bersuara.


"Maafkan aku Ela, maafkan aku. Aku tau aku salah,aku mengakuinya. Tapi sungguh,aku berani bersumpah,aku tidak tahu jika orang yang di maksud oleh si pengkhianat itu adalah dirimu. Aku benar-benar menyesal,aku bahkan- hampir membunuh anak kita... Maafkan aku." Ucap Morgan bersungguh-sungguh.


Castela memberanikan diri menatap kedua mata lelaki itu, mencari kebohongan disana. Namun hasilnya nihil,hanya ada kesungguhan terpancar disana,berbalut sebuah rasa penyesalan.


"Aku mohon Ela,maafkan aku, izinkan aku menebus semua dosa-dosaku."

__ADS_1


Morgan menggenggam kedua tangan Castela,menatap wanita itu penuh harap.


Castela tidak bergeming, otaknya masih sibuk mencerna. Apakah ini semua nyata? Tidakkah ini semua hanyalah siasat untuk menjatuhkannya sekaligus? Haruskah ia percaya? Biasakah ia memaafkan lelaki bodoh yang sialnya adalah suaminya ini?


"Apakah kau sadar seberapa besar dosa yang telah kau perbuat? Aku sendiri tidak bisa menjamin apakah kau bisa menebus semua dosa yang telah kau lakukan." Ucap Castela membuang pandangannya ke sembarang arah.


"Aku bersumpah! Mungkin aku yang dulu benar-benar bodoh,tapi sekarang kau telah membuka kedua mataku Ela. Maafkan aku karena sebelumnya tidak bisa membedakan yang hitam dan yang putih. Tapi mulai sekarang aku bersumpah Ela,aku akan menjagamu dan anak kita. Hukuman apapun yang ingin kau berikan kepadaku aku menerimanya,asal kau memberikan aku kesempatan kedua untuk menebus dosa-dosaku kepada kalian. Asal aku tetap bisa menghabiskan hidup bersama kalian." Ucap Morgan bersungguh-sungguh sambil mengusap lembut perut buncit Castela.


Castela masih terdiam,ia benar-benar masih terkejut dengan apa yang terjadi. Namun, satu pertanyaan di otak Castela tiba-tiba muncul.


"Dimana panglima Karel?"


Morgan mengalihkan pandangannya dari Perut Castela dan menatap manik hijau zambrud milik istrinya yang tampak berkilat. Dapat terlihat jelas di kedua netra hitam itu keengganan untuk membahas masalah itu.


"Dia sudah mati." Jawabnya cuek


"Mati? Bagaimana bisa?" Tanya Castela terkejut.


"Tentu saja bisa,dia adalah seorang penghianat,dia juga berselingkuh dengan istri pangeran mahkota dan juga, melakukan pembunuhan berencana kepada permaisuri dan anak kita." Ucap Morgan dengan sedikit raut kesedihan di matanya.


Apa-apaan ini? Sebenarnya sudah berapa lama ia tidak sadarkan diri? Dan bagaimana ceritanya kejahatan itu bisa terbongkar. Sebenarnya berapa banyak yang sudah ia lewatkan? Mengapa ia seperti orang bodoh sekarang?


"Morgan, berapa lama aku tidak sadarkan diri?"


Morgan mengerutkan keningnya sebelum akhirnya menjawab, "Kau pingsan selama 3 bulan El,apa kau tidak melihat perutmu yang sudah membesar itu?"


Apa? Tiga bulan? Apa Castela tidak salah dengar? Atau Morgan sendiri yang salah menghitung? Ini semua tidak mungkin! Begitulah batin Castela menolak.

__ADS_1


Castela terdiam,berita yang baru saja ia dengar benar-benar mengguncang kewarasannya.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Castela menatap Morgan dengan raut wajah serius.


__ADS_2