
...🦋 HAPPY READING 🦋...
Telah terhitung delapan hari mereka berada di tempat ini. Dan selama delapan hari itu pula, Castela dan yang lainnya telah bekerja sangat keras.
Kini hasil kerja keras mereka sudah sedikit terbayarkan. Rumah-rumah penduduk sudah berdiri kokoh di atas tanah walau hanya terbuat dari kayu-kayu pohon kelapa dan pohon-pohon yang tebal dan keras.
Itu adalah hal pertama yang di rencanakan oleh Castela, yaitu memperbaiki rumah-rumah penduduk. Meski tidak semewah rumah-rumah bangsawan pada umumnya,namun rumah-rumah itu terlihat sangat kokoh.
Setelah rumah itu selesai di bangun, Castela menyuruh para prajurit untuk membagikan bibit-bibit buah-buahan dan sayuran-sayuran. Tidak lupa pula dua ratus ekor domba yang Castela pesan dari kota sebelah juga turut di bagikan.
Setiap dua kepala keluarga mendapatkan satu ekor domba betina dan domba jantan. Nantinya jika domba-domba itu sudah memiliki anak,maka harus di bagi secara merata agar bisa di urus masing-masing.
Bendungan juga sudah di perbaiki,tidak akan ada masalah lagi meskipun nanti ada hujan deras atau cuaca yang tiba-tiba berubah.
"Terima kasih permaisuri,anda benar-benar titisan Dewi yang turun ke dunia ini untuk membantu kami." Ucap Baron Lavis memberi hormat yang diikuti oleh seluruh penduduk setempat.
Mereka terharu akan kebaikan yang dilakukan Castela. Mereka benar-benar bersyukur karena Castela adalah permaisuri kerajaan ini,yang artinya masa depan rakyat akan terjamin.
"Kalian terlalu berlebihan,saya hanya menjalankan tugas saja. Jika kalian benar-benar ingin berterima kasih kepadaku ,maka buatlah kota ini lebih maju ke depannya. Jadi, ketika suatu hari nanti aku kembali ke kota ini,aku tidak menyesal telah menyelamatkan kalian semua." Ucap Castela dengan nada datar,namun ada sedikit senyuman di ujung bibirnya.
Mereka semua mengangguk bahagia.
"Baik permaisuri,yang mulia pangeran,saya dan seluruh penduduk berjanji,akan membuat kota ini bangkit dan pulih seperti dulu. Terima kasih karena pangeran dan permaisuri sudah mau meluangkan waktu untuk budak-budak ini." Ucap Baron Lavis lagi.
Morgan mengangguk,ia tersenyum.
"Kalian tidak perlu berterima kasih, seperti yang di katakan oleh istriku,jangan buat kami menyesal karena telah menyelamatkan kota ini." Ucap Morgan tegas.
Castela lalu menyuruh Ema dan Marquis Steven serta para prajurit untuk membantu rakyat menggarap ladang.
"Jadi,kapan kau ingin pulang?"
__ADS_1
Pertanyaan yang keluar dari mulut Morgan membuat Castela menghentikan langkahnya. Ia menatap hutan-hutan yang luas terbentang tidak jauh dari dirinya berdiri.
"Aku tidak tau, mungkin setelah urusan disini selesai." Ucap Castela mendongak,menatap kagum kawanan burung-burung yang terbang bebas di langit.
"Apa Yang kau lihat?" Tanya Morgan saat menatap wajah cantik Castela yang terus menatap kagum kawanan burung itu.
"Aku melihat burung-burung itu,betapa indahnya jika kau bisa terbang bebas." Jawab Castela tanpa sadar.
Morgan menatap netra hijau zambrud itu. Ada binar kebahagiaan dan kekecewaan disana. Di selimuti sebuah kabut tebal sebagai bentuk pertahanan agar tidak ada yang bisa menembusnya.
"Apa,, kau menyesal menikah denganku?" Entah mengapa pertanyaan itu keluar dari mulut Morgan tanpa ia sadari.
Ia sendiri terdiam, memikirkan mengapa ia bisa menanyakan hal seperti itu. Bukankah dirinya yang telah memaksa gadis itu untuk menikah dengannya sebagai jaminan nyawa keluarganya?
Castela tertawa kecil,tak urung mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Pertanyaan macam apa itu? Apa kau masih perlu jawabannya?" Tanya Castela melirik sekilas Morgan,lalu kembali memfokuskan atensinya ke arah lain.
Untuk apa Lelaki itu menanyakan pertanyaan yang bahkan dirinya sendiri lebih tau jawabannya. Castela berjalan tak tentu arah. Ia hanya melangkah mengikuti kemana kakinya membawanya.
Tidak terasa ia sudah sampai di ujung hutan. Menatap langit sore yang mulai berubah warna menjadi jingga.
Castela terpukau,ia berdiri di sisi pantai, sementara ombak menyapu lembut kedua kakinya. Angin laut membuat rambut nya yang tergerai berterbangan mengikuti arah angin. Sementara gaunnya menari indah ke belakang saat hembusan angin kini menyapu wajah dan pakaiannya.
Hingga tidak sengaja,kedua matanya bersitatap dengan netra hitam milik seseorang yang berdiri tidak jauh dari tempatnya.
Lelaki itu sangat tampan, cahaya jingga dari matahari terbenam tidak sedikit pun mengurangi rasa ketampanannya. Malah membuatnya berkali-kali lipat lebih tampan.
Untuk sesaat Castela terkesima. Jantungnya berdegup sangat kencang. Ada gelanyar aneh yang tiba-tiba bersarang di dadanya. Ia merasa gugup dan mengalihkan pandangannya,namun tak urung kembali menatap sosok itu.
Sosok itu masih diam,masih sama terpakunya dengan kecantikan Castela. Dengan gaun berwarna merah muda,di timpa dengan cahaya jingga di penghujung senja,gadis itu terlihat seperti seorang Dewi yang baru turun dari bumi.
__ADS_1
Seiring hilangnya cahaya jingga itu, keduanya masih sama-sama terdiam. Hingga kegelapan datang, membuat mereka tersadar. Castela lebih dulu meninggalkan tempat itu saat siluet Morgan datang menghampirinya lalu membawa tangan gadis itu dan pergi dari sana.
Gelapnya kondisi saat ini, membuatnya Morgan tidak saling menyadari keberadaan orang lain yang berdiri tidak jauh dari tempat itu.
Dia adalah Louis Vuitton Starone, seorang Raja muda dari kerajaan tetangga,yang merupakan musuh bebuyutan kerajaan SEATHLAND, yaitu Zwitland.
Keberadaannya di tempat ini bukanlah sebuah kesengajaan. Ia hanya sedang melarikan diri dari tugas-tugas istana yang menggunung. Dan tidak sengaja, kakinya membawa dirinya berdiri untuk menatapi matahari yang akan terbenam.
Ketika kakinya menginjak pasir-pasir basah ini,entah mengapa terdapat kenyamanan di setiap sapuan ombak itu. Hingga akhirnya ia terlarut akan kecantikan sinar jingga yang melukis indah Langit kala itu.
Ketika hendak melangkah pergi,kedua Netranya yang hitam tidak sengaja bersitatap dengan Netra Milik seorang gadis di ujung sana. Tampak netra hijau zambrud itu bersinar indah.
Ia mengenakan gaun sederhana berwarna merah muda, hingga ketika sinar senja itu menimpa tubuhnya,ia malah terlihat seperti visual seorang Dewi.
Louis tertegun,ia sudah pergi jauh ke pelosok negeri,namun baru kali ini ia melihat sebuah kecantikan yang tidak manusiawi.
Netra itu juga menatap dirinya dengan tatapan tak kalah kaget. Untuk sesaat keduanya saling diam, bahkan dirinya bingung ingin berkata apa. Ia seolah kehilangan kata-kata. Bahkan selama ini ia dikenal sebagai seorang Raja yang hebat. Apakah pesona wanita memang begitu kuatnya?
Hingga ketika sinar jingga itu lenyap dan di gantikan dengan kegelapan. Louis bisa melihat, siluet seorang pria dengan tubuh yang kekar,membawa gadis itu pergi dari sana. Bahkan,lelaki itu tidak menyadari jika ada orang lain di tempat itu,dan itu adalah dirinya.
"Aku berharap kita bisa bertemu kembali."
Ucap Louis tersenyum manis sambil memegangi dadanya yang tiba-tiba saja terasa berdebar-debar. Entah mengapa ada rasa tidak rela saat melihat siluet wanita itu pergi begitu saja.
Apakah dirinya telah jatuh ke dalam pesona gadis itu? Ah sungguh lucu, bahkan dirinya bisa jatuh cinta hanya karena bersitatap dalam waktu yang tak lama.
Jika memang ini cinta,maka Louis hanya bisa berharap kepada takdir, untuk mempertemukan takdir mereka.
LOUIS VUITTON STARONE
__ADS_1
by: pinterest