ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)

ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)
Chapter 84


__ADS_3

...🦋 HAPPY READING 🦋...


Castela bangun dari tidurnya, entah mengapa kepalanya terasa sangat pusing begitu bangun. Ini kali pertamanya ia merasakan kepalanya sakit, semenjak berada di tempat ini.


Ia menatap sekeliling, setelah ia merasakan jika sakit di kepalanya sudah sedikit mereda. Sepi, itulah satu kata yang pantas menggambarkan suasana saat ini.


Kening Castela mengkerut,kemana perginya Zean? Bukankah serigala itu tidak pernah pergi meninggalkannya selama ini,barang seinci pun? Serigala itu adalah penjaga yang disiplin dan ketat,ia tidak akan membiarkan Castela lengah dalam pengawasannya.


Namun sekarang, lihatlah, Castela sendirian, benar-benar sendirian. Castela menyipitkan matanya,saat menemukan selarik cahaya kerlap kerlip dari ujung hutan. Ia tidak pernah masuk ke dalam hutan itu, karena Zean melarangnya. Katanya hutan itu berbahaya,jika Castela masuk ke dalam sana,maka ia akan terperangkap di dalamnya jika tidak bisa melawan.


Pesona hutan itu sangat kuat,para makhluk menamai hutan tersebut dengan sebutan hutan tak berujung. Karena hutan itu,tidak memiliki akhir. Castela jelas mengingat semua cerita itu, kisah yang di ceritakan oleh Zean waktu itu,saat ia nekat ingin pergi.


Namun hari ini, Castela melihatnya. Melihat sebuah cahaya di ujung hutan yang selama ini tidak pernah ia lihat. Castela berjalan perlahan sambil memperhatikan sekitar, berjaga-jaga jika tiba-tiba Zean datang.


Kali ini,ia akan mencoba memasuki hutan itu. Ia tidak akan termakan dengan kisah-kisah hoax yang selalu di ceritakan oleh Zean,yang di taburi dengan bumbu-bumbu menyeramkan.


Castela terus berjalan, hingga keluar dari zona yang selalu diingatkan oleh Zean. Kakinya yang tidak beralas sepatu, langsung menyentuh dengan dinginnya rerumputan yang basah dan serasa menusuk tulang. Rumput inilah awal dari hutan tersebut.


Castela terus berjalan perlahan-lahan karena khawatir,jika diantara rerumputan ini,ada akar-akar pohon atau benda tajam yang bisa menyakiti kakinya. Cukup lama Castela berjalan, akhirnya ia sampai di pintu masuk hutan tersebut.


Castela menarik nafas perlahan, sebelum akhirnya membuangnya. Ia mendongakkan kepalanya,menatap betapa tinggi dan besarnya pohon-pohon yang berada disini.


Ia berulang kali menyakinkan dirinya sendiri,jika ia hanya akan melihat-lihat saja. Ia tidak akan masuk jauh ke dalam jika ia menemukan sesuatu yang aneh dan mencurigakan. Setelah yakin, akhirnya Castela melangkahkan kakinya memasuki hutan tersebut.


"Oke Castela,hanya sebentar, kau hanya ingin menjawab rasa penasaranmu. Jika ada yang tidak beres,kau bisa pergi. Simpel bukan." Ucapnya memberikan sugesti kepada dirinya sendiri.


Sepi,senyap,gelap,dengan hawa dingin yang menyeramkan adalah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan suasana di hutan ini. Castela sudah berada beberapa meter di depan sana. Namun seketika, nyalinya serasa menciut. Ia kemudian berbalik, untuk kembali, karena ia sadar,tidak seharusnya ia berada disini.

__ADS_1


"Kau mau kemana?"


Kaki Castela terhenti, tubuhnya mendadak menegang dengan mata yang melotot sempurna. Apa ia salah dengar? Sepertinya ia mendengar suara seseorang barusan.


"Ah, mungkin hanya perasaanku saja." Ucap Castela mencoba untuk berpikiran positif.


Ia lalu kembali melangkahkan kakinya dengan jantung yang berdegup kencang.


"Kau sudah masuk nona,apa kau akan pergi begitu saja?"


Deg


Suara itu kembali terdengar, membuat Castela terhenti dan meneguk ludahnya kasar.


"Sial! Aku tidak salah dengar! Apa itu suara hantu? Penunggu yang di katakan Zean di dalam ceritanya?" Tanya Castela lirih sambil menajamkan pendengarannya.


"Kau benar-benar kurang ajar nona! Aku bukan hantu,aku adalah Dimitri,sang pemberi berkah. Kau,sudah lancang masuk ke dalam rumahku,itu artinya kau harus meminta satu berkah dariku untuk aku kabulkan."


Castela memberanikan dirinya menatap ke sekeliling. Tubuhnya memutar, mencari darimana asal suara yang menggema itu.


"Maaf, karena telah lancang memasuki rumahmu. Tapi aku akan pergi sekarang,kau tidak perlu melakukan apapun untukku, terima kasih atas niat baikmu. Tapi aku harus pergi."


Castela dengan segera berjalan tergesa-gesa. Bahkan langkahnya membuatnya sedikit berlari-lari kecil. Namun ia mengerutkan keningnya. Bukankah tadi ia baru masuk Beberapa meter saja ke dalam hutan? Mengapa ia tidak menemukan pintu masuk tadi?


HAHAHAH


Castela kembali dibuat merinding saat mendengar suara tanpa wujud tadi tertawa keras.

__ADS_1


"Kau,masih tidak berubah Dewi. Kau masih sama seperti dulu. Tidak ku sangka, jika takdir kembali mempertemukan kita pada situasi yang sama, seperti ratusan tahun yang lalu."


"Sial! Siapa kau! Keluarlah pengecut! Jangan bersembunyi! Jika kau memang berani, keluarlah dan hadapi aku!" Ucap Castela kesal, karena semakin ia berlari mencari jalan keluar, justru ia semakin masuk ke dalam hutan.


HAHAHAH


"Apa aku tidak salah dengar? Bukankah dirimu sendiri yang mengutukku di tempat ini? Apa jangan-jangan kau melupakannya Dewi?"


"Sialan! Aku tidak tau siapa kau, terserah jika kau mengatakan mengenalku,atau apalah aku tidak peduli. Yang harus kau lakukan sekarang adalah, keluarkan aku! Jika tidak,aku akan membuatmu menyesal karena telah mempermainkan ku!" Ucap Castela bersungguh-sungguh dengan dada yang naik turun.


Ia merasa lelah, kakinya beberapa kali tergores akar pohon dan meninggalkan beberapa luka lebam.


"Ah, ternyata kau tidak selamanya melupakan tentangku. Aku jadi merasa sedang bernostalgia, bukankah itu adalah kata-kata yang sama... Sama seperti yang kau ucapkan saat itu sebelum mengutukku? Aku tidak menyangka... Jika aku akan mendengarnya lagi."


Castela tidak memperdulikan perkataan dari Dimitri,si makhluk tanpa wujud itu. Ia menyingkirkan ranting yang menancap di telapak kakinya, menyusahkan luka cukup dalam dengan darah yang mulai mengalir.


"Sialan! Ini benar-benar perih." Desis Castela lirih,saat ranting pohon itu telah tercabut dari kulitnya.


"Aku tidak mengenalmu dan aku tidak pernah merasa pernah berurusan denganmu. Sekarang, lebih baik kita sudahi semua ini dan katakan apa maumu. Karena aku benar-benar merasa muak,dan ingin segera meninggalkan tempat ini." Tekan Castela.


"Ini adalah rumahku Dewi, rumah yang kau bangunkan untukku dan Stella. Tinggallah lebih lama lagi dan kita bisa bersenang-senang. Aku masih merindukan mu, bukankah kau juga telah merasakan bagaimana rasanya terpisahkan dari orang yang kau sayang?"


"Apa mau mu?" tanya Castela dengan raut wajah dingin dan datar. Karena jujur,ia sudah benar-benar lelah di permainkan oleh sosok tanpa wujud ini.


"Mau ku?" suara itu terjeda, sepertinya dia sedang berfikir. "Mau ku sederhana Dewi,kau... juga merasakan seperti yang aku rasakan. Bukankah kau ingin bertemu dengan putramu?"


pertanyaan di akhir itu sontak menarik atensi Castela, membuatnya kembali menatap ke sekeliling dengan waspada. "Maka aku akan mempertemukan kalian Dewi. Aku,tidak sejahat dirimu yang membunuh nyawa kekasihku,karena ia mencintai seorang iblis sepertiku. Lalu mengurung jiwaku di dalam hutan ini,agar tidak bisa lagi menyelamatkan jiwanya."

__ADS_1


__ADS_2