ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)

ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)
Chapter 06


__ADS_3

...🦋 HAPPY READING 🦋...


Castela menoleh mengikuti arah pandang semua orang. Tatapannya membeku, tubuhnya menegang tak dapat di gerakkan. Seiring ketukan sepatunya yang terdengar keras beradu dengan lantai. Saat itu juga,air mata Castela terjatuh tiba-tiba.


"De-devan." Ucapnya pelan, hampir seperti bisikan.


Bau-bau masa lalu kembali hadir menyeruak memenuhi Indra penciumannya. Tekanan yang timbul di dadanya menciptakan rasa sesak yang teramat sakit membuatnya untuk sekejap kesulitan untuk bernafas.


Ingin rasanya ia menghambur ke dalam dekapan tubuh kekar dan tegap yang selama beberapa hari ini ia rindukan. Yah,ia memang munafik,karena sempat ingkar akan rasa yang sebenarnya. Ingin rasanya ia berbagi keluh kesah bagaimana takutnya ia saat pertama kali terbangun di tempat ini.


Namun semua itu hanyalah angan belaka, hanyalah khayalan yang ia urungkan untuk menjadi sesuatu yang nyata. Kedua bola mata itu saling beradu satu sama lain. Untuk sejenak,ia merasa terpukau akan sosok yang saat ini sudah tepat berada di seberangnya.


Namun lagi-lagi semua itu pupus begitu saja. Lelaki itu hanya menatapnya dengan tatapan dingin yang menyakitkan. Tak ada sepatah katapun yang ia ucapkan saat melihat Castela. Tak ada sedikitpun rasa kerinduan seperti yang ia rasakan. Lalu, suaranya yang terdengar tegas mengalun begitu saja di udara. Memecahkan keheningan yang sempat terjadi sementara.


"Ada apa yang mulia memanggilku? Bukankah sudah aku katakan jika aku sedang sibuk? Istriku sedang sakit dan Aku tidak punya waktu untuk mengurusi hama-hama pengganggu di dalam rumah tanggaku."


Datarnya intonasi yang ia ucapkan, terselip rasa ketidaksukaan yang jelas ingin ia sampaikan. Seolah berkata 'pergilah,tidak ada yang menginginkan kehadiranmu disini'.


Castela meremas kedua tangannya yang ia sembunyikan di bawah meja. Sungguh ini adalah sebuah penghinaan yang jelas-jelas di tujukan untuk keluarganya. Rasa tidak suka begitu saja muncul mendera, benarkah lelaki ini adalah dia? Seseorang yang sampai sekarang bahkan masih memiliki ruang khusus di hatinya?


"Kau harus bersikap sopan Morgan! Tunjukkan sikapmu jika kau memang pantas menjadi calon pemimpin negeri ini. Ayah tidak peduli jika kau menentang pernikahan ini. Tapi keputusan ayah sudah mutlak, bahkan seluruh pejabat istana sudah menyetujuinya. Jika kau tetap menolak untuk menikah dengan Lady Castela, putri Duke Herli,maka ayah tidak akan bisa memberikan takhta itu kepadamu. Sesuai dengan apa yang sudah ayah katakan dari dulu, takhta itu akan ayah serahkan kepada Lady Castela."


Ucapan lantang itu keluar dari mulut Raja Philip tanpa sedikitpun mengisyaratkan keraguan. Castela menatap penuh tanya lelaki tua itu. Mengapa lelaki tua itu tidak menuruti saja keinginan anaknya. Mengapa harus membawanya terseret jauh ke dalam drama keluarga mereka.


Duke Herli menatap Raja Philip dengan tatapan penuh waspada. Sepertinya memang ada sesuatu yang terjadi di antara mereka dan di sembunyikan dengan rapat.


Begitu pula dengan Marchel,ia meraih salah satu tangan Castela dan mendekapnya dengan erat. Kehangatan yang di berikan untuk sesaat mengisyaratkan kepada Castela untuk tidak takut. Karena,ada dirinya yang akan selalu melindungi Castela.


Castela tersenyum ke arah Marcel dan mengucapkan terima kasih. Marcel kembali membalasnya dengan senyuman.


"Mengapa ayah selalu bertindak sesuka hati ayah?! Jika ayah memang sangat menginginkan pernikahan ini, kenapa tidak ayah saja yang menikahi gadis itu?"


Degg,,


Castela tanpa sengaja meremas tangan Marcel membuat Marcel menatapnya. Kata-kata itu,mengapa kata-kata yang keluar dari mulut lelaki itu semakin menyakitkan? Jika saja kata-kata itu keluar dari mulut orang lain, mungkin tubuh Castela tidak akan merespon. Tapi, mengapa kata-kata itu harus keluar dari mulut lelaki yang Pernah Sangat ia cintai?


"Morgan!" Bentak Raja Philip dengan wajah memerah menahan amarah.

__ADS_1


Morgan, memandang Castela dengan senyum merendahkan.


"Sebegitu inginkah kau dengan takhta itu? Kenapa tidak kau jual saja tubuhmu itu ke ayahku? Bukankah dengan begitu kau bisa menjadi Ratu negeri ini dengan mudah? Kau memang sangat cantik,tapi sebenarnya kau menjijikkan. Apakah ayah dan ibumu memang mendidikmu menjadi wanita penggoda?" Morgan menarik sudut bibirnya ke atas. Merasa bangga dengan apa yang ia katakan barusan.


"Maaf yang mulia sepertinya anda salah-"


Plakk!!


Tanpa disadari, Castela sudah berdiri di depan Morgan. Tangannya terlihat sedikit gemetar menahan emosi yang sedari tadi ia pendam. Morgan menatap tidak percaya akan apa yang baru saja terjadi. Semua itu terjadi begitu cepat. Bahkan Kalimat Duke Herli terpotong akan insiden itu.


Morgan memegang pipinya yang terasa panas. Tamparan keras itu memang tidak kuat,tampak dari tangan Castela yang bergetar saat menamparnya. Tapi entah mengapa, bekasnya terasa begitu menyakitkan rasanya.


Mereka semua spontan berdiri saat menyaksikan adegan yang hanya terjadi dalam hitungan detik itu.


"Ah, maafkan saya yang mulia,saya tidak sengaja. Entah mengapa tangan saya rasanya gatal dan ingin menampar anda setelah penyambutan ramah yang anda lakukan." Castela memasang wajah merasa bersalah yang ia buat-buat. Sebelum akhirnya ia memasang wajah datar yang tampak menyeramkan.


"Maaf pa,tapi sepertinya papa tidak perlu meminta maaf. Apakah ini yang di ajarkan oleh orang tuamu pangeran? Memberikan undangan kepada tamu,lalu kemudian menghina mereka. Anda salah pangeran, wanita menjijikkan ini tidak pernah sedikitpun memohon agar dinikahkan denganmu. Seharusnya anda tanyakan sendiri kepada ayah anda, berapa kali saya menolak dengan tegas undangan itu,dan berapa kali pula keluarga kerajaan memohon agar saja menyetujuinya."


"Saya tidak pernah menduga,jika saya dan keluarga saya akan mendapatkan penyambutan seperti ini. Saya tidak masalah anda menghina saya,saya bisa menahan diri saya untuk bersabar. Tapi,jangan pernah sekalipun anda menyentuh keluarga saya. Hinaan anda barusan kepada papa dan mama saya, bahkan tidak bisa di maafkan hanya dengan sebuah tamparan. Saya tidak percaya jika ada pangeran yang memiliki mulut jahat seperti anda. Asal anda tahu,saya lebih memilih menikah dengan seorang petani,dari pada manusia sok suci seperti anda!"


Castela berbalik arah,ia dapat melihat kedua tangan Morgan yang tampak mengepal. Urat-urat kepalanya tampak menonjol seiring amarah begitu kuat yang ia tahan karena di permalukan oleh seorang wanita berusia 16 tahun di hadapannya barusan. Namun Castela tidak mengindahkannya. Ia menatap Raja Philip yang tampak sangat malu akan sikap putranya.


"Anda tidak perlu meminta maaf kepada orang rendahan seperti kami yang mulia. Anda adalah orang yang berkuasa,anda bebas melakukan apa saja karena tidak akan ada seorangpun yang berani menegur bahkan menghukum perlakuan anda. Tapi sangat di sayangkan,jika rakyat sampai mengetahui apa yang terjadi disini. Kira-kira bagaimana kekecewaan yang akan di rasakan oleh rakyat? Mengingat, Duke Herli, orang yang sangat di sayangi oleh masyarakat di hina seperti ini oleh Raja mereka sendiri. Saya rasa,anda harus merenungkannya yang mulia." Ucap Castela.


Ia menghampiri ayah dan kakak lelakinya.


"Maafkan saya karena telah bertindak lancang yang mulia, pangeran. Tapi saya rasa,kami harus segera kembali,banyak pekerjaan yang harus saya lakukan. Salah satunya, menjual diri mungkin." Sambungnya acuh, Seolah menyindir perkataan Morgan tadi.


Raja mengangguk,menyerah,karena saat ini, dirinya benar-benar merasa malu kepada keluarga Duke Herli. Sepertinya, hubungan mereka yang sudah retak,akan sangat sulit untuk kembali di perbaiki.


Duke Herli tersenyum menatap Castela, begitu juga dengan Marcel. Mereka mengikuti Castela keluar dari ruangan itu setelah memberikan hormat. Karel mengantarkan mereka menuju kereta kuda,karena mereka menaiki kereta kuda milik istana sebelumnya.


"Anda benar-benar hebat nona,saya bahkan sampai lupa bernafas saat menyaksikan anda menampar pangeran." Bisik Ema dengan nada tidak percaya.


"Kau seharusnya tidak melakukan itu sayang, bagaimana jika tadi yang mulia marah karena kau mempermalukan anaknya?" Ucap Duke Herli menatap Castela dengan tersenyum khawatir.


"Mungkin kita tidak akan pulang dengan selamat." Jawab Castela asal.

__ADS_1


"Tapi yang tadi itu benar-benar keren pa,apa sebenarnya yang merasuki dirimu Castela? Mengapa kau bisa memiliki keberanian seperti itu? Bahkan aku saja tidak bisa melakukan apa-apa saat keluarga kita dihina." Ucap Marcel masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat tadi.


"Entahlah marchel,aku hanya tidak menyukai lelaki itu,itu saja. Apalagi saat mulut jahatnya itu dengan entengnya menghina papa dan mama,ingin rasanya ku robek saat itu juga. Tapi aku masih waras,jadi aku tidak melakukannya." Ucap Castela.


Duke Herli mengacak pelan ujung kepala Castela.


"Sudahlah masuk ke kereta,kau harus merahasiakan apa yang terjadi di istana hari ini. Jangan biarkan keluarga kerjaan di permalukan." Ucap Duke Herli.


Castela memutar bola matanya malas lalu segera masuk ke dalam kereta kuda. Diikuti oleh Ema di belakangnya.


"Kau tidak perlu mengantarkan kami Karel,kami bisa kembali sendiri." Ucap Duke Herli kepada Karel.


Namun Karel menggeleng, menolak dengan tegas perintah Duke Herli.


"Maaf Duke, tapi ini sudah menjadi tugas saya untuk mengawal keluarga Duke kembali Dengan selamat." Ucapnya sopan.


"Ah, mengapa kau bisa betah bekerja untuk pangeran itu Karel,lebih baik kau berhenti saja,aku akan dengan senang hati menerima mu menjadi ksatria pribadiku. Lagi pula kau cukup tampan,sayang sekali jika lelaki tampan seperti mu harus menghabiskan waktu dengan Lelaki bermulut jahat seperti dia." Ucap Castela dari jendela kereta kuda yang tirainya tersingkap sedikit.


Karel hanya tersenyum menanggapinya. Marcel yang mendengar ucapan adiknya segera datang menghampiri. Ia menutup pintu jendela itu sedikit kasar yang membuat Castela memaki dari dalam karena kaget.


"Hentikan omong kosong mu,apa kau benar-benar ingin menjadi wanita murahan." Ucap Marcel kesal.


"Berisik kau, aku tidak sedang berbicara denganmu bodoh!" Kesal Castela


Karel hanya menanggapinya dengan tersenyum. "Sebenarnya pangeran adalah orang yang baik lady,hanya saja ia masih tidak mengerti dengan tindakannya sendiri. Pangeran punya tidak pernah menyukai orang asing. Tapi pangeran adalah orang yang manja,jika anda berhasil menjinakkannya,mungkin pangeran tidak akan membiarkan Anda hidup tenang." Ucap Karel sambil sedikit tertawa. Yang tidak lagi di tanggapi oleh Castela.


SEYMOUR MORGAN ZAIDEN



MARCHEL ARDELAND



KAREL MARIONE


__ADS_1


photo by : pinterest


__ADS_2