ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)

ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)
Chapter 55


__ADS_3

...🦋 HAPPY READING 🦋...


Castela berjalan dengan langkah pelan di tuntun oleh Ema. Perutnya yang sudah sangat besar itu membuat dirinya benar-benar merasa kesulitan melakukan aktivitas.


Kehadirannya di halaman rumah tentu saja membuat orang-orang disana mengalihkan atensi mereka ke arah ibu hamil itu. Morgan yang melihat kedatangan istrinya dengan sigap mengambil alih Castela dari Ema dan membantunya duduk di salah satu kursi.


"Kenapa kau berjalan-jalan El? Tidakkah kau lupa jika tubuhmu itu sudah tidak di perbolehkan melakukan aktivitas berat?" Ucap Pangeran Morgan sambil memperbaiki rambut Castela dan menyelipkannya ke belakang telinga.


Castela memutar bola matanya malas,lalu meneliti wajah pangeran Morgan. Setelah itu ia menatap kakaknya yang kondisinya tidak jauh beda dengan suaminya itu.


"Pfft.."


Castela menahan tawa saat menyadari jika kedua manusia itu menatapnya tajam.


"Pfft.. HAHAHAHA kenapa dengan wajah kalian? Aku hanya meminta kalian mengambil madu tapi kalian malah berperang dengan lebah-lebah itu?" Tanya Castela tidak percaya dan semakin tertawa cukup keras, sehingga mampu membuat perutnya besarnya itu terguncang karena tawanya.


"Hey! Hentikan tawamu itu Castela! Oh astaga,aku benar-benar tidak habis pikir. Cukup kali ini kau menyeret ku untuk bekerja sama dengan suamimu itu El,aku tidak mau lagi! Dia benar-benar menyebalkan." Ucap Marcel kesal lalu meraih cangkir berisi minum yang baru saja dituangkan Castela.


"Seharusnya aku yang berkata seperti itu. Jangan mengarang cerita yang menyudutkan ku tuan muda Marcel. Sepertinya aku terlalu baik kepada mu akhir-akhir ini. Lusa kembalilah ke akademi,ada banyak pekerjaan yang telah kau tinggalkan karena aksi kabur-kaburan mu." Ucap Morgan santai sambil mengelus perut Castela tanpa menghiraukan tatapan kesal Marcel.


"Anda tidak bisa seperti itu pangeran!" Protes Marcel tidak terima.


"Aku bisa melakukan apa saja yang aku inginkan tuan muda Marchel,jika kau lupa." Ucap Pangeran Morgan tidak peduli.


Sementara Castela,ia merasa jengah dengan perdebatan kakak dan suaminya itu.

__ADS_1


"Kalian benar-benar membuat telingaku sakit. Cepat berikan pesanan ku,aku sudah tidak sabar! mendengarkan ocehan kalian tidak akan membuatku menjadi tenang!" Ucap Castela dengan tidak sabaran.


Membuat kedua lelaki itu terhenti dari perdebatan mereka. Dan Morgan segera menyerahkan mangkuk berisi potongan madu yang sudah siap untuk dimakan kepada istrinya itu.


Castela tersenyum,kedua netra hijau zambrudnya itu berbinar saat melihat makanan yang sangat ia inginkan itu. Ia lalu mengambil sendok dan mulai menyuapkan sesendok kecil madu ke dalam mulutnya.


Seketika,mulut Castela di penuhi dengan madu yang sudah mencair.


"Ini benar-benar enak,,, dimana kalian mendapatkannya?" Tanya Castela kepada dua lelaki itu.


"Kau tidak perlu tau dimana kami mendapatkannya. Di lihat dari kondisi kami,sudah pasti madu itu tidak mudah untuk di dapatkan." Ucap marchel sambil mengompres wajahnya yang merah-merah dengan es batu.


"Apa kau menyukainya sayang?" Tanya Duke Herli yang sedari tadi hanya menyimak obrolan anak-anaknya itu.


"Hem, Tentu. Apa papa mau?" Tanya Castela semangat yang di angguki oleh Duke Herli.


Terlalu manis, dirinya tidak terlalu menyukainya. Sehingga saat Castela kembali menyuapkan, Duke Herli menolak dengan halus.


"Apa kau tidak ingin membaginya dengan kakakmu dan pangeran? Papa rasa mereka harus mencicipi hasil kerja keras mereka." Ucap Duke Herli tersenyum licik sambil mengusap lembut kepala Putrinya itu.


"Ah,papa benar! Apa kalian mau?" Tanya Castela mengalihkan atensinya kepada dua pemuda yang duduk di hadapannya.


Morgan dan Marcel kompak menggeleng. Itu semua karena Morgan yang tidak menyukai madu sementara marchel yang merasa jijik untuk memakan bekas dari para lebah-lebah menjijikkan itu. Mereka berdua menatap Duke Herli dengan tatapan permusuhan.


Menolak Castela dengan menjadikan mereka berdua sebagai umpan? sungguh benar-benar licik orang tua itu. Namun untung saja Castela tidak memaksa mereka seperti sebelum-sebelumnya. Membuat mereka bernafas lega.

__ADS_1


"Yasudah kalau tidak mau." Ucap Castela lalu mengambil roti dan mengoleskannya ke madu itu,lalu memakannya dengan lahap.


Membuat ketiga lelaki itu bergidik ngeri melihat nafsu makan Castela yang terlihat lebih banyak dari biasanya. Bahkan dirinya mampu menghabiskan sepiring roti tawar dengan madu yang isinya cukup banyak untuk satu porsi.


Setelah selesai, Morgan segera membawa Castela untuk masuk ke dalam kamar mereka karena hari yang sudah hampir malam. Morgan mengambilkan satu gaun tidur dengan potongan selutut berwarna putih yang tidak terlalu tebal. Beserta dengan pakaian dalam milik Castela dari dalam lemari.


Memang, semenjak hamil besar,Morgan lah yang akan selalu membantu Castela untuk mandi,jika dirinya tidak benar-benar sangat sibuk. Itu semua ia lakukan karena tidak ingin pelayan-pelayannya gagal dalam menjaga Castela. Dimana, Castela tidak pernah ingin dibantu oleh pelayannya Ketika mandi.


Morgan menuntun Castela pelan-pelan memasuki kamar mandi. Lalu membantu perempuan itu untuk menanggalkan gaun yang melekat di tubuhnya hingga tanpa sehelai benang pun.


Setelah itu, Morgan menggendong Castela dan meletakkannya di dalam bathtub. Dengan telaten lelaki itu menggosok punggung Castela dengan sabun mandi beraroma strawberry yang sangat ia sukai.


Tidak membutuhkan waktu lama untuk membantu Castela mandi. Karena ibu hamil itu tidak di perbolehkan untuk berlama-lama di dalam air. Karena akan mempengaruhi kondisi bayinya.


Setelah selesai berpakaian, Castela langsung naik ke atas ranjang dan langsung tertidur. Membuat Morgan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan istrinya yang akan langsung tertidur ketika bertemu bantal.


Ia lalu menarik selimut dan menutupi tubuh Castela dengan selimut hingga ke dagu. Lalu kemudian, lelaki itu berdiri di luar balkon kamar sambil mengamati bintang di langit.


Begitu banyak pikiran yang berkecamuk di dalam otaknya. Mengenai hubungan dirinya dan Castela yang sudah mulai membaik. Dan rahasia di masa lalu yang sebaiknya tidak boleh terbongkar.


Morgan menghembuskan nafasnya kasar. Ia menyakinkan dirinya sendiri jika rahasia-rahasia itu tidak akan terbongkar dan sampai ke telinga istrinya. Bagaimana pun juga,orang yang mengetahui tentang kebenarannya telah ia lenyapkan.


"Camelia,kau terlalu naif. Aku tidak mungkin berada di posisi sedilema ini jika bukan karena kau. Ku harap,kau menikmati pesta penyambutan dari malaikat maut mu di neraka sana." Ucapnya pelan.


"Kini,tinggal hama-hama itu yang harus aku singkirkan. Steven Gerrard dan Brian crusher, tunggu giliran kalian." Ucap pangeran Morgan dengan seringaian di bibirnya.

__ADS_1


Setelah mengucapkan itu,ia lalu masuk ke dalam kamar,dan menutup pintu balkon. Ia mematikan lilin di kamar dan segera naik ke atas ranjang. Menyusul istri kecilnya yang sudah larut ke alam mimpi. Ia memeluk Castela dari belakang dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Castela.


"Aku tidak akan melepaskan mu lagi, Castela." Ucapnya pelan yang hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri. Lalu kemudian ikut memejamkan kedua matanya, menyusul Castela ke alam mimpi.


__ADS_2