ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)

ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)
Chapter 78


__ADS_3

...🦋 HAPPY READING 🦋...


Marquis Steven menatap Duke Marchel yang wajahnya sudah pucat pasi.


"Kau, mengetahuinya Duke? Dan menyembunyikannya selama ini dariku,meski kau sendiri tau betapa gilanya aku saat itu?" Tanya Marquis Steven tertawa,dengan tatapan mengisyaratkan penuh kekecewaan.


Duke Marchel menutup kedua matanya sejenak, kemudian kembali duduk di kursinya.


"Aku punya alasan tersendiri mengapa aku menyembunyikannya selama ini, Marquis." Ucap Duke Marchel


"Lalu,lalu apa alasannya Duke? Bisakah kau katakan apa alasannya hingga sanggup menyembunyikan semua ini,dan bertingkah seolah-olah kau memang tidak mengetahui apapun." Ucap Marquis Steven menuntut penjelasan.


Duke Marchel terlihat menarik nafas sejenak,ia menopang kepalanya dengan salah satu tangannya. Sementara tangannya yang bebas,memijat keningnya yang mendenyut.


"Karena keselamatan Castela terancam. Lagipula itu hanya sebuah ramalan. Dan ku pikir, alangkah lebih baiknya jika kami merahasiakan semua ini, bahkan Castela sendiri sudah setuju. Apa kau tahu Marquis, penghianatan bisa datang dari siapa saja. Bukankah penghianatan putri Rosenta dengan panglima Karel sudah membuktikan,jika tidak ada satupun yang bisa di percaya?" Jelas Duke Marcel menatap Marquis Steven yang menatapnya dengan tatapan tidak percaya.


"Jadi... Apakah setelah semua yang ku lakukan selama ini,masih belum cukup membuktikan jika aku benar-benar tulus mencintai Castela Duke?" Tanya Marquis Steven lemah.


Duke Marchel tidak menjawab pertanyaan itu. Ia kembali menutup kedua matanya,dengan jari-jarinya yang masih setia memijit keningnya yang pusing.


Apakah Waktunya sudah akan tiba? Apakah pada akhirnya tetap akan terjadi sesuai yang di gariskan oleh takdir? Begitulah batinnya bertanya.


"Emm... Paman,apa yang sebenarnya sedang kalian perdebatkan? Siapa mama sebenarnya? Mengapa wajah kalian begitu kaku, ketika membahas tentang bulan." Tanya pangeran Aidan yang sedari tadi hanya diam menyimak pembicaraan mereka.


Bahkan Abigail Sendiri juga penasaran. Ia mengutuk setengah mati dua pejabat kerajaan itu, yang sejak tadi terus beradu mulut. Namun tidak sedikitpun yang bisa ia jadikan informasi.


Jujur,ia benar-benar sangat penasaran. Ia sudah banyak mendengar tentang masa lalu tuannya itu. Tapi,ia tidak pernah mendengar tentang bulan, dengan dua naga di sisinya.

__ADS_1


"Lihat Duke,kau sudah terlanjur membahasnya di depan mereka. Biarkan mereka tahu, sebelum semuanya terlambat. Jangan sampai,mereka kembali menjadi korban yang tersesat arah. Sama seperti diriku dulu, karena itu benar-benar menyakitkan." Ucap Marquis Steven datar.


Duke Marchel membuka kedua matanya,lalu menatap Erik yang menundukkan wajahnya. Merasa sedang di tatap,Erik mengangkat wajahnya hingga tatapan mereka saling bertemu. Duke Marchel mengangguk, membuat Erik juga ikut menganggukkan kepalanya.


"Izinkan saya yang akan menceritakannya tuan Marquis, pangeran." Ucap Erik dengan salah satu tangan menempel di dada.


"Baiklah, ceritakan." Ucap Marquis Steven tidak sabaran.


"Sebenarnya, saat berkunjung ke kota tempat saya tinggal. Kakek Bili,orang yang kami hormati disana, sempat meramal Permaisuri Castela. Kakek meramalnya melalui telapak tangan milik permaisuri. Dan yang di temukan di masa depan permaisuri, benar-benar membuat kami semua terkejut. Meski saat itu saya tertidur,tapi saya terbangun karena suara mereka yang sangat berisik. Hal itu terlalu besar,dan sangat berbahaya, sehingga harus di sembunyikan demi menjaga keselamatan permaisuri." Erik menundukkan kepalanya,ia melirik Duke Marcel dengan ekor matanya.


"Dua bulan, diantara dua naga di atas lautan darah. Bulan tersebut adalah permaisuri,dan kedua naga itu,jika saya tidak salah menebak,dia adalah SEATHLAND dan Zwitland. Sementara laut darah yang di maksud adalah laut mati. Laut pemisah diantara kedua kerjaan ini yang pada akhirnya,akan menjadi sebuah lautan darah. Jadi, dapat di tarik kesimpulan,jika semua itu tertuju pada satu hal, yaitu-"


"Perang."


Ucapan Erik terhenti saat seseorang memotong Kalimatnya. Sontak mereka melihat ke sumber suara. Dan betapa terkejutnya mereka,saat orang yang mereka jumpai, yang sedang berdiri tidak jauh dari mereka, dengan tatapan yang sulit diartikan, adalah Raja Morgan.


"Yang mulia/papa"


Raja Morgan tersenyum,namun terlihat jelas jika itu semua hanyalah sebuah topeng. Ia lalu berjalan dan duduk di salah satu kursi yang kosong.


"Aku sebenarnya juga merasa kecewa denganmu Duke. Tidak seharusnya kau menyembunyikan hal sebesar ini dariku. Namun aku juga tidak bisa menyalahkan mu,karena alasan yang kau berikan memang tepat. Siapapun tidak bisa di percayai, termasuk diri kita sendiri." Ucap Raja Morgan.


Duke Marchel tidak merespon perkataan Raja Morgan. Ia hanya diam memperhatikan adik iparnya itu, dengan tatapan yang sama, sulit di artikan.


"Aku sudah tahu, siapa orang berbahaya yang harus di waspadai di dalam ramalan itu." Ucapnya kemudian.


"Benarkah, siapa yang mulia?" Tanya Marquis Steven.

__ADS_1


Raja Morgan tidak menjawab,ia hanya memberikan sebuah kode isyarat,yang langsung di tanggapi dengan kedua mata yang melotot,karena terkejut.


"Sial! Lagi-lagi dia." Desis Marquis Steven.


"Lalu,apa kalian sudah tahu kapan perang dari ramalan itu terjadi?" Tanya Marquis Steven, menatap mereka satu persatu.


Erik mengangkat kepala,dengan ragu ia menatap ke arah Duke Marcel seolah meminta sebuah perseroan.


Jujur saja,Duke Marchel juga belum mengetahui informasi mengenai kapan perang itu akan terjadi. Belakangan ini,ia ingin sekali mengunjungi kakek tua itu. Namun ada saja masalah di wilayahnya yang membuatnya batal melakukan perjalanan itu. Dan harus menundanya demi menyelesaikan masalah-masalah kecil yang bisa saja suatu hari nanti akan menjadi masalah besar.


Dan untuk bocah itu sendiri, Duke Marcel memberikan izin libur seminggu yang lalu,karena bocah itu sudah lima tahun tidak kembali. Sebuah kebetulan,karena Duke Marcel juga penasaran, berita penting apa yang kali ini akan ia sampaikan.


"Katakanlah apa yang kau ketahui." Ucap Duke Marchel.


Remaja bersurai merah itu mengangguk,ia lalu menatap mereka dengan tatapan yakin.


"Kemarin,saat saya pulang ke kampung halaman. Saya menemui kakek Bili. Kakek tua itu terlihat sangat khawatir,ia bahkan jatuh sakit. Kakek bili mengatakan jika ia baru mendapatkan sebuah penglihatan,satu bulan yang lalu." Ucap Erik.


"Penglihatan? Apa itu berkaitan dengan Castela?" Tanya Marquis Steven tidak memperdulikan meski ada Raja Morgan yang Memandangnya tidak suka saat Marquis Steven menyebutkan nama istrinya tanpa embel-embel.


Erik mengangguk, "Saat matahari,bulan,dan bumi berada di sebuah lintasan yang sama. Saat sebuah kegelapan merampas cahaya matahari. Disana, sebuah cahaya putih datang dari langit dengan pedang dan serigala terakhir yang menjadi tunggangannya. Dan pertumpahan darah pun tidak lagi terelakkan. Di sanalah, kegelapan sirna bersama sisa-sisa cahaya yang berguguran menyatu dengan matahari yang kembali bersinar. Pada akhirnya, dewi akan hadir untuk menyempurnakan tugasnya." Ucap Erik dengan kening mengkerut.


"Itulah yang di katakan oleh kakek Bili, sebelum akhirnya pergi, berpulang kembali ke nirwana." sambung Erik pelan.


Duke Marchel mengangkat wajahnya, menatap Erik dengan tatapan terkejut.


"Kakek tua itu,sudah pergi?" tanya Duke Marcel menatap tidak percaya,yang di balas anggukan oleh pemuda bersurai merah itu.

__ADS_1


__ADS_2