
...🦋 HAPPY READING 🦋...
Jauh dari perkiraan,karena mereka yang terus berjalan dan hanya sesekali berhenti untuk makan dan beristirahat. Akhirnya sebentar lagi mereka akan sampai di kota Rutin.
Sekitar dua puluh kilometer di depan adalah kota Rutin. Dan hanya berjarak beberapa jam dari sana adalah perbatasan SEATHLAND dan Zwitland yang terpisahkan oleh sebuah lautan.
Pangeran Morgan masih setia menemani Castela yang sampai sekarang masih belum siuman. Ia sudah memerintahkan salah satu orang kepercayaannya untuk menyelidiki siapa dalang di balik penyerangan istri kecilnya itu. Namun hingga kini,belum ada kabar yang sampai di telinganya.
Padahal hanya mencari sekelompok orang, memangnya apa susahnya?
Lain halnya dengan Marquis Steven. Ia tampak sangat serius membaca surat yang baru di terimanya dari sahabatnya,Brian. Melalui seekor burung elang yang merupakan peliharaan lelaki itu.
Meski dirinya sudah bisa menebak siapa dalang di balik penyerangan ini, namun masalah ini harus segera di selesaikan. Agar di kemudian hari,tidak akan menjadi masalah buat kedepannya.
Kedua tangannya mengepal erat setelah membaca isi surat itu. Rahangnya mengeras, seperti dugaannya sebelumnya, wanita licik itulah yang ternyata menjadi dalang di balik penyerangan tempo hari.
Bukan hanya itu,Brian juga mengirimkan bukti transaksi yang dilakukan oleh Rosenta kepada para kelompok itu. Tapi yang di takutkan akan menjadi masalah adalah,nama yang di gunakan untuk transaksi itu.
Itu adalah namanya.
"Sialan kau iblis! Bisa-bisanya kau mengarang hal seperti ini? Apa kau pikir aku tega menyakiti gadis yang ku cintai?"
"Sepertinya aku tau kemana arah rencana ini. Kau sungguh licik Rosenta,kau benar-benar sudah memikirkan semuanya. Jika rencana pembunuhan ini berhasil,maka aku yang akan menjadi kambing hitamnya. Tapi bahkan jika rencana ini gagal,tetap aku yang akan menjadi kambing hitamnya."
Kedua mata Marquis Steven memerah, menahan Amarahnya. Bahkan sampai mati pun, dirinya tidak akan pernah menyakiti Castela.
"Ku akui, kemampuan menyusun rencanamu memang sangat baik. Bahkan jika aku terbukti tidak bersalah,dan kau yang bersalah,aku berani bertaruh dengan kepalaku, pangeran bodoh itu pasti tidak akan membiarkanmu terluka. Kau, benar-benar sangat licik!"
Marquis Steven mengambil kertas dan pena, ia lalu menuliskan surat balasan untuk sahabatnya itu. Saat ini,hanya Brian yang bisa menyelesaikan urusan diluar selama ia bersama dengan Rosenta.
Mereka memang sudah membagi tugas, biarkan Castela dan Marquis Steven yang menjadi umpan. Dan Brian hanya perlu memantau semuanya dari jauh. Dengan tidak terlibatnya lelaki itu,maka sudah pasti fokus mereka hanya kepada Castela dan Marquis Steven.
Dan hal itu,harus di manfaatkan sebaik mungkin oleh Brian untuk menjalankan tugasnya.
Ia tahu jika Pangeran Morgan sudah memerintahkan salah satu orang kepercayaannya untuk diam-diam menyelidiki kasus ini. Dan itu artinya, keputusan apapun yang akan mereka ambil sangat beresiko.
Namun jika tidak langsung di selesaikan, takutnya akan banyak orang lagi yang terseret ke dalam permainan wanita itu.
..."Aku mengerti, lakukan yang seharusnya dilakukan."...
__ADS_1
Tulisannya di dalam sebuah kertas,lalu menggulungnya menjadi sebuah gulungan kecil. Setelah itu di masukkan ke dalam bambu kecil dan diikatkan ke kaki burung elang itu.
Setelah memberikan makan, burung itu pergi menjauh tanpa sedikitpun mengeluarkan suara menuju tempat yang di bisikkan oleh Marquis Steven.
Setelah beristirahat selama satu jam, akhirnya pangeran Morgan memberikan perintah untuk kembali melanjutkan perjalanan.
Semua prajurit bergegas, matahari sudah semakin meredup. Menandakan jika hari sudah memasuki sore. Hanya dua puluh kilometer,jika sesuai dengan prediksi pangeran Morgan,maka mereka akan sampai disana tepat tengah malam.
Ia sudah memutuskan untuk bergerak. Castela belum juga bangun, padahal menurut perkiraan dokter, seharusnya hari ini dirinya sadar. Namun pangeran Morgan tidak lagi mempermasalahkan hal itu.
Ia hanya ingin segera sampai,agar nantinya ketika Castela terbangun,gadis itu tidak perlu lagi merasakan kelelahan karena perjalanan jauh.
Di sebuah rumah di dekat perbatasan SEATHLAND dan Zwitland,yang berada di tengah hutan. Brian tengah duduk dengan banyak berkas-berkas di Mejanya.
Tidak lama kemudian, terlihat seekor elang yang mendarat di jendela ruangan itu. Atensinya teralihkan sepenuhnya. Ia berjalan menghampiri burung itu,lalu kemudian tangannya melepaskan sebuah bambu kecil yang terikat di kaki kanan burung itu.
Brian membaca surat itu,lalu kemudian dia tersenyum. Ia mengerti maksud dari pesan singkat yang di tulis oleh sahabatnya itu.
"Baiklah,jika semua sudah setuju,maka mari kita lakukan pertunjukan ini." Ucapnya tersenyum misterius.
Kereta kuda sampai di kota Rutin tepat pada tengah malam. Kedatangan seratus lima puluh prajurit dengan enam kereta kuda, seorang Marquis,dan juga pangeran mahkota beserta istrinya yang baru menikah dua Minggu yang lalu itu sontak saja membuat penduduk setempat terkejut.
Seorang lelaki berusia sekitar 30an berjalan dengan tergesa-gesa mendekati kereta kuda yang di naiki oleh pangeran Morgan.
"Salam yang mulia,saya adalah Baron Lavis. Selamat datang di kota kecil kami,mohon maaf karena tidak bisa memberikan penyambutan yang layak kepada anda dan rombongan. Karena sebelumnya,kami tidak di beritahu jika anda sendiri yang akan berkunjung ke tempat kami." Ucap lelaki itu dengan nada penyesalan.
Pangeran Morgan mengangkat salah satu tangannya sebagai tanda agar Lelaki itu tidak berbicara lagi. Ia sudah tahu akan hal itu,karena ia yang memberikan perintah kepada bawahannya untuk mengurus masalah ini.
Namun apa yang ia lihat benar-benar tidak sesuai dengan apa yang ia dengar. Informasi yang di sampaikan oleh beberapa pejabat yang sudah meninjau tempat ini sangat-sangat berkebalikan.
Mereka mengatakan jika kerusakan disini tidak terlalu parah. Dan para penduduk juga sudah di berikan bantuan awal sebelum akhirnya beberapa pejabat akan turun tangan
Namun lihatlah,para penduduk bahkan hanya tidur menggunakan puing-puing reruntuhan. Hal ini tentu saja membuat Morgan merasa di bohongi. Ia benar-benar sangat marah, bahkan buku-buku jarinya sudah tampak memutih saat ini.
"Apakah kalian tidak menerima bantuan sebelumnya?" Tanya Marquis Steven yang tiba-tiba penasaran dengan ekspresi pangeran Morgan yang berubah saat menginjakkan kakinya di tempat ini.
"Em,anu,itu,tidak ada tuan Marquis,sudah lebih dari seminggu kejadian musibah itu,tapi tidak ada satupun utusan kerajaan yang datang hanya sekedar untuk melihat kondisi kami."
Ucap Baron Lavis menunduk takut saat menyadari perubahan aura di sekitarnya yang terasa mencekam. Ia tentu tau,aura siapa itu.
__ADS_1
"Kurang ajar, berani-beraninya mereka bermain di belakangku." Geram pangeran Morgan dengan suara datar dan pelan,namun masih terdengar oleh Marquis Steven,Baron Lavis dan beberapa prajurit yang berada di dekatnya.
Membuat mereka semua merinding ketakutan.
"Yang mulia, sebaiknya anda tenangkan diri anda dulu. Saya akan menyuruh para prajurit Untuk membangun tenda. Permaisuri Castela masih tidak sadarkan diri, biarkan ini semua kita bahas besok pagi. Bukankah ini sudah terlalu malam? Kasihan para prajurit."
Ucap Marquis Steven yang membuat amarah pangeran Morgan seketika lenyap. Ia baru sadar,jika istri kecilnya itu masih berada di dalam kereta kuda.
Baron Lavis yang tidak mengerti akan apa yang di sampaikan oleh Marquis Steven lantas bertanya.
"Mohon maaf sebelumnya Marquis, apakah yang mulia permaisuri ikut? Kenapa saya tidak melihatnya?"
"Benar tuan Lavis, sebenarnya kedatangan kami kali adalah keinginan permaisuri. Ia meminta saya untuk menemani permaisuri karena pangeran Mahkota baru saja kembali dari mengurus pemberontakan. Namun saat di perjalanan,kami di serang oleh sekelompok pembunuh."
"Saat itu nyawa permaisuri hampir saja menghilang jika bukan karena kedatangan pangeran mahkota. Pangeran mahkota berhasil menyelamatkan permaisuri,tapi permaisuri masih belum sadarkan diri. Tapi anda tidak perlu merasa bersalah,ini semua adalah takdir. Jika saja permaisuri tidak memaksa untuk datang kesini, mungkin sampai saat ini kami tidak tahu kondisi kota ini sebenarnya." Ucap Marquis Steven menjelaskan.
Baron Lavis benar-benar merasa terharu mendengar cerita Marquis Steven. Ia benar-benar tidak menyangka jika permaisuri nekat pergi ke tempat ini hanya untuk menyelamatkan mereka. Bahkan hingga nyawanya sendiri terancam.
"Yang mulia permaisuri benar-benar seperti Dewi. Kami sudah banyak mendengar tentang beliau,tapi kami kira itu hanya sebuah rumor semata untuk mengangkat nama baik keluarga Duke Herli. Namun ternyata pemikiran kami terlalu picik, bahkan permaisuri lebih mementingkan kami para rakyat rendahan ini dari pada nyawanya sendiri. Kami,kami tidak pantas menerima berkah sebesar ini."
Ucap Baron Lavis yang sudah mulai terisak. Pangeran Morgan hanya diam menyaksikan. Sementara Marquis Steven,ia memukul pelan pundak Lelaki itu mencoba menenangkan.
"Aku juga sangat menghormatinya, apa kau tidak tau? Permaisuri sudah mendapatkan gelar ACASHA diantara rakyat. Bahkan mereka meng-agungkan nama permaisuri Castela lebih agung daripada Raja." Ucap Marquis Steven yang mendapatkan tatapan tajam dari pangeran Morgan.
"Hentikan omong kosongmu itu Marquis. ACASHA hanyalah satu,dan dia adalah putri Rosenta. Aku tidak ingin mendengar hal ini lagi keluar dari mulut mu. Pergilah, siapakan tenda!"
Marquis Steven melirik malas pangeran Morgan. Namu ia tetap menjalankan perintah lelaki itu. Ia menyuruh prajurit Untuk segera membangun tenda.
"Yang mulia,saya benar-benar berterimakasih. Saya benar-benar penasaran dengan sosok permaisuri. Jika diizinkan, bolehkah saya mengucapkan terima kasih langsung kepadanya?" Tanya Baron Lavis hati-hati.
Pangeran Morgan tampak berfikir sebentar, sebelum akhirnya mengangguk.
"Kau boleh bertemu dengannya jika dia sudah sadar. Kembalilah untuk beristirahat,besok akan menjadi hari yang sangat sibuk."
Ucap pangeran Morgan berlalu pergi meninggalkan Baron Lavis yang sedang bahagia.
"Aku sangat tidak sabar melihat permaisuri. Banyak rumor yang mengatakan jika kecantikan permaisuri benar-benar seperti seorang Dewi. Suatu kehormatan jika besok aku bisa menyaksikannya secara langsung."
Ucap Baron Lavis dengan senyuman yang merekah di bibirnya.
__ADS_1