ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)

ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)
Chapter 30


__ADS_3

...🦋 HAPPY READING 🦋...


Pangeran Morgan baru bangun saat cahaya matahari mulai memasuki jendela kamarnya yang sudah di buka.


Pemandangan pertama yang ia lihat adalah istrinya, Putri Rosenta yang sedang duduk di depan cermin berukuran besar.


"Sudah bangun? Apa ada yang sakit?"


Pangeran Morgan memegang kepalanya yang sedikit pusing. Entah mengapa dirinya benar-benar tidak mengingat apa yang terjadi tadi malam.


Dirinya hanya mengingat jika tadi malam Rosenta datang berkunjung seperti janjinya,dan dirinya meminum teh yang di sajikan Rosenta. Namun setelahnya dirinya tidak bisa mengingat apa-apa, benar-benar aneh.


"Apa yang terjadi denganku? Kenapa kepalaku terasa pusing?" Tanya pangeran Morgan sambil menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang.


"Tadi malam saat aku berkunjung, tiba-tiba kau pingsan yang mulia. Dokter sudah datang untuk memeriksa, katanya kau hanya perlu beristirahat untuk beberapa hari. Mungkin karena kelelahan akibat perjalanan jauh,jadi kesehatanmu menurun." Ucap Rosenta lalu duduk di tepi ranjang.


Menyerahkan segelas teh kepada pangeran Morgan.


"Apa kau yang menjagaku semalam?"


Rosenta tersenyum dan mengangguk. Tangannya meraih gelas yang diberikan oleh pangeran Morgan.


"Terima kasih,maaf merepotkanmu."


"Kau tidak perlu berterima kasih yang mulia. Sudah menjadi tugas seorang istri untuk menjaga suaminya."


Pangeran Morgan tersenyum mendengar penuturan dari wanita di hadapannya ini. Namun,entah mengapa hatinya masih merasa gelisah, Seolah ada sesuatu yang kurang dan terlupakan.


"Oh iya,apa permaisuri Castela tidak datang menjenguk tadi malam?"


Rosenta tersenyum dengan perasaan bersalah,lalu menggeleng. Pangeran Morgan membuang nafasnya kasar.


"Gadis itu benar-benar harus di didik. Sudahlah tidak usah memikirkannya,apa kau sudah sarapan?"


Rosenta menggeleng sebagai jawaban, "Apa kau bersedia sarapan denganku? Aku memang sengaja menunggumu bangun terlebih dahulu"


"Kau memang istri yang sempurna,baiklah perintahkan pelayan untuk membantuku bersiap. Setelah itu kita akan makan."


Pangeran Morgan bangkit dari tempat tidur. Namun sebelum itu ia mencium sekilas bibir Rosenta. Lalu setelah itu ia pergi untuk mandi dan bersiap-siap.


Sementara itu, Raja Philip terlihat sangat marah di ruang kerjanya.


"Dasar anak bodoh! Bukankah aku sudah mengatakan jika dia harus menghabiskan malam bersama Castela agar aku bisa menggendong cucu!"


"Yang mulia,anda tolong tenangkan diri anda. Mungkin ada kesalahpahaman disini." Ucap jenderal Daen mencoba meredakan amarah Raja Philip yang menyebabkan wajahnya memerah saat ini.


"Salah paham apanya?! Apa kau tidak mendengar rumor itu? Sekarang seluruh istana sedang membicarakannya. Mereka mengatakan jika pangeran menghabiskan malamnya bersama wanita monster itu. Dan lebih parahnya lagi, saat itu Castela sedang berkunjung ke kamarnya. Aku benar-benar tidak habis pikir. Aku akan membunuhnya jika dia menyakiti perasaan putriku." Ucap Raja Philip berapi-api

__ADS_1


"Yang mulia,itu hanyalah sebuah rumor. Sekalipun rumor itu benar,lalu buat apalagi di permasalahkan?" Ucap jenderal Daen mencoba membela keponakannya itu.


"Ah! Apa kau juga ketularan bodohnya anak itu Daen?! Bahkan pagi buta tadi, Castela menerobos masuk ke dalam kamarku untuk memberikannya izin mengurus masalah di kota Rutin. Anak itu benar-benar,ah,aku benar-benar marah." Ucap Raja Philip sambil mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangannya.


"Apa? Permaisuri pergi ke kota Rutin? Kenapa anda mengizinkannya yang mulia? Apa anda sudah tertular kebodohan Morgan?" Ucap jenderal Dean kaget,lalu segera menutup mulutnya saat menyadari jika dirinya salah berucap.


"Apa tadi yang kau katakan? Bisa kau ulangi?" Tanya Raja Philip dengan ekspresi datar.


"Eh,tidak,aku hanya salah bicara kakak ipar," ucap jenderal Daen gugup


"Ulangi sekali lagi,apa tadi yang kau katakan? Aku tidak mendengarnya adik." Ulang Raja Philip sambil memasang wajah yang terlihat menyeramkan. Seperti ingin membunuh orang.


Jenderal Daen yang melihat Raja yang terlihat aneh langsung bergegas lari keluar sebelum Raja Philip benar-benar mengamuk.


"MAAFKAN AKU! AKU SALAH BERUCAP KAKAK!" Ucap jenderal Daen berlari sejauh mungkin, membuat para prajurit yang berjaga saling berpandangan dan kompak mengangkat bahu mereka.


"SIALAN DAEN! AKU AKAN MEMBUNUHMU KURANG AJAR!"


Terdengar suara menggelegar dari dalam ruang kerja Raja Philip,yang membuat prajurit langsung pucat di tempat. Kini mereka tahu,apa yang membuat jenderal Daen,orang yang paling di segani itu terlihat menyedihkan tadi.


Mereka hanya diam bagai patung,agar tidak mendapatkan amukan Raja.


"PENGAWAL! PANGGIL PANGERAN MORGAN KESINI! SEKARANG!"


Prajurit yang berjaga diluar langsung bergegas memanggil pangeran Morgan,karena Raja yang terlihat sangat mengamuk sekarang. Saat ini,kepala mereka sedang jadi taruhannya.


Marchel juga baru sampai, orang yang ia perintahkan juga mengatakan jika adiknya itu sedang menuju kota Rutin. Kota terjauh dari ibukota yang terkena bencana banjir bandang. Dengan wajah penuh Amarah,ia langsung pergi dari akademi.


Bahkan dirinya masih menggunakan jubah kerjanya. Sebuah jubah berwarna biru dan kuning yang melambangkan pendidikan di kerajaan ini.


Begitu bertemu dengan ayahnya,ia segera memberikan hormat. Sedikit merasa tenang,karena ayahnya baik-baik saja. Mereka benar-benar sangat khawatir,karena Castela belum pernah pergi jauh tanpa pengawasan mereka.


Apalagi jarak ibukota dan kota Rutin bisa di katakan Sangat jauh. Adiknya masih kecil,di tambah lagi pergi tanpa pengawasan. Siapa yang tidak marah?


"Papa, Marchel memberikan hormat."


Duke Herli mengangguk menatap putranya yang sedang di selimuti oleh emosi itu.


"Apa yang kau lakukan disini? Apa kau meninggalkan akademi lagi? Bukankah papa sudah merangmu untuk tidak meninggalkan akademi sesuka hatimu?" Duke Herli langsung mencerca putranya dengan rentetan pertanyaan.


Membuat Marcel membuang tatapannya ke sembarang arah.


"Pa,aku hanya khawatir dengan adikku. Aku mendengar jika dia pergi ke kota Rutin. Kota itu sedang berbahaya untuk saat ini. Bagaimana bisa aku diam dan duduk saja disana?"


"Kau sudah besar Marcel. Papa tidak ingin memarahimu,tapi kau tidak boleh mengedepankan urusan pribadimu seperti ini. Kau adalah ketua akademi, meninggalkan pekerjaan seperti ini,bisa membuat dirimu di berhentikan secara tidak terhormat oleh kerajaan."


"Tapi aku mengkhawatirkannya pa,papa juga meninggalkan pekerjaan papa Karena khawatir dengan Castela bukan?" Ucap Marcel tak mau kalah.

__ADS_1


Duke Herli menggeleng,ia menyerah jika harus berdebat mengenai putrinya Castela dengan putranya itu. Karena putranya itu tidak akan mau kalah.


"Baiklah,kau boleh ikut aku masuk ke dalam." Ucap Duke Herli yang membuat Marcel berseru senang.


Mereka berdua bersama-sama masuk ke dalam istana dan menuju ruang kerja Raja Philip dengan perasaan tegang.


Di perjalanan mereka berjumpa dengan jenderal Daen yang sedang memakan manisan yang ia curi dari dapur istana. Duke Herli dan juga Marcel langsung memberikan hormat kepada adik ipar Raja Philip itu.


"Hey,tidak perlu memberi hormat! aku bukan orang yang gila hormat!" ucapnya dengan raut wajah yang kesal.


"Kami hanya memberikan hormat karena anda adalah orang tua, jenderal Daen." ucap Marcel yang membuat telinga jenderal Daen memerah.


"Heh,dasar anak kurang ajar! siapa yang kau sebut pria tua? aku ini masih muda,aku juga kuat dan tampan, dirimu pun tidak ada apa-apanya jika disandingkan denganku." ucap jenderal Daen mencibir Marcel.


Membuat Marcel memutar malas bola matanya.


"Anda memang pria tua jenderal. Apa anda Tidak malu? pasti anda mencuri manisan itu dari dapur istana." ucap Marcel saat melihat bungkus manisan di tangan jenderal Daen.


"Hey, dasar anak muda! mulutmu mengapa begitu jahat? aku mendapatkannya dengan kerja keras,butuh strategi yang pas,enak saja kau mengatakan jika aku mencuri." ucap jenderal Daen tidak terima.


"Yah,kau memang benar jenderal. Bahkan untuk mendapatkan manisan,kau mengatur strategi yang tepat agar pencurian mu berhasil. Benar-benar pria tua." ucap Marcel memprovokasi


"Hey,kau-"


"Sudahlah tuan Daen,tidak perlu mendebatkan hal tidak penting. Kau harus menjaga emosimu,jika tidak kesehatan mu akan memburuk." ucap Duke Herli menengahi mereka.


"Hah! jika saja dia bukan putramu,maka sekarang juga dia sudah ku kirim ke Medan perang. Ah iya,apa kau mau menemui Raja?"


"Iya benar,ada hal yang perlu ku bicarakan dengannya."


"Hmm, apakah ini mengenai Putri mu? Ah, sungguh bodoh si Morgan itu, bisa-bisanya dia melakukan hal bodoh seperti itu. Kau harus berhati-hati,saat ini Raja sedang dalam suasana yang buruk. Dia bahkan hampir membunuhku karena marah kepada putranya yang bodoh itu." ucap jenderal Daen memulai gosipnya.


"Apa yang di lakukan pangeran hingga membuat Raja marah paman?" tanya marchel penasaran


"Aku bukan pamanmu bodoh! sejak kapan aku menikah dengan bibi mu!" ucap jenderal menampilkan raut wajah masam.


"Iya iya, cepat katakan tuan jenderal yang terhormat. Apa yang terjadi? apa pangeran membuat kesalahan lagi?" tanya marchel masih mencoba mencari informasi


"Yaa, Anak bodoh itu, Raja sudah memerintahkannya untuk menghabiskan waktu bersama permaisurinya,dia malah menghabiskan malam bersama Putri Rosenta. Dia benar-benar bodoh,yang lebih parahnya lagi,dia memanggil permaisuri Castela untuk datang,dan menyaksikan kebersamaannya dengan putri Rosenta. Jadi, permaisuri pagi-pagi sekali meminta izin untuk pergi ke kota Rutin,tapi Raja menolak. Siapa tau, ternyata adikmu itu sangat keras kepala. Dia pergi tanpa pengawalan,hanya membawa seratus prajurit dan Marquis Steven untuk menemaninya. Karena itu Raja benar-benar sangat marah dan hampir membunuhku."


Jenderal Daen menceritakan segalanya tanpa sedikitpun menyadari,jika raut wajah kedua Lelaki berbeda generasi itu sudah berubah pucat Pasih.


"Sialan kau Morgan! aku akan membunuhmu!" ucap Marchel lalu berjalan menuju ruang kerja Raja Philip dengan emosi yang tak tertahan.


"Hey,ada apa dengan-"


Kebingungan jenderal Daen terpotong saat Duke Herli meninggalkan dirinya dengan aura yang menyeramkan. Duke Herli memasang raut wajahnya yang benar-benar menyeramkan jika di lihat,karena aura ingin membunuhnya yang begitu kuat.

__ADS_1


"Sial,aku salah bicara." Ucap jenderal Daen frustasi lalu menampar mulutnya yang tidak bisa di kontrolnya.


__ADS_2