
...🦋 HAPPY READING 🦋...
Tiga hari telah berlalu, tadi malam salju pertama telah turun memenuhi dataran SEATHLAND. Castela duduk di depan sebuah cermin.
Pantulan dirinya benar-benar terlihat sangat cantik. Saat ini usianya telah genap tujuh belas tahun. Yang artinya jiwa yang mengisi kekosongan tubuh ini sudah berusia dua puluh satu tahun.
"Anda benar-benar sangat cantik nona, seperti seorang Dewi." Ucap Ema antusias
"Terima kasih Ema." Balas Castela tersenyum membenarkan ucapan Ema.
Cantik, Castela benar-benar terlihat sangat cantik malam ini. Sudah tiga jam dirinya berdiam diri dengan para pelayannya yang sibuk meriasnya hingga menjadikan dirinya yang memang sudah cantik tampak lebih bersinar.
Gaun berwarna biru langit tanpa lengan dengan bagian dada sedikit rendah. Bagian bawah gaun yang sedikit mengembang agar memudahkannya berjalan,namun tidak menutupi keindahan lekuk tubuhnya yang nyaris sempurna, dengan taburan batu Ruby di bagian dadanya. Sarung tangan yang menutupi kulitnya yang seputih salju hingga ke siku. Lalu sebuah jubah yang terbuat dari bulu beruang berwarna putih yang begitu halus,dan lembut yang panjangnya hingga menyentuh lantai menutupi pundaknya yang terbuka. Sangat indah saat di sandingkan dengan gaun yang saat ini ia pakai.
Rambutnya di kepang lalu di gulung ke atas lalu di lengkapi dengan hiasan kepala yang terbuat dari berlian yang di bentuk menyerupai bunga. Lalu di tata sedemikian rupa sehingga penampilannya benar-benar tampak seperti seorang Dewi.
Castela terdiam saat melihat pantulannya di cermin. Dirinya tidak menyangka,jika sosok di cermin itu adalah dirinya sendiri. Yah,meski dirinya hanya menumpang.
Ema berjalan mendekati Castela,lalu membawa nonanya itu keluar untuk bergabung bersama Duke Herli dan juga Marcel.
"Astaga,kau benar-benar sangat cantik sayang,papa jadi tidak ingin membawamu ke pesta itu." Ucap Duke Herli dengan senyuman yang menyembunyikan sebuah kekhawatiran.
Castela tertawa,ia meraih tangan Duke Herli dan juga Marcel,lalu mengaitkannya di antar keduanya.
"Kita akan di penggal jika tidak datang pa, lagi pula,aku adalah bintangnya. Setidaknya,kita harus berterima kasih bukan? Kakek tua itu telah merepotkan dirinya untuk sebuah pesta yang tidak ada kaitannya dengannya." Ucap Castela sambil tertawa, mencoba menutupi rasa kesalnya kepada lelaki tua itu.
Duke Herli tersenyum miris,andai saja Putrinya tahu jika acara itu bukan hanya sekedar acara biasa. Putrinya pasti akan benar-benar membencinya.
Duke Herli terlihat tampan dengan kemeja putih dan sebuah rompi berwarna senada dengan gaun yang di pakai Castela,di sempurnakan dengan jas senada. Lalu Marcel,ia tampak terlihat gagah dengan pakaian yang senada dengan mereka.
Mereka bertiga naik ke kereta kuda yang cukup mewah dengan lambang Ardeland di depannya. Cukup lama mereka melakukan perjalanan, akhirnya mereka tiba di istana.
Tempat pesta terjadi di aula istana. Biasanya tempat itu hanya di gunakan untuk acara-acara penting kerajaan saja. Namun,satu hal yang Castela tidak ketahui. Jika ulang tahunnya kali ini, benar-benar menjadi ulang tahun yang sangat ia benci. Sebuah kejutan,tengah menantinya di dalam.
Pintu aula terbuka lebar,pengawal yang berjaga mengumumkan kehadiran mereka.
"DUKE HERLI ARDELAND MEMASUKI AULA! TUAN MARCHEL ARDELAND MEMASUKI AULA! LADY CASTELA ARDELAND MEMASUKI AULA!"
__ADS_1
Suasana yang tadinya ramai mendadak senyap saat ketiga Manusia berparas dewa Dewi itu memasuki aula istana. Dengan langkah yang anggun Castela berjalan dengan menggandeng tangan Duke Herli. Sementara Marcel berada di sebelah mereka.
Castela memberikan hormat kepada para tamu undangan dengan sedikit tersenyum. Para tamu undangan yang terdiri dari semua bangsawan di seluruh SEATHLAND ikut membalas salam Castela dan terpukau dengan senyumannya yang meneduhkan.
Tidak lama dari itu, pengumuman mengenai kehadiran yang mulia Raja, pangeran mahkota dan juga istrinya menggema diiringi pintu yang terbuka lebar.
"YANG MULIA RAJA PHILIP ZAIDEN MEMASUKI RUANGAN! YANG MULIA PANGERAN MAHKOTA SEYMOUR MORGAN ZAIDEN MEMASUKI RUANGAN! PUTRI ROSENTA ZAIDEN MEMASUKI RUANGAN!"
Semua orang membungkuk memberi hormat saat ketika ketiga orang itu memasuki aula. Begitu pula dengan Castela,ia membungkuk memberikan hormat sebelum sebuah siluet wajah seseorang membuatnya membeku.
"Vera?" Lirihnya pelan sambil tetap mengikuti pandangan matanya kepada seorang wanita bergaun merah itu yang mulai berjalan melewatinya dengan langkah yang sangat anggun. Tangannya menggandeng tangan pangeran Morgan yang terlihat lebih tampan hari ini. Tidak ada senyum di bibirnya,sama seperti biasanya.
Seolah de Javu, lagi-lagi perasaannya di masa lalu kembali menyeruak memenuhi hatinya. Kembali terulang ingatannya di kehidupannya yang lalu di mana gadis yang bernama Vera itu kedapatan selingkuh dengan pacarnya sendiri,Devan.
Castela meremas gaunnya, matanya saat ini sudah menggenang. Sekuat mungkin ia menahan air matanya agar tidak keluar. Berhasil, air mata itu sudah hilang entah kemana.
Dendam di masa lalu, perlahan-lahan kembali. Apakah dunia memang begitu kejam kepadanya? Dosa apa yang ia perbuat hingga kembali di pertemukan dengan dua manusia yang benar-benar sanagt ia benci dan ingin ia hindari.
Castela menatap Vera begitu semuanya kembali seperti semula. Netra berwarna hijau zambrud itu beradu dengan netra hitam Milik gadis yang menyerupai vera.
Mengasihani garis hidupnya yang benar-benar sudah di permainkan sekarang. Tidak lagi ada senyum di bibirnya,ia sungguh benci, seharusnya dirinya bisa hidup tenang di dunia ini tanpa kehadiran dua pengganggu itu. Tapi, lagi-lagi takdir berkata lain, sepertinya hidupnya tidak akan aman sekarang.
Sekarang ia tahu, bagaimana perwujudan iblis yang sesungguhnya. Rosenta tersenyum ke arah Castela. Senyuman yang manis jika di lihat orang lain. Tapi memiliki arti yang berbeda untuk Castela. Seperti sebuah peringatan,jika permainan baru akan di mulai.
Raja membuka acara ulang tahun Castela dengan menyampaikan sebuah pidato singkat. Banyak lady lady dari putri-putri ternama mendekati Castela di sepanjang acara berlangsung.
Castela benar-benar muak berada disini. Jika bukan karena nama baik keluarganya, mungkin sedari tadi dirinya sudah melarikan diri dari tempat ini. Apalagi acara Potong kuenya sudah Selesai. Itu artinya puncak acara ini sudah di lakukan.
Castela memakan kue-kue yang terlihat menggugah seleranya. Tampak malu,dia terus berjalan untuk mengisi kebosanannya. Saat ini pesta dansa sedang berlangsung,tampak di tengah-tengah sana pasangan sejoli yang menjadi pusat perhatian terlihat sangat romantis.
Sampai-sampai Castela mau muntah melihatnya. Sebuah suara yang tertangkap Indra pendengarannya menyadarkannya dari acara makan-makannya.
"Selamat ulang tahun lady,anda benar-benar tidak seperti yang di rumorkan." Ucap suara laki-laki yang terdengar sangat asing.
Castela membalikkan badannya,lalu ia melihat siluet seorang pria tampan dengan rambut berwarna merah sedang tersenyum di depannya.
"Ah, terima kasih atas ucapannya. Memang rumor seperti apa yang anda dengar?" Tanya Castela menatap datar lelaki itu.
__ADS_1
"Sebelumnya perkenalkan lady,saya Marquis Steven Gerrard." Ucap lelaki yang ternyata bernama Steven itu.
Castela hanya mengangguk, "Saya Castela Ardeland, putri bungsu Duke Herli. Sekarang katakan,rumor seperti apa yang kau dengar?" Tanya Castela lagi tidak sabaran. Walau sebenarnya dirinya memang sudah tahu rumor seperti apa yang selama ini beredar di masyarakat tentang dirinya.
Steven tersenyum,senyuman yang menurut Castela sangat tampan. Namun Castela segera mengenyahkan pikirannya itu.
"Anda di rumorkan sebagai gadis yang buruk rupa, penakut,dan juga lemah. Sehingga Duke Herli malu mempunyai putri seperti anda.Tapi sepertinya itu semua tidak benar. Lihatlah wanita yang saat ini berada di hadapan saya,anda bahkan lebih cantik dari seorang Dewi."
Castela sedikit mengangkat bibirnya hingga membentuk sebuah lengkungan tipis.
"Anda terlalu memuji Marquis, sayangnya saya sudah muak dengan pujian seperti itu, permisi." Ucap Castela datar lalu pergi dari tempat itu. Meninggalkan Marquis Steven yang memandangnya dengan tatapan, Sulit di artikan.
"Baiklah semuanya, terima kasih karena sudah memenuhi undangan saya untuk merayakan ulang tahun putri Duke Herli yang sudah saya anggap seperti putri saya sendiri. Sebenernya,acara puncak dari acara ini adalah,malam ini saya akan melaksanakan pertunangan putra saya pangeran Morgan dengan putri bungsu Duke Herli,lady Castela yang telah kami sepakati bersama. Sesuai kesepakatan bersama,dua Minggu lagi akan di adakan pernikahan untuk mereka berdua." Ucap Raja Philip dengan senyuman bahagia.
Sementara Castela,dia terdiam setelah otaknya yang tidak seberapa itu berhasil mencerna ucapan Raja barusan. Ia menatap Duke Herli dengan tatapan seorang mengatakan 'kenapa papa melakukan ini semua?'
Duke Herli memalingkan mukanya, menghindari tatapan putrinya yang mengisyaratkan sebuah kekecewaan. Sementara Marcel,dia dengan terang-terangan pergi dari tempat itu. Ia benar-benar kecewa, tentang keputusan sepihak yang di lakukan oleh Duke Herli. Bukankah Duke Herli tahu jika adiknya sangat membenci bajingan itu?
Dan disana, seorang laki-laki tampak tersenyum bangga. Seolah puas dengan apa yang terjadi. Ia menatap Castela yang terlihat rapuh dengan tatapan seolah mengatakan 'Apa yang ku inginkan,akan selalu aku dapatkan,bukan?'
Dengan kekecewaan yang mendalam, Castela berlari pergi meninggalkan aula kerajaan. Ia berlari dengan air mata yang sudah tidak dapat ia bendung.
Dan di sisi lain, Duke Herli juga pergi menjauh dari keramaian. Ia bersandar pada dinding istana di sebuah lorong yang gelap. Tangannya memegangi dadanya yang terasa mendenyut. Lalu ia terbatuk,darah keluar dari mulutnya. Namun dengan cepat Duke Herli menghapus darah itu.
"Saya benar-benar terharu Duke. Begitu sayangnya kah anda dengan putri anda? Sampai-sampai,anda menggagalkan rencana saya untuk menyingkirkannya yang tidak berguna itu?"
Seorang wanita bergaun merah keluar dari lorong yang gelap. Berjalan perlahan mendekati Duke Herli yang sedang menahan sakit di dadanya.
"Anda tidak boleh mati Duke, setidaknya itulah perintah yang saya terima. Saya hanya akan menyingkirkan putri kecilmu itu, setelah itu saya bisa bebas seperti dulu." Ucapnya lagi lalu memasukkan penawar racun ke mulut Duke Herli.
Kini wajah itu telah tampak akibat sinar bulan yang sedikit menyorotnya.
"Kau,siapa yang menyuruh melakukan ini semua? Apakah Raja? Atau pangeran?" Tanya Duke Herli dengan tangan mengepal.
Wanita itu menggeleng, "Sayangnya anda salah Duke. Biar saya beri tahu siapa yang melakukannya."
Wanita itu mendekati Duke Herli. Lalu membisikkan sesuatu ke telinganya,yang berhasil membuat tubuh Duke Herli menegang dan luruh ke lantai.
__ADS_1