ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)

ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)
Chapter 50 (Flashback)


__ADS_3

...🦋 HAPPY READING 🦋...


Tiga bulan yang lalu, setelah Castela di tangkap oleh panglima Karel.


Abigail memacu kudanya menuju ke tempat Raja Philip berada. Sementara Ema menaiki kereta kuda menuju ke kediaman Marquis Steven.


Jarak yang di tempuh oleh Abigail cukup jauh. Namun hal ini tidak menyurutkan tekad Abigail untuk membantu tuannya. Bagaimana pun juga ia sudah melakukan sumpah darah dengan Castela. Jika Castela hidup,maka ia akan tetap hidup. Dan jika Castela mati,maka Abigail akan mengikuti Castela hingga ke alam baka sana.


Saat di perjalanan, Abigail tidak henti-hentinya untuk waspada. Serangan bisa datang dari mana saja. Entah apa sebenarnya yang mereka incar dari tuannya itu. Sehingga mereka begitu berambisi untuk membunuh tuannya.


Abigail terus memacu kudanya hingga matahari terbenam. Tidak ada kata istirahat sebelum ia menyelesaikan tugasnya. Dua hari sudah ia berkuda tanpa henti


Abigail mulai memasuki kawasan hutan. Dimana, beberapa kilometer lagi akan ada sebuah perbukitan. Dan di balik perbukitan itu adalah sebuah Sabana yang luas. Dan di Sabana itulah tempat Raja Philip dan pasukannya berada.


Abigail terus memacu kudanya. Ia sudah berkuda dua harian penuh. Tanpa sedikitpun beristirahat atau sekedar untuk minum. Abigail terus memasang kewaspadaannya, ketika telinganya menangkap sebuah pergerakan diantara lebatnya pepohonan dan pekatnya malam.


Srakk


Jleb


Abigail menarik tali kekangnya sehingga kuda yang ia naiki berbalik tajam. Sebuah anak panah tertancap di salah satu batang pohon.


Abigail melirik sekitar,dengan kegelapan yang ada, membuat dirinya harus ekstra hati-hati. Salah satu tangannya sudah berada di gagang pedangnya.


Tidak lama kemudian muncul beberapa orang dengan pakaian hitam dan penutup di wajahnya. Dengan gerakan kompak,mereka menyerang Abigail tanpa menyisakan cela sedikitpun.


Orang-orang ini sangat kuat, Abigail bisa menyadari hal itu. Tidak seperti bandit-bandit liar yang biasa ia jumpai,kali ini gerakan mereka seolah sudah terlatih dan penuh perhitungan.


Abigail menarik pedangnya dan mengarahkannya tepat pada satu orang yang hampir menusukkan pedangnya dari belakang Abigail. Lelaki itu menghindar,membuat gerakan Abigail hanya menusuk udara kosong.

__ADS_1


Kemudian ia mengangkat pedangnya sehingga bunyi besi yang saling beradu itu bisa terdengar jelas di telinga. Abigail berhasil menahan pedang yang hampa melukai tubuhnya. Lalu dengan sekuat tenaga ia menghempaskan pedang itu, membuat lelaki itu mundur beberapa langkah ke belakang.


Abigail memperhatikan bagaimana pergerakan mereka. Hanya ada lima orang,namun kekuatan mereka tidak bisa di remehkan. Apalagi Abigail hanya sendirian dengan posisi kehabisan tenaga karena menunggang kuda tanpa henti.


Srakk


Satu sayatan pedang dari salah satu lelaki berbaju hitam itu berhasil menggores dada Abigail. Membuat darah segar merembes dari balik pakaiannya. Abigail melihat luka sayatan itu, untung ia berhasil menghindar sehingga luka itu tidak terlalu dalam.


Abigail lalu mengangkat pedangnya dan menghantam serangan tanpa henti ke sosok yang berhasil melukainya tadi. Meski awalnya sulit,namun pada akhirnya Abigail berhasil menusuk bagian perut lelaki itu. Dan ketika lelaki itu lengah, Abigail langsung melayangkan tendangan yang cukup kuat, sehingga lelaki itu terpelanting ke udara dan berakhir menabrak batang pohon dengan sangat keras.


Suara tulang patah membuat sudut bibir Abigail terangkat. Lelaki itu terkapar dengan perut yang robek. Masih tersisa empat orang lagi. Abigail harus segera menyelesaikan pertarungan ini secepat mungkin. Ia tidak ingin membuang waktu,karena sekarang nyawa tuanya sedang bertaruh dengan waktu.


Keempat lelaki yang tersisa itu tampak tidak senang. Di mata mereka terdapat kilatan amarah. Mereka menyerang Abigail dengan gerakan sedikit tidak terkontrol dan terkesan membabi-buta. Hal itu di manfaatkan oleh Abigail untuk menyerang dua orang yang terlihat sudah tidak bisa mengontrol emosinya.


Crash


Darah mengucur deras saat mata pedang Abigail berhasil menebas leher kedua orang tadi. Mereka langsung terkapar di tanah dengan darah yang masih mengalir bagaikan air terjun.


Abigail benar-benar terlihat berantakan. Darah dimana-mana membasahi wajah hingga tubuhnya. Namun lagi-lagi Abigail teringat dengan Castela. Tidak masalah ia mati,tapi tunggu nanti, setelah ia berhasil menghadap Raja Philip.


Abigail bangkit dari duduknya,tidak peduli tubuhnya yang sudah terasa mati rasa. Dengan tenaga yang tersisa,ia menyerang habis-habisan dua orang yang tersisa itu.


Luka-luka tambahan berhasil di dapatkan Abigail di tubuhnya. Karena perbedaan kekuatan membuat Abigail sedikit lebih lambat. Namun ia terus berusaha, sehingga Beberapa jam telah berlalu, akhirnya Abigail mampu menyelesaikan pertarungan ini.


Abigail mencabut pedangnya dari leher lelaki yang mampu menandingi Abigail sampai akhir. Ia tidak peduli lagi dengan kondisi tubuhnya. Dengan tenaga yang tersisa,ia menaiki kudanya dan memacunya dengan kencang.


Udara malam menusuk kulit Abigail. Seluruh rasa sakitnya ia tahan agar bisa sampai dengan cepat,meski darah di beberapa luka yang ia dapatkan tidak henti-hentinya keluar.


Abigail tahu siapa dalang di balik penyerangan itu. Panglima Karel, bahkan ia tahu jika sejak awal dirinya sudah diikuti. Lelaki itu tidak akan membiarkannya bertemu dengan Raja. Atau seluruh rencananya untuk menyingkirkan tuannya melalui tangan pangeran Morgan akan sia-sia.

__ADS_1


Abigail terus mendaki bukit yang cukup terjal. Kekuatan laju kudanya tidak menurun sedikit pun meski dirinya terluka. Malahan,lebih bertambah cepat saat Abigail melihat tenda-tenda tempat Raja Philip bernaung.


Senyum di bibirnya seketika terbit. Bersama matahari pagi yang mulai menampakkan diri, Abigail menuruni perbukitan dan langsung menuju ke kamp Raja Philip.


Para prajurit yang berjaga langsung menodongkan senjata mereka saat melihat Abigail turun dari kuda. Tanpa basa basi lagi,ia segera menyuruh prajurit itu untuk mengantarkannya kepada Raja Philip.


Namun kewaspadaan yang ada, membuat pertarungan kecil sedikit terjadi. Dengan kekuatan yang masih tersisa, Abigail meletakkan mata pedangnya yang masih bersimbah darah tepat di leher salah satu komandan pasukan milik Raja Philip.


Akhirnya mereka menyerah,dan memberikan instruksi agar tidak lagi menyerang Abigail. Dengan pedang yang masih berada di leher komandan itu,ia membawa Abigail hingga di depan tenda milik Raja Philip.


"YANG MULIA! BIASAKAH ANDA KELUAR? TOLONG HAMBA YANG MULIA!! PERMAISURI SEDANG DALAM BAHAYA! YANG MULIA!"


Abigail bersujud di depan tenda itu sambil memohon belas kasih dari Raja Philip. Raja Philip yang mendengar ada keributan di luar tendanya, segera keluar dengan terburu-buru. Ia mengenal suara itu, itu adalah suara pengawal bayangan milik menantunya.


Jika lelaki itu ada disini, pasti ada sesuatu yang telah terjadi kepada menantunya di istana. Berapa terkejutnya Raja Philip saat melihat kondisi pengawal bayangan milik menantunya itu sudah dalam kondisi yang sangat menggemaskan.


Ia langsung menghampiri Abigail dan memegangi pundak pemuda itu yang sudah hampir terjatuh.


"Apa yang terjadi? Kenapa dengan menantuku?" Tanya Raja Philip dengan raut wajah yang sangat mencerminkan kekhawatiran.


"Ya-yang mulia,to-long se-la-matkan per-maisuri, pangeran ak-an menjatuhi huku-man mati. To-long ya-ng muli-a, segeralah kemba-li,wak-tu kita ti-dak banyak. Sebelum semuan-ya terlam-bat-"


Abigail luruh ke atas tanah. Dirinya telah menyelesaikan tugasnya. Entah apa yang akan terjadi setelah ini, biarlah mereka yang menyelesaikan akhirnya.


Raja Philip berteriak kepada para prajuritnya untuk merawat Abigail. Dan memberikan tempat dengan perlindungan yang ketat. Abigail,akan menjadi salah satu saksi atas kejahatan yang dilakukan oleh mereka.


Tanpa banyak bicara lagi, Raja Philip langsung memerintahkan kepada seluruh prajuritnya untuk bersiap-siap. Hari ini, dirinya akan menyelamatkan nyawa menantunya,sang Dewi yang selama ini di rahasiakan.


"Tunggu ayah Putri ku, ayah akan segera menyelamatkan mu dan membalas mereka." Ucap Raja Philip dengan wajah yang memerah, menahan emosi yang selama ini sudah ia tahan.

__ADS_1


"Kau sangat bodoh Morgan! Aku sendiri yang akan menghajarmu nanti!" geram Raja Philip dengan kedua tangan yang sudah mengepal.


__ADS_2