
...🦋 HAPPY READING 🦋...
"Sial!" Umpat Raja Morgan setelah berhasil menghindar dari serangan tiba-tiba yang dilakukan oleh Louis.
Raja iblis itu tersenyum manis, saat melihat lawannya berhasil menghindari gertakan yang ia berikan.
"Hahaha ayolah,lawan aku Morgan." Ucap iblis tampan itu dengan lembut, dengan kedua sayap yang tetap mengepak indah di udara.
Raja Morgan berdecih,ia mengepalkan tangannya yang menggenggam pedang. Menatap penuh permusuhan sosok yang paling ia benci.
"Sialan kau Louis! Sadarlah! Apa yang saat ini kau lakukan,tidak ada untungnya! kau hanya melakukan hal yang sia-sia." Ucap Raja Morgan
"Memang,semua ini memang tidak ada untungnya untuk kalian. Sementara untukku... Tentu saja ada." Ucap Louis sambil tersenyum lebar.
"Kembalikan istriku sialan!!" Ucap Raja Morgan marah,lalu berlari dan menebaskan pedangnya ke arah iblis Louis.
Raja iblis tampan itu dengan cepat menghindari serangan dengan kepakan sayapnya,lalu kembali turun menyentuh tanah.
"Coba saja,jika kau mampu." Jawab Raja iblis itu sambil menyeringai.
Louis mengangkat kembali pedangnya,lalu pertarungan pun kembali dimulai.
Tidak hanya itu,di tempat yang sama, Duke Marchel juga terlibat pertarungan serius dengan pasukan iblis yang tidak ada habisnya.
Mereka kuat, memiliki dua tanduk kecil di kepalanya. Dengan mata merah Semerah darah, dan ketahanan tubuh yang tidak dapat disepelekan. Dengan lendir berbau anyir saat mereka berhasil dilukai.
Meskipun begitu,Duke Marchel dapat dengan cepat menemukan kelemahan mereka. jantung, adalah inti terpenting dari struktur organ pada tubuh manusia. Dan hal itu juga berlaku bagi kawanan para iblis ini.
Dengan menancapkan benda tajam tepat ke jantung mereka,maka para iblis itu akan mati dengan bau lendir yang teramat amis.
__ADS_1
"Sialan! Mereka banyak sekali." Ucap Abigail kesal. "Dan bau,iuuhh." Sambungnya sambil membersihkan bagian pundaknya yang terkena darah dari iblis-iblis yang berhasil ia lumpuhkan.
"Diam lah bocah! Dan lakukan saja tugasmu!" Ucap Duke Marchel kesal.
Bagaimana tidak? Lelaki itu sejak awal pertarungan,sudah banyak mengeluh. Mulutnya yang berisik itu tidak bisa diam. Terus berbicara dan berkomentar tanpa henti, tidak memikirkan bagaimana kondisi dan situasi mereka. Membuat Duke Marchel benar-benar hampir kehabisan kesabaran.
"Hey,tuan! Lihatlah,lihat aku! Coba katakan Apa yang kau lihat?" Ucap Abigail sambil tetap menebas kepala iblis-iblis di depannya.
Dengan perasaan dongkol dan kesal,ia menatap Duke Marchel dengan kedua tangan di pinggang. Bagaimana tidak? entah sial atau beruntung,ia malah di tempatkan dengan orang-orang menjengkelkan seperti Duke Marchel, Raja Morgan,atau si idiot Marquis Steven.
Hanya dirinya lah yang waras disini. Dan dengan berbicara, adalah salah satu cara agar ia tidak ikut menjadi gila. Apalagi emosinya begitu meluap saat melihat iblis-iblis menyebalkan itu.
"Bocah berisik." Jawab Duke Marchel sambil terus mengayunkan mata pedangnya.
"Hey,tuan! Tolong jaga bicaramu ya! Aku bukan seorang BOCAH! Ah,malang sekali nasibku. Mengapa aku harus terjebak diantara manusia-manusia aneh dan iblis-iblis seperti kalian ini. Hanya aku yang waras disini,aku tidak bisa terus-terusan bersama dengan mereka. Mengapa kau tidak membawaku saja saat ingin pergi lady cas-"
Ucapan Abigail terhenti saat ada sebuah anak panah yang menggores pipinya,lalu menancap sesuatu yang berada di belakangnya. Abigail yang tidak siap, tentu saja terkejut. Tubuhnya langsung terhenti kaku,dengan dua bola mata yang melotot, menatap kesal ke arah pelaku.
"Kau terlalu berisik bocah, perhatikan sekitarmu." Ucap Marquis Steven tersenyum meremehkan dari atas kudanya,lalu pergi dengan busur di tangannya.
"Sialan! Mereka benar-benar menyebalkan." Umpat Abigail kesal,lalu kembali menyerang monster-monster iblis itu. "Aku berharap semoga peperangan ini segera berakhir! Aahh... ladyy... Aku benar-benar merindukan pelukan mu." Ucapnya meracau dengan bibir yang mencebik kesal.
Sementara Duke Marchel,ia hanya menyaksikan perdebatan kedua bocah idiot itu,tanpa sedikitpun ikut berkomentar.
Ia mulai memisahkan diri dari Abigail dan yang lainnya. Saat ini,yang menjadi tujuannya adalah mencari Duke Herli, ayahnya.
Duke Marchel meneliti keadaan sekitar. Sambil terus menebas iblis-iblis yang mengganggunya,ia terus berjalan menjauh. Mencari dimana tempat persembunyian yang digunakan oleh iblis itu sebagai tempat penyekapan ayahnya.
Cukup jauh Duke Marchel berjalan, akhirnya ia menemukan sebuah kastil di dekat pantai. Kastil yang dijaga oleh iblis-iblis yang terlihat berbeda dari iblis-iblis yang ada di peperangan tadi.
__ADS_1
Sepertinya mereka lebih kuat dari iblis-iblis yang tadi. Dengan tubuh lebih besar, dilengkapi sepasang sayap hitam dan tanduk yang lebih tinggi.
Hal ini memperkuat dugaan Duke Marchel,Kalau Duke Herli pasti disembunyikan di kastil ini. Sebuah kastil kosong,tidak mungkin dijaga ketat,jika tidak ada sesuatu yang berharga di dalamnya bukan? Yah, kecuali jika itu adalah sebuah jebakan.
Duke Marchel berjalan mengendap-endap agar tidak ketahuan. Duke Marchel kembali bersembunyi saat seorang penjaga terlihat berjalan ke arahnya.
Lalu kembali berjalan,saat melihat situasi sudah aman. Namun hal itu tidak berlangsung lama,saat lagi-lagi Duke Marchel harus sembunyi ketika ada iblis yang lewat. Dan hal itu berulang hingga beberapa kali, membuat Duke Marchel merasa kesal.
"Sial! Aku tidak bisa seperti ini terus. Mereka terlalu sering berjalan-jalan. Sepertinya aku harus mencari cara." Ucap Duke Marchel sambil kembali memperhatikan keadaan diluar dari tempat persembunyiannya.
Setelah cukup lama meneliti, akhirnya Duke Marchel menemukan sebuah celah. Diantara pintu tembok yang menjulang tinggi ini,ada sebuah celah diantara semak belukar.
Duke Marchel mencoba masuk melalui semak belukar yang dipenuhi oleh tumbuhan berduri itu. Is menebas dengan hati-hati dan tetap mengawasi keadaan sekitar.
Setelah cukup lama berkutat dengan semak belukar tersebut, akhirnya Duke Marchel berhasil masuk. Duke Marchel mengendap disekitar tembok diantara pepohonan. Kemudian, Duke Marchel memutuskan untuk pergi dari arah belakang kastil dan memutar.
Penjagaan tidak terlalu ketat, namun sering. Yah,para penjaga hanya beberapa orang. Namun yang bertugas untuk memutari area ini terlalu banyak. Duke Marchel menahan nafas saat seorang penjaga berhasil bersitatap dengannya.
Dengan gerakan cepat, Duke Marchel langsung menyerang iblis tersebut,lalu menusuknya tepat di jantungnya tanpa menimbulkan keributan sedikitpun.
Duke Marchel dengan mudah menyingkirkan iblis itu, karena iblis itu sama persis seperti iblis yang sebenarnya mereka lawan diluar.
Duke Marchel menyembunyikan mayat iblis tersebut diantara pilar yang di penuhi tumbuhan mawar. Setelah dirasa aman, Duke Marchel segera pergi dari tempat itu dan menuju ke belakang kastil.
Namun, langkah Duke Marchel terhenti saat kedua matanya bersitatap dengan kedua mata yang sangat familiar dan tidak asing baginya.
"Sialan! penghianat!" ucap Duke Marchel dengan kedua tangan mengepal dan mata yang melotot sempurna. Terlihat begitu menyeramkan.
Ribuan pasukan iblis, ternyata sudah berkumpul di belakang kastil,dengan seseorang yang sangat ia kenal memimpin mereka. Mereka, terjebak.
__ADS_1