ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)

ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)
Chapter 65


__ADS_3

...🦋 HAPPY READING 🦋...


Keadaan istana benar-benar sangat kacau. Pagi ini,mereka mendapatkan sebuah kabar yang mengguncang kerajaan SEATHLAND sekaligus.


Raja Philip Zaiden,orang yang sangat mereka cintai baru saja menghembuskan nafas terakhirnya, setelah berjuang selama satu Minggu melawan racun yang ia dapatkan saat kejadian itu.


Tidak tanggung-tanggung, setelah kehilangan Raja terkasih mereka, sebuah kabar baru lagi-lagi mengguncang kerajaan SEATHLAND dengan hadirnya kereta kuda yang mengangkut jasad seorang wanita yang sangat mereka cintai dan idolakan.


Wanita yang seharusnya naik takhta bersama suaminya menjadi seorang ratu setelah perjuangannya selama ini,malah harus berakhir mengikuti jejak sang ayah mertua menuju ke nirwana.


Padahal,baru saja wanita nomor satu di SEATHLAND itu melahirkan dua orang pangeran yang sangat tampan. Namun,karena penculikan dan pembantaian yang terjadi setelah proses bersalin itu, membuat semua kebahagiaan yang menyelimuti SEATHLAND sirna, berubah menjadi duka.


Ribuan manusia menangisi kepergian sang naga dan sang bulan SEATHLAND itu di pintu gerbang istana. Ribuan karangan bunga dan surat-surat bela sungkawa memadati tanah berumput yang luas yang berada di sebelah gerbang istana.


Tangisan pilu menyayat hati,dan langit mendung menemani pemakaman orang-orang penting itu. Wajah Duke Herli tampak pucat bagaikan mayat. Sinar di wajahnya telah redup, pergi mengikuti langkah putrinya menuju ke nirwana.


Jiwanya benar-benar terasa terguncang. Bukan,bukan ini akhir yang ia inginkan. Bukankah seharusnya Putrinya itu bisa hidup panjang? Bukankah Putrinya Castela adalah sebuah simbol keabadian?


Hari ini, benar-benar membuatnya serasa de Javu. Perasaan ini, tidak ia rasakan saat putri sulungnya itu meninggal. Kedua putrinya telah pergi,menyusul istrinya ke nirwana. Apakah mereka bahagia?


'Apakah kau bahagia karena akan segera bertemu dengan mamamu, Castela?'


Marchel meraung-raung di sebelah peti mati milik adiknya. Ia merasa gagal, untuk kesekian Kalinya ia merasa gagal. Tiga wanita yang sangat ia cintai di dalam hidupnya, ketiganya harus pergi satu persatu dari dalam hidupnya.


"El!! Kembalilah!! Jangan tinggalkan kakak!! Kau boleh membenci kakak! Kau boleh mengerjai kakak seperti biasanya,,, kau boleh memarahi Kakak,,, tapi tolong jangan tinggalkan kakak,,," Racau marchel dengan air mata yang tak ada habisnya sedari tadi.


Di belakang peti mati milik Castela, terdapat dua peti mati lagi. Peti mati milik Ema,dan peti mati milik Brian. Mereka berdua gugur dalam tugas melindungi sang putri mahkota.


Abigail terdiam seperti batu. Kondisinya begitu mengenaskan dengan perban-perban di tubuhnya. Ia merasa sangat tidak berguna karena telah gagal melindungi tuannya.

__ADS_1


Kemarin, Abigail hendak melakukan bunuh diri,sebab orang yang menjadi Tuannya, tempat ia mengikat sumpah darah sudah tiada. Sudah seharusnya sebagai seorang hamba,ia harus mengikuti kemana pun tuannya pergi, termasuk ke alam kematian sekali pun.


Namun sebuah tangan menghentikannya. Menarik belati dari tangannya,dan membuangnya ke sembarang arah.


"Meski El telah pergi,bukan berarti ia tidak akan kembali." Ucap suara itu datar tanpa ekspresi.


Abigail menatap Lelaki itu,ia tau, bahkan sangat tahu seberapa dalam perasaan lelaki itu kepada tuannya. Ia sendiri bahkan tau jika perasaan lelaki itu selama ini tidak bertepuk sebelah tangan. Ia tahu,betapa kacaunya hati lelaki di depannya ini saat ini. Namun lelaki itu bersikap kuat,agar tidak ada yang bisa menyerang titik kelemahannya.


"Saya,saya merasa gagal tuan. Saya merasa tidak berguna karena gagal melindungi nona." Ucap Abigail dengan suara parau.


"Kau,tidak gagal kstaria. Kau hebat, bahkan kau tidak ragu mengorbankan nyawamu demi melindungi Castela. Aku, menghargai kematianmu itu."


"Tapi,tapi,aku gagal tuan Marquis. Jika saja aku lebih kuat, mungkin aku bisa mengehentikan kereta itu, mungkin aku bisa menghentikan kuda yang tiba-tiba menggila itu. Mungkin, mungkin aku bisa menyelamatkan nyawa tuan. Andai,andai saja aku,aku lebih kuat." Ucap Abigail terbata-bata dengan air mata yang telah membasahi pipinya.


"Jangan menyalahkan dirimu sendiri kstaria. Tuanmu tidak akan menyukainya. El,akan marah jika melihat kstaria hebatnya tiba-tiba kehilangan kepercayaan dirinya,dan menyalahkan dirinya sendiri untuk apa yang telah terjadi. Kembalilah, jagalah para pangeran dengan baik. El adalah seorang perempuan Yang lahir ke dunia dengan membawa sebuah misi. Dia adalah seorang ACASHA. Meski dia sudah pergi,semua ini belum berakhir ksatria. Aku memiliki sebuah firasat, firasat yang tidak baik. Bersiaplah, untuk datangnya hari itu." Ucap Marquis Steven menepuk pundak Abigail lalu melangkahkan kakinya pergi


"Lalu apa yang sekarang akan kau lakukan tuan? Bukankah cintamu telah pergi?" Tanya Abigail dengan raut wajah bingung.


"Aku akan pergi,ke suatu tempat yang menyimpan banyak kenangan. Menghabiskan waktu ku disana sambil menunggu, menunggu waktu itu tiba." Ucapnya lalu kembali berbalik dan meninggalkan Abigail yang masih menangisi kepergian Castela.


Setelah Marquis Steven pergi dari tempat itu, Abigail memutuskan untuk melihat pemakaman tuannya. Castela di makamkan di pemakaman milik anggota kerajaan. Pemakaman berlangsung dengan khidmat diiringi dengan Isak tangis para Bangsawan,dan juga para rakyat yang mengenal Raja dan Castela.


Sementara Ema dan Brian, keduanya di anggap sebagai ksatria pelindung Castela. Mereka dianugerahi sebuah gelar ksatria dan di makamkan di makam kerajaan khusus ksatria. Dan masing-masing di berikan kompensasi berupa uang dan sebidang tanah kepada keluarga yang di tinggalkan.


Semuanya berjalan lancar, hingga kejadian seseorang membuat mereka semua yang sedang datang untuk menghantarkan kepergian sosok pahlawan mereka terdiam di tempat.


Seorang gadis cantik dengan gaun lusuh dan wajah pucatnya berdiri diantara kerumunan,dan berjalan dengan langkah pelan mendekati Anggota kerajaan yang masih berada di sekitar makam.


Duke Herli menatap tidak percaya, sementara Marchel sudah terduduk di atas tanah. Sementara para bangsawan dan rakyat yang menyaksikan, menutup mulut mereka tidak percaya.

__ADS_1


"*B-bukankah itu lady Camelia? bukankah lady Camelia sudah meninggal?"


"Oh dewa,apa yang sebenarnya terjadi? mengapa Lady Camelia bisa ada disini? bukankah lady Camelia sudah meninggal? bahkan aku sendiri yang melihat petinya di masukkan ke dalam tanah."


"lihat! itu lady Camelia! dia adalah kakaknya lady Castela yang sudah meninggal bukan?"


"Apa Kematiannya di manipulasi? lihatlah Lady Camelia yang sudah meninggal, bagaimana bisa dia ada disini dengan kondisi yang menyedihkan*."


Lady Camelia, berjalan mendekati makam Castela,lalu kemudian terduduk di tanah dengan raut wajah yang sangat pucat dan menyedihkan.


Dia menatap Duke Herli yang tidak bergeming di tempatnya,yang juga menatapnya. Pangeran Morgan yang sebentar lagi akan menggantikan kepemimpinan ayahnya itu menatap Duke Herli dan Lady Camelia bergantian.


"Apa yang sebenarnya terjadi? siapa kau? kenapa kau bisa sangat mirip dengan lady Camelia yang sudah lama meninggal?" tanya pangeran Morgan dengan raut wajah kebingungan.


Lady Camelia menatap pangeran Morgan dengan tatapan yang mengisyaratkan penuh kerinduan.


"Aku,masih hidup pangeran. Aku adalah Camelia Ardeland, Putri pertama Duke Herli,adik dari Marchel Ardeland dan kakak perempuan dari Castela Ardeland. Aku disini,datang, untuk menuntut keadilan. Mohon kepada yang mulia naga SEATHLAND, berikan saya keadilan." ucap Camelia lalu bersujud di atas tanah lembab itu.


"Apa maksudmu? keadilan apa yang kau maksud?" tanya Morgan dengan suara dinginnya saat merasakan sesuatu yang buruk.


Camelia mengangkat kepalanya,lalu menatap lekat manik mata Duke Herli yang tidak terbaca.


"SAYA CAMELIA ARDELAND, MEMINTA KEADILAN UNTUK PELAKU YANG TELAH MERACUNI SAYA HINGGA SAYA HAMPIR MENINGGAL."


Camelia menatap lekat Morgan, "PELAKU YANG TELAH MEMBERIKAN RACUN MEMATIKAN KEPADA SAYA,YANG TIDAK MEMILIKI PENAWAR SAMA SEKALI,DIA ADALAH,," Camelia menunjuk gundukan tanah yang masih basah di sebelahnya. "ADIK SAYA,,, DAN AYAH SAYA SENDIRI "


DEGG


Semuanya menjadi ricuh atas sebuah pengakuan yang baru saja mereka dengar dari mulut seorang wanita yang telah mereka yakini, meninggal Beberapa bulan yang lalu.

__ADS_1


"Berikan saya keadilan, sebagai bukti,jika anda memang pantas menjadi seorang Raja."ucapnya lagi


__ADS_2