ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)

ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)
Chapter 54


__ADS_3

...🦋 HAPPY READING 🦋...


Castela saat ini sedang duduk bersantai di taman sambil menikmati teh dari bunga krisan. Wajahnya tampak serius saat mendengarkan Marquis Steven yang sedang berbicara.


"Jadi,maksud anda perempuan itu belum di temukan juga Marquis?" Tanya Castela sambil meletakkan cangkir tehnya tepat di atas piring kecil.


Marquis Steven mengangguk, membenarkan. "Saat ini Brian sedang mencari perempuan itu. Jangan khawatir El, sepertinya dia tidak akan berani bertindak macam-macam untuk sementara ini."


"Bagaimana jika dia berani? Mungkin dulu dia akan bertindak secara diam-diam karena masih dalam pengawasan pangeran Morgan. Tapi tidak menutup kemungkinan setelah apa yang terjadi. Aku sangat tau bagaimana perasaan seorang perempuan karena aku adalah perempuan Marquis. Apa kau akan diam saja saat mengetahui jika kekasihmu mati? Dan orang yang menjadi penyebab kematiannya masih menikmati kehidupan ini?"


Marquis Steven terdiam, dirinya mencerna apa yang di katakan oleh Castela. Semua yang dikatakannya benar-benar masuk akal.


"Kau benar El,lalu apa yang harus kita lakukan?"


Castela diam, pikirannya sibuk menerka-nerka apa yang akan terjadi. "Cepat atau lambat,dia pasti akan keluar. Aku tidak tau kapan pastinya,tapi aku sangat yakin,jika dirinya tidak akan tinggal diam akan kematian kekasihnya."


"Bukankah bulan depan istana akan mengadakan ritual suci untuk menyambut kelahiran pangeran?" Ucap Marquis Steven yang membuat gerakan Castela yang ingin mengambil cangkir tehnya terhenti.


"Jika dirinya ingin melakukan penyerangan, bukankah saat itu adalah waktu yang tepat? Istana pasti akan menjadi sangat sibuk dan pengawasan mereka terhadap mu akan sedikit berkurang. Bukankah itu Waktu yang tepat untuk menyerang mu?" Sambung Marquis Steven yang terdengar sangat masuk akal.

__ADS_1


Castela membatalkan niatnya yang ingin mengambil teh. Untuk sesaat dirinya berfikir,jika ingin membalaskan dendam,maka saat acara itulah Waktu yang tepat. Jika rencana itu berhasil,bukan hanya menghabisi Castela, Rosenta juga pasti menghabisi bayi yang ia kandung.


Kedua tangannya saling meremas satu sama lain saat memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang mungkin saja akan terjadi.


"Bisakah kau membantuku Marquis? Sepertinya kali ini aku akan kembali merepotkan kalian. Bisakah aku meminta bantuan kepadamu untuk mengirimkan beberapa pasukan secara diam-diam untuk menjaga istana? " Tanya Castela dengan raut wajah khawatir.


"Kau tidak perlu mengatakannya El, apapun akan aku lakukan demi keselamatan mu,dan juga calon anakmu. Keselamatan mu adalah hal yang paling penting. Sekalipun pengawasan di istana nanti terhadapmu akan sedikit berkurang,tapi bisa aku pastikan,jika akan ada orang-orang ku yang memiliki kekuatan hebat akan melindungi mu Secara diam-diam." Ucap Marquis Steven tersenyum tulus.


"Terima kasih." Ucap Castela mencoba tersenyum,meski masih dapat dilihat,jika kekhawatiran masih mendominasi di wajahnya.


"Kalau begitu aku akan pergi, untuk pencarian perempuan itu,aku akan meminta orang lain mengurusnya. Aku akan meminta Brian untuk kembali dan menyamar sebagai ksatria mu. Jaga kesehatan mu,tidak perlu terlalu memikirkan hal-hal buruk yang belum tentu terjadi. Kau hanya perlu menjaga kesehatan mu agar anakmu juga bisa lahir dengan sehat nantinya." Ucap Marquis Steven lalu beranjak dari duduknya.


Ia segera mencegah Castela yang ingin beranjak juga. Jujur saja, dirinya merasa agak ngeri melihat Castela dengan perut sebesar itu banyak melakukan aktivitas.


Lalu tiba-tiba ia mendekati Castela dan membungkuk di depan gadis itu. Membuat Castela terkejut.


"Paman pergi dulu ya anak manis,jangan nakal-nakal di dalam sini. Nanti paman akan datang lagi. Titip mama kamu ya jagoan,jangan terlalu merepotkan-nya. Paman tahu jika mamamu selama ini kurang tidur karena dirimu yang terlalu aktif di malam hari. Jadi,kau juga harus bisa mengontrol jam tidur mu anak manis." Bisik Marquis Steven sambil mengusap lembut perut Castela dengan mata yang sudah menggenang.


Castela merasakan kehangatan Ketika tangan kekar itu mengusap lembut perutnya. Ada rasa nyeri di dalam hatinya ketika tidak sengaja mendengarkan ucapan Marquis Steven. Kedua matanya mulai menggenang,namun sebisa mungkin ia tahan dengan menghadapkan kepalanya menatap langit yang cerah.

__ADS_1


Marquis Steven segera mengangkat tangannya saat menyadari jika tindakannya barusan Sangatlah tidak sopan. Namun, bagaimana pun juga, dirinya sudah benar-benar tidak tahan melihat wajah cantik akhir-akhir ini selalu tersenyum,kini kehilangan cahayanya.


Ia segera pergi dari hadapan Castela tanpa mengatakan sepatah kata pun. Setelah menjauh,baru kemudian setetes air bening itu mengalir begitu saja dari salah satu Netranya.


'Seandainya aku lebih cepat, mungkin kau tidak akan dalam bahaya seperti ini El. Maafkan aku,aku terlalu pengecut. Aku terlalu takut menghadapi kenyataan jika saat itu kau menolak ku. Seharusnya aku yang berada di posisi Morgan untuk melindungimu dan anak itu,bukan lelaki itu'


Castela memandangi kepergian Marquis Steven dengan tatapan yang menyimpan beribu pertanyaan. Tindakan Marquis Steven barusan, benar-benar sangat berbeda.


Tatapan itu,meski hanya sekilas,namun Castela bisa merasakan tatapan patah hati disana. Apa sebenarnya yang telah di sembunyikan Marquis Steven darinya? Tidak mungkin kan,jika Marquis Steven menyimpan perasaan untuknya?


"Jangan menyukai ku Marquis,karena aku tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk bisa membalasnya. Meski tidak bisa aku pungkiri,jika aku juga mempunyai perasaan yang sama kepadamu. Jangan membuat ku menyesal,karena telah mengambil keputusan ini. Aku telah mengorbankan perasaan ku,jangan membuat hatiku goyah karena air matamu." Ucap Castela lirih, sambil menghapus air mata yang tiba-tiba menetes di pipinya.


Beruntungnya tidak ada siapa-siapa disini. Jadi tidak akan ada yang menyadari perubahan diantara mereka yang sempat terjadi. Castela menatap langit biru yang cerah. Menyakinkan hatinya sendiri,jika keputusan yang ia ambil adalah keputusan yang terbaik.


Tidak lama kemudian, Ema datang menghampiri Castela untuk menyampaikan jika pangeran Morgan dan Marcel sudah sampai di kediaman dengan madu yang diinginkan oleh Castela.


"Benarkah? Mari bantu aku ke depan Ema." Ucap Castela antusias. Seolah ketegangan yang sempat terjadi tadi tidak pernah terjadi. Padahal, itu semua hanyalah topeng. Bukan untuk mengelabuhi orang lain,namun untuk mengelabuhi dirinya sendiri.


"Ayo nona,anda harus melihatnya sendiri. Pangeran Morgan dan tuan Marcel benar-benar sangat kacau." Ucap Ema sambil menahan tawanya, menuntun Castela untuk kembali masuk ke kediaman.

__ADS_1


"Memangnya apa yang terjadi? Jika aku bisa menebak, mungkin wajah mereka yang tampan itu berubah menjadi bentol-bentol." Ucap Castela tertawa.


"Anda benar nona, pastinya anda akan benar-benar tertawa saat melihatnya sendiri. Bahkan satu kediaman ini tidak kuasa menahan tawa mereka." Ucap Ema antusias


__ADS_2