ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)

ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)
Chapter 22


__ADS_3

...🦋 HAPPY READING 🦋...


Gadis itu melangkah memasuki aula istana. Mencari sosok yang saat ini sangat ia khawatirkan keadaannya.


Marquis Steven telah menceritakan kebenaran dari ini semua. Tapi ia hanya mengatakan jika keluarga kerajaan memaksa Duke Herli menyetujui pernikahan ini, jika Duke Herli kembali menolak,maka mereka akan melenyapkan Lady Camelia yang berada di rumah.


Castela merasa kasihan kepada ayahnya. Lelaki tua itu sudah seharusnya beristirahat dan menikmati masa tuanya. Namun takdir berkata lain,tidak semua hal berjalan sesuai kehendak manusia.


Castela berlari menghampiri ayahnya yang sedang melamun di ujung ruangan. Ia segera menarik ayahnya untuk keluar dari tempat itu. Sebelum emosinya mengambil alih dirinya.


Mereka tidak perlu berjalan cukup jauh,karena Kereta kuda milik keluarga Ardeland sudah menunggu di depan.


"Sayang, maafkan papa-"


"Tidak perlu di lanjutkan pa,itu bisa kita bahas nanti. Sekarang lebih baik kita kembali ke mansion. Aku sudah terlalu lelah hari ini." Ucap Castela yang sudah memejamkan kedua matanya sambil menyenderkan kepalanya di kursi.


Kereta kuda melaju kembali ke kediaman. Hari ini benar-benar hari yang sangat melelahkan baginya. Marchel sedari tadi hanya diam. Dia tak sedikit pun mau memandang wajah ayahnya.


Entah mengapa,hatinya masih sakit dan kecewa terhadap ayahnya. Meski adiknya sudah menceritakan kebenarannya,namun ia masih belum bisa menerima semua ini. Bukankah mereka sudah berjanji akan melindungi Castela?


Yang di inginkan pihak kerajaan saat ini adalah Castela,bukan Camelia. Namun ia juga tidak bisa membiarkan adiknya yang satu itu berada dalam bahaya. Ah,gadis itu,entah sampai kapan dia akan tertidur disana. Padahal tabib sudah mengatakan jika kondisi tubuhnya sudah membaik. Tapi hingga saat ini,masih belum ada tanda-tanda juga jika dia akan sadar.


Sungguh Marcel sedang dilanda kegundahan saat ini. Dirinya benar-benar di hadapkan oleh dua pilihan yang tidak masuk akal. Memilih Castela dan mengorbankan nyawa Camelia. Atau memilih Camelia dan mengorbankan seluruh hidup Castela bersama monster itu.


Ia sangat menyayangi kedua adiknya itu. Hingga ia benar-benar tidak bisa mengorbankan salah satunya.


Kereta kuda sampai ke kediaman tepat pada tengah malam. Itu semua terjadi karena jarak tempuh istana yang lumayan jauh.


Castela langsung masuk ke dalam kamarnya diikuti oleh Ema. Ia hanya menyuruh Ema untuk tidak mengganggu dirinya karena ia benar-benar sangat lelah.


Setelah membantu Castela berganti pakaian, Castela menyuruh Ema untuk kembali ke kamarnya agar bisa beristri. Castela berdiri di balkon kamarnya. Menatap salju yang turun di langit malam.


Dirinya teringat kembali kepada percakapan terakhirnya bersama Marquis Steven sebelum pergi.


"Kau harus berhati-hati El, terkadang tidak semua musuh bisa kita lihat. Ada musuh yang bersembunyi di balik bayang-bayang. Dan musuh seperti itulah yang paling berbahaya. Dia bisa saja orang yang kau kenal,orang yang mengenalmu,atau orang yang selalu berada di sekeliling mu."


"Apa ada hal yang tidak aku ketahui tapi kau ketahui Steve?" Tanya Castela karena merasa aneh dengan ucapan sahabatnya itu.


"Ada sebuah kebenaran yang suatu hari nanti akan terungkap El,dan aku tidak punya bagian untuk mengungkapkan kebenaran itu. Aku tahu,ada begitu banyak pertanyaan yang saat ini ingin kau tanyakan. Tapi kau harus bersabar El, biarlah waktu yang akan menjawab setiap pertanyaan yang ingin kau ketahui jawabannya." Marquis Steven memandang wajah cantik Castela di antara salju yang jatuh ke bumi


"Tapi percayalah El,aku dan brian punya bagian penting untuk melindungi mu, hingga kau menemukan jawaban itu."


Castela menutup jendela kamarnya. Malam ini terasa semakin dingin. Ia segera naik ke atas ranjang,dan memejamkan kedua matanya.


Dirinya kembali teringat kepada mimpi-mimpi yang sama,yang selalu ia dapatkan di setiap tidurnya semenjak ia pertama kali bangun di dunia ini. Apakah ini semua berhubungan? Lalu,apa arti dari mimpinya itu?

__ADS_1


...🦋🦋🦋...


Hari ini, Castela sudah siap dengan kudanya. Ia akan pergi secara diam-diam untuk bertemu Steven dan Brian di perbatasan SEATHLAND dan Zwitland.


Yah, dirinya sudah memutuskan untuk mempercayai kedua manusia itu. Meski di dalam dirinya masih ada sedikit keraguan.


"Nona,apa anda benar-benar akan pergi? Tidak bisakah mereka saja yang datang kesini?" Untuk ke sekian kalinya Ema selalu menanyakan hal yang sama.


Dirinya benar-benar sangat khawatir. Ia takut jika terjadi sesuatu kepada nonanya. Mengingat kejadian terakhir saat nonanya pergi,ia kembali dengan kondisi yang tidak bisa di bilang baik seperti janjinya di dalam surat.


"Tidak bisa Ema,papa mungkin akan mengizinkan Marquis Steven,tapi dia akan langsung membunuh Brian. Tidakkah kau tahu jika papa sangat membenci Brian setelah kejadian waktu itu?" Jawaban yang sama untuk pertanyaan Ema yang keseksian kalinya.


"Tentu karena itu nona,saya takut jika tuan Brian kembali menyakiti nona. Saya benar-benar sangat takut nona." Ucap Ema dengan air mata yang sudah mengalir.


"Hey,mengapa kau jadi sangat menyebalkan seperti ini? Aku berjanji akan kembali dengan baik-baik saat ini. Kau tidak perlu khawatir,oke? Cukup lakukan tugasmu,jangan biarkan siapapun menggangguku di kamar hingga besok pagi. Maka semuanya akan aman." Ucap Castela menyakinkan pelayannya itu.


Ema akhirnya mengangguk setuju. Bagaimana pun, dirinya tidak bisa membiarkan nonanya tersiksa ketika nanti masuk ke dalam istana dengan status sebagai permaisuri pangeran Morgan.


Castela memacu kudanya melalui jalan setapak yang ia buat untuk melarikan diri waktu itu.


"Huh! Ini semua karena ulah Brian bajingan itu. Andai aja dia gak berbuat mesum kayak gitu,pasti gue gak bakal repot-repot pergi diam-diam kayak gini." Gerutu Castela di sepanjang perjalanannya.


Hiyakk!!


Castela menambah kecepatan laju kudanya agar ia bisa segera sampai di perbatasan. Untung saja jarak perbatasan dengan kotanya saat ini tidak terlalu jauh. Hanya butuh Waktu dua jam dengan kuda.


"Huaahhh, aku bahagia sekali blcak. Ku kira waktu itu kau benar-benar hilang." Ucap Castela tersenyum bahagia sambil sesekali memeluk leher kuda putih itu.


Dua jam akhirnya berlalu, Castela turun dari kudanya saat melihat dua kuda sudah tertambat di salah satu batang pohon. Tidak jauh dari kuda itu,ada sebuah rumah kecil,tapi Sangat bersih. Sepertinya rumah ini rutin di bersihkan.


Castela mengikatkan tali black di salah satu batang pohon. Dan membiarkan kuda itu makan rumput liar. Castela melangkah memasuki rumah itu.


Pandangan pertama yang ia lihat ketika masuk adalah lukisan-lukisan tiga orang anak kecil. Dua orang laki-laki yang mengapit seorang perempuan dengan wajah yang sangat datar.


Castela mengusap salah satu lukisan itu. Ini adalah lukisan Castela asli saat kecil,dan kedua laki-laki ini pastilah Steven dan brian. Ternyata Steven memang tidak berbohong.


Air mata Castela menetes saat menyadari perasaan asing menyelimuti dadanya. Dirinya merasakan sebuah kehangatan di tempat ini. Seperti sebuah kerinduan, dirinya benar-benar merasa memiliki ikatan.


'Apakah ini perasaan Castela asli?'


"Ah,kau sudah sampai?" Tanya Marquis Steven yang baru keluar dari salah satu ruangan.


"Seperti yang kau lihat." Ucap Castela lalu mengalihkan tatapannya dari lukisan itu.


"Bukankah kau sangat cantik? Rumor itu benar-benar sangat di lebih-lebihkan. Ayo ikuti aku,Brian sudah menunggu." Ucap Marquis Steven menggelengkan kepalanya,yang di angguki oleh Castela.

__ADS_1


Mereka masuk ke dalam sebuah kamar. Castela menutup kedua mulutnya dengan tatapan terkejut saat melihat sosok yang saat ini tengah bersandar di kepala ranjang.


Ia tersenyum menatap Castela yang bersedia datang. Meski saat ini, senyumannya benar-benar terlihat mengerikan karena kondisinya.


"A-apa yang terjadi kepadamu?" tanya Castela lalu mendekati Brian yang tampak sangat-sangat kacau. Bibirnya robek dengan lebam membiru. Tangan,kaki,dan kepalanya yang penuh perban. Kedua matanya tampak bengkak dan membiru.


"Pangeran menghajarnya saat si bodoh ini mencoba membawamu pergi. Dia benar-benar sangat bodoh, bisa-bisanya dia menakuti mu dengan beralasan ingin melecehkan. lihatlah,bahkan kondisinya benar-benar menyedihkan." ucap Marquis Steven tertawa.


"Hey, berhenti menertawakan ku! itu semua tidak lucu jika kau mau di ajak bekerja sama saat itu." ucap Brian memasang wajah kesal karena dirinya sangat sulit untuk berbicara.


"Maafkan aku Brian,aku mengira kalau kau orang mesum dan ingin berbuat jahat kepadaku." ucap Castela menyesal.


"Hey, apa-apaan wajahmu itu. Dia memang mesum,jadi tidak usah merasa bersalah. Biarkan saja dia, hitung-hitung ini sebagai pelajaran agar si bodoh ini tidak bertindak gegabah lagi." ucap Steven.


"Oh iya El, serigala oranye di rumahmu,apa itu milikmu?" tanya Steven kemudian.


Castela sedikit terkejut, bagaimana bisa mereka tahu? Namun Castela hanya biasa mengangguk membenarkan.


"Kau tidak perlu terkejut, serigala itu menyelamatkan Brian dan menyerang pangeran Morgan. Untung saja aku bertindak cepat,jika tidak si bodoh ini pasti sudah mati."


"Hey! berhentilah menyebutku dengan sebutan si bodoh! aku punya nama brengsek! dan kau tidak perlu mengatakan hal yang tidak perlu, langsung saja ke intinya!" ucap Brian yang merasa kesal karena Steven sejak tadi menghinanya di depan gadis yang ia sukai sejak dulu.


"Apa sebenarnya yang ingin kalian bicarakan kepadaku?" tanya Castela dengan wajah yang serius.


"Serigala milikmu itu, adalah jenis serigala langka. Aku tidak sengaja mendengar percakapan putri Rosenta dengan pangeran saat pesta ulang tahunmu tadi malam." ucap Steven dengan raut wajah berubah serius.


"Apa yang kau dengar?"


"Wanita iblis itu,menyuruh pangeran Morgan untuk mencuri serigala mu itu. Orang yang berada di balik Rosenta menginginkan kekuatan yang berada di tubuh serigala itu. Dengan meminum darahnya pada sebuah ritual terlarang, maka wanita iblis itu akan memiliki kekuatan yang sangat besar. Dengan begitu dia akan menjatuhkan kerajaan Zwitland hanya dengan sekali serangan."


"Tapi,untuk apa dia melakukan hal itu? apa alasannya?" tanya Castela tidak mengerti.


"Alasannya adalah kau El, seperti yang ku katakan. Berhati-hatilah,musuh mu yang sebenarnya bukanlah wanita iblis itu. Tapi, seseorang yang paling berbahaya yang berada di belakangnya. Dan tujuannya melakukan semua ini hanya satu, yaitu melenyapkanmu dari dunia ini." ucap Brian


"Tapi kenapa harus aku?" tanya Castela lemah.


Dirinya benar-benar lelah dengan semua kejadian yang terus hadir di hidupnya. Seolah tidak mengizinkannya beristirahat hanya untuk sebentar saja.


"Karena kau, adalah ACASHA. Kehadiran mu, benar-benar sangat mengancamnya El." ucap Steven yang membuat Castela menatapnya tajam.


BRIAN CRUSHER



MARQUIS STEVEN GERRARD

__ADS_1



poto by : pinterest


__ADS_2